Showing posts with label journey. Show all posts
Showing posts with label journey. Show all posts

Friday, November 28, 2014

Si Gadis!

Seperti diingatkan, saya belum mengenalkan gadis baru dalam kehidupaan saya. Makasih sudah mengingatkan ya Mbak Rien :)

Awal karier saya sebagai orangtua telah dimulai sejak 25 Agustus 2014, tepat adzan maghrib ... seorang gadis telah lahir di RS Wijaya Kusuma. Sadar-sadar saya merasa tengah diangkat ke pembaringan. Obat bius sudah sangat memengaruhi penglihatan. Katup mata rasanya berat sekali, pun tubuh menggigil hebat padahal tangan saya tak dingin sama sekali.
Sudahlah, kalian tak perlu tahu bagaimana rasanya. Yang terpenting ialah bagaimana saya bisa menemui si gadis secepatnya, karena tak mau dia terus-terusan minum sufor. Sudah tahu dia agak 'sakit', perawat malah tak cepat mempertemukan kami. Maka dalam waktu 12 jam, saya paksakan untuk berdiri, dibantu suami tersayang melangkah perlahan menuju ruang bayi.

Selama beberapa waktu, perasaan kamu-anak-saya? sepertinya masih menggejala. Maklum, operasi yang memang tak merasakan sakitnya proses melahirkan lewat normal sering dianggap tak seimbang dengan perjuangan seorang ibu.
Dulu memang sempat kepikiran, tapi setelah banyak sharing dengan teman, saya tak ambil pusing. Hal terpenting yang bisa saya lakukan hanya bersyukur ... bahwa saya tak perlu merasa sakit seperti yang lain apalagi mengalami sindrom baby blues, ataupun sampai pendarahan bahkan kehilangan nyawa saking tidak kuatnya kondisi sang ibu. Juga tak lupa bersyukur atas meruahnya ASI yang bisa saya beri untuk si gadis (walau 3-4 hari hanya mengeluarkan sedikit cairan bening) :')

Jadi tepat tanggal 25 November kemarin adalah usianya yang ke-3 bulan.

Tak terasa dia sudah mulai memiringkan tubuhnya, walau BBnya tak termasuk gemuk, tak apalah yang penting dia sehat ... sudah melewati masa gejala kuning ... sudah cukup berisi dibandingkan awal-awal ia lahir.
Afiqa Adwa Nugroho

Semoga shalihat ya Nak, membanggakan Rasul kita, juga menjadi panutan terpuji karena akhlakmu.
Semoga selalu sehat, ceria dan ikut membahagiakan orang-orang di sekelilingmu ...

Monday, October 14, 2013

Halo, Borneo.

So, here I am.

Naik pesawat itu tak semenakutkan yang dikira, setidaknya hampir sama menakutkannya dengan naik lift ...

Saya manut suami sajalah, dia tak ingin merepotkan anggota keluarga saya. Makanya rencana keberangkatan kami menuju stasiun KA Cirebon biarlah dengan travel khusus. Padahal sungguh saya pingin diantar bapak atau siapalah yang jadi orang terdekat saya. Namanya putri pertama, mau pergi jauh dan gaktau kapan bisa baliknya ... wajarlah ortu-sama anak punya ikatan batin yg kuat, jadi perpisahan singkat itu cukup sampai di pagar rumah. Gak kuat rasanya kalau ingat Mamah nitipin saya sama suami, diminta dijaga baik-baik ... gemetaran menahan sedih dan haru melepas puteri sulungnya.

Hanya dari balik kaca mobil saya bisa lihat lambaian tangan orang-orang tercinta ... yang tak bisa lagi saya lihat setiap harinya. Kali ini mungkin cukup dari foto dan suara saja kangen-kangenannya.
Dari sederetan bangunan yang masih tersapu gelap menjelang subuh ini, sungguh kota kelahiran saya ini cantik. Meski tak segemerlap cahaya ibukota, namun saya tahu lampu-lampu di sini menelusupkan kehangatan di balik biliknya.

Sampai jumpa lagi, Kuningan.
Tepat pukul 6 pagi kereta kami tiba.
Dan yah ... menikmati perjalanan dengan seorang pria yang bisa kamu percaya itu lebih menenangkan dari siapapun. Tapi sedih ya sedih, wanita muda normal yang baru melepas lajang pasti tahu rasanya melangkah jauh dari keluarga yang bertahun-tahun merawatnya dengan luapan kasih sayang, sehingga mewajarkan soal ... yah ... menangis.
Rasanya aneh saya berusaha menyembunyikan tangisan saat ada seorang pria di sebelah saya. Sudah jadi suami, memperhatikan saya pula. Percayalah saya tak punya maksud untuk merusak suasana hatinya maupun selera makannya. Tapi perasaan meluap-luap seperti itu mana bisa ditahan? Bisa jadi penyakit nantinya.
Maaf Suamiku sayang, sedih itu pasti ada .. tapi kuyakinkan padamu bahwa ini sama sekali bukan salahmu.

Kami tiba di Gambir 3 jam setelahnya. Dengan salah masuk jalur keluar segala, kami segera mencari bus tujuan Soeta. Perjalanan tak begitu lama tapi sempet ketiduran sih, dan inilah pertama kalinya saya menginjakkan kaki di bandara ... oh, 3 kali ding kalo cuma nginjak.

Singkat cerita, pesawat singa sukses terbang dan mendarat di Sepinggan. Saya agak menyesal juga kenapa tak beli ransel yang besar untuk membawa barang-barang malah bawa-bawa tas cewek yang muatnya tak seberapa. Ayah dan Ibu sudah menunggu kedatangan kami. Saya jadi tak enak, padahal kan bisa saja kami sendiri ke rumah mereka dengan taksi.
Suhu lembab, tanah basah, langit gelap berawan. Oh, begini ya Kaltim ...
But lemme say HI for my future place, Balikpapan.


 
Powered by Blogger.