Showing posts with label puisi. Show all posts
Showing posts with label puisi. Show all posts

Saturday, March 31, 2012

Celoteh Sebatang Pohon


Di hadapanku dahulu memancar zamrud menyilaukan,
dimana pucuk-pucuknya, para aves menahtakan diri,
berteriak-teriak tak pernah reda,
sementara penghuni lainnya masyuk mendaur nafas pribumi.

Persemayamanku meniaga,
menjelajah dunia,
mencengkeram jantung bumi,
menikmati detak-detak kehidupan.

Tak rindukah kalian?
Pada gesek serat dedaunan,
pada syahdu rimba yang mengutus desau angin,
pada ricik hujan yang mencumbu tanah..

Tak rindukah kalian?
Saat malam meninabobokan buana dengan sayup desah natura,
menatap permaisuri langit yang meromantika sendu,
bermesra dengan kedipan bintang yang memukau penglihatan...

Lupakah kalian?
Akan selendang tipis puteri yang mengalungkan diri di setiap paginya pada gunung-gunung,
tentang embun yang mengerjap terjatuh ditepis kinesis,
pada melodi karang yang tetap mengagumi laut meski air telah mengikis dirinya...

Aku masih menjulang meski kini tanpa mereka,
namun bukan berarti aku bertahan selamanya,
karena hidup tak pernah sempurna.

Kulihat para pengganti mencakar-cakar langit,
dengan kebosanan dan dinamika deru-deram bebunyiannya,
seakan hendak menjadi tuan yang baru.

Tidakkah kau mendengarku berseru?
Aku mencintai engkau wahai ciptaan yang sempurna,
tak apalah aku mati saat kau membutukanku,
tak apalah aku melapuk usai sekali berguna untuk kaummu.
Tapi,
mengapa tak kau sadari
ketika bibit-bibit telah mati,
mau dengan apa kau hidup?


Dalam rangka mengenang kabut seusai hujan,
23 April 2010


good man cannot live without nature but bad guy always lives with destruction ~ my quote today.


So friends,
-SAVE OUR EARTH-


Saturday, November 6, 2010

PUISI DALAM TOPI

PUISI DALAM TOPI

Hal Judge


Penyair tak mempunyai tugas lain
kecuali membaca kalbu semesta
dan menangkapnya
dengan hati, getar pena,
bahkan topimu

Begitulah kau pun mencoba
mengeja semua
kerikil, batu, pasir, cuaca, presiden,
para manusia yang dahaga minyak,
senjata, tank-tank yang menggila,
lalu pahatan darah di bumi kita
kau simpan semua dengan jujur
dalam topimu

Di manakah Arabia? Tanyamu.
Apakah itu tempat di mana semua anak
bernama Muhammad
menggenggam batu dan airmata
demi membela keluarga
yang akan dipenjara atau dibunuh?

Kau masukkan semua pertanyaan itu
dalam topimu
dalam topi
untuk dijawab oleh hati
yang tiba-tiba tersayat pisau
beraroma minyak dan kertas koran

Belum senja
ketika dalam bis hari itu
dengan mata yang telah semakin biru
kau buka topimu,
dan kau serahkan padaku

:untuk selalu menulis dengan hati, penyair!


(8 Juli 2006)

Hal Judge ( Poet from Aussie), acara Festival Puisi Internasional di Jakarta


sumber dari sini

Tuesday, October 19, 2010

Rumah Kita Penuh Cinta

gambar












oleh: Hasta Indriyana


Rumah kita penuh cinta. Ikat-ikat jagung
Di lelangit, gerumbul padi di lumbung, juga
Tumpukan kayu. Tak ada cerobong, tapi asap dapur
Berkepul senantiasa

Air yang cukup tersimpan di gentong. Pelepas haus
Ketika kita rindu bertemu
Anugerah ini seperti tatap matamu yang menyimpan
Sejuta kerindangan. Tak henti-henti mengalirkan
Dzikir hakiki

Rumah kita dipenuhi cinta. Sesekali tikus-tikus
Kecil lewat sesekali kekupu masuk tanpa merasa
Salah alamat sesekali berseliweran isyarat-isyarat

Atap ini bukan buat sembunyi tapi
Semacam keteduhan dari kemarau yang memangsa
Nurani, semacam kehangatan dari hujan air mata
Yang menerjang cinta kita









*ini adalah puisi kenangan ketika saya menginjakkan kaki di kampus (tepatnya saat OSPEK). Bahasa yang dulu saya anggap amat biasa, namun kesederhanaannyalah yang membuat pernik-pernik indah ketika Mas Hasta pendeklamasikannya di Pendopo Tedjokusuma.
Saya beruntung melihatnya berdeklamasi lucu di sana. Saya kangen masa-masa itu, sungguh.

Thursday, September 9, 2010

Bayangan

Aku ingin menjadi bayanganmu, seperti gurun tak terjamah hujan

Lalu menemanimu ketika hitam, seperti kafan memberangus tubuhmu

Aku tak bisa menjamahmu, seperti sudut dinding yang bersiku

Aku ada saat terang dan gelap
Aku merotasi diri hanya untuk memakmumimu,
lalu bercumbu saat kau bersujud.






23 Agustus 2010


Tuesday, September 7, 2010

Sekecap Rakaat




Semili sudah aku sampai, Tuhan

Duduki rumah ramahMu
Berharap Engkau perindah azamku

Sekecap bunyi menggaungkan detakku hari ini

Mungkin hanya sehelai Kauberi
Namun selusin bagiku

Aku mendengarnya lagi
Firman-firman dari lidahnya
Terpesonalah aku padanya

Hanya sekecap,
dalam celah rakaat,
ada senyum terselip.

Ampunkan kami,
pada gaung senar indahnya,
melesak jauh ke ulu hati.



27 Agustus 2010
pada imam bersuara tampan hari ini, segala puji bagi Allah.

Sunday, August 8, 2010

Dialog Sajadah dan Lampu

Dialog Sajadah dan Lampu


“Dah, batukmu sudah tak terkendali”
Kubilang tak apalah, ini sudah biasa
“Aku benci tak bisa terus menemanimu”
Kubilang tak apalah, kamu tak bisa menolongku

“Tahukah batukmu bisa membuatmu lapuk Dah?”
Aku diam tak berusik
“Kau ini sial berada di belakang, Dah”
Kubilang ini bukan mauku

Batukku menjadi
“Sabarlah Dah, Tuhan telah menentukan waktu”
Seret-seret kaki kurasakan menjauh
“Batukku cukup mereda, Pu”

“Aku ingin dia segera tiba, Pu”
Lampu terdiam
“Kalau dia ada, batukku tentu sembuh”
Lampu telah tertidur




7 Agustus 2010
Jelang Ramadhan, mari ramaikan masjid





*Tulisan Dalam rangka mengikuti lomba puisi ramadhan "Zahiya Cute"
Mbakyu2, kangmas2, meski tulisan saya tak sebagus para sastrawan/wati, saya ikut partisipasi dan meramaikannya ya... (agar saya memaksakan sendiri untuk terus menulis).
Untuk para juri, tetep semangat yaaa!

Saturday, July 3, 2010

Kepada yang Menungguku



Aku minta maaf tak pernah sekalipun menemuimu, padahal
Engkau telah dengan sejatinya sengaja mengunjungiku saat aku tak ada sekalipun

Aku minta maaf belum pernah sekalipun berkirim salam secara langsung padamu, padahal
Engkau telah sengaja meluangkan diri untuk menyapaku saat pagi ataupun malam

Aku minta maaf tak pernah menanggapi secara serius pada niatanmu, padahal
Engkau telah menyatakan diri untuk menjadi pendampingku kelak

Aku minta maaf tak memiliki hati padamu, padahal
Engkau telah menaruhku di hatimu


Yogyakarta, 17 Juni 2010
Terinspirasi kisah seorang sahabat

Tersadar



Masih dalam malam yang melanglang buana,



Waktu terus merayap tetap tak bisa dijegal apapun

 
Aku coba menahan napas, tapi tak kuat
Bagaimanapun aku tak bisa menghemat jatah napas hingga kapanpun
Terus berhembus, teratur, tak berjeda kecuali disengaja

 
Lalu kuhadapkan muka dihadapan cermin
Berkali-kali aku menatap bayangan di seberang sana,
Mungkin baru hari ini aku menyadari
Bahwa kulit berumur duapuluhan tak sama dengan yang berumur belasan
Kalaupun ia makin bernoda, namun kematangan telah ada di sana
Mengganti posisi polos yang menggemaskan dahulu

 

Lalu kalian menyapa, mengucap, dan mendoakanku hari ini
Mungkin aku sakit hati
Karena mungkin kalian hanya mendoakanku hari ini saja
Dan aku benci,
Karena baru menyadarinya
Tapi mungkin juga aku senang, karena tak pernah ada lilin dan kue
Di setiap Juli ketigaku

 

Mungkin setiap hari aku berdoa di sela-sela ibadah lima waktuku
Tapi baru sekarang menyadari,
Bahwa doa tak sekedar harapan
Ia telah menjadi kekuatan dan penopang kegalauan iman
Ah,
aku baru memikirkannya detik ini

 
Ternyata sudah cukup kusyukuri
Ada orang yang sudi melahirkanku
Ada yang sabar mengajariku ini dan itu
Ada yang mencemaskanku tiap waktu
Dan berterus terang ia selalu berdoa untukku
Walau aku bodoh untuk menyadari ceruk kasihnya untukku

 

 

 

 


Untuk pemilik rahim di seluruh jagat,

Dari anak yang suka menjadi-jadi


Terimakasih teman-teman, kalian adalah hadiah terbaik yang Tuhan titipkan untuk menemaniku

Wednesday, June 30, 2010

Kepada Z



Maafkan aku, yang lebih memilih ibu daripada Anda.
Aku tak ingin ibu membenci Anda lebih dalam lagi.
Pahami keputusanku
Pria lajang bukan hanya Anda, walau wanita lajangpun bukan cuma aku

Mari berteman saja, bukankah kita sudah cukup mengenal?





30 Juni 2010, warnet Limuny G3
Untuk Bang ikhwan di seberang pulau,
Jauh bukan halangan, tetapi restu adalah keridhoanNya.

Wednesday, June 9, 2010

Selenting Romantika Malam

Lalu datanglah pujangga hening
Hujan berhenti merintih
Menyisakan lelap dengkur anak-anak Adam

Larik mudamu tak pernah ditelan kelam,
gemilang memesona,
menghentakku ramai

Tahukah romansaku tak terputus hanya karena kegelapan?
Tahukah setapak aksaramu sudah menggores tanda pada setiap sel dermaku?

O.. kepada Pangeranku,
dia terlalu membekaskan tanda hingga lukaku menganga tak kering juga!
dia memilukanku di setiap sunyiku walau ia terus diam dalam lengkung bibirnya!

Kupinta sedikit saja pembebat luka ini
kumohon doa kerdilku Kauhampiri sejenak
biar titi nadaMu yang memecah keramaian dirinya






dalam rinduku yang melepuh belum mengering
16 april '10

Thursday, April 29, 2010

Tenunan Surat buat Apak Mamah



Mah,
neng ga bisa tidur malam ini
Mamah sedang apa di rumah?

Pa,
maaf ya neng masih nyusahin Apak
Sehat-sehat di kampung ya, Pa

Apak Mamah,
maafkan neng ya,
neng belum selesai pendidikannya,
belum jadi sarjana
belum bisa menghasilkan apa-apa,
belum bisa menjadi anak kebanggaan kalian juga...

Maaf neng cerewet sendiri,
soalnya cuma neng yang masih melek
Neng cuma curhat buat semalam ini saja,
beri neng waktu menempa diri di sini
Rasanya terlalu cepat menempuh pendewasaan
dalam waktu yang sempit
Jadi jika saatnya neng kembali,
neng ingin diri neng pribadi
akan membikin kalian lega
bahwa neng
telah terbiasa berusaha keras
untuk mengimbangi masa depan
dan hakikat hidup

Izinkan neng ya, Apak-Mamah, bagaimanapun adanya...
neng bakal terus meminta restu paling mujarab di dunia,
yakni restu kalian, duhai muasal hidupku.

Neng selalu doakan
kesehatan bagi kalian,
kelapangan hati untuk senantiasa ikhlas,
ridha Gusti Agung pula untuk setiap pilihan Apak-Mamah

Salam cinta dari jauh,
yang neng tahu doa kalian selalu berikrar dalam serat-serat napas yang semakin pendek...
Betapapun neng hanya menggaung dalam batin bahwa
Neng ingin bersua rumah,
Neng ingin pulang,
Neng kangen kalian...


Midnight
26 April 2010

Kepada Setengah Darahku

Kakakku sayang,
yang kutahu...
Kau ini bujang penuh juang,
menempuh takdir pilihanmu
tanpa harus meruntuhkan harga diri.

Adikku terkasih,
begitu kalian dilahirkan...
Kutahu kalian gadis-gadis kecil manis,
yang kedewasaannya telah mengiringi tahap-tahap umur kalian.
Aku senang pada celotehan kalian.

Kelak kala kalian menemukan hal-hal menakjubkan dalam buana ini,
aku ingin kalian tahu
betapa istimewanya kalian menjadi saudara untukku.

Aku ingin kalian terus belajar mencinta:
Mencinta Tuhan dengan segenap rasa.
Sebab inilah kado-Nya yang berharga,
yang tak semua insan dititipi.

Tahukah kalian?
Seandainya rumahku tanpa kalian...
Rumah bagiku terlalu sepi untuk disinggahi.
Lantai bagiku menimbun debu untuk dilewati.
Ruang bagiku memantul gema buat seorang diri.

Kadang aku ingin tahu...
Apa yang dulu kudialogkan dengan Tuhan?
Mengapa aku memilih rahim yang kalian pilih?

Tahukah kalian?
Doa-doaku terbalut sederhana buat kalian;
ridha Allah untuk setiap langkah yang kalian ambil.

Bilamana kata sayang tak pernah sempat di bibir ini,
aku tahu ada Dzat yang mengetahui
mengapa aku tak pernah menyempatkan diri
untuk berucap.

Jangan katakan aku tak dianugerahi pita buat mencuap,
hanya saja...
bagiku kata-kata tak pernah cukup
refleksi
demi mengecap
lezatnya sebuah rasa.


Padang Batik
22 April 2010

Monday, April 26, 2010

Pertiga Lail

Ketika lantunan sabda tak henti mengalun
Sabit menampakkan wajah lelahnya
Gegapai samirana menyibak awan semesta
Bersiap meronakan angkasa

Bumi siap mengilau, sejenak hening mendengarkan dengkuran anak-anak Hawa
Atom-atom oksigen hiruk pikuk mencari paru
Meneteskan setitik kehidupan
bagi para mukhlis yang gegap menggenggamnya segera
untuk berserah diri

Duhai para penyeru falah,
bercintalah
denganNya yang telah mencipta airmata dalam mindamu,
denganNya yang telah membunuh dekapan lembut kabut mimpi

Duhai para penyeru falah
Nikmatilah getar-getar rintih hatimu kala ini
Sujudlah atas anugerah besar hari ini
Lalu,
tanyakanlah apa kau bisa mengulangnya
untuk esok hari?


Bilik Rindu
26 April 2010

 
Powered by Blogger.