Showing posts with label food. Show all posts
Showing posts with label food. Show all posts

Friday, January 16, 2015

Allure: Nagihnya Si Susu Ijo

Oktober lalu suami ke Bandung demi menghadiri wisuda adik semata wayangnya. Sekalian deh, keluarga suami pada nyambangin Kuningan demi nengokin si gadis. 

"Neng, ada permen ... ENAK banget."
"Oia? Ya udah nikmatin."
"Beneran lho, ntar aa bawain ya. Ada susu juga. Rasa greentea."
"Hah? Kayak apa itu?"

Rasanya mild, tebal, keras, dan lebih berasa manisnya susu ... itulah permen Maccha Milk Candy UHA, yang ternyata kalian bisa dapatkan di kerabat A###mart. Kalau review adik saya: gak bikin eneg. Lha bukannya permen tercipta untuk menghilangkan rasa eneg? *entahlah
Saya juga suka, tapi lebih suka berupa minuman, kayak Allure ini~
segelas Allure dingin di hari yang terik <3
Rasanya? Menenangkan.
Kadang greget juga kenapa 1 sachet cuma buat secangkir mini minuman? Lagian buat ukuran economic bag cuma 14 biji. Aaaggh! >_<
Walhasil sebelum 2 minggupun saya sudah menghabiskan 1 bag susu. Bukan saya boros meminumnya toh sehari sekali saja tiap minum, tapi terkadang 2 sachet sekaligus saya bikin menjadi segelas.
Oke, saya boros.

Waktunya kembali ke masa 'ada alhamdulillah enggak ya gakpapa', soalnya Allure baru tahu dijual di Papaya, Bandung, tempat yang baru saya tahu semacam market khusus produk-produk luar negeri *wahai bangsa, maafkan lidah ini
Pantas saja mihil (utamanya buat saya yang ngirit), se-bag begitu saja sekitar 60k (dengan waktu habis kurang dari 2 minggu). Semoga Indonesia punya produk ciamik macam begini ke depannya deh, biar mahal setidaknya bisa lebih terjangkau lokasinya kan :D

Wednesday, April 9, 2014

Soerabi Bandoeng ala Balikpapan

Subhanallah ... berapa bulan yak saya ga posting-posting di sini? Rasanya setara dengan dosa menelantarkan duit satu milyar.
Akhir-akhir ini memang saya tak banyak buka blogger, eng ... buka sih, tapi sekedar cuci mata tulisan teman-teman saja :))

Hari ini cerita ringan-ringan saja deh padahal biasanya juga gitu. Lagi-lagi soal makanan, beberapa waktu lalu sempat saya rasakan gejala ngidam. Pingin mi (alhamdulillah udah gak sering mual dan mulai bisa makan mi asalkan ga berkuah), pingin martabak (alhamdulillahnya ada sodara beli martabak waktu arisan keluarga), pingin kacang merah (alhamdulillahnya ampe dikirimin 2 kg dari kampung beserta acinya segala), pingin burjo (alhamdulillahnya ketemu sama ayah mertua), pingin sorabi Kuningan ... nah yang terakhir ini agak susah.

Kalau saja punya alatnya, sebenarnya bisa saja dibuat sendiri. Tapi buatnya harus pakai tungku dan wadah mangkuk dari tanah liat ... ya gimana coba?

Entah ini petunjuk atau apa, suatu ketika saya dan suami dapat musibah sehingga sementara itu kami pinjam motor mertua. Tumben-tumben juga mata suami tengok-tengok ... menjurus ke arah saung mirip lesehan, hanya saja sia tidak ditutup kain. Tertera tulisan di papan warung "Soerabi Bandung".
"NENG! Ada sorabi tuh!" Wah.
"Mau beli gak?"
"Nanti aja A, barusan makan banyak sih ... jadi kenyang duluan."
"Ya udah, bungkus aja ... taruh kulkas nanti."
"..."

Di warung ada sekitar 5 orang, saya rasa semuanya orang Sunda ... karena kentara sekali kok logatnya :3
Kangennyaa saya sama tungku-tungku ini, berasa siduru kata orang Sunda mah.
Karena yang terlihat di gambar kebanyakan sorabi modif yang manis-manis, saya tanyalah ada yang rasanya asin/gurih ada atau tidak. Alhamdulillah ada! Semangat deh pesen 2 biji; sorabi telur dan oncom.
Kirain saya oncomnya ga pedas, karena ibu-ibu yang melayani menanyakan mau pakai mayones atau tidak, saya bilang tidak. Tapi begitu dimakan keesokan harinya (saya angetin pakai kukusan), wih oncomnya pedas mantap!
Dan ... habislah 22 ribu rupiah di tempat itu. Harganya betulan nyekik, sebab di Bandung sendiri teman saya bilang berkisar seribu-dua ribu perak perbuahnya (entah kalau yg modif). Di Kuningan sendiri sorabi langganan keluarga saya mencapai 4 ribu, bisa juga pakai macam-macam (bisa beli yang tersedia di sana maupun bawa tambahan isi sendiri).
Setiba di rumah, ga tahan juga icip-icip ... walau kenyang mendera, habis juga 1 porsi, huahahaha ...

Rasanya lumayan, rating 2,6 dari 5. Sayang sekali mengingat pembungkus sorabi itu harusnya pakai daun pisang, ini dibungkus pakai plastik. Bisa makan di sana juga, disediakan tempat duluk dan mejanya kok ;)
Pokoknya kalau kalian mau icip sorabi begini, kosongin perut dulu yaaa. Karena bahan utamanya dari santan dan tepung (apalagi saya pakai telur), jadi sangat cukup untuk sarapan :))

Bagi yang bermukim di Balikpapan silakan beli di ringroad, pas sebelah kanan swalayan Maxi cabang ringroad (PDAM). Tempatnya agak masuk, di antara 2 pertigaan.
Sempat saya tanyakan kapan jadwal 'beredarnya', si mamangnya bilang tiap hari tak terkecuali hari libur. Justru hari libur itulah bisa lebih pagi lagi bukanya. Biasa buka jam 10-11 pagi sampai malam (lupa jam berapa).

Selamat kulineran ;)

Thursday, January 9, 2014

Hasil Panen Berujung Sapo Tahu

Agak maksa juga ni judulnya ...
Saya cuma pingin rekam perjalanan 'kebun' kecil milik kami aja, bahwa dari sebelum nikah suami saya memang suka nanem-nanem tanaman dapur gitu. Maksudnya tanaman untuk keperluan masak gitulah.
Awal kepindahan saya ke Balikpapan juga sudah dimulai, cuma sayangnya tanah di sana kurang bagus sehingga kangkung yang kami tanam berujung tewas dimakan hama dan tak kunjung besar.

Sepisah kami dari orangtua suami, rencana kami meneruskan kebun kecil-kecilan itu tetap ada. Bermodal styrofoam dari penjual buah, sayur-mayurpun sudah siap diwadahi. Lama kelamaan tanaman di rumah tambah banyak, tambah asri deh :)

Tha-thaaa~

'Kebun' atap
Sudah sebulan lebih kayaknya nih, harusnya masa panen itu 22 hari. Baru sekarang sempat saya garap untuk masak brunch kami hari ini. Dari kapan hari saya kepingin sapo tahu, baru sekarang kesampaian karena bahan juga sudah cukup tersedia. Ga umum kali ya, sapo tahu kok pake kangkung ... tapi berhubung brokoli, bakso maupun wortelnya ga ada, maka pakai saja yang ada di kebun.

Bahan:
- 1 buah tahu sutera/telur/jepang, iris sesuai selera dan goreng hingga kecokelatan. Tiriskan.
- kangkung secukupnya
- udang kecil secukupnya (sesuai selera, bisa juga diganti ayam/sosis/bakso/cumi)
- jamur putih secukupnya, rendam dengan air panas hingga melunak, cuci dan tiriskan

Bumbu:
- 1/2 bawang bombay, iris kecil
- 3 siung bawang putih, iris kecil
- semangkuk air (bila suka kuah banyak)
- 1 sdm rata maizena
- 1 sdm kecap asin
- 1 sdm kecap manis
- 1 sdm saus tiram
- merica secukupnya
- daun parsley secukupnya
- kaldu
- gula-garam secukupnya
- minyak wijen (skip)
- margarin untuk menumis

Cara membuat:
- Tumis bawang bombay dan putih dengan margarin
- Masukkan udang, tumis hingga berubah merah
- Masukkan kangkung hingga setengah layu
- Masukkan semua bumbu, aduk hingga mengental
-Sajikan selagi panas

Saturday, December 14, 2013

Pancake Durian Medan

Ealah, tiap posting kok makanan melulu ya ... gakpapa ya pemirsah, itung-itung ngisi blog yang lama berdebu :))
Awalnya dapet nyicip dari ibu mertua. Kirain eskrim, ternyata namanya pancake toh ...
Belum sepenuhnya beku sih, tapi uenak!
Durennya mantap, mungkin jenis montong. lapisan luarnya hijau tipis bertekstur seperti kulit bakpao, lalu dilapisi semacam eskrim vanila, daaan tentu saja lapisan terdalam itulah si duren bersemayam.
Buat saya, harganya ni lumayan juga. Sekotak berisi 5 buah pancake dihargai Rp.60.000! Jadi konon perbuahnya dihargai Rp.13.000, tapi karena beli cukup banyak dapet kortingan 5 ribu. Mungkin kalau di Jawa (atau di Medan sendiri) harganya gak segitu.
Tapi ... biarpun katanya kudu ditaruh di freezer biar beku, menurut saya ni enaknya dimakan sebelum beku, jadi durennya nikmat disantap juga dalam keadaan empuk :9


Gothic Fried Rice

Tha~thaaa ...
Suami sengaja ngumpulin tinta cumi, katanya penasaran pingin bikin nasgor hitam gitu.
"Neng duduk manis aja, biar Aa yang masak sekarang."
Deuuu suami sayah meni romantis ...


Hasilnya enaaakkk ... cuma memang warnanya item gitu, makanya saya namain 'gothic' aja, kikiki...
Bumbunya cukup simpel, pakai bawang merah-putih, bawang bombay, cabe rawit, daun jeruk, serai, merica, gula-garam, dan tentu saja tinta cumi. Telur, cumi dan udang itu tambahan campuran, nambahin apa yang ada di kulkas :))

Kulit Bak Nangka, Berduri Bak Durian

Gak seru dong kalau jalan-jalan hasilnya nihil.
Hasil jalan-jalan kemarin ... saya jadi tahu yang namanya buah lai dan cempedak.


Lai ini duren ukuran mini, tapi tanpa bau se-menyengat duren. Begitu dibuka, begh ... begitu menyilaukan! Warnanya kuning tua nyaris jingga segar ... tapi begitu dicicip, rasanya hambar. Teksturnya benar-benar jiplakan duren, hanya saja tak selembek duren jika telah matang.
Nama ilmiahnya adalah Durio kutejensis (kutejensis = berasal dari Kutei), karena menurut penyebarannya ia banyak ditemukan di hutan Kalimantan.
Lai
Kalau cempedak pastinya pernah dengar kan? Seumur-umur baru kali ini saya tahu persis seperti apa buah ini. Kalau Lai itu kembarannya duren, cempedak ini jiplakannya nangka. Buah yg punya nama ilmiah Artocarpus champeden ini adalah tanaman buah-buahan dari famili Moraceae. Buah, rasa dan baunya pun mirip nangka. Kulit luarnya sama-sama hijau berbintik kuning-cokelat dan lengket karena getah, hanya saja tidak menonjol seperti nangka. Lebih soft and shiny gitulah ... *berasa iklan sampo
Cempedak
Setelah browsing, banyak artikel yang membahas buah yang satu ini. Khasiatnya beragam, terlebih hampir semua bagian cempedak bisa dimanfaatkan, dari buah hingga daunnya. Walau mungkin tak seenak nangka, kandungan vitamin Cnya ternyata lebih banyak dari nangka. Ia juga bagus untuk mata dan mengobati tumor.
Ibu mertua saya memberitahu bahwa kulit cempedak yang biasa disebut mandai itu bisa diolah lagi untuk dikonsumsi. Jadi saya coba bikinlah itu ... karena setelah nyicip punya ibu, kok mirip-mirip jamur goreng (cuma beraroma buah dikit).

Pertama-tama, bersihkan bagian luar kulitnya (buang yang ijo-ijonya itu), cuci lalu rendam dengan air panas selama kira-kira 2-3 hari. Pakai garam boleh, tapi gak usah kebanyakan, nanti keasinan. Karena saya gak betahan kalau liat air kotor didiemin, jadi air rendamannya sempat saya ganti beberapa kali ^__^a
Setelah direndam, buang airnya, peras lalu goreng langsung ke dalam minyak panas. Karena 'gatel' kalo masak biasa pake bumbu, saya iseng nabur merica ke mandainya setelah diperas :))
Hasilnya ... enak juga, hanya saja gak bisa makan terlalu banyak karena berminyak banget ... mungkin saya harus pakai trik tertentu biar hasilnya bisa memuaskan.

Friday, December 6, 2013

Dimsum Udang

Udang sekilo sudah beberapa hari yang lalu baru digarap sebagian. Janjinya sih suami pulang dari kerja saya suguhkan siomay udang. Tapi ujungnya malah nyuguhin pempek gagal tapi enak kok.
Loh loh judulnya dimsum tapi kok saya ngobrolin siomay... :D

Yah aselinya siomay, tapi berhubung penampakannya bikin kayak dimsum, jadilah itu judulnya. Saya praktikkin bikin siomay ini seperti membuat pempek. Pakai campuran biang segala, tapi maksud pakai biang ini memang untuk mencampurkan semua bumbu, biar kecampur semua gituuu ...
Bahan-bahannya gak pakai macem-macem, alhamdulillah suami komen enak katanya :)
Langsung aja nih ke resepnya ... maaf takatannya saya kira-kira saja yaa..

Bahan:
500-400 gr udang yang telah dihaluskan
10-15 sdm tepung kanji
Roll pastry
Air dingin

Ini dia 'kulit pangsit' yg asal nyomot di supermarket...
ternyata kulitnya tipis, jadilah setelah matang mirip dimsum :D

Bahan biang:
1 sdm terigu
2 siung bawang putih, haluskan
2 sdm ketumbar halus
2 sdm merica halus
gula-garam secukupnya / penyedap rasa
1 sdm minyak

Cara membuat:
Adonan biang:
- Campur semua bahan biang dalam 1 wadah, campur dengan sedikit air lalu aduk sampai tercampur rata tak ada tepung yang bergerindil.
- Panaskan di atas api sedang, aduk-aduk hingga menggumpal seperti bubur
- Dinginkan selama beberapa menit
Adonan dimsum:
- Masukkan udang, adonan biang dan sedikit air ke dalam satu wadah, aduk rata
- Masukkan tepung kanji sedikit demi sedikit sampai setengah kalis (kalau masih lengket-lengket juga tak masalah asal adonan tidak encer)
Membuat dimsum:
- Siapkan dendengan berisi air untuk mengukus
- Masukkan adonan dimsum secukupnya ke dalam roll pastry, bungkus dan taruh dalam dendengan
- Kukus selama 10-15 menit
- Sajikan selagi panas dengan sambal kacang

Aslinya pakai minyak wijen, ayam giling dan beberapa komponen lain, tapi saya tidak pakai karena gak ada stok :))

Wednesday, November 20, 2013

Baronang Goreng

Beli bahan mentah di pasar ikan, dipilihlah ikan Baronang. Kemarin-kemarin sudah mau beli tapi gak dapet terus, tapi kali ini kami dapat Baronang hampir 2 kg (kira-kira 11 ekor). Sudah waswas habis berapa duit karena konon itu termasuk ikan mahal buat dijadikan lauk. Alhamdulillah malah cukup murah, sebanding dengan 1 kg udang malahan. Kami beli 80 ribu rupiah aja, yaaayy~

Dimasak dengan lumuran bumbu halus bawang merah-putih, kunyit, jahe, garam, dan merica, lalu digoreng 10-12 menitan dengan api kecil di setiap sisinya, jadilah ikan gosong garing yg enak. Sajikan dengan balado terong-kentang pedas. Tandaslah itu makanan~
Dengan pengetahuan alakadar seperti biasa, berhasil juga saya menyenangkan perut suami sehingga hasil masakannya aja difoto setelah kami makan sebagian :))


Wednesday, November 6, 2013

Seblak: Pasta Pengganti Mi Instan

Dulu sebelum saya menikah, adek saya Ati yang kuliah di Bandung pernah beberapa kali membuat seblak. Itu katanya cemilan asal Bandung, wah saya saja bahkan baru dengar namanya -_-
Buat saya ini jenis cemilan 'agak berat' karena cukup mengenyangkan perut. Tapi sekarang pengalaman kemarin lumayan berharga karena kalau sedan tak punya bahan makanan dan belum belanja, memasak seblak saja sudah cukup :D
Kalau suami tahu biasanya saya kena marah, soalnya dia lebih suka kalau saya makan masakan yang lebih bergizi dari sekedar karbo saja (iya kan, kerupuk dan pasta-pastaan termasuk karbohidrat?). Jadi masak beginian cukup untuk sesekali saja ya.
Dulu pernah juga saya dan Ati masak seblak berdua dengan tambahan brokoli. Dan hasilnya lumayan, saya suka makan brokoli dengan lelehan kuah seblak di sana :9
Nah kali ini karena bahan yang ada cuma bahan dasarnya aja, yuk sama-sama simak resep simpel ini ;)

Bahan:
- kerupuk (selain kerupuk udang) mentah
- makaroni (boleh juga diganti dengan spageti atau bahan pasta lainnya)
- bon cabe secukupnya sesuai selera (saya pake bon cabe level 10)
- sedikit merica
- 1 siung bawang putih, iris
- garam
- 1 butir telur

Cara:
- Siapkan mangkuk berisi air panas, masukkan kerupuk dan makaroni mentah, diamkan selama sekitar 5 menit
- Sementara itu, panaskan sedikit minyak, tumis bawang putih sampai harum
- Goreng telur orak-arik
- Masukkan semangkuk air panas yang telah diisi kerupuk dan makaroni mentah
- M asukkan merica, bon cabe dan garam
- Aduk-aduk, tunggu sampai air agak menyusut dan berubah kental
- Seblak siap disajikan

Buat yang mau pakai sayur, masukin sayurnya belakangan yaa pas air seblak sudah agak menyusut. Ah ya, karena saya suka kuah, jadi saya tambah airnya. Ini juga soal suka-suka saja, aslinya seblak itu katanya tak ada kuah ... kalaupun ada ya cuma nyemek aja.
Gampang kaaan? Mau yang instan-instan gak perlu pakai MSG ya bikin semacam ini saja ... ;)

Monday, November 4, 2013

Balikpapan Culinary

Selama di sini saya diajak ke beberapa tempat icip-icip jajanan a la Balikpapan.
Awal-awal suami saya pernah ngajak ke dekat Klandasan untuk mencoba soto Makassar. Wuah, jenis soto yg lain daripada yang pernah saya makan sebelum-sebelumnya. Soto ini penuh rempah, dan bahan utamanya ialah daging sapi.

source
Kata suami, ketupatnya bisa ambil berapapun yang dimau secara gratis. Hahaha buat yang kelaperan boleh tuh ambil ketupat sebanyak-banyaknya :))

Lanjut ke Melawai, ini tempat mirip angkringannya Balikpapan, sebab ini dibuka dari sore hingga hampir tengah malam. Menu-menunya beragam, ada sate, aneka minuman, salome maupun pempek ada. Yang khas di sini adalah pisang gapit. Jadi ini pisang goreng yang dibakar dengan alat penjepit (halah, gaktau namanya). Hm, kalau di Jawa mungkin disebut penyet kali ya, sebab gapit dalam bahasa Banjar artinya jepit. Kebetulan beberapa kali saya diajak main ke sini dan berkesempatan mencicipi menu khas Samarinda ini, beginilah sosok pisang gapitnya:

pisang gapit Melawai
Kayaknya biasa, tapi rasanya khas. Setelah googling, bumbunya itu ternyata pakai kuah santan gula merah, pake pandan juga biar wangi.

Selanjutnya, saya tanya-tanya soal kuliner sini, sepertinya kaya sekali soal seafoodnya. Itu karena awal-awal saya masak daging tidak berinteraksi dengan ayam, tapi dengan udang. Berlanjut ke ikan, barulah menuju ayam *duhai amatirnya kamu, Nak :))
Salah satu favorit saya ketika memikirkan ikan adalah ... olahan ikan tengiri. Familiar dengan pempek yang beberapa waktu lalu pernah saya buat, dan hasilnya jauh dari memenuhi syarat, jadi kepingin juga dimana saya bisa jajan pempek di sini? Maka suami pun mencarikannya untuk saya. Yang mengejutkan, dia ternyata juga kurang begitu tahu dimana pempek yang enak bisa ditemukan di sini. Tapi berhubung di dekat rumah mertua ada toko dengan baliho besar pempek, jadilah kami icip ke sana. Sekali pesan, kami beli beberapa porsi, sampai saya sisakan sedikit karena perut sudah tak muat lagi menampung makanan. Pempeknya enak, hanya rasanya masih belum puas karena belum the best menurut saya.
Ah maaf saya tidak foto, karena memang ga kepikiran juga. Yang pasti saya mau nyari lagi, mungkin juga tempat rekomendasi tante kami bisa dijadikan tujuan selanjutnya.
Ya A? Ayo ke sana kapan-kapan! *ngomong sama poto

Nah, berhubung Balikpapan merupakan kota transit yang mayoritasnya orang-orang pendatang, jadi di sini punya segala macam hidangan tapi tak punya masakan/makanan khas. Awal-awal saya menginjakkan kaki di sini, suami mengajak saya ke bakwan Bintang. Pikiran pertama yang melintas di kepala saya adalah gorengan perkedel yang biasa disebut juga bakwan sewaktu saya di Jogja dulu. Jeng-jeng ... yang dimaksud bakwan itu ternyata bakso Malang :))
Sebetulnya saya kurang suka bakso urat karena suka nyelip di gigi. Rasanya enak, bakso uratnya juga saya suka, sebab termasuk lembut kalau digigit.

Satu hal yang gampang diingat dari ayah mertua adalah gemar makan nasi goreng terasi. Awal-awal saya masak sepertinya berbeda dari nasgor yang biasa beliau makan, tapi karena kepingin saya bikinkanlah itu. Tapi bila sedang bosan makan masakan rumahan, pastilah kami akan belikan di Iga Bakar Mas Giri, pesanan nasi goreng iga dan tongseng iga jadi menu wajib buat ayah :)

source
Meski sedang banyak keluarga berdatangan selepas acara ngunduh mantu kemarin, saya dan suami sempat-sempatnya pergi keliaran lewat jam 8 dengan mengajak adik ipar dan sepupu :D
Bukan apa-apa, kami sempat belanja keperluan sebentar, kemudian keluyuran (lagi) ke daerah Sudirman untuk menyantap semangkuk bakso. No pic doesn't mean this' a hoax, I didn't take a pic cuz it was dark for taking photo from my cam. Lagian saya googling juga gak nemu ... :D
Yang pasti daerah sini juga mirip di Melawai, jajanannya tersedia di banyak penjual dengan gerobak-gerobaknya, hanya saja viewnya tidak di pinggir pantai.

Masih di acara ngunduh mantu, suami memang berencana membeli beberapa porsi kepiting. Kapan lagi bisa icip-icip, Neng, begitu katanya. Pilihan jatuh ke kepiting Kenari (namanya resto Kenari jadi namanya juga gitu), padahal kepiting Dandito itu letaknya lebih dekat dengan rumah kami.
Lebih enak kepiting lada hitamnya di sana menurutku, gitu alasan suami. Berhubung saya juga belum pernah makan kepiting di sini, jadilah kami belikan 3 porsi. Tadaaa ...


Terakhir saya tanya-tanya (maaf saya bawel), adalah takoyaki. Sangat disayangkan adik saya yang menanti-nanti menu ini terpaksa tak bisa nyicip karena waktu berkumpul itu kami belum tahu tempat masakan Jepang berada. Aslinya ada di sebuah mall kalau tak salah, tapi menunya kurang meyakinkan akan keberadaan takoyaki :D
Setelah muter-muter, alhamdulillah nemu di area jajanan di daerah Gunung Pasir. Lokasi bagus karena banyak lembaga pendidikan di sini. Banyak meraup uang jajan para pelajar tuh, kikiki ...

source
Isinya tak ada gurita, sayang sekali. Tapi bisa menemukan cemilan setengah berat ini senangnya udah hebring. Sekalian lihat penjualnya beraksi, saya ikut mengamati cara pembuatannya. Hohoho, kalau dilihat-lihat sepertinya simpel ... kapan-kapan saya coba bikin ah, dengan isi keju ataupun udang juga bisa :D

Pernah juga saya diajak makan di luar pagi-pagi. Ngapain? Sarapan bubur ayam!
Buburnya pakai kuah, sekilas mirip sop (apa soto ya...). Ditambahi jeroan (saya gak pake) dan telur rebus. Saya pikir bubur doang gak bakal kenyang. Ow ow saya salah kira.
Bubur Samarinda ini disajikan dengan mangkuk besar, mungkin mirip-mirip mangkuk ramen. Hadeh, saya jadi cuma minum sedikit air setelah makan, karena memang tak muat lagi :))

source
Dan cemilan terakhir yang sering banget ditemui di sini: salome. Jajanan ini paling gampang ditemukan, gak beda jauh kayak cilok/cireng di pulau Jawa lah, karena memang sekilas penganan ini kembar identik :))
Bedanya, 1 plastik cilok hanya punya 1 varietas, sementara salome punya tahu sebagai pencampurnya. Isinya pun beda, salome ini biasanya berisi potongan telur rebus, dan kulit salome ini lebih kenyal dari cilok.
Karena saya suka jajanan semacam ini, jadilah saya suka beli kalau ada kesempatan. Kebetulan juga saya nemu 'varian' lainnya di pasar Klandasan, yaitu salome goreng. Tidak ada isinya, rasanya mirip bakso goreng dan lebih enak dikunyah. Sepertinya cuma di sini saya nemu, entah kalau tempat lain.
salome banyak ditemui di Lapangan Merdeka

Begitulah sekilas (apaaa sekilas kok banyak bener?) jajanan saya selama di kota orang. Saya cuma sempat memoto beberapa saja, karena memang tidak bisa selalu candid dan spontanitas. Kapan-kapan saja semoga saya bisa ceritakan lagi soal kota ini, tak lupa dengan jepretannya juga tentu.

Selamat pagi, selamat beraktifitas teman-teman :)

Hujan setengah sebelas, Gunung Bakaran.

Sunday, November 3, 2013

Ayam Kecap Mentega

Welcome home, myself! :D
Setelah seminggu kemarin nginep di rumah mertua karena ayah lagi dinas ke luar pulau, sekarang kembali beraktifitas mandiri di rumah. Sabtu sudah saya isi dengan bebersih halaman yang udah kotor kena debu bekas semalam. Jadi hari Minggu ini saya mulai coba masak ayam sisa di freezer, berhubung belum belanja lagi ke pasar ikan.
Sekalian bikin kaldu-kalduan, jadi itu ayam saya rebus semua sampe empuk, pakai bumbu bawang putih sama lada hitam, di sini nih saya bacanya. Hahaha, jadilah kaldu yang kurang sempurna karena tulang ayamnya juga tidak banyak :))
Setelah iseng bikin kaldu, saya lanjut memasak dengan bahan-bahan seadanya, yuk lihat...

Sisa ayamnya keburu dimakan :))

Bahan:
3-4 potong daging ayam ukuran sedang (bukan seekor ayam ya), matangkan (kalo saya mah yg direbus tadi)
1 buah bawang bombay kecil, iris
2 siung bawang putih, iris
1 ruas jahe, geprek
4 buah cabe rawit (optional)
2 sdm mentega
Air kaldu secukupnya (sesuai selera)

Campuran bumbu:
1/2 sdt kecap inggris
2 sdm kecap manis
5 sdm susu cair
1 sdt bubuk lada hitam
1 sdt saus teriyaki
1/2 sdt air asem
Gula-garam secukupnya

Cara:
- Tumis bawang putih, bombay, cabe dan jahe hingga layu dan harum
- Masukkan ayam dan air kaldu, dan masukkan campuran bumbu
- Aduk-aduk hingga merata, lalu sajikan

Hasilnyaaa.... hmm, gak buruk juga :9

Udang Saus Tomat

Mmm... sudaah pernah saya bahas jauuuh sebelumnya dalam sebuah notes pendek, dengan tegas saya tidak suka dengan saus tomat. Tapi pikiran seperti itu tidak lagi boleh ada di otak, begitu tegur saya. Ke depan-depannya nanti bakal ada yang harus saya perhatikan (anak maksudnya), tentu saja karena meski masih 1 keturunan bukan berarti selera dan cita rasa akan sama seperti orangtuanya. Jadi perempuan musti banyak bisa masak macem-macem kan biar gak bosen :)
Pekan lalu ayah mertua saya belanja udang besar. Kebetulan dimasak separuh, separuh lagi baru saya garap kemarin gegara ibu belum belanja. Jadilah saya coba bikin sesuai resep kemarin, he he .. *nyari simpel


Bahan:
4 buah udang besar
4 siung bawang merah, iris
5 siung bawang putih, iris
1 buah bawang bombay kecil, iris
1 buah tomat kecil, potong
1 ruas jempol jahe, geprek
saos tomat secukupnya
air secukupnya (jangan terlalu banyak yaa)
10 cabe rawit (karena ayah suka pedas)
gula-garam secukupnya

Cara:
- Tumis bawang merah, putih dan bombay beserta jahe, tomat dan cabe sampai harum dan layu
- Masukkan air, gula-garam dan udang
- Bolak-balik udang hingga cangkangnya berwarna kemerahan
- Masukkan saus tomat secukupnya, tutup hingga agak menyusut
- Udang saus tomat siap dihidangkan

Wednesday, March 27, 2013

Cilok Siomay (ngawur) a la Seadanya


Ceritanya hari Minggu kemarin saya ke Car Free Day-nya Kuningan. Tujuan sehatnya sih jalan pagi, tapi modus nakalnya ya jajan dooong :))
Sambil ngerjain chores dari mamah, yaitu ngambil barang di rumah sepupu, sambil jalan-jalan juga bareng keluarga Aa. Tak seperti CFD sebelum-sebelumnya, rute jalan kami kali ini seputaran stadion saja. Lebih dekat dari rumah -____-
Tapi kabar gembiranya, kami nemu cilok spesial... tadam pararam-pam ♥ ♪ ♫

Sebetulnya cilok itu dimana-mana, hanya saja rasanya ya begitu-gitu aja, kadang malah ga panas... itu kan tidak nikmat, Mang!
Yah... singkatnya, cilok kali ini agak beda sama yang ada di pasaran (tingkat Kuningan lho ya).
Pilihan isinya ada gajih (lemak) sama ayam.

Well, serasa bertahun-tahun ga makan cilok, terbitlah minat saya untuk bisa bikin sendiri camilan yang satu ini. Berbekal gugel dan antek-anteknya, saya nemu resep simpelnya di resepmasakantradisional.

Kira-kira beginilah resep cilok dan siomay versi saya...

Bahan:
- 1 cangkir tepung terigu
- 1 cangkir tepung kanji
- 2 siung bawang putih, ulek
- merica secukupnya
- penyedap rasa (kalau kalian anti MSG pake aja garam+gula)
- daun bawang, iris tipis (bisa juga ditambah seledri)
- air panas secukupnya
Nah karena saya ngotot pingin pake kaldu tapi ga ada bahan, jadilah saya ambil 4 nugget ayam di kulkas. Maksa direbus, terus airnya dipakai sebagai kaldu deh. Nuggetnya dipotong-potong kecil buat jadi isi cilok ceritanya *namanya juga resep ngawur*
- isi/campurannya bisa pakai abon, ikan, udang, ayam, gajih atau bahkan keju

Caranya:
- Campurkan semua tepung, bawang putih, merica, bumbu, dan daun bawang
- Tambahkan air kaldu sedikit demi sedikit ke dalam campuran
- Uleni dengan sendok kayu atau tangan (kalau kebal panas) hingga terasa kalis (bisa dibentuk)
- Bila telah kalis, bentuk adonan menjadi bulat-bulat dan isi dengan bahan yang telah disediakan
- Masukkan adonan yang telah dibentuk ke dalam panci berisi air
- Rebus cilok sampai mengapung di air
- Angkat, lalu kukus sampai matang

Masih dengan adonan yang sama, saya kurang telaten kalau kudu membulat-bulatkan dan mengisi adonan satu per satu. Jadilah saya pingin seperti nge-siomay kayak dim sum. Apalah daya ternyata di kotaku yang kecil ini saya agak sulit menemukan kulit pangsit. Muter otak gimana cara yg praktis, akhirnya saya pakai kubis aja sebagai pengganti kulit pangsit deh :D

Monday, December 17, 2012

Be A Dress Hunter in Bandung

Jadi ...
Dari sekian usia adek saya ini, ceritanya Ati menemukan gaun yg bahkan lebih panjang dari tinggi badannya. Alhamdulillah.

Bagi kami yg bongsor-bongsor ini, undangan pernikahan saudara itu sedikit 'malapetaka'. Tak masalah ketika undangannya bertempat di rumah maupun tempat sederhana lainnya. Tapi ketika harus menghadiri di sebuah gedung/hajatan mewah, kostum kondangan sudah jadi dilema tersendiri buat kami. Kalau mau cuek, mungkin pakai baju kuliah juga sudah bisa. Tapi berhubung agak sulit mengabaikan momen istimewa begitu, maka mau ga mau hunting masalah sandang sekunder itu perlu :D

Well, setiap gadis punya pendirian sendiri mengenai cara ia berpakaian, tentu saja dengan style tersendiri. Tapi kami -- eh, adik saya -- jangankan style, sudah menemukan ukuran yg sesuai saja sudah beruntung!


mall Paris Van Java
gerbang masuk






[









Maunya seharian itu jelajah Bandung, sekalian pingin mampir ke Koffie Fabriek. Sayang waktunya tak cukup, kami baru bisa berangkat siang hari selepas Ati kuliah.
Ati datang, kami langsung menuju PVJ.


Yeah, setelah 2 kali naik angkot, sampai juga kami di sana.
Karena pengetahuan kami yg masih minim di jalanan Bandung, kami sempet nyasar walau gedung PVJ sudah di depan mata. Well, ternyata itu bagian belakangnya. Lalu mana depannya?
Lewat jalan memutar lewat gang pemukiman penduduk. Ini saatnya saya bilang wow.
Gedungnya mah 'cuma' di sebelah pemukiman, tapi memutarnya lumayan juga. Butuh perjuangan demi mencari gerbang depannya.


nyusur jalan menuju gerbang utama
dekorasi yg asik di lantai 2
















Yosh, akhirnya dapat juga gerbang masuknya. Kecil. Tak lebih besar dari gerbang swalayan di kampung kami. Cuma gerbang depannya yg lebar-besar untuk keluar-masuk mobil. Terus kami yg pejalan tangguh begini lewat mana?
O o o ... ada trotoar khusus pengunjung PVJ di sebelah kanan ternyata ... 

kayak parkiran :D
Rekomendasi dari teman Ati, di lantai bawahnya terdapat butik khusus untuk baju-baju ukuran ekstra large, alias ukuran besar. 
Kalau niat mah saya beli selusin deh ... cuma karena budget kere yg kudu diperhitungkan, sementara ada beberapa keperluan lain buat beberapa hari ke depan juga ... maka kami ga beli apa-apa dari PVJ. Tapi kami cukup senang bisa lihat-lihat di dalamnya (doang). Sangat ... luas ... makanya saya berasa sedang berjalan di palataran parkir. Padahal toko-tokonya mah seukuran di mall-mall biasa. Yang ga kalah kerennya mungkin desain baju-baju yg ditawarkan. So magnetic dah, sampai pake satpam segala~
Well, we bought an experience, at least.


Hujan rintik setelah kami keluar dari PVJ agak bikin gelisah, sejujurnya. Ati lagi ada gejala flu, sementara saya lupa tak bawa jaket. Saya tak masalah untuk hujan-hujanan, tapi rasanya terlalu sekali kalau basah-basahan karena masih harus nyari keperluan Ati. 
bergaya di jembatan -_-

Ada rekomendasi dari samwan, katanya ada butik di Kartika Sari. Mengingat rerintik hujan yg mulai turun juga jarak ke sana yg harus ditempuh beberapa kali naik angkot, meluncurlah kami ke sana dengan taksi.

Usaha kami membuahkan hasil.
Kami dapat sebuah maxi dress biru dongker tanpa lengan. Dapat dari butik (lupanamanya) di sana. Kebetulan Ati punya 'cardigan' abu, jadi nanti mau dipadankan.
Sebelumnya, saya sudah lapar mata di Grage Mall Cirebon dengan membeli 2 pashmina cantik (er... entah mau dipakai kapan itu urusan nanti), merah marun dan biru dongker. Takdir yg sepadan, jadi Ati tidak perlu beli kerudung maupun tambahan lain, kecuali wedges abu sederhana yg manis dari Istana Sepatu. Kedua sendal saya sehari-hari rusak semua, jadi saya juga beli sepasang sendal dong ... *ngelirik 2 adek yg cuma mesem-mesem abis make sendal tetehnya*

tahu Jepang bumbu telur asin
Bandung tanpa kuliner itu sungguh tidak berarti, kawan ... *halah
Melewati jembatan penyebrangan, Ati promo beli makan ke d'Cost di (entah-gedung-apaan-ntu-namanya). Saya cuma pesan cumi dan minta dibungkus, sementara Ati ngiler nyoba tomyam sama tahu Jepang bumbu telur asin. Saya pun ikut coba kedua masakan itu.
Oh Allaaaahh, nikmat beudddd ... enak tingkat dewa *halah*. Beneran enak lho, setidaknya menurut saya sama Ati.

tomyam
Kuah tomyam yg semula saya kira bakal agak anyir seafood, ternyata enggak. Sekilas malah mirip kuah apaaa gitu (saya juga lupa, but so Indonesian!). Tahu Jepangnya juga .... enak~ *meleleh-leleh dibuatnya*
Tahu sutera mungkin ya, teksturnya lembuuuut. Terus bumbunya itu ... lezat deh. Mungkin kolesterol banget ya. Campuran merahnya telor asin sama mentega ... ngomong-ngomong saya ngerasa ada kejunya juga sih, tapi mungkin pengaruh dari mentega ya? Atau memang ditambahkan keju leleh juga? Ah, enak pokoknya~  
Not recommended buat yg diet :D

Kami tak melakukan banyak perjalanan selama di sana. Selain cuaca yg seringnya tak mendukung (petirnya benar-benar ngeri), kami puaskan dengan mengobrol urusan wanita di kamar dan menunggu jemputan ke Jakarta hari Sabtunya.



to be continued~

Tuesday, November 6, 2012

Nasi Kasreng Kuliner Kuningan

Teman saya dari kemarin curious sama nasi kasreng. Dengar-dengar pembicaraan para senior ini, nasi kasreng itu khas daerah Luragung-Cibingbin-an, masih Kuningan dong~
Barusan main ke daerah Garawangi, wah mampir dulu nih ke sebuah warung kecil di depan ... KUA kali ya ... *soalnya saya masuk ke Balai Nikah buat nebeng ke toilet :))
Penampakannya biasa, cara ngelipat nasi bungkusnya sekilas kayak bungkusan sate. Jadi itu nasi biasa, terus lauk pelengkapnya bisa kita tambah sendiri. Misalnya tadi saya pakai sawi dan timun mentah, tak lupa sambelnya, terus tambah 2 pia-pia (bakwan) panas. Nasinya mungkin seporsi nasi kucing khas Jogja, cuma lebih banyak dikit. Teman saya yg lain ada juga yg nambah pake tauge mentah, rebon dan telur goreng. Sederhana tapi nikmat, ini deh yg namanya surga ala desa ;)
Itu yg di Garawangi. Kalau udah daerah kulinernya sana mungkin lauknya lebih beragam. Iseng saya search, ternyata memang ga cuma telur-gorengan aja. Ada juga yg lebih variatif semisal nambahin ikan paray atau ayam goreng.
Keterangan lebih lanjut bisa dilihat di sini, dan sejarahnya juga bisa dilihat di marih. Saya ga sempat foto, jadinya nyomot di sini aja deh.


Saturday, September 29, 2012

Homemade Pepes Jamur

Akhirnya ... dapat juga kesempatan bebas praktik nge-pepes jamur. Mamah beli 4 plastik kiloan jamur tiram, berhubung sebagian pingin percobaan tambah ini-itu, saya pakai 2 plastik untuk dipepes murni jamur.

Photo4286

Bahan dan Bumbu:

Daun pisang, bersihkan bagian dalamnya, sobek secukupnya untuk wadah pepes

2 plastik jamur tiram, suwir-suwir, cuci

6 cabe sesuai selera (merah campur rawit), iris kasar (ga usah tipis)

6 siung bawang merah, iris kasar

4 siung bawang putih, iris kasar

1 batang serai, potong jadi 6-7 bagian dan keprek (atau potong kasar aja)

5-6 daun salam

Garam (dan gula, tergantung selera)

 

Cara membuat:

1. Campurkan semua bahan kecuali daun salam ke dalam 1 wadah, aduk-aduk

2. Ambil daun pisang, selembar daun salam, lalu tumpuk dengan bahan jamur tadi

3. Karena mengandung air dan saya kuatir bumbunya kurang meresap, taburi lagi dengan garam secukupnya

4. Bungkus, lalu kukus selama kira-kira 15 menit (sampai harum)

Cukup buat 6-7 bungkus pepes tuh~


Yummmyyyyyyy~

Monday, September 24, 2012

Makan di Warung, Gokana Teppan Bandung~

1 minggu nganggur jelang wisuda, saya bengong di rumah ... sambil nemenin para tamu yg mulai pada bubar, sambil maen sama ponakan kecil, sambil trial-error gaya kerudungan buat wisuda, sambil merencanakan sesuatu buat nanti di Jogja *halah,apaini~

Rencana ngajak adik saya ke Jogja seminggu sebelum wisuda ternyata gagal. Pengambilan toga dan segala perlengkapannya saya percayakan sama bibi yg duluan ke sana, karena pulangnya hari Sabtu ... sementara saya ngebet ikut ke Cilebak pada hari itu :))
Tiba-tiba adik saya berencana ke Bandung dari hari Minggu. Konon anggota kelasnya diwajibkan rapat untuk registrasian maba jurusan mereka. Berhubung cuma sedikit orang (sekelas cuma 8 orang), rapat-rapatanpun jadi agak meragukan. Tapi dengan pede, saya menawarkan diri agar pergi ke sana sekalian ngembaliin printer dan perlengkapan wisuda yg kelupaan beli *mumpung lagi THR-an, sesekali royal~

Rencana bermalam 2 hari saja agar tak begitu mepet dengan hari keberangkatan ke Jogja pada hari Kamis.
Perjalanan makan waktu sekitar 7 jam (ampun deh macetnya). Datang-datang disambut kamar kos yg 11-12 sama kamar kos lama saya. Hasegedeh, saya bela-belain ngebenahin itu kamar sampe lumayan rada enak buat selonjoran nyante.

Hadeh pembukanya aja lama banget... jadi langsung ajalah karena laper, saya diajak Ati ke "Makan di Warung", sebuah rumah makan seafood sederhana di daerah Dipati Ukur, Bandung.

Makan di Warung, Dipati Ukur


 Hmh. Enak.
Saya lupa nama menu yg dipilih, yang pasti Ati mesen cumi sama sepiring sapo tahu Jepang (benerann enak!). Sapo tahu ini sampe saya cari resepnya gimana. Udah nyoba, tapi rasanya beda :)) padahal lumayan nih kuah buat pengganti capcay yg gitu-gitu aja. Belum lagi tahunya ... uh, lembut banget di mulut.
Biar kata orang segitu terbilang murah, tapi buat saya tentu aja engga (karena ngebandingin yg di Jogja). Dan ... itu kenapa juga minumnya biasa banget? Ohoo ... itu karena setiba kami di Bandung, ndadak kondisi badan down dan tenggorokan kena radang (lagi). Tapi tetep aja kuliner itu pantang disia-siakan ... *serius*


Lanjut esoknya kami capcus agak siangan, karena ... kepala mulai cenat-cenut dan badan mulai menggigil. Kami ke Istana Sepatu buat nyari sepatu wisudaan. Ati juga butuh sendal gede (karena ukuran kakinya jumbo). Daaaan .... terpilihlah sepatu-sendal simpel tanpa hak buat wisudaan.
"Orang ga bakal liat kamu sampe detil dari atas sampe bawah!" Begitu keyakinan saya.

Entah gimana rupa saya, berkali-kali Ati nanyain, "Teteh gakpapa? Ini kalo mau muterin bakal lama lho. Makan aja dulu yuk ..." Oke. Saatnya nyari tempat yg enak sekalian istirahat ...

 
Gokana Teppan
        

 
 


Mm... ada reviewan dari teman saya yg cantik soal GT ini. Tadinya pingin yg paket apaa gitu namanya, cuma Ati ngingetin ada teriyaki di situ. Yang biasa saya kuatirkan pake angciu-nya itu lho. Jadi saya pesan yg netral saja, ada ebiapaa gitunamanya. Biasa deh, kayak di Hokben ato Bee's. Btw kerupuknya enak~
Karena feelin' unwell ini, saya ga bisa nyicip total. Pedas dikit, kesiksa tenggorokan. Sempat nyicip kuah ramen pesanan Ati juga. Agak pedas sih. Walau begitu, lagi-lagi habis sampe ke es-nya tuh, mwahahaha~ *banyak makan biar cepet sembuh #alesan-gempur-radang#

Mendadak ditilpun Mamah, disuruh pulang cepet biar ada waktu rehat pas nanti perjalanan ke Jogja. Yap, jadi malamnya kami ngetravel pulang dengan oleh-oleh sakit. Travel juga serasa milik pribadi, berhubung penumpangnya cuma kami berdua doang :))

Saturday, July 21, 2012

Tumis Cuciwis


Description:
"Teh, Mamah beli cuciwis nih, mau masak? Mamah mah belum pernah masak pake bahan ini~"

Boleh deeeh...
Dengan gugling digimanain enaknya, ternyata tumis biasapun udah enak katanya. Ada bahan lain yg gak saya pakai, tapiii.... ya enak aja sih :9

Eh, ada bakso.... jadi saya tambahin bakso juga. TAPI, kata adek saya sebaiknya ga pake... soalnya nyampur sama terasi jadi ga cocok aja... :D

Ingredients:
- Irisan bawang merah dan putih
- 2 cabe merah/sesuai selera, iris
- seplastik kilo cuciwis, cuci bersih
- Tahu
- Irisan bakso
- Terasi
- Garam

Directions:
- Tumis bawang merah dan putih
- Masukkan sedikit terasi, irisan cabe, bakso, dan cuciwis
- Masukkan tahu
- Tabur garam

Sajikan~

Pendapat Mamah: kurang lama masaknya, jadi si cuciwis masih setengah matang XD

Friday, July 20, 2012

Pepes Tahu Ayam Suwir


Description:
Ga pakai takaran berarti, soalnya ini porsi buat banyak. Terutama buat yg suka pedas, mungkin cabenya bakalan banyak lagi :D

Coba si daging diganti jamur yak... *ngeces

Ingredients:
Parutan kelapa
Ayam potong mentah, potong-potong memanjang
Tahu putih (hancurkan)
Cabe merah, bawang merah, bawang putih, garam, gula (giling/tumbuk halus)
Daun pisang, bersihkan
Serai (potong-potong dan keprek)
Daun salam

Directions:
Campurkan potongan ayam, parutan kelapa, tumbukan bumbu cabe, dan tahu yang telah dicampurkan
Masukkan adonan sekaligus dengan serai dan daun salam, bungkus oleh daun pisang
Masukkan ke dalam langseng (dandang) yg telah diisi air untuk mengukus
Tunggu hingga daun pisang layu (ngira-ngira mateng gitu)
Siap disajikan.

 
Powered by Blogger.