Showing posts with label book. Show all posts
Showing posts with label book. Show all posts

Friday, April 25, 2014

Dua Paket

Yayyy... senangnya didatangi Pak Pos untuk memberi kiriman paket maupun surat tagihan.
Ceritanya Kamis kemarin Pak Pos datang membawakan saya 2 paket sekaligus. Paketnya kecil-ringan saja.

Yang pertama ialah paket 'hadiah' dari penerbit Diva Press, yaitu berupa buku antologi dan sertifikat. Jadi beberapa bulan lalu saya ikut lomba antologi yang diadakan penerbit ini. Hadiahnya memang tidak begitu menggiurkan, tapi saya menulis ini dalam rangka ulangtahun suami saya pada Desember tahun lalu, makanya saya tulis persembahannya buat suami dong :">
Alhamdulillah saya ikut ke dalam salah satu nominasi para kontributornya. Mungkin karena suatu hal, nama para kontributor antologi ini tidak disebutkan. Sebagai gantinya, id tweet kamilah yang ditulis di sana (id saya sunkidsunkids). Senang sekali rasanya ... karena sampulnya lucu, desain kertasnya juga cantik didominasi ungu, tebal tapi tidak berat. Bagi yang berminat bisa coba cari di Gramedia, mengingat Diva Press termasuk penerbit yang sudah cukup dikenal di toko buku manapun.
Incaran saya selanjutnya masih berupa kumpulan cerita pendek, tentu saja milik saya semua. Walau sudah pernah ikut beberapa antologi, rasanya saya tidak puas dengan cara 'keroyokan' seperti itu ... dan karena saya juga telah salah memilah lomba juga.



Paket kedua masih berupa hadiah. Bukan dari dunia kepenulisan, melainkan dari Pak Kebun, hihihi ...
Jadi ceritanya baru-baru ini saya memfollow page Al's Garden yang hobi serta jualan bibit tanaman. Setiap minggunya beliau selalu bikin kuis yang hadiahnya tentu saja bibit-bibit hasil kebunnya. Kemarin yang dihadiahkan yaitu tomato black cherry, cabe red habanero, dan ... morning glory Youjiro!
Hyaaa kebetulan sekali saya sedang mengincar bunga rambat satu ini. Tak disangka, dari banyak-panjangnya jawaban para peminat, komentar pendek saya malah menang :">

Sekalian free ongkir, saya pesan 6 bibit lagi: marigold ice cream & French mixed, morning glory chocolate silk rose & grandpa ott, dan marvel of peru choice mixed (bunga pukul 4).

Gak nyesel saya sekalian pesan di sana, rapi sekali packagingnya...
Di dalamnya juga terdapat 'nota' rincian pesanan, terlebih kop suratnya itu lho... resmi sekali padahal ngobrol sama orangnya biasa aja kadang beliau curhat segala :))
Lebih okenya lagi, di setiap kemasan bibit itu terdapat cara menyemai benihnya. Kalau tidak begitu, saya yang masih pemula ini mungkin gugling dulu, karena beberapa biji memang seringkali butuh perlakuan khusus dari awal menanam.

Alhamdulillah, rezeki tidak terduga ...

Tuesday, March 19, 2013

Kangen Indonesia (2012)

Penulis: Hisanori Kato
Penerjemah: Ucu Fadhilah
Penerbit Buku Kompas


Indonesia sebagai kepulauan yg punya banyak budaya tentu saja seperti jelajah dunia. Kita keluar negara, maka akan jumpa dengan orang asing berbicara dengan bahasa yg tak dimengerti, pun kebiasaan yg tak pernah kita jumpai di negeri sendiri. Tapi ... sekali lagi, ini Indonesia. Anda bepergian ke perbatasan atau ke lain pulau, bisa dipastikan Anda menemui 'orang asing' dengan bahasa berbeda.

Saya ini Sunda tulen rumahan. Pertama kali saya menginjakkan kaki di Jogja untuk melanjutkan studi, rasanya berada di luar negeri, katakanlah itu saya batasi dari segi bahasa. Tak bisa saya jumpai orang berbahasa Sunda! Geli-geli romantik kalau ingat kembali.
Akibat rumahan itu, saya sering mengalami xenophobia. Secara tak langsung, tulisan Pak Hisanori Kato rasanya membikin saya jadi ingin lebih bisa membuka diri terhadap orang asing.

Saya pikir orang Indonesia yang bisa berinteraksi dengan orang asing tanpa rasa takut atau malu itulah yang disebut manusia internasional yang baik. (10)

Agaknya kurang tepat bahwa penulis menjadikan bukunya sebagai 'Kangen Indonesia', karena yang saya baca kebanyakan kehidupan di Jakarta. Hebat, beliau sangat tertarik orang-orang pribumi sehingga betah berlama-lama di kota yg konon banyak bedebahnya itu ya...
Kadang saya heran kenapa beliau tidak mencoba keluar dari Jakarta? Saya kira 'kenalan' dengan Indonesia-nya akan lebih beragam kan?
Sejauh yang saya baca, beliau mungkin tertarik.... dan masih akan sangat tertarik pada kehidupan ibukota. Menurutnya, ibukota Indonesia itu sangatlah 'luar negeri'... hahaha bisa aja si bapak...

Beliau tak berpikir akan makan masakan Jepang menggunakan tangan, tetapi pasti akan melakukannya ketika memesan makanan di RM Padang. Hal nomor satu yang dibahasnya adalah mengenai pemakaian kata "Tak apa-apa" ketika bagi beliau, kondisinya sebetulnya akan sangat 'apa-apa' jika dibandingkan dengan orang Jepang, terutama kaitannya dengan waktu.
Kalau dipikir-pikir, teman-teman saya yang baik juga banyak sekali yang sangat pemaaf... misalkan dalam memenuhi janji, seringkali ada orang yang gemar (bahkan sengaja) memepetkan waktunya untuk datang ke TKP. Itu hal lumrah, dan sudah terjadi, mau apa lagi selain:
 "Gak papa..." <--- sambil pasang muka asem.
Parah-parahnya palingan pergi melengos tanpa sepatah katapun. Tapi kalau dia yg terlambat sudah mengejar dan minta maaf, bisa dipastikan jawabannya "Gakpapa" juga... :))

Tuesday, February 19, 2013

Love Journey: Ada Cinta di Tiap Perjalanan (2012)

Tak cuma ilmu yang bisa kaudapat saat jengkal-jengkal kakimu melangkah keluar dari zona kuasamu. Tak juga melulu suvenir manis saat kau tiba di sebuah tempat asing. Jauh dari semua itu, kau bisa temukan butiran pesan cinta dariNya.
Maka bertamulah dan kenalkan dirimu pada keajaiban-keajaiban yg diciptaNya. Tajamkan indera-inderamu pada tadabbur Yang Maha Indah. Tatap varian warna bumi di balik lensa matamu sendiri. Lakukanlah perjalanan, dan lihatlah dunia!

Begitu quote yang saya buat ketika Mbak Rien mengadakan lomba kecil-kecilan. Alhamdulillah saya senang bisa jadi salah satu yang memenangkan buku Love Journey ini secara cuma-cuma. 

Buku yang merupakan sejarah bagi para kontributor di dalamnya ini merupakan bintang empat saya dalam menemukan gaya baru soal bagaimana mereka bertemu 'cinta' dalam sebuah perjalanan yang berkesan. 

Jadi begini, awalnya saya mengira bahwa ini mungkin bakal semacam buku guide tentang apa yang dibutuhkan dalam perjalanan, sebaiknya apa yg dilakukan maupun ke-khas-an apa yg ditemukan di sepanjang perjalanan mereka masing-masing itu. Tapi begitu saya baca ... saya bertemu 'kenalan' baru. 

Dimulakan dengan perjalanan seorang pendaki yang kemudian bertemu dengan belahan jiwanya di alam Ciremai *wah, kampung halaman saya memang penuh cinta :p*. Hal serupa juga diceritakan dalam Cinta di Gerbong Kereta, Honeymoon ala Backpacker, It's A Long Journey, dan Cinta Bujursangkar.
Lalu ada juga beberapa cerita perjalanan di alam seperti dalam Malinau nan Memukau, juga 'guide' lengkap ala Mbak Rien dalam Menaklukkan Rasa Takut di Dasar Laut Pulau Dewata. Wah, kelak kalau saya ada kesempatan seperti beliau-beliau ini pasti terbantu sekali sudah baca deskripsinya di buku ini :D
Lain halnya dengan kisah bu dokter dalam Selamat Tinggal Gaza Sang Cinta. Percayalah, saya menitikkan air mata membacanya *buka kartu*. Terus lagi kisah deja vu-nya Om Yasdi bertemu belahan hatinya, kecintaan seorang ibu pada anaknya dalam Kain Gendongan Batik Sebagai Saksi Cinta dan, kecintaan akan ilmu berkomunikasi ala Mbak Yudith Febiola, cinta anak pada ibunya seperti tersaji oleh cerita Mbak Ulil Lala, cinta seorang bocah pada Oom yang bahkan baru dikenalnya, hingga kecintaan pada kendaraan umum seperti pete-pete ala Mbak Pia. Juga patah hati!

Ada juga kecintaan negeri bersama Mbak Helene dan Mas Fatah ... membikin saya makin ingin berkelana di negeri sendiri.


Cinta itu beraneka wujud.
Ada semacam perasaan tak terungkap saat sedang bertatapan langsung dengan alam. Mungkin suatu hari nanti ketika saya menemukan keindahan alam lain, saya cukup mengarsipkannya sendiri. Terus terang saya sangat tersentil dengan beberapa cerita dari buku ini. Saya ingin menjaganya juga. Dan beruntung itu adalah ... saya lahir di negeri yang alamnya meruah seperti Indonesia.
Perjalanan itu sendiri semacam fitrah manusia mengarungi hidup. Bukan melulu soal melangkahkan kaki dari titik satu ke titik lain, tetapi juga bagaimana manusia menemui berbagai setting dalam sekian waktu.

4 stars! :D

Thursday, January 3, 2013

Sepotong Hati yang Baru (2012)

gambar dari sini



Penulis: Tere Liye
Editor: Andriyati


Akhirnya... setelah buku Daun yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin belum juga dibaca sampe sekarang, saya malah milih buku serial Berjuta Rasanya yg berjudul Sepotong Hati yang Baru.

Agak mengecewakan juga dapetnya kumpulan cerita pendek, pinginnya novel. Tapi karena sinopsis belakang sampulnya bagus, ya udah jadilah saya pilih judul ini *alesan

Dalam buku inilah pertama kali saya berkenalan dengan tulisan Om Tere. Plotnya wajar dan mengalir, settingnya bisa saya imajinasikan sendiri, karakter di tiap cerita juga cukup kuat. Ada 8 cerita yg disajikan Om Tere Liye. Keseluruhan ceritanya merupakan kesedihan, simpelnya: kasih tak sampai.

Saya belajar banyak hal di sini. Apalagi kalau bukan soal cinta *sebetulnya saya eneg ngomongin ini manjang di timeline #pencitraan#
Kalau kau seorang pelajar sekolahan, maka berhati-hatilah saat cinta itu hadir di tengah kehidupanmu. Bisa jadi perhatian seseorang itu hanya sebatas kebaikan semata, kisahnya tertuang persis seperti yg dialami Nana dalam Hiks, Kupikir Itu Sungguhan. Pada Sepotong Hati yg Baru, ada banyak tulisan yg sengaja saya bikin quotes buat apdet status di pesbuk, hahaha.
... cinta bukan sekadar soal memaafkan. Cinta bukan sekadar soal menerima apa adanya. Cinta adalah harga diri. Cinta adalah rasionalitas sempurna.

Jika kau memahami cinta adalah perasaan irasional, sesuatu yg tidak masuk akal, tidak butuh penjelasan, maka cepat atau lambat, luka itu akan kembali menganga. Kau dg mudah membenarkan apa pun yg terjadi di hati, tanpa tahu, tanpa memberikan kesempatan berpikir bahwa itu boleh jadi karena kau tidak mampu mengendalikan perasaan tersebut. Tidak lebih, tidak kurang. (51)

Lain halnya cerita Kisah Sie Sie, saya belajar melihat sabar dalam sebenar-benarnya sifat. Suguhan ikhlas mewujudkan cinta adalah sebuah keniscayaan dan memang sangat berpeluang bahwa bahagia itu bisa eksis bahkan dari sebuah pernikahan yg awalnya tanpa cinta. Di sini saya banyak membatin: ih telat banget! Lalu membodoh-bodohi tingkah suami yg sok juragan itu.
Tapi yaa kebahagiaan tak selalu berkorelasi baik dengan waktu lama. Tidak.
Kebahagiaan dan kebersamaan dalam waktu lama bisa jadi sebuah kejenuhan juga kan? Misalnya kayak di pilem 5 CM itu ... *ng, mari skip aja*

Mimpi-mimpi Sampek-Engtay mengingatkan saya pada jurnal ini. Agak berbeda sih, tapi ternyata memang kisah mereka pernah jadi legenda betulan. Bener kata kaka, roman cerita silat itu aslinya sangat 'dalam' efeknya. Kalau tragis, ya beneran sangat dramatis ... kalau romantis, ya beneran sangat 'kena' :D

Begitu baca penggalan awal Itje Noerbaja & Kang Djalil, rasanya terlempar ke taun penjajahan Belanda. Khoesoes seatoe kisah ini memakai kaidah bahasa jaman doeloe. Pertamanja agak kagok, tapi lama-lama terbiasa joega. Romantisme jaman penjajahan, mau tak mau harus ada perjuangan negeri juga agar tak selalu jadi baboe. Merdeka itu sulit sekali, teman. Sampai harus tahan menjadi pembunuh, berontak dan 'menyumbang' darah. Sayang, dari sekian banyak mayat bangsa kita ini, generasinya malah mengembangkan sistem penjajahan lain: korup made in mata duitan.

BAHKAN BARU TAHU KISAH RAMA-SINTA! *histeris
Bayangpun, bangsa macam apa saya ini ... pewayangan saja payah. Sebagian dari kalian mungkin sudah hapal alurnya. Sebenarnya saya tahu kisah mereka secara terpisah-pisah, thanks to Om Tere yg mau mengisahkan kembali cerita mereka lewat buku ini.


Adalah menyakitkan ketika sisa hidupmu hanya mengenang kebahagiaan di masa lalu, tanpa ia berusaha meraih yg baru di esok harinya. Tapi apa kata pendapat Hesty?
Dua puluh tahun lagi hidup dengan mengenang masa lalu itu dari sisi positif lebih dari menyenangkan. (205)

Oke, itu pendapat dia. Menyimpan satu orang saja di hati mungkin kelihatannya wujud setia yg nyata. Tapi bagi saya itu malapetaka. Sama saja dengan tidak move on, membiarkan kesempatan cinta yg datang menjadi percuma dan menyia-nyiakan hidupmu sendiri.
Saya tak bakal bilang bahwa itu mudah, tapi bisa.
Cuma teringat seorang teman saja, "Teori mah gampang, tapi pada kenyataannya apa? Tak pernah dengar soal begitu!"
Well, makan saja pendapatmu selagi pikiranmu sempit oleh hal-hal pesimis lainnya. Bukan problem saya juga ... *maap kebawa sensi*

Ngomong-ngomong soal kisah Kalau Semua Wanita Jelek, saya berasa deja vu :|
Rasanya pernah baca cerita semacam itu sebelumnya. Di novel kalau tak salah.
Ceritanya agak beda sih ... *ntar deh dicari dulu

Buku yg sangat layak, saya anggap membaca itu sedang berguru pada seorang penulis yg rela meluangkan waktunya merangkai pengalaman, entah pengalaman atau diciptakannya sendiri. Ibarat pelajaran Kewarganegaraan soal esai, di samping butuh ilmu untuk mensinergiskannya dengan akal, kau butuh prinsip agar esaimu tak melulu dari buku. Tak semua yg kau indera itu benar adanya. Manusia harus berpendapat agar bisa jadi bahan pertimbangan orang lain, kan?

Happy reading ;)

Thursday, October 4, 2012

Satu Judul



Kini aku tahu mengapa,
gilanya merindui buku tua yang keriput ...
daripada berlipat jurnal dalam arsip digital ...

Tuesday, March 27, 2012

Pukul Sebelas Malam (2012)

Rating:★★★★
Category:Books
Genre: Literature & Fiction
Author:Desi Puspitasari


Hidup hanyalah mengenai perkara kehilangan.
(Desi Puspitasari, 2012: 14)


Demikian yang diungkapkan sang pelayan bar dalam cerita pembuka kumcer Pukul Sebelas Malam. Saya bingung juga mau ceritain sedikit soal isinya gak ya? Sesuai dengan temanya sendiri, keseluruhan buku ini memang tentang kehilangan. Tak selalu identik dengan frustasi dan keterpurukan kok, contohnya saja Ange yang hilang kata-kata ‘Ingin mati’-nya dalam La Vie.

Saya suka saat membaca Ma, mengingatkan saya pada K-drama ‘A Moment to Remember’. Jangan bayangkan alurnya seperti dalam movie ala Korea, jauh banget. Khas Eropa kental terasa dalam keseluruhan ceritanya.
Juga cerita Pa-nya Victor soal anggapannya tentang Tuhan.... Luna yang mengingatkan saya akan Angelina Jolie *gak tahu juga kenapa*...
Wah, padat.

Ini kumcer yg cukup berat, begitu anggapan pertama saya ketika selesai membacanya. Beberapa faktor yang mungkin saya ulik sendiri mungkin karena pemilihan nama dan diksi cerpen. Jelas dong, setting luar negeri udah pasti pake nama yang khas orang-orang sana, begitu juga dengan diksi dan terminologi tertentu yang jadi kekuatan kumcer ini.
Dan terus terang, kalau ditanya Tristan ada di judul mana? Atau cerita si Victor itu akhirnya gimana?
Saya harus buka bukunya kembali. Ini sekedar share apa yg saya pikirkan ketika selesai baca lho ya... mungkin bakal beda lagi sama pembaca lain

Ada 11 cerpen yang disajikan: Pukul Sebelas Malam, Heute Herbst, Bolero, La Vie, Ma, CLOS E, Old Devil Moon, Heartfelt, Pacarku Hilang, Jembatan Jazz, dan Light My Fire.
Tiga diantaranya pernah dimuat dalam koran Tempo.
Oh ya, saya termasuk yang beruntung membaca Heartfelt, pengganti cerita pendek Jangan Percaya Penulis. Hohoho~ *jumawa


Kalau penulisnya menceritakan secara general ceritanya satu per satu, saya yakin beliau bakal lancar menyimpulkan cerpen 1, 2, 3, dst.
Memang simpel, apalagi liat bukunya yang cuma sekitar 120-an halaman.
CUMA... pendeskripsian satu per satu cerpennya tak semudah ringkasan maupun kutipan-kutipan dalam review bukunya:

Pacarku menghilang lagi. Jatuh terselip di antara halaman  buku.
(2012: 91)

Cerita-cerita kehilangan.
(2012: 15)





Just read this for enjoying every single words of her stories.
Recommended for literature-lovers 




____________________________________________
*semoga ini termasuk 'review'an...



Friday, February 24, 2012

ARKHYTIREMA 1: Pencarian Adhama

Rating:★★★
Category:Books
Genre: Science Fiction & Fantasy
Author:Dicky Zainal Arifin

Adalah Arkhytirema, seorang anak yg lahir dengan anugerah kekuatan yg melebihi para Lemurian pada umumnya. Ia terlahir sebagai keturunan penguasa energi murni. Bahkan sang pemimpin bangsanya sendiri, Rhamidaar, ikut menanganinya.

Dilahirkan dengan kekuatan melebihi 40%, tentunya dengan pencapaian ‘belajar’ yg amat singkat. Para profiler (guru) yg mengajarinya sudah mencapai batas dalam mengajari Arkhytirema. Rhamidaar menjelaskan bahwa ada 1 orang yg mungkin bisa memuaskan rasa penasaran dan pertanyaan dalam benak Arhytirema, yaitu bapak para manusia: Adhama. Hanya saja, keberadaannya sendiri tak ada yg tahu.

Maka dalam usianya yg masih anak-anak (10 tahun), dimulailah perjalanan Arkhytirema dalam mencari Adhama. Ayah-bundanya yg bisa memaklumi keinginan puteranya itupun juga akhirnya meluluskan niat Arkhytirema mencari Adhama. Berbekal tulc (tulak=kunci) yg diberi Rhamidaar, ia menempuh perjalanan panjang antar-galaksi melalui barqha (‘pintu’ yg menghubungkan antar-galaksi).

Seperti apakah perjalanan yg ditempuh Arkhytirema? Apa saja yg bakal ia temui di tiap galaksi yg dikunjungi? Dan yg terpenting, berhasilkah ia menemui Adhama? Silakeun baca triloginya Arkhytirema... *kalo gak salah mah baru nyampe buku kedua

***

Banyak kejadian tak terduga dalam perjalanannya, secara ya... biasanya dalam bayangan kita, di antar-galaksi angkasa luar sana mana ada gambaran kehidupan, sih? *kecuali para UFO-mania
Paling-paling yg terdeskripsikan itu cuma ruang hampa udara yg mengandung zat-zat beracun bagi makhluk hidup O2 kayak kita gini. Agak bingung juga mesti men-genre-kan novel ini kemana.

Pertama, settingnya ini kemungkinan zaman sekarang. Hanya saja, berbicara soal kekuatan metafisik, tenaga dalam... jurus-jurus dan sebagainya mengingatkan saya pada cersil-cersil zaman dahulu semisal Wiro Sableng atau Jaka Sakti.



Kedua, ada unsur legenda.
Tahu Lemurian? Atau paling enggak... mesti pada tahu Atlantis kan?
Nah, bangsa/ras (?) ini juga sedikit disinggung, hmm.. mungkin karena baru buku pertama ya? Beberapa bangsa/ras yg disebut antara lain Lemurian, Atlantean (Atlantis), Bropa, Rudhaza, Lilua, Mosram, Eratus, Nirranthea... haduh banyak, nggak inget. Yah, masuk akalnya aja... ada berapa galaksi di angkasa sana sih? Nah itu ajah hapalin atu-atu.

Ketiga, bicara soal teknologinya, yg dideskripsikan di situ bahkan udah sangat melebihi teknologi yg berada di zaman kita. Diulas juga mengenai sistem tubuh, terutama kinerja mitokondria dan pengetahuan umum lain... *lagi-lagi lupa apaan

Keempat, ada sedikit serapan dari bahasa Sunda, di sana disebut sebagai bahasa Zhunnda. Terus salam yg dipakai juga “Sampraazan” yang berasal dari sampurasun-nya urang Sunda.
*eh, ini sebenernya gak termasuk ketiga alesan di atas, sih... #dikeplak oleo jeyuk#


Ada juga hal menarik lainnya semisal penamaan istilah –istilah yg dipakai. Mengingatkan saya pada beberapa hal.

Membacanya seperti menonton film Dragon Ball, terutama setelah Arkhytirema ternyata bisa ‘berubah wujud’ dengan meningkatnya kekuatan dalam tubuhnya. Diceritakan rambutnya berubah menjadi panjang keemasan (kalau gak salah), dan kekuatannya naik hingga beberapa persen. Nah, persis kayak perubahannya Goku saat berubah jadi Super Seiya 1 dan 2... *katanya ada juga perubahan ‘vegeta’ yah?

Lain lagi ketika saya membaca di awal perkenalan. Istilah probe di sini juga mengingatkan saya akan ras Protoss dalam game StarCraft. Dalam game itu kita bisa memainkan 3 ‘ras’: Terran (manusia), Protoss (makhluk seperti manusia dg teknologi dan peradaban tinggi), dan Zerg (makhluk-makhluk asal larva yg teknologinya dari jaringan sel gitu deh.... kalo di bukunya mah semacem bangsa Bropa kali ya).

Nah, posisi Lemurian ini seperti pada Protoss. Istilah probe juga ada dalam game ini, itu sebutan bagi 'villagers'/pekerja bagi yg pernah maen Age of Empires pasti ngerti. Beda fungsi sih... tapi yg pasti istilah-istilahnya banyak yg rasanya deja vu pas baca

Masing-masing penampakan (bayangan sayah doang sih) akan Lemurian itu: kaya akan kristal, lalu unit rumah induknya (istilah di game-nya mah Nexus) juga berbentuk piramida. Pokoknya mirip sama yg dibahas di situs Arkhytirema lah.

Seperti yg pernah saya bahas sebelumnya, kita juga bisa kenalan sama huruf Lemurian yg ada di novel ini.



Awalnya mungkin agak membosankan, mengingat perkenalan novel ini dimaksudkan sebagai pengantar istilah-istilah yg langsung dipakai. Aselinya ada glosarium tersendiri, cuman saya nggak pinjem. Dipake buat baca buku kedua kayaknya mah.

Yang saya sayangkan, kaidah penulisannya itu sedikit 'lain' dari novel biasa yg kita temui. Istilah-istilah yg dipakai itu tak seperti tata penulisan Harry Potter. Bukan maksud saya membandingkan, tapi karena saya masukkan novel ini dalam genre sci-fan, ya paling tidak biasanya istilah tertentu cukup dikasih italic. Cmiiw, yaa...

Editornya sendiri mungkin membiarkan tata cara penulisannya seperti itu. Tapi menurut saya pribadi, terus terang agak kelelahan membaca huruf seperti itu, walau saya yakin penulisannya gak bermaksud melelahkan pikiran para pembaca.

Fyuuuh~
Selesai juga ngebahas (bukan repiu ini mah) novel ini. Beratnya mungkin karena banyak istilah yg saya belum terbiasa dan ya itu tadi... penulisannya.
Banyak hal tersurat yg ditulis di sini, terutama mengenai keberadaan Illahi, rasa syukur, menangani perasaan negatif (takut, ragu, dll) dan sebagainya... *religius juga kan yah?




Kekuatan yg besar, memunculkan tanggungjawab yg besar pula.
(sampul novel Arkhytirema)



*ngomong-ngomong, baru kali ini saya baca novel dari berbagai genre begini ^__^b

Friday, February 10, 2012

Arsene Lupin (2011): Pencuri Terhebat dalam Sejarah (?)

Rating:★★
Category:Books
Genre: Literature & Fiction
Author:Edgar Jepson & Maurice LeBlanc
Cerita ini bukan mengenai Lupin-Lipin loh

Huehue... dapet juga buku Lupin dari Pesta Buku kemarin.
Pertama kali saya kenal nama itu dari komik Conan, tepatnya saat episode kemunculan 1412 aka Kid Si Pencuri muncul. Sosoknya benar-benar klop dengan cover buku ini:



Setelah 10 tahun Duke Charmerace menghilang tanpa kabar, ia tiba-tiba datang kembali dan melanjutkan rencana pernikahannya dengan Mademoiselle Germaine Gournay-Martin.
Di tengah kesibukan jelang pernikahan, Lupin memberitahu niatnya mencuri lukisan Monsieur Gournay-Martin, ayahanda Germaine yg merupakan seorang jutawan di Prancis. Done! Dia berhasil melewati para penjaga harta sang jutawan dalam satu malam. Padahal baru saja sang jutawan juga kehilangan mobilnya yg bertenaga seratus kuda.

Niat mencurinya tak berhenti sampai di situ. Kali ini sasarannya adalah sebuah mahkota bernilai tinggi milik sang jutawan *gila ya kekayaannya ga abis-abis

Ceritanya bukan cuma soal sepak terjangnya dalam hal curi-mencuri, ada juga sisi romantik di sini. Karena ternyata dalam buku ini, ia dikisahkan jatuh cinta pada seorang gadis cantik bernama Sonia Kritchnoff...

Akankah usahanya meraih cita dan cintanya berhasil? Saksikanlah dalam novel ini! *halah kok ngiklan ngene :))


________________

Di Indonesia juga banyak lho, pencuri terhebat beberapa tahun belakangan ini... *ngelirik para korup
Apalagi kalo mikir Edy Tansil? Begh... dia itu pencuri kelas dinosaurus kali ya.. bahkan kabarnya aja gak ada yg tahu
Cuma bedanya, mereka nyuri itu gak ngabar-ngabari... #OOT

Eaaa stop.
Mari bahas bukunya.

Awal saya membaca, rasanya senang mengetahui bahwa sang penerjemah benar-benar mencermati beberapa istilah kebangsawanan, dan tentunya punya cukup pengetahuan beberapa hal lainnya.
Sayangnya saya agak terganggu dengan gaya terjemah di beberapa bagian, terutama soal deskripsi setting maupun aksi yg dilakukan para tokoh fiksi di sini. Rasa-rasanya mbulet alias muter-muter sehingga saya tak bisa berfantasi bagaimana dekorasi ruangan, rumah, dst.

Terus terang jadi pelajaran tersendiri bagi saya. Dulu pas kuliah Traslation, menerjemahkan sebuah kalimat itu sebisa mungkin mendekati makna yg dimaksud. Payahnya, saya seringkali memakai kalimat bertingkat agar maksudnya tak berubah. Benar-benar keliru bahwa pakai kalimat bertingkat itu mendekati makna. Justru karena berbelit-belit, maknanya bisa jadi tak ditangkap para pembaca.
Sederhana yg mudah dimengerti itu jauh lebih baik

Soal arti harfiah, kamus masih pegangan wajib saya... sekalipun tak lagi kuliah soal itu. Jadinya kalo adek saya sms, kadang saya juga masih buka kamus buat memastikan. Yah, gimana-gimana juga ingatan saya ini gak tahan lama *ngasihtau aib dhewe
Okelah kasus saya mah masih tahap belajar demi dapetin nilai dari dosen.
Lha kalau sudah tahap cetak buku? Ini udah tanggungjawab editornya juga kan...

Wah maaf jadi melebar gini... *sungkem
Ngomong-ngomong soal pencuri hebat, pasti gak terlepas dari detektif.
Dari buku ini, saya mengenal sosok Guerchard.
Mulanya agak berbau Holmes.
Ternyata memang beda, caranya berekspresi tak secakep Holmes. Sekali lagi, mungkin juga saya terlalu terpengaruh sama terjemahnya atau--- mungkin lebih tepat jika saya bilang editingnya masih kurang.

Selain itu, ceritanya 'jujur' sekali.
Baik diterjemahkan 'baik', perbandingan juga dijelaskan secara langsung... misalnya si A itu baik dan si B itu lembut, si X itu sombong dan si Z itu pemaaf.
Well, sejauh ini saya pikir gaya bahasanya sedikit masuk jenis anak-anak.
Padahal saya kira, buat novel petualangan begini sebaiknya melibatkan deskripsi.
Bukan tak berarti novel ini tanpa deskripsi lho ya. Bila perlu, gambarnya sekalian.

Mungkin segitu aja yg saya banyak roamingnya, yg lainnya cukup oke. Mungkin juga karena saya keburu bosan baca terus maksa namatin bukunya kali ya? Ntar coba dibaca lagi deh kalau udah mood.


Silakan mencoba baca kalau penasaran.
Versi aslinya mungkin lebih baik... *pake boso Prancis kali ya?


Thursday, March 11, 2010

Negeri 5 Menara

Rating:
Category:Books
Genre: Biographies & Memoirs
Author:A. Fuadi
Editor: Mbak Mirna

Bercerita mengenai Alif dan kata sakti man jadda wajada. Diawali ketika ia dan ibunya berselisih paham mengenai sekolah yang harus ia pilih. Ia ingin bersekolah di SMA negeri yang bisa membuatnya meneruskan cita-cita ke perguruan tinggi dan menjadi sarjana. Akan tetapi, ibunya ingin ia menapaki jejak para kiai yang menjunjung tinggi agama dan menjadikannya seorang ahli agama. Rasa kecewa yang tak pernah Alif rasakan sebelumnya, membuatnya mengambil sebuah keputusan besar. Berdasarkan informasi pamannya yang pernah menginjak bangku pesantren, Alif akhirnya memenuhi keinginan ibunya dengan syarat bahwa ia akan belajar di pesantren yang direkomendasikan pamannya.

Dan, dimulailah perjalanan mencari jati dirinya di pesantren tersebut. Pertemuan dengan teman-teman terbaik yang dijumpainya disana, kakak-kakak tingkat, guru-guru dan juga didikan yang telah diajarkan. Tak ada hari tanpa keringat dan sarung. Tak ada hari tanpa berjuang dan melesatkan diri. Bukannya tak ada romantisme sama sekali, tapi di buku pertama ini, romantisme itu belum begitu terasa sebab lebih menekankan pada penceritaan keseharian di pesantren saja.

Cerita ini mengingatkan saya pada novel Laskar Pelangi. Sama-sama menceritakan pengalaman masa kecil, punya sarat pantang menyerah pada nasib, dsb. Hanya saja ada beberapa hal yang menurut saya sih agak-agak menonjol di novel ini. Saya garisbawahi pada pemakaian man jadda wajada: siapa berusaha pasti bisa *begitu kira-kira artinya*. kedua, hukuman adalah panglima tertinggi bagi kehidupan mereka. Terakhir, totalitas mereka dalam mengerjakan sesuatu.

Awalnya kalau saya melihat (dari luar sih) kehidupan pesantren itu sangat terkungkung dan (maaf…!) sepertinya kok pelajarannya itu-itu aja. Ternyata setelah membaca buku ini, saya jadi malu karena boleh jadi kemampuan mereka dalam menimba ilmu pengetahuan boleh jadi melebihi apa yang saya bayangkan sebelumnya. Saya perlu waktu bertahun-tahun untuk bisa membiasakan diri berbicara bahasa Jawa dan bahasa Inggris. Alif dan teman-temannya bahkan hanya butuh sekitar 3 bulan saja untuk (nyaris) menguasai bahasa Arab dan Inggris. Hadoooh saya kesindir berat! Saya butuh kuliah agar bisa mendalami bahasa Inggris, tapi anak-anak setaraf SMA seperti mereka ini malah sudah medahuluiku menguasainya… euggghhh muka saya kayanya kepanasan deh.

Lalu, kenapa saya sebutkan bahwa hukuman adalah panglima tertinggi bagi mereka? Perlu diketahui, tata tertib (aturan) yang berlaku di sana tak pernah ditulis dan hanya diingat cuma sekali pada saat mereka pertama kali datang ke sana. Pengaturannya saja tidak main-main. Baru beberapa hari Alif dkk telat sholat berjamaah beberapa menit saja, mereka sudah kena hukuman dari para mata-mata pesantren (yang tentunya senior mereka di bagian keamanan). Alasan masih baru maupun ketidaksengajaan tak akan berlaku di sana.

Kemudian yang terakhir ialah totalitas sejauh mana mereka bisa menghasilkan usaha terbaik yang bisa dilakukan. Misalnya pada saat Alif mendapat nilai pas-pasan saat ujian pertama diselenggarakan. Nilai kecil tak membuatnya lantas terjun dari gedung pencakar langit (heu heu… bunuh diri maksutnya), tapi ia terus berusaha belajar dari para sahabatnya. Saling membantu, mendukung dan mengingatkan adalah hal indah yang saya dapat dari cara mereka bersahabat. Ketika Alif harus dengan super-cepatnya meliput orang penting (duh lupa menteri apa wakil dari luar negeri gitu), kemudian harus bisa menerbitkan koran pesantren pada orang penting tersebut sebelum ia turun dari panggung kehormatan. Uh, ngebayanginnya saja capek sekali. But it’s done.

Jadi, mau sampai kapan terus mengeluh dan menyalahkan aturan? Sejauh potensi kita masih punya anugerah untuk difungsikan, maka maksimalkan saja apa yang sudah ada. Bener engga? Yuk, bangkit sama-sama menata diri.

Jukstaposisi (juara 3 sayembara novel dewan kesenian Jakarta 2006)

Rating:
Category:Books
Genre: Science Fiction & Fantasy
Author:Calvin Michel Sidjaja

Cerita…tuhan…mati

Kisahnya tentang tuhan yang bermimpi jadi anak 14 tahun (catat: dalam mimpi lho, ya) bernama Ashra Trivurti. Hidupnya normal, sebenarnya: dia seorang anak pindahan dari Bali, tinggal di apartemen di Jakarta dengan neneknya, naik sepeda bila ke sekolah, punya teman, punya cinta, dan punya mimpi. Di sini, Mas Calvin nyeritain anak ini punya kelebihan: bisa melihat kepastian.

Ashra bermimpi, dia adalah tuhan, tuhan hasil Bhumi dan Kala, Ashra adalah entitas mimpi para tuhan yang bermimpi sekaligus deitas yang mewujudkan mimpi itu.

"Cerita tuhan mati
Dulu kala hidup banyak tuhan
Mereka hidup hanya mengenal siang tanpa malam
Tapi waktu pun lahir. Malam pun dating
Cahaya marah dan membunuh waktu
Satu tuhan ketakutan lalu bermimpi
Suatu mimpi di mana mereka bukan tuhan
Mimpi menjadi manusia dan tahu waktu
Seluruh tuhan ikut bermimpi selamanya
Dan di sana mereka bermimpi. Menyembah diri mereka sendiri
Walau tuhan-tuhan pun telah mati"
(Jukstaposisi: 152)

Maka, Chhya (tuhan cahaya) tak ingin Ashra (yang ternyata sang Waktu) menjadi causa prima, yaitu tuhan yang paling berkuasa. Maka, mulailah kompetisi di antara mereka. Hal ini membuat beberapa tuhan bangun.

Ceritanya asyik, oke banget. Awalnya memang rada nggak dong. Tapi lama-lama sudah bisa tersibak the mist-nya. Rasa-rasanya sewaktu awal saya baca novel ini suasananya mirip-mirip novelnya Dee alias Dewi Lestari. Mungkin karena nuansa Hindu, makanya rada mirip gimanaa gitu.
‘tuhan’ di novel ini mungkin maksudnya dewa, pokoknya yang mirip ‘pengatur’ semesta-lah.

Cheers buat mas Calvin, udah berani sekali membalik realitas menjadi maya. Orang dibuat berpikir beberapa kali untuk mengetahui maksud ceritanya apa.


Nightmare.

Devil in me

Rating:
Category:Books
Genre: Literature & Fiction
Author:Christina Tirta


Ini salah satu karya yang juga agak ‘beda’ yang pernah saya baca dari novel-novel semi dewasa pada umumnya. Pertama kali saya klaim mungkin ceritanya bakal seperti distorsi kepribadian akibat peristiwa tragis atau semacamnya (seperti pada Sybill atau film ‘Soulmate/Belahan Jiwa’), namun nyatanya saya keliru.

Novel ini ber-setting profesionalitas pekerjaan seorang Mae yang direcoki jiwa kembarannya yang telah meninggal. Mae diceritakan sebagai tokoh invisible sebelum Laura, kembarannya meninggal dunia akibat kecelakaan (atau drugs? Atau percobaan pembunuhan? Semuanya bisa kalian kategorikan kalau membaca buku ini). Dengan campur tangan Laura, ia bahkan menjadi orang paling menonjol bukan hanya prestasi namun juga karier di VMH, hotel dimana ia bekerja. Pada usianya yang ke-25, ia telah diangkat menjadi public relation manager yang sukses membuat seluruh staf terkesima.

Namun bukannya tak ada usaha yang dilakukannya dalam meraih semua impiannya itu. Saudaranya Laura tega mem-blok semua keputusannya dan merencanakan hal-hal gila bagi seorang Mae yang pengalah. Hampir sekitar 3 bab, pengarangnya menulis sub judul ‘nasty plan’ dalam buku ini. Beliau menceritakan detail rencana2 tak wajar Laura dengan berkomplot dengan penjamah drugs, petugas rendahan, bahkan pamannya sendiri.
Semuanya terkuak di akhir novel. Kenapa orangtuanya hanya memberikan tabungan 500 ribu rupiah saja pada Mae dan bukannya tiara berlian seperti milik Laura? Kenapa hanya Laura yang dibelikan barang2 berkilau mewah sementara Mae tidak? Kenapa pula pada ujungnya Mae diperlakukan seperti saat Laura masih hidup?

Kalian bisa bayangkan sangat tidak adil sekali ketika orangtua memberi 50 perak rupiah sementara saudara kita diberi jaguar silver khusus. Yah, perumpamaan yang kelewatan sih, tapi kira2 seperti itulah hidup Mae selama 25 tahun usianya.

Saya mengetahui kenyataan mengejutkan pada akhirnya. Hilangnya saudara kembar ibunya, affair terlarang dengan paman sendiri, pencampuran ganja dengan alkohol yang mengakibatkan Ayumi koma di rumah sakit selama setahun. Semuanya berawal dari rasa iri yang berlebihan, simple but deadly dangerous. Rasa iri memang menggerogoti jiwa2 pemiliknya, betul tidak?

Membaca novel ini seperti ingin menampar the plain Mae (ini yang saya rasakan lho). Tokoh ini terlalu hidup pada masa lalu sehingga tak memberikan kekuatan sebagai seorang wanita mandiri yang sederhana. Makanya novel ini sukses membuat saya gemas ketika berkali-kali Laura berhasil menguasai tubuh, pikiran dan kehendaknya.

Biasanya saya silau pada novel yang mengangkat tema lux yang berlebihan, karena ini bukan Hollywood. Harta dan kesan ‘wah’ tak begitu dijelaskan secara detail, menurut saya. Deskripsi penataan latar tokoh-lah yang menarik bagi saya karena paparannya juga disampaikan dengan cerdas dengan tak melupakan pengetahuan2 umum, baik itu fashion maupun ilmu business.
Terus terang saya tak suka melihat/membaca tentang pemerkosaan. Makanya saya benci ketika tokoh ini nyaris diperkosa beberapa kali oleh orang2 yang over amazed padanya. Tapi syukurlah, ujungnya bukan pada cinta percobaan semata (baca: pacaran), tapi ke-gentle-an seorang pria dalam menyampaikan hal yang lebih berani: pernikahan.

Capek, iya. Tapi membaca novel ini tidak secape saya waktu membaca karya fiksi ‘dan ketika hujan berhenti’ yang mengangkat kehidupan remaja yang meledak2. Karya ini menyuguhkan flashback masa lalu yang rumit sehingga saya menyangka hukum karma berlaku di sini. *upps bukannya ngebandingin karya orang…*

Selamat membaca.

Dan hujan pun berhenti…

Rating:
Category:Books
Genre: Literature & Fiction
Author:Farida Susanty

“Kamu mau bunuh diri?”
“Ya, asal tidak hujan.”


Hosh…hosh…
Sumpe deeeh, saya baca novel ini capek banget. Tau kenapa? Dari awal dari akhir, penulisnya sengaja ngasih saya ‘cobaan’ (buset…) kata2 liar plus gede2 (walo ga semua sih…)
Jepun-nya ada. He…ini yg saya suka, setipe gitu deh. Menurutku, ceritanya oke juga, ngambil tokoh utama yg menurutku biasanya jadi orang ke dua ato ketiga. Tokoh yg sangar, keras, egois (lho?lho? kok kayak kakakku ya?) tapi punya sisi manusia: cinta dan merasa kehilangan.

Alurnya campur, cerita diperkenalkan dari perselisihan geng Leo dan geng Tyo. Leo balas dendam dengan merusak mobil Tyo dengan membakar kaca depan mobilnya. Anyway, aku baru tahu ternyata ada juga berandalan yg mau berantem pake botol kecap (beling sih, tapi… EH, BOOO…buset! Masa iya sih?).

Cerita berlanjut waktu Leo nemu cewek yg mau bunuh diri di WC setelah sebelumnya dia gagal bunuh diri karena hujan. Lalu meningkat pada persoalan yg sama dan dialami oleh 3 cewek lainnya. Dan kesemuanya tergantung pada satu nama: Iris.

Bukannya novel ini nggak tau rasa kemanusiaan, tapi ada yg wajib kalian tahu kenapa Leo nggak menghargai orangtua, tapi menyayangi kedua saudaranya. Dia sadar punya hati, tapi jarang pake nurani. Cari sendiri aja ya… hehehe.

I open my eyes, i’d try to see
But I’m blinded by the wide line

aduh entah kenapa reviewnya ga enak dibaca begini, lain kali saya edit deh. Bukunya udah lama dibaca, cuma reviewnya baru sekarang, heu heu..

 
Powered by Blogger.