Showing posts with label learning. Show all posts
Showing posts with label learning. Show all posts

Friday, April 25, 2014

One Day One Juz

Memaksakan diri untuk melakukan sesuatu tak ada salahnya terlebih sesuatu itu bersifat positif, begitu saya rasa. Ajang 'pemaksaan' beda tipis dengan belajar, itu artinya kalau kamu tidak melakukan ya tidak akan bisa. Dipikir-pikir, saya ini masih ada di urutan paling jongkok ya ... tapi masih beruntung masih termasuk di sana, tinggal selaraskan niat dengan aksinya ;)

source
Berangkat dari keinginan itulah, saya memutuskan untuk mengikuti kegiatan yang akhir-akhir ini marak berseliweran di ruang maya saya: ODOJ alias One Day One Juz, satu hari satu ayat. Awal-awalnya saya ditanya-tanyain sama teman soal ODOJ, lalu dia memutuskan untuk ber-ODOJ duluan karena dulu tahunya hanya bisa via WhatsAp.
Ng ... saya sih pingin, namun masih ada 'tapi'. Inilah kalau muslim sudah futur, bangkitnya susah sekali. Ngaji saya cuma selembar-dua lembar perharinya, itupun kalau gejala M sedang absen. Dulu biarpun malas, begitu dengar teman sekos terbangun dan mulai gericikan air wudhu, toh keikut juga. Pun ketika sedang tak ingin mengaji, tapi motivasi itu keluar sendiri begitu mendengar ada teman yang tilawah selepas maghrib atau subuh. Oo ... begini rasanya tidak diawasi MR maupun kawan, saya musti berjuang sendiri untuk membiasakan diri melakukan hal positif ini dan itu dari awal.

source
Dan ... majulah saya ikut info Afin yang ngasih tahu bahwa ODOJ ada di fb juga. Berbekal nge-add seseorang bagian ODOJ wilayah Cirebon, saat ini saya tergabung dalam naungan ODOJers. Masih hijau, baru sekitar seminggu saja ... tapi alhamdulillah selalu selesai 1 juz sebelum maghrib.

Masa perkenalan tidak terlalu banyak, saya sudah lihat biodata dan foto anggota grupnya ... dan mereka masih pada muda sekali ... #berasapalingtuasendiri
Angkat topi deh buat para muslimah ini, rata-rata mereka seumuran adik bungsu saya ... sekitar SMP-SMA, sementara saya di umur segitu sedang banyak berkeringat pada aktivitas ekskul wajib di sekolah.

Apapun umurnya, kegiatannya, statusnya ... semoga istiqomah selalu ya para muslimah shalihat.
Juga mudah-mudahan langkah awal ini jadi kebiasaan positif saya di kemudian hari, terlebih menurun pada putera-puteri saya kelak, aamiin.

Friday, January 18, 2013

Susah-Gampangnya Flash Fiction

Lagi, setelah sekian lamanya saya skip info tentang lomba menulis, kemarin ndilalah banyak sekali yang pasang infonya. Salah satu yang saya minati adalah lomba FF Boliners. Pinginnya dua FF sekaligus bisa ikutan, tapi ... gak deh. Kenapakah gerangan? :))

Saya sudah lama sekali ga membaca 'dengan serius', apalagi sampai 'asyik' hingga lupa waktu. Padahal tahu sendiri untuk dapat inspirasi selain banyak-banyak pergi, ya dengan membaca itu.
But yeah, I do miss that time.

Membaca itu kadang suka sampai lupa waktu dan orang, sampai-sampai teman saya harus tepuk pundak dulu kalau mau saya ladeni. Banyak hal yang membikin saya terlupa membaca. Hahaha, karena yah... saya bukan seorang pembaca sejati. Saya memang menikmati, tapi karena lain hal, ketertarikan saya membelok pada banyak hal. Tak apalah.

Kalau ga percaya, saya aslinya sudah memikirkan ide FF lomba itu dari awal info diterbitkan. Hanya saja, ide itu tak serta-merta muncul begitu saja. Saya mulai berpikir, bahwa saya tak lagi berada di usia remaja sekolahan. Dan tentu saja gaya penulisan saya pasti sudah sangat berbeda. Bisa, gak, bisa, gak ...

dicomot dari sini

Yah, tak ada salahnya mencoba.
Persyaratannya 500-700 kata, no more nor less.

Sudah pasti yang bikin saya agak susah itu ide. Saya gak mau walaupun sasarannya untuk usia 17-20 tahun, style-nya harus  galau berlebihan. Jangan deh, meski umur segitu dibilang alay di zaman sekarang, saya yakin masih banyak yg berstyle normal kok :))

Setelah ganti-hapus-ganti-coret-ganti-buang ... saya dapat ide yang lumayan juga. Segeralah saya tulis dan ketik. Entah kenapa, menulis itu jauh lebih mengalirkan energi tersendiri ketimbang mengetik. 

Akhirnya selesai juga 1 naskah FF. Hanya 1, padahal maunya 2 ... T--T
Susah-susah gampang juga. 
Kalau dilihat mah mungkin 'hanya' sekitar 1-2 halaman A4 saja, tapi tulisan saya malah melebihi batas ketentuan: 700 kata lebih! Dengan ga mengurangi penyesalan, saya coba potong-potong lagi bagian cerita yg sekiranya tak diperlukan agar memenuhi syarat lomba.

Setelah beberapa hari berlalu, admin lomba sempat asus (apdet status). Bahwa ternyata masih banyak yg kurang memenuhi syarat dan tentu saya kena diskualifikasi. Salah satu syaratnya adalah bukan merupakan kisah pertemuannya alias kudu pada saat sedang mengagumi orang tersebut. Well, saya sudah senyum kecut, mengingat naskah yg saya kirim itu justru berat ke titik pertemuan/alasannya. 

Tak apalah, dengan hal ini saya masih kudu membiasakan diri menulis lagi kalau pingin dapat tulisan yg berkualitas. Kalau lihat progres tulisan masa lalu, sepertinya konsistensi menulis saat ini melempem jauh. Jenuh sekali, hampir nol kalau mau dinilai dengan skala 10. 

Hyah, dengan kejadian begini ... saya mending agak fokus sekalian ke dunia tulis-menulis lagi. Mumpung masih jabatan jobseeker ... huehuehehehehe... *dikeplak ortu*

Mari semangaaaattt... cari ide lagiiii .... cari kerjaan...   :D

Monday, December 31, 2012

Menggabungkan 2 Gambar dengan Transparency Tool Corel Draw

Dari perjalanan pulang kemarin Afin minta tutorial photoshop buat gabungin 2 gambar/foto seperti di sini. Naa... masalahnya saya kurang tahu gabungin poto macam begitu lewat photoshop. Saya nyaranin pake CorelDraw.
Makanya hari ini saya sempatkan bikin tutorial gabungin 2 gambar lewat Corel Draw. Bikin Header.

Header ngasal yg saya bikin nantinya begini:

Tuzki tatoan memandang bibit-bibitnya

Langsung yaa, gini loh step-stepnya ...

1. Buka Corel Draw (saya pake cdr X3), klik New
2. Atur ukuran kertasnya. Saya pake ukuran header Facebook, yaitu 850 x 315 pixel.

3. Buatlah kotak dari Rectangle Tool di dalam ukuran 'kertas'~

4. Import gambar-gambar yg akan digabung, nanti kursornya berubah jadi garis segitiga begitu. Tekan seperti membuat kotak dan buat sesuai ukuran yg diinginkan. Letaknya bisa sembarang.

5.  Klik salah 1 gambar, klik Effects - PowerClip - Place Inside Container.
 -  Nanti kursormu berubah jadi tanda panah besar. klik ke kotak tadi.
 - Karena sudah otomatis 'terkunci' di dalam, kalian bisa mengeditnya dengan mengklik kanan kotaknya, lalu pilih Edit Contents.
 - Edit gambar seperti yg diinginkan.
 - Masukkan gambar selanjutnya ke dalam kotak yg sama.

6. Sampai sini sebenarnya 2 gambar tadi udah tergabung, ya ngga? Cuma garis pemisahnya terlihat kentara banget :D
Makanya yuk kenalan sama (Interactive) Transparency Tool. Letaknya sejajar sama Interactive Blend Tool (yg gambar kotak berderet di kiri bawah itu lho). Gambarnya kayak gelas berbayang gitu.
 - Posisikan gambar dalam keadaan Edit Contents.
 - Klik salah satu gambar, lalu klik Transparency Tool. Nanti muncul kotak hitam-putih seperti pada gambar-gambar berikut ini. Jangan takut buat coba atur-atur posisinya yak~
di luar gambar

sebagian di luar, sebagian di dalam gambar

diagonal

ujung ke ujung
Can you see the differences?

7. Bila sudah jadi, jangan lupa mengunci hasil editan dengan klik kanan - Finish Editing

8. Save gambar dengan klik File - Export - pilih format JPG

Selesaaaaaiiii~
Semoga membantu.

Saturday, March 17, 2012

Anggrek (lagi)




Maap ya nyampah malmingan gini... hahaha... *yg ngempi wiken biasanya dikit kan?
Ini hasil zoom kamera poket Sony, kemaren pas maen ke SI sempet minjem kameranya beberapa waktu... jadi ginilah hasilnya...

Sunday, April 3, 2011

Question Words on the Spot

My sister Mi made me busy 3 nights ago. I had been being in my progress on my friend’s simple translation and my mess Ms Office while she came into my room. Bringing a bunch of sheets, my feeling was starting to worry. Then... right, she asked for my help to do her course homework ASAP cuz she’s going to have Japanese exam on the next day. Well, it wasn’t a hard work and I feel thankful she still wants me to help... (note: I’m not helper, but GOOD sister )

Ok, back to topic.
She asked me about Question Words... Hmm, it’d be my lesson when i was in senior high school... don’t remember at which grade i learned. I wonder why her teacher pushed her brain too much when the material has not been explained further. My sister was confused of what the instruction should be done.
Well...
Perhaps the instruction is quite simple if you know the goal of the project. Simply its goal is that you can take the right question words to be placed on what the instruction asks. Make sure that you really understand what the function of each question word mean, here’s my simple table for question words I get from here with some addition of my own:

No.
Question words
Function
Example
1.
Who
To ask people (as subject)
Who gets up on 9 am?
Who can wash my car in a minute?
Whom
To ask people (as object)
Whom did you laugh at?
Whom will she serve actually?
2.
What
To ask information about something
What is sleeping on the sofa?
What will be submitted?

asking for repetition or confirmation
What? I can't hear you.
You did what?
What
To ask thing/things (as object)
(and also possession of thing if available)
What is the cat searching for?
What will she write on the letter?
3.
Where
To ask place
Where did Juned find my ring?
Where might Rambo go?
4.
When
To ask time
When does Euis leave school?
When will you graduate?
5.
Which
To ask choices (pilihan)
Which shawl will we buy?
Which one do you prefer? Tea or coffee?
6.
Whose
To ask possession (kepemilikan)
Whose geese are they?
Whose car will he borrow next week?
7.
Why
To ask reason
Why are they lying on the floor?
Why will you leave us?
8.
How
To ask manner/way (cara)
How did you explain it?
How will the taxi accumulate the bill?
asking about condition or quality
How was your exam?
how + adj/adv
asking about extent or degree

how far
distance
How far is Pattaya from Bangkok?
how long
length (time or space)
How long will it take?
how many
quantity (countable)
How many cars are there?
how much
quantity (uncountable)
How much money do you have?
how old
age
How old are you?
how come (informal)
asking for reason, asking why
How come I can't see her?

One of the example of my sister got is:

They will design their own shirt on a sheet. 
                                          1                             2

Just take a look on the example above. I have some simple steps that may help you how to make a simple question word. 

1.       Know what will be asked then choose the appropriate question word.
Look at the red example above. We will take number 2 as the sample: you want to ask about THEY OWN SHIRT. You see it is as OBJECT and a NOUN, and then see the table which question word that matches to the function.  
To know if you understand well which one, then take this quiz first or this one...
According to the table above, WHAT is the correct word to refer "their own shirt". 

2.       Make the interrogative sentence of the sentence.
Positive sentence: They will design they own shirt on a sheet.
Negative sentence: They will not design their own shirt on a sheet.
Interrogative sentence: Will they design their own shirt on a sheet?
Interrogative pattern will help you to make question word because all of its pattern use interrogative sentence, EXCEPT for asking SUBJECT.

3.       Put the question word in front of the interrogative sentence.
We know that the right question word is ‘what’, so the question will be:
What will they design on a sheet? <<------------ that's the question of the answer THEIR OWN SHIRT 
 Don't forget to erase the asked phrase ^^



See how she learned...*lol*


I hope you start to understand. But no worries, we have another task to solve. We'll 
take number 1: you want to ask about THEY. Let’s go to similar steps.

1.       Know what will be asked then choose the appropriate question word. See the function on the sentence that “they” is as SUBJECT of person. Unless you are sure, you may have a look on the table again.
2.        Because of asking SUBJECT, we don’t have to make the interrogative sentence in order to  make the question. All we need is put the word of question in front of sentence after erasing the word we ask, so the question will be:
Who will design their own shirts on a sheet? <------ answer: THEY


Got it?
Further information and addition we discuss in this forum. So let me know if you have question or suggestion.
Happy learning  ...

Friday, December 24, 2010

Ketika Berada di Titik Jenuh...

Tiba-tiba kok ingat zaman SMA dulu. Berat rasanya ketika masuk jurusan yang tak saya sukai. Terlebih lagi, nyaris semua 'musuh' pelajaran saya di situ semua.

Tapi yang masih jadi keheranan saya sampai saat ini adalah mengapa menulis apapun saat itu terasa jauh lebih mudah ketimbang sekarang? Padahal kalau dipikir-pikir, waktu luang saat kuliah itu jauh lebih banyak. Bukankah semestinya bisa lebih produktif ya?

Agak tercenung juga saat teman sekelas saya dulu mengutarakan kebiasaan saya saat di kelas.
"Kamu tuh, kalau keliatannya lagi jenuh... udah pasti ambil buku dari kolong meja, terus oret-oretan, entah jadi gambar atau tulisan. Dan kalau sedang bertapa begitu, ga bakalan aku sapa soalnya percuma: pasti kamu ga bakal noleh kecuali ditepok dulu."
Sebenarnya tak perlu heran karena saya sendiri merasa begitu. Tapi ya tetap saja saya merasa tak enak, membayangkan sudah berapa orang yang saya cuekin selama sekolah? Apa saya semi-autis?

Stop.. lupakan itu, kembali ke curhat hobi.
Kali ini kaitannya dengan membaca. Dulu saat masih SD, saya tak suka baca tuh. Kecuali saat dengan terpaksa jaga toko, teman satu-satunya yang secara refleks saya ambil hanyalah buku cerita rakyat demi membunuh kebosanan. Tapi ketidaksukaan-membaca ini juga kurang tepat, wong tiap mampir ke rumah Neng Astri, mata saya pasti melirik ke tumpukan majalah Bobo langganannya. Percaya atau tidak, begitu saya duduk di tepi kasurnya, dia berkomentar langsung, "Tuh tuh, kalau Vera maen ke sini, pasti tangannya ngambil majalah Bobo deh."
*maap ya saya suka towel-towel majalahmu, Stri. Dulu pan saya masih polos banget :D*
Sampai sekarangpun, masih saya ingat dia berkomentar begitu. Kalau diingat-ingat, saya jadi malu karena terkesan kurang bahan bacaan padahal Apak berdagang buku.. *alesan padahal males baca buku nonfiksi*
Akhirnya saya utarakan keinginan saya untuk berlangganan majalah Bobo pada Mamah. Sip, beliau setuju juga walau beberapa tahun kemudian berhenti langgan karena harganya yang kian mahal *cry*cry*cry*

Hobi yang sedang gandrung-gandrungnya saya senangi ternyata harus di-cut paksa. Mungkin itu pertama kalinya saya merasa kecewa berat. Karena itu jugalah saya mesti bolak-balik ke cerita-cerita rakyat dan perdongengan ala barat.
Semuanya khatam saya baca walaupun tak sampai ingat runut alur cerita. Mungkin Sangkuriang yang tertukar sama Roro Jonggrang, atau Timun Mas sama Thumbelina. Lebih parah lagi Putri Salju bisa saja dimerger sama Lutung Kasarung *ini mah enggak ding *.

Awal semester masih mending saya hamburkan uang demi pinjam buku di rental ketimbang kuliner wisata di Jogja *nah kan, ketauan katroknya saya kenapa sering nyasar*. Sampai-sampai rela nyewa Harry Potter ke-5 seharga Rp15000 dalam sehari. Benar-benar khusyuk baca itu novel seharian sampai nyaris tak ngobrol dengan seorangpun anak-anak kos. Yang penting, malam esoknya saya bisa mengembalikan buku itu. Beuu... datang-datang saya dikeprokin penjaga rentalnya *sambil lirik orang yang antre mau minjem buku itu, heuheu ya maap, kelamaan nunggu ya Mas?*.

Berbalik keadaan dengan semester akhir ini yang sebenarnya punya tabungan yang lumayan dan waktu luang yang hebat, kenapa justru ghirah baca saya turun dengan drastis?
Fadhillah Amal yang sudah dikopi tahun kapan juga belum saya tamatkan. Lalu, novel kecil Pak Jostein Gaarder saja belum tamat! (padahal jatahnya cuma 2 minggu peminjaman, minggu ini mesti balik)
Padahal dulu baca Dunia Sophie saja tak sampai seminggu *tentu dengan ngelewat-lewatin ajaran filsafatnya :p*
Ada apa dengan saya ya...?

Maaf catatan saya kali ini hanya curhat lepas yang tak bermanfaat buat kalian yang baca *sayang sekali ya, kenapa juga kalian baca?*.
Mungkin ini juga kali pertama saya membuat sebuah curahan hati tentang diri sendiri. Dulu anggapan saya, menulis diri sendiri itu seperti mengungkap aib secara gratis pada pembacanya *nah, rugi kan?*. Mungkin ini juga jadi alasan kenapa orang bilang saya perlu membuka hati. Ah mana saya tahu buka hati itu seperti apa.. :D

Sekarang mungkin sudah ketahuan sebagian aib saya. Ah tak apalah, saya sedang ingin menulis apa yang ujug-ujug terlintas saja. Kalau saya curhat, tak apa-apa kan?

Setidaknya sekarang saya sudah merasa agak 'lepas' *fyuh




11.21 pm
13 Desember 2010

Monday, October 18, 2010

Batu dan Cahaya

Ingin saya tepuk pundakmu untuk sekedar menenangkan, dengan nada serius pula ingin saya tanya mengapa kau kecewa. Sayangnya saya tak berhak melakukan dan menanyakannya. Bisa-bisa sakit hatimu menjadi dan makin terkoyak.

***

Suatu hari dalam kota Kerikil kamu menemukan saya, mengajak bermigrasi menuju kota yang banyak cahaya. Saya bilang saya bimbang dan khawatir.

Lalu saat kamu bertanya mengapa, sayapun berkisah.
Saya ini hanyalah bebatuan kasar, yang tak selalu bisa menopangmu karena suatu saat harus hancur ditempa panas dan hujan. Sayapun jahil saat sengaja membenturkan diri agar terinjak dan membuat telapak kaki kalian sakit dan luka.
Bahkan karena kerasnya, saya tak boleh diadu dengan kesamaan serupa. Itu hanya membuat kita terbelah dan pecah.

***

"Aku tak pernah marah jika kamu mencari yang lain." Begitu kata saya.
"Aku tak bermaksud begitu...," katamu bergetar.
"Aku akan tulus menerima pilihanmu yang lain," kataku.
"Aku kecewa..."
"Mengapa begitu?"
Terdengar napas berat dari hidungmu, mungkin paru-parumu telah kempis sekali sekarang.
"Aku adalah cahaya. Yang aku inginkan hanyalah engkau. Kau adalah pilihanku tapi tak memberi kesempatan untukku."
"Kesempatan?"
"Tak inginkah kau kubawa menuju tempat baru? Aku ingin selalu menerangimu agar kau tak perlu khawatir akan kegelapan."
"Lalu? Bagaimana aku bisa berguna untukmu?"
"Cukuplah kau di sana menemaniku."

Saya trenyuh dalam bisu. Menyayangi tapi tak bisa melengkapi. Bagi saya, kami adalah mozaik yang tak pernah tersambung.

Kamu tak perlu menadakan kecewa seperti itu, karena benda mati serupa saya tak butuh kauharap banyak.
Saya tak bersayap maupun berkaki menuju tempat indah itu. Kalaulah seekor camar tiba-tiba mencengkeram lalu merebah saya di tempatmu, bisakah dia mengaduk saya dari gerumbul karang atau batu? Mereka pastilah memagari saya dengan ketat.

***

Lalu saya tiba-tiba bersedih. Bukan karena kekecewaan yang kauperlihatkan, namun luka yang telah saya buat di sana...

Ah, saya telah menjahilimu, wahai yang berharap pada sekecil batu...




18 Oktober 2010

Thursday, September 30, 2010

Kembali Membumi

Berkali-kali saya dipertemukan dengan orang-orang hebat. Saking hebatnya saya sering dibuat ciut dan merasa lumpuh karena tak ada yang bisa jadi kebanggaan.
Berhadapan dengan merekapun sering membuat lidah kelu. Hanya melongo seperti kerbau saat dipaksa pentas di ajang berbakat.

Malu rasanya menyadari ada banyak keliru saat berhubungan dengan mereka. Di balik punggung, mungkin saja mereka membatin saya 'orang dungu'.
Namun demikian, saya yakin saya tidak bodoh. Saya disekolahkan dan saya bukan pelacur yang konon dapat membumihanguskan sebuah sekolah.

Perjalanan menuju kos masih jauh. Dan bertemu dengan orang-orang barupun sudah sebuah takdir.
Lalu saya sadari sepenuhnya, ada banyak orang dimana tanahnya saya pijak ini. Sepertinya mereka senewen dengan saya. Sepertinya mereka menggerutu seolah ocehannya tak pernah saya gubris.

Tiba-tiba saya tersentak sendiri. Apa hak saya merasa sesentimen ini?
Mereka yang memijak tanah, tentu tahu ada kejadian apa saja dari senti-senti langkah itu.
Saya menatap sahabat saya di layar kemudi, berkonsentrasi di jalanan sementara kepalanya tengah migrain berat. Di seberang saya berjajar bapak-bapak becak menunggu pelanggan, kayuhan mereka pasti jauh lebih berat demi uang beberapa rupiah.
Seorang ibu cekakakan dengan tetangganya di teras rumah, sementara otak saya seakan mengadakan seminar kewanitaan 'mampukah kelak kamu menjadi seorang ibu?'.

Banyak sekali emas yang terhampar di tanah. Mungkin inilah waktunya saya menunduk dan menatap sekitar. Saya jengah menatap langit yang sering menyilaukan mata.

Kalaulah bukan penghuni Bumi yang menepuk pundak dan mengajak saya beredar sebentar melemaskan otot leher, mungkin saya cacat karena kram menatap angkasa. Saya ini penghuni Bumi yang membandingkan diri dengan penghuni Langit. Amat jauh berjeda jika saya tak menaiki roket.

Terimakasih, pada emas-emas yang bersembunyi malu di dasar tanah. Kalian benar-benar hebat.





Jogja terik ditemani sebotol Jeniper,
30 September 2010

..teruntuk teman-teman yang tengah bertempur menaklukkan skripsi dan tugas akhir.. Kita bisa menuju hingga akhir, nikmatilah saat-saat ini.

Sinetron di Terik Senja


Siang ini terik, tapi tak menyurutkan hasrat sohib cantik saya Pie untuk jajan mie ayam. Ngidam katanya. Yuk mari saya temani membelinya.

Di sebelah gerobak mie ayam, nongkrong pula jajanan cilok dan cireng, tengah sepi pembeli. Namun tak lama kemudian ada seorang wanita seksih (karena memakai jeans superpendek yang belakangan jadi tren di masyarakat), serta seorang gadis cilik kurus kira2 sepinggangnya (mungkin anaknya). Oo, penggemar cilok ternyata.

Mulanya tak saya perhatikan, wong sama2 pembeli (sama2 wanita pula, ngapain coba? ^_^").
Lama2 saya mendengar seseorang berseru keras. Otomatis saya menoleh.

Gadis cilik itu tengah berusaha menuntun motor wanita tersebut sementara si wanita berteriak2 agar dia tuntun dengan benar (mungkin letak parkirnya tadi agak mengganggu lalu lalang kendaraan lain).

BRAAAK!
Sang motor jatuh, nyaris menimpa si gadis. Sedetik-dua detik tak ada reaksi apapun antara mereka berdua.

Wanita itu ambil satu langkah menghampiri si gadis.
Memukul keras2 di lengan kanannya sampai 3 kali, seraya memberdirikan kembali motornya.
Gadis cilik itu hanya memejamkan mata, seperti pasrah saja diperlakukan begitu, tapi tetap membantu memberdirikan motor.

Saya masih terpana mendapati kejadian tersebut.
Begitu mereka melintas melewati kami, masih kuingat dengan jelas si gadis terus memegang lengannya itu...
.



.
Baru saja saya membikin penggalan cerita tentang seorang wanita luarbiasa kemarin.
Tapi rupanya wanita pada kenyataan di atas tak pernah selalu puitis seperti dalam fiksi, sajak maupun puisi.

Saya tak pernah berharap melihat adegan yang merendahkan kaum Hawa seperti ini *setidaknya cukup disaksikan dalam sinetron2 konyol itu saja..
Entah beliau tak pernah tahu indahnya mahkota bunga ketika mekar, entah beliau tak pernah merasakan manisnya cokelat... *apa pula maksudna ^^
.
.

"...Dengan cara sangat khusus, roh dan cinta dicampurkan. Dan cinta yang sangat halus menghilang dalam campuran..." (Debu- Nyawa dan Cinta)
Dan ketika sepasang pengantin dianugerahi anak, maka Allah telah mempercayakan mereka untuk dititipi sebuah nyawa untuk dirawat baik.

.
Wanita itu diciptakan amat lembut. Bukan untuk dijadikan serpih2 kecil, tetapi agar orang2 tercintanya merasa tenang bersamanya.

Wanita itu diciptakan dengan teramat kuat. Bukan untuk menjadi monster, tetapi untuk menopang orang2 tercintanya ketika bersedih.
.

.

.
Maghrib penuh rahmat,
dikencani kopi susu panas dan kue salju keju.
19 syawal 1431/28 September 2010


*maaf atas pemberian judul yang aneh
*maaf juga ulasan wanitanya hanya seadanya yang pernah saya baca.. -^^-

Saturday, September 18, 2010

'Kencan' Malam Minggu

Emak saya datang, hanya sebentar untuk menyampaikan pesan bahwa beliau tak bisa ikut arisan haji esok hari. Maksud hati ingin menemani mencari kahar (delman), tapi ternyata akhirnya saya menemani beliau pulang karena hari sudah maghrib. Tak tega rasanya membiarkan beliau pulang sendiri tertatih-tatih karena usia. Lewat stadion pula… jalanan pasti sudah agak lengang.

Sepulangnya dari rumah Emak, rumah masih sepi. Orangtua belum pulang dan saya menemukan sandal ukuran besar bergaya bapak-bapak di depan tangga. Olala… ada siapa ya?

Kucluk-kucluk saya menemui Mi yang kebetulan tengah berbuka dengan sepiring nasi di tangan.

“Teteh, ada Pak Azi. Mau ke Apak katanya…” *nama disamarkan agar saya tak dituntut *
“Pak Azi mana?” Terus terang walaupun sering mendengar nama beliau, tetap saja saya jarang menemui para tamu Apak.
“Ya yang itu deh pokoknya mah. Orangnya lagi sholat, tuh.”

 Dalam hati saya agak waswas juga. Pernah ada tamu Apak yang setengah stress masuk ke rumah tanpa permisi, dia menanyakan Apak dan menggasak makanan di meja (wohh, bahasanyaaa). Mamah cuma bisa diem kesel ngeliatin si tamu yang asyik banget makan dengan santainya, padahal tahu sendiri Apak sedang tak berada di rumah.

Bukan masalah makanannya, tapi khawatir ada kejadian tak mengenakkan di rumah kalau si tamu tak ditunggui. Belakangan kami saya tahu, orang aneh ini memang agak tak waras. Kerjanya memang meminta-minta uang ke rumah yang dia kenal. Nah, saya khawatir tamu yang datang itu yang rada stress ini.

Bakda sholat, Pak Azi menemui kami di ruang tamu (halah, padahal kagak ada). Saya mempersilakan beliau untuk icip-icip sedikit jamuan kami. Ternyata beliau dari Muhammadiyah, kebetulan sedang silaturahim dari tetangga terus mampir ke rumah Apak. Cerita-cerita pendek tentang puterinya yang mau menikah dengan anggota seorganisasi (Alhamdulillah), dilanjutkan dengan obrolan singkat seputar temannya yang juga saya kenal berada di Jogja.

Karena saya kasihan juga kenapa sudah ngobrol ngalor-ngidul begitu belum juga merasa haus, maka saya kembali bilang, “Mangga Pak,dileueut saayana.” (silakan dimakan seadanya)

“Oh muhun, muhun, haturnuhun Neng, ditampi muhun?” katanya. Saya mengiyakan.
“Wah gelasna… meni ageung-ageung teuing atuh…” komentarnya begitu meraih gelas yang kusodorkan.
Saya cuma nyengir sambil membalas, “Oh bilih wae bapak haus…”

Teringat tadi sore saya menyodorkan segelas (bukan secangkir) teh hangat favorit Emak, tapi tidak beliau minum. Akhirnya karena sayang mengotor-ngotori gelas, saya pakai itu gelas untuk Pak Azi. Hanya airnya saya ganti karena sudah agak dingin.

Meski begitu, tetap saja beliau memuji, “Raos Neng, tehna.” Sampai… beliau menyeruput teh itu sampai habis.
Haha, terimakasih ya Pak…

Ketika saya dan Ati bercengkerama, Ati menceritakan apa yang didengarnya sewaktu ia ngamar mandi.
“Tadi pas Pak Azi dateng, Ati lagi di kamar mandi, cuma denger aja dari sana. Yang nerima beliau itu Mi. Pas ditanyain soal Apak, mungkin Mi lagi sasah (gugup) nanggepinnya…
Masa’ bapaknya sampai bilang, ‘Tenang aja Neng, Bapak bukan mau nyulik kok…’
Wahahaha, Ati jadi ketawa-ketawa sendiri di kamar mandi…”

Weww... setidaknya saya tidak separah itu ya... , tabahlah Mi...
Ini memang malam minggu yang aneh...




Saturday, September 4, 2010

Gatau-gatau Terus Sih, Mony*t!



Bingungkah kenapa tumben saya posting dengan judul ga sopan seperti di atas? Saya hanya ingin curhat saja, kejadiannya secara langsung dialami pagi ini, tepat ketika saya mandang kacang mete di depan mata *frase terakhir  ini ga penting.

Orang-orang rumah sedang pergi, hanya tinggal saya dan si ragil yang kebagian jaga rumah *deuh, kesannya satpam bener yah?

Dari pagi saya ngendon di kamar, soalnya males nonton tipi dan ingin privasi aja ketimbang di luar kamar yang terkadang suka ada orang yang ujug-ujug nongol mau cari Apak atau Mamah.
Mi, ade saya yang paling kecil, asyik main game juga padahal tipinya koar-koar.  Tahu-tahu telepon rumah berdering. Otomatis, Mi langsung angkat, dengan etika standard tapi sopan.

Mi: “Halo?”
Pak X: “Halo, ini siapa ya?”
Mi: “Ini putrinya.”
Pak X: “Oh iyaa... Pak Arifnya ada?”
Mi: “Engga ada.”
Pak X: “Kemana?”
Mi: “Ga tau.”
Pak X: “Oh, Pak Arifnya lagi mod*l  kali ya... Kalo ibunya?”
Mi: (udah rada berjengit denger kata-kata itu) “Engga ada juga.”
Pak X: “Kemana?”
Mi: “Ga tau juga...”
Pak X: “Gimana sih, ditanyain kok gatau-gatau terus sih, M*ny*t!” (klik. Telepon diputus.)


Ehm. Begini, keluarga kami sebenarnya standard saja. Bukan yang sangat-sopan-sekali, bukan juga yang amat-sangat-kasar-banget. Kadangkala ketika orangtua kami berbicara pada teman sebayanya atau bahkan pada saudara-saudaranya, mereka berbicara pergaulan (sedang, tapi kadang termasuk kasar). Tapi saat berada di rumah, bahasa kami keseharian sudah termasuk sopan.

Saya tahu benar seperti apa rasanya dikata-katai seperti itu karena di rumah maupun di lingkungan tak pernah ada bahasa binatang ditujukan pada manusia. Sekalipun ada satu-dua teman kami yang terbiasa berbicara kasar, tapi kekasarannya tak pernah dialamatkan pada kami. Setidaknya, derajat kekasarannya tak sampai penamaan binatang.

Mi langsung menuju kamar saya, mendongeng kejadian yang barusan dia alami. Saya tangkap ada rasa dongkol dan shock di sana. Mungkin Mi membatin, “Saya manusia kenapa Anda menghewani saya?”

Beberapa detik lamanya saya terdiam, sampai memunculkan pertanyaan apa iya Apak punya masalah sama orang sampai sebegitu kasarnya mengatai orang? Ragu pangkat tiga banget. Beliau sering diminta mengimami ataupun berkhutbah di langgar ataupun surau. Meski di tempat kecil, tapi itu sudah cukup menyiratkan bahwa perkataan beliau pastilah baik untuk bisa dipercaya masyarakat.

“Sabar, Mi. Ujian puasa,” begitu kata saya akhirnya. (habisnya bingung harus komentar apa?)
“Padahal suaranya udah bapak-bapak gitu kayaknya, Teh. Kok kasar banget sih?”
“He he, terus kenapa juga kamu nggak tanya keperluannya apa?”
“Yaa... kan teleponnya langsung ditutup...”
“Ya udahlah, mungkin iseng aja itu orang.”
“Nanti kubilangin sama Mamah, ah...”

Memang sifat anak kecil itu tukang ngadu, tapi ya engga apa-apalah. Toh Mi itu sebenarnya ingin curhat karena merasa kesal dikata-katai begitu. Dia ingin pembelaan yang lebih besar dari reaksi saya barusan. Mungkin dia ingin saya juga ikut marah-marah dan mengutuk perbuatan tercela si penelepon *halah.
Tapi De, percuma juga kalau orangnya engga dikenal seperti itu. Kalau misalnya dia ada dihadapan mata, nah... barulah kamu boleh hajar sepuasnya itu orang...




"Tiada suatu ucapan pun yang diucapkan melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir."
(Qaaf:18)


"Tidak akan lurus iman seorang hamba sehingga lurus hatinya, dan tidak akan lurus hatinya, sehingga lurus lisannya. Dan seseorang tidak akan masuk surga apabila tetangganya tidak merasa aman dari kejahatan lisannya."
(HR. Imam Ahmad dan selainnya)


 
Powered by Blogger.