Friday, January 16, 2015

Cara Posting Foto di Instagram

.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.

Jadi, GIMANA?
Saya sudah coba me-tap camera lewat android tetap saja tak ada yang muncul >_<
*maaf menyampah dengan postingan tak bermutu ini

Allure: Nagihnya Si Susu Ijo

Oktober lalu suami ke Bandung demi menghadiri wisuda adik semata wayangnya. Sekalian deh, keluarga suami pada nyambangin Kuningan demi nengokin si gadis. 

"Neng, ada permen ... ENAK banget."
"Oia? Ya udah nikmatin."
"Beneran lho, ntar aa bawain ya. Ada susu juga. Rasa greentea."
"Hah? Kayak apa itu?"

Rasanya mild, tebal, keras, dan lebih berasa manisnya susu ... itulah permen Maccha Milk Candy UHA, yang ternyata kalian bisa dapatkan di kerabat A###mart. Kalau review adik saya: gak bikin eneg. Lha bukannya permen tercipta untuk menghilangkan rasa eneg? *entahlah
Saya juga suka, tapi lebih suka berupa minuman, kayak Allure ini~
segelas Allure dingin di hari yang terik <3
Rasanya? Menenangkan.
Kadang greget juga kenapa 1 sachet cuma buat secangkir mini minuman? Lagian buat ukuran economic bag cuma 14 biji. Aaaggh! >_<
Walhasil sebelum 2 minggupun saya sudah menghabiskan 1 bag susu. Bukan saya boros meminumnya toh sehari sekali saja tiap minum, tapi terkadang 2 sachet sekaligus saya bikin menjadi segelas.
Oke, saya boros.

Waktunya kembali ke masa 'ada alhamdulillah enggak ya gakpapa', soalnya Allure baru tahu dijual di Papaya, Bandung, tempat yang baru saya tahu semacam market khusus produk-produk luar negeri *wahai bangsa, maafkan lidah ini
Pantas saja mihil (utamanya buat saya yang ngirit), se-bag begitu saja sekitar 60k (dengan waktu habis kurang dari 2 minggu). Semoga Indonesia punya produk ciamik macam begini ke depannya deh, biar mahal setidaknya bisa lebih terjangkau lokasinya kan :D

Wednesday, December 3, 2014

Latepost: A (Late) Gift for Mum

Happy bornday Mum!
Walau sedih, karena akhir bulan November semakin mendekat pada Januari. Itu artinya sebentar lagi saya balik ikut ke Balikpapan sesuai mufakat bersama.

Dari awal bulan November Mamah sudah woro-woro berencana bakal menanak nasi kuning pada 25 November, tepat hari ulangtahunnya itu. Saya juga tengah berpikir tentang menghadiahkan sesuatu yang diinginkan Mamah dari tahun kapan gitu: mukena terusan model jumbo!
Sesuatu yang saat ini susah dicari, saya kira, plus ukuran bigsize untuk Mamah tercinta. Kemarin-kemarin Mamah malah sempat beli mukena duluan, karena tak ada ganti mukena terusan warna hijau tuanya. Mukena hijau tua itu pemberian bibi saya, lupa-tahun-kapan-ngasihnya. Dan saking sukanya, mukena usang jaman baheula yang katun putih sampai sobek sana-sini.

dari Taaj
Karena saya sekarang-sekarang ini masih belum bisa bebas jalan sana-sini, jadilah jari saya yang mencari (browsing maksudnya) di internet. Setelah berhari-hari mencari *lebay*, pilihan saya berkisar di kerudung Taaj, hadramaut, dan POnya Mbak Ghaida Hapsiana.
Setelah lihat-lihat di Taaj, eh ternyata ada model mukena terusannya ... setelah saya chat dengan adminnya, saya bisa pre-order (PO) warna lain dalam waktu sebulan pengerjaan. Wah, mundurlah saya dari sana, karena waktu yang cukup lama tersebut.
Kemudian saya beralih ke mukena hadramaut, saya langsung jatuh cinta. Motifnya banyak sekali, saya yakin sekali Mamah bakal suka. Toh Mamah juga selama ini pakainya polosan terus. Tapi setelah saya pikirkan ulang, saya urungkan juga untuk memesannya, karena khawatir ukuran mukenanya tidak sesuai dengan yang saya mau. Kelemahan Mamah terdapat di muka, jadi paling tidak Mamah butuh mukena yang bagian mukanya ada karet sehingga bisa nyaman menyesuaikan.

hadramaut
Sudah tanggal belasan November 2014, akhirnya saya putuskan bertanya-tanya pada Mbak Ghaida, yang sebenarnya untuk rekomendasi gamis dan rok tumpuk dari salah seorang teman. Belakangan dia sedang giat promo PO  mukena katun jepang. Owww katun jepang! *saya salah satu penggemar bahan katun yang satu ini :D
Karena PO mukena ini bisa menyesuaikan ukuran, maka saya sekalian tanya bikin model mukena terusan, bisakah? Ternyata bisa, dan kurleb membutuhkan pengerjaan 2-3 hari sampai seminggu pengerjaan. Tak apa, saya sudah katakan bahwa ini untuk kado Mamah, jadi dia bersedia mendahulukan pengerjaan mukena pesanan saya. Saya memaklumi bahwa sistem PO begini sangat memungkinkan saya untuk molor memberikan kadonya alias telat ngasih. Maka dengan jaminan tak sampai pertengahan Desember (soalnya kelamaan kan), sayapun deal dan langsung transfer.

Jadi 2 Desember kemarin (ih tepat seminggu setelah hari ultahnya ya), barang sudah di tangan. Heran kok saya berasa senang sekali. Mungkin karena 3 hal: pertama karena lihat coraknya, wih cantik! Kedua, karena begitu Mamah pakai, ukurannya sangat pas seperti mukena hijaunya. Ketiga, Mamah langsung pakai untuk sholat Maghrib :))
from Ghaida XD
There's always a big love for you Mum, the best mother ever *kisskisskiss

Saturday, November 29, 2014

Bukan Cinta Sekilas Mata

"Mengapa pria bisa setega itu ya ..."
Saya menyimbolkan diri dengan mengerutkan dahi.
"Aku sudah sampai di pengadilan tadi."
"Mau mengurus itu?"
"Tidak, hanya tanya-tanya."

...

Saya ini orang datar, sebenarnya. Menemukan 'cinta' sejati saja butuh waktu khusus bermuhasabah dahulu. Lalu bagaimana kalau seseorang bertanya. "Apa kamu bisa mudah memutus cinta lalu mencari yang lain dalam waktu singkat?"
Saya ditanya begitu oleh seorang wanita berumur 40 tahunan, sebut saja Ceceu. Profesinya sebagai tukang pijat, tapi orang-orang mungkin lebih familiar kalau menyebutnya sebagai dukun bayi. Mukanya bersih putih, malah saya kira masih umur 30an ... orangnya sigap dan cekatan, sehingga kami kira dia tidak betah di rumah saking 'terburu-buru'nya. Ia sering mengomel soal kebersihan selepas melahirkan, tentu dengan memberi tips cuma-cuma seputar kecantikan. Punya 3 anak, jagoan semua. Namun entah dengan suaminya.

source
Katanya, Ceceu adalah seorang istri dari lelaki Betawi yang kabarnya sering tenggelam. Maksudnya, suami Ceceu ini tidak jelas keberadaannya, kadang pulang sebulanan, kadang juga nyaris 6 bulan. Tak ada nafkah. Konon malah karena Ceceu terlalu kerja keras di kota orang, anaknya sampai tak mengenalnya sebagai ibu, tapi sebagai Uwak. Menangis sejadi-jadinyalah Ceceu mengetahui bahwa anak yang dulu masih balita itu tak pernah dikasih tahu yang mana ibunya. Maka kembalilah dia ke Kuningan, dengan resiko tak sering bertemu dengan suaminya.

Sekian tahun tak dinafkahi bagi Ceceu sudah biasa. Anak-anak sudah besar, saya kira dia sudah sangat fokus dengan menafkahi kebutuhan sehari-harinya saja, nyatanya tidak.
Banyak yang menyarankan agar statusnya dipastikan saja lewat pengadilan agama (baca: cerai sepihak), karena siapa tahu ada lelaki lain yang lebih baik ingin memperistrinya? Dengan nada bercanda, Ceceu cuma menertawakan keadaannya yang tak lagi muda, dan kemungkinan kecil memikirkan pernikahan kedua.

Lalu pada siaran entertainmen pagi itu, ia banyak mengomentari artis yang sudah beberapa kali kawin-cerai yang kini membahas hal serupa dengan pernikahan ke sekian kalinya.
"Neng, artis kok bisa mudahnya pindah ke lain hati."
"Sensasi, Ceu ..."
"Sepertinya pernikahan cuma jadi permainan saja ya."
"Yah ... artis ... nggak tahu juga apa yang ada di pikiran mereka."
"Terus kok bisa ya melupakan cinta begitu saja? Neng gitu juga nggak?"
"..." (muter-muter otak mikirin cinta)
"Ceceu rasanya gak bisa kayak gitu. Biar suami salah, Ceceu tetap aja belain. Goblok memang. Apa ya ... Ceceu sudah cinta sama suami. Melepas begitu aja mana bisa!"
"..."
"Eh Neng, kalau cerai bisa balik lagi gak?"
"Bisa. Kecuali ditalak tiga kali."
"Oh."

Begitulah.
Entah ada angin apa yang membawa Ceceu ke pengadilan agama tepat di samping rumah kami ini, semoga dijauhkan dari segala keburukan. Tak bisa saya ikut campur akan urusannya sekalipun tahu permasalahannya. Mungkin jika waktu itu ada orangtua saya, perasaannya bisa lebih ringan. Apa daya saya tak bisa menyarankan apa-apa, pun karena pernikahan saya sendiri baru menginjak 1 tahun. Waktu yang terlalu muda untuk menyarankan ini dan itu. Hanya pembelajaran cinta yang bisa saya dapatkan dari sekelumit perjalanan seorang manusia.


Friday, November 28, 2014

Si Gadis!

Seperti diingatkan, saya belum mengenalkan gadis baru dalam kehidupaan saya. Makasih sudah mengingatkan ya Mbak Rien :)

Awal karier saya sebagai orangtua telah dimulai sejak 25 Agustus 2014, tepat adzan maghrib ... seorang gadis telah lahir di RS Wijaya Kusuma. Sadar-sadar saya merasa tengah diangkat ke pembaringan. Obat bius sudah sangat memengaruhi penglihatan. Katup mata rasanya berat sekali, pun tubuh menggigil hebat padahal tangan saya tak dingin sama sekali.
Sudahlah, kalian tak perlu tahu bagaimana rasanya. Yang terpenting ialah bagaimana saya bisa menemui si gadis secepatnya, karena tak mau dia terus-terusan minum sufor. Sudah tahu dia agak 'sakit', perawat malah tak cepat mempertemukan kami. Maka dalam waktu 12 jam, saya paksakan untuk berdiri, dibantu suami tersayang melangkah perlahan menuju ruang bayi.

Selama beberapa waktu, perasaan kamu-anak-saya? sepertinya masih menggejala. Maklum, operasi yang memang tak merasakan sakitnya proses melahirkan lewat normal sering dianggap tak seimbang dengan perjuangan seorang ibu.
Dulu memang sempat kepikiran, tapi setelah banyak sharing dengan teman, saya tak ambil pusing. Hal terpenting yang bisa saya lakukan hanya bersyukur ... bahwa saya tak perlu merasa sakit seperti yang lain apalagi mengalami sindrom baby blues, ataupun sampai pendarahan bahkan kehilangan nyawa saking tidak kuatnya kondisi sang ibu. Juga tak lupa bersyukur atas meruahnya ASI yang bisa saya beri untuk si gadis (walau 3-4 hari hanya mengeluarkan sedikit cairan bening) :')

Jadi tepat tanggal 25 November kemarin adalah usianya yang ke-3 bulan.

Tak terasa dia sudah mulai memiringkan tubuhnya, walau BBnya tak termasuk gemuk, tak apalah yang penting dia sehat ... sudah melewati masa gejala kuning ... sudah cukup berisi dibandingkan awal-awal ia lahir.
Afiqa Adwa Nugroho

Semoga shalihat ya Nak, membanggakan Rasul kita, juga menjadi panutan terpuji karena akhlakmu.
Semoga selalu sehat, ceria dan ikut membahagiakan orang-orang di sekelilingmu ...

Wednesday, November 26, 2014

Unexpected Friend

Sudah sekitar 9 tahun selepas lulus dari SMA, banyak sekali perubahan yang terjadi. Mulai dari lingkungan, cara pandang hidup, pencarian jati diri yang sepertinya belum puas berbenah, juga orang-orang 'pilihan' buat menjadi teman.

Beberapa tahun silam seorang teman pernah bertanya "Apa makna 'sahabat' buatmu Ve?"
Perlu bolak-balik berpikir untuk menjawabnya. Bagi saya yang berteman akrab dengan beberapa orang saja tentu saja merasa aneh juga kenapa teman sekelas saya ini bertanya demikian pada orang seperti saya. Teman saya ini sebenarnya bukan tak punya sahabat. Saya berani memastikan dia punya lebih banyak sahabat dari saya, bahkan rasanya saya bukan seorang 'sahabat' untuknya. Hanya saja, akhirnya saya menjawab begini: "Sahabat itu ... ketika yang lain melupakan, tapi ia mengingatmu walau kalian tak bertegur sapa."
Daaaan ... saya sadari sekarang bahwa itu salah.

Sahabat tidak cuma mengingat, tapi lebih mengarah pada 'gelar'. Pernah baca saja bahwa dalam periwayatan Rasulullah saw tak pernah disebutkan soal 'teman' ataupun 'kawan' :))
'Sahabat' merupakan 'gelar' tinggi untuk hal ini. Wah, saya jadi tak mau main-main pakai ngomong 'Kamu sahabatku!' segampang itu ^__^'
Kok ngomongin sahabat sih, Madam? *eaa efek post-nikah :))
Yah, simak dulu deh cerita saya~

Singkat cerita saat menikah 6 Juli 2013 kemarin, saya tak banyak mengundang resmi teman-teman semasa sekolah. Banyak faktor, selain waktu yang terbatas untuk mengirim undangan, banyak dari mereka tak berdomisili di Kuningan lagi. Maka dengan fast invitation a la masa kini, saya manfaatkan social media untuk mengundangnya. Beberapa teman dumay malah saya kirim undangan real karena selama saya berteman dengan mereka ada banyak kenangan yang membekas dan rasanya kami sudah sangat dekat saking akrabnya :D

Dan benarlah sesuai perkiraan, bahwa teman yang menghadiri undangan bisa dihitung jari. Justru teman-teman semasa ngekos kuliah malah datang, sampai terharu karena tahu mereka datang dari kota jauh.
Tidak saya sangka, teman seangkatan SMA ... yang notabene tidak pernah sekelas, hanya temanan satu organisasi, jarang tegur-sapa ... cowok lagi!

source

Kami cuma sekedar tahu, tak pernah ngobrol lama. Yang saya takjub juga adalah saat dia main ke Jogja, yang diingat ternyata saya. Weits, jangan mikir macam-macam lho ... dia awalnya minta info anak-anak alumni yang berada di Jogja, agar bisa ikut numpang nginep. Lumayan kan ... gratis~
Saya juga menyanggupi untuk ketemuan di Malioboro (semua orang tahu dooong) biar gampang nandain tempat. Dengan minta anter teman langgan mbonceng, bertemulah kami di sana.

Trenyuh begitu mendengar ceritanya, bahwa saya juga merasakan siapa yang kamu anggap teman bukan berarti demikian bagi mereka. Seorang teman sekampung datang ke kota yang baru baginya, ada 'teman' untuknya tapi tak dipedulikan. Dia sedikit mengungkapkan kekecewaannya, bahwa tidak sedikit 'teman-temannya' sudah tak lagi menganggapnya teman. Mungkin saya salah satu dari sedikit teman yang tak keberatan main sebentar untuk sekedar berbincang ringan dan menyambung komunikasi. Bener lho, kalau mau ngajak ketemuan saya pasti sempatkan waktunya, cuman selama ini jarang ada yang ngajak ... *menatap tanah
Well, teringat note kecil yang pernah saya baca bahwa teman maupun 'sahabat' itu toh akan berganti ketika menapaki fase demi fase kehidupan. Apa sih yang abadi?

Pun ketika teman saya ini mau balik, ia sengaja datang ke kos saya yang sumpeknya naudubillah ... hanya untuk berpamitan. Pantesan dia nanya-nanya jalan lewat telepon. Saya pikir cuma telepon ataupun SMS saja kan bisa, toh saya bisa sangat maklum karena tak tahu jalan.
Sama juga saat menjelang saya lulus, dia sempat datang berkunjung ke rumah beberapa bulan selepas Ramadhan. Ebuseeet ... itu saya belom mandi lohh, dan saya dikira lagi tidur doang *eaa malah bangga~
Datangnya kali ini sama mantan adek kelas kami, walau sebenarnya saya nebak sudah naik pangkat jadi calon istrinya sih :))
Masyaallah! Masyaallah!
source

Satu pembelajaran berharga dari orang yang tidak saya sangka-sangka, niatan silaturahimnya kuat sekali. Semoga saya bisa datang ke pernikahanmu nanti yak, saya bisa malu 7 bulanan kalau sampai melewatkannya begitu saja.

Selepas menikah ... seperti biasa tak banyak berkomunikasi dengan teman-teman, kecuali beberapa orang yang biasa saya 'ganggu' :)) tapi teman cowok saya ini pernah menanyakan nomor hp saya pada salah satu teman lama juga. Hehh? Iya saya agak heran. Kan bisa lewat inbox social media, pun setelah saya beritahu nomornya dia belum pernah menghubungi.

Nah, jadi pembuka awal itu nyambung gak sama inti cerita saya? ( '  ') ...

Tuesday, November 25, 2014

Miss Blogging

Nggak bisa mangkir bahwa kenyataan memiliki anak akan sangat menyedot perhatian, terlebih balita. Dari kehamilan yang saya-bingung-mengungkapkannya hingga kini dititipi anak newborn (oh, happy 3 months my gadis!), tiba-tiba saja merasa kehilangan waktu yang amat panjang. Maksudnya saya baru mengira bahwa mungkin selama berbulan-bulan kemarin saya sedang tidak begitu bahagia. Bukan karena kehamilannya, bukan karena ditinggal kerja suami ataupun jauh dari orang-orang tercinta ... tapi waktu yang dirasa sia-sia.
Saya tak mau cerita, karena masalah ini sepertinya aib bagi saya.
Pun ketika si gadis lahir ke Bumi (thanks for your strength to stay health!), masalah ini tetap saja sangat menggelitik. Sampai detik ini rasanya ghirahnya meningkat drastis begitu bersentuhan dengan keyboard laptop.
Selama kemarin gairahnya menurun drastis. Lhe memang aneh ya? Ini lagi girang-girangnya main sama anak malah banyak ide bermunculan. Fasilitas internetan memang bisa didapat dari tab ataupun hape jadul saya, tapiii ... tapiii ... beda sekali dibanding laptop. Rasa-rasanya isi dunia langsung terbentang gitu internetan di laptop.

source

Doakan kami punya laptop untuk hal-hal positif.
Saya kangen para fans nulis.

Tuesday, August 12, 2014

Benda Multifungsi: Sarung

Sarung yang selama ini dikenal dekat dengan pria Jumatan, sangat bersahabat pula dengan saya. Jadi saya=dekat dengan pria Jumatan? Ohoho mari kita gak udah bahas itu ...

source
Sebenarnya gak dari awal juga saya suka dekat-dekat dengan sarung, mulanya ialah saat saya di bangku perkuliahan. Bukan maksudnya saya suka bawa sarung saat kuliah lho, tapi dialah yang membuat malam saya selalu hangat walau kamar kos bocor kemana-mana.
Sarung berwarna hijau cerah yang identik motif kotak-kotak itu sudah sangat setia jadi selimut saya kala tidur. Mungkin di benak teman saya membatin miris "Segitu miskinnya kah kamu sampai selimut aja ga punyaaa" hahaha ... *turut prihatin pada seorang teman yang pernah 'mencicip' tempat tidur saya saat KKN dulu :))
Awalnya saya pakai sarung itu sempat 'disinisi' teman kos. Bukan sinis sih, cuma pandangan mereka seakan berkata gue-gak-bakal-pakek-gituan! Seiring berjalannya waktu, jadwal bioskop kosan pindah dari kamar teman ke kamar saya. Alhamdulillah, punya laptop yang dipasang TV tuner itu udah berasa kaya raya banget di sana. Alhasil teman-teman betah nongkrongin kamar sampai malam. Begitu nyamannya saya pakai sarung ketika musim hujan tiba, teman-teman mulai mempertanyakan apa badan saya baik-baik saja dengan itu?
Singkat cerita, mereka mencoba sendiri memakai sarung saat berkumpul. Hasilnya? Tiap nongkrong time mereka selalu pakai sarung ketimbang selimut bedcover tebal untuk menghalau dingin :))

Selepas menikah, saya sudah agak menjauh dari sarung *gak nangis dong
Sarung 2 biji hanya diperuntukkan untuk ibadah sholat suami, dan saya cukupkan pakai selimut untuk kebutuhan tidur. Tapi bukan berarti saya lepas si sarung begitu saja.
Ceritanya saya hamil tua ini sudah mulai kesulitan bergerak. Beberapa area tubuh rasa-rasanya lebih baik tidak melakukan aktivitas berlebihan. Bayangpun, sekarang mau pakai mukena bawah saja mulai kesulitan. Tapi saya tak mau itu jadi kendala besar, yang namanya mau dikasih anugerah Allah kok ngeluh? :)
Singkat cerita, hal yang sering dialami bumil adalah BAK yang terus kebelet dengan intensitas berlebih dibandingkan saat tidak hamil. Masalah terbesar saya adalah tidak punya rok karet. Kenapa harus rok?
Simpelnya, saya khawatir air seni yang keluar akan nyiprat kemana-mana termasuk celana panjang, misalnya. Kalau daster mah tak masalah, tapi pada saat daster masih di wadah cucian ... masalah besar dong. Lagi-lagi, sarunglah yang membantu saya dalam urusan pengganti rok :D

Ada hal yang mengherankan saat awal kepulangan saya ke Kuningan. Melihat ponakan saya yang baru sebiji, bukan hal aneh kalau dia tak mengenali saya karena sudah hampir setahun lamanya saya tak bertemu muka. Tapi ada kebiasaan yang membuat saya mengerutkan dahi.
Sepanjang Ramadhan ini keluarga kecil kakak saya menginap di rumah. Dalam beberapa hari saja, saya bisa tahu kebiasaan orang-orang di rumah termasuk cara kakak menidurkan anaknya. Jadi, malam-malam saat saya terbangun ... kakak saya tengah 'mengalungkan' sarung di pundaknya. Di dalam sarung itulah ada ponakan saya. Singkatnya, si sarung telah jadi alat praktis untuk ayunan ternyata ... -__-

Begitulah sedikit tentang persahabatan saya dengan sarung. Ada pengalaman kalian yang gak kalah uniknya dengan sarung? Dijadikan sebagai taplak meja darurat misalnya... :))
Sudah ah, dzuhuran dulu~

Monday, August 11, 2014

Selamat Lebaran 1 Syawal 1435 H

Telat sekitar 12 hari .... :))
Gakpapalah, yang penting saya turut mengucapkan karena mungkin banyak terdapat tulisan yang nyeleneh, cenderung mengejek maupun bersenda gurau yang tak pada tempatnya selama menghuni blogspot. Oleh karenanya, saya haturkan permohonan maaf yang mendalam, karena sakit hati mungkin tak pernah terganti walau waktu tetap mendetik. Semoga Allah membalas maaf yang penuh ikhlas dari pengunjung semua :)

foto diambil saat sedang silaturahim ke tempat nenek
Cerita sedikit soal kemuraman saya pada lebaran akhir Juli ini, lagi-lagi saya tak bisa berkumpul dengan suami tercinta. Ini merupakan kali kedua tahun pernikahan kami yang diharuskan LDR; saya di Kuningan dan aa di laut (gak kumpul juga sama keluarganya disana). Saya tidak sedih, hanya merasa kesepian sepanjang waktu tanpanya *eaa
Herannya, kadang saat dekat kami malah sering jahil-menjahili sampai kadang rasa jengkel mencuat. Tapi yaa, sejengkel-jengkelnya perasaan toh tetap saja ada rindu karena seringnya kami hidup terpisah dibanding berdua (ujiang oh ujian :p). Tapi yang namanya sudah komit, mau tak mau harus dijalani. Mungkin saja di masa mendatang nanti Allah telah siapkan pekerjaan yang membuatnya bisa berada di rumah setiap hari, atau mungkin ada rezeki tak terduga, atau dik bayi bikin penjemputan nafkah makin mudah, deras dan luwes. Aamiin ... setiap harapan saya yakin adalah sebuah doa.

Oh ya, sebelumnya saya belum pernah cerita ya?
Seperti kebanyakan pasutri baru menikah, tentu salah satu tujuan menikah adalah meneruskan garis keturunan. Sengaja saya yang meminta menunda beberapa bulan untuk program anak, karena pertimbangan nomaden yang dikhawatirkan berimbas buruk pada janin. Hingga akhirnya kami merasa sudah cukup jalan-jalan mengenal daerah baru, sudah mulai menetap di satu tempat, dan mulai rindu celoteh balita (ciee) barulah program dilakukan. Setelah sekitar 5-6 bulan lamanya kami menunda, program kami tak perlu ditunggu lama karena Allah segera memberi kepercayaan kami berupa testpack positif saat janin menginjak usia 2 bulan. Alhamdulillah.

Jadi saat saya pulang ke Kuningan untuk lebaran sekaligus lahiran di sana, pandangan keluarga pada fokus ke perut semua :)) Alhamdulillah, tak perlu mendapat pertanyaan menjengkelkan seperti yang terdahulu (kapan lulus? mana pacarnya? kapan nikah?). Pertanyaan mainstream kali ini adalah: "Berapa bulan?" dan "Suamimu mana?", hahaha ...

Segitu dulu deh tulisannya, topik lagi bisa disambung dan direquest, haha ...

Friday, April 25, 2014

One Day One Juz

Memaksakan diri untuk melakukan sesuatu tak ada salahnya terlebih sesuatu itu bersifat positif, begitu saya rasa. Ajang 'pemaksaan' beda tipis dengan belajar, itu artinya kalau kamu tidak melakukan ya tidak akan bisa. Dipikir-pikir, saya ini masih ada di urutan paling jongkok ya ... tapi masih beruntung masih termasuk di sana, tinggal selaraskan niat dengan aksinya ;)

source
Berangkat dari keinginan itulah, saya memutuskan untuk mengikuti kegiatan yang akhir-akhir ini marak berseliweran di ruang maya saya: ODOJ alias One Day One Juz, satu hari satu ayat. Awal-awalnya saya ditanya-tanyain sama teman soal ODOJ, lalu dia memutuskan untuk ber-ODOJ duluan karena dulu tahunya hanya bisa via WhatsAp.
Ng ... saya sih pingin, namun masih ada 'tapi'. Inilah kalau muslim sudah futur, bangkitnya susah sekali. Ngaji saya cuma selembar-dua lembar perharinya, itupun kalau gejala M sedang absen. Dulu biarpun malas, begitu dengar teman sekos terbangun dan mulai gericikan air wudhu, toh keikut juga. Pun ketika sedang tak ingin mengaji, tapi motivasi itu keluar sendiri begitu mendengar ada teman yang tilawah selepas maghrib atau subuh. Oo ... begini rasanya tidak diawasi MR maupun kawan, saya musti berjuang sendiri untuk membiasakan diri melakukan hal positif ini dan itu dari awal.

source
Dan ... majulah saya ikut info Afin yang ngasih tahu bahwa ODOJ ada di fb juga. Berbekal nge-add seseorang bagian ODOJ wilayah Cirebon, saat ini saya tergabung dalam naungan ODOJers. Masih hijau, baru sekitar seminggu saja ... tapi alhamdulillah selalu selesai 1 juz sebelum maghrib.

Masa perkenalan tidak terlalu banyak, saya sudah lihat biodata dan foto anggota grupnya ... dan mereka masih pada muda sekali ... #berasapalingtuasendiri
Angkat topi deh buat para muslimah ini, rata-rata mereka seumuran adik bungsu saya ... sekitar SMP-SMA, sementara saya di umur segitu sedang banyak berkeringat pada aktivitas ekskul wajib di sekolah.

Apapun umurnya, kegiatannya, statusnya ... semoga istiqomah selalu ya para muslimah shalihat.
Juga mudah-mudahan langkah awal ini jadi kebiasaan positif saya di kemudian hari, terlebih menurun pada putera-puteri saya kelak, aamiin.

 
Powered by Blogger.