Showing posts with label competition. Show all posts
Showing posts with label competition. Show all posts

Sunday, September 30, 2018

Laptop Super Ringan Impian Traveler



Semacam traveler yang sudah melanglang buana menjelajah banyak tempat, saya ini petualang (gak banget-banget sih) gadget merk ASUS. Di tahun 1998 saat masih minim hawa gadget saja kakak saya sudah memiliki seperangkat komputer yang telah dilengkapi software keluaran ASUS. Komputer jadul itu lumayan bawa berkah buat tugas-tugas sekolah kami di Sekolah Menengah.  Berlanjut saat kuliah sudah di ujung tanduk, saya mulai tugas akhir sehingga komputer sudah tak bisa membantu kegiatan wara-wiri, maka barterlah komputer berat saya dengan laptop adik saya yang tak lain tak bukan merupakan ASUS seri A6R.

Laptop ASUS Pertama

doc pribadi

doc pribadi

Sampai saya akan menikah, laptop satu ini berasa masih sangat tahan banting. Sistem penutup yang ada lock-nya bikin saya tak frustasi kalau dikunjungi bocah-bocah ya kaaaan, hahaha... Belum lagi dipakai mengetik berjam-jam hingga main game di sela waktu luang, barang satu ini jarang sekali hang. Hanya saja harus punya stok kesabaran bergalon-galon akibat kelambanannya.

Tapi memang ketahanan itu punya usia, laptop berusia 5 tahunan ini melemah juga seiring majunya virus-virus yang suka nyasar saat berselancar diinternet maupun berhubungan dengan macam-macam flashdisk. Saya bahkan sudah melupakan bobotnya yang 2,8 kg maupun RAM yang hanya 256 MB, saya sayang betul sama laptop jadul ini sampai akhirnya dia tutup usia alias mati total karena kerusakan motherboard dan beberapa hardware lainnya.
Kebayang dong seandainya Mad Hatter yang pakai mungkin mukanya udah ungu dan langsung lempar itu laptop. 

HP Zenfone 4 (2014)

sumber
Pindah ke Balikpapan belum menyurutkan saya untuk tetap ngeblog. Tapi ternyata ngeblog pakai handphone itu ribet ya, kadang sudah panjang-panjang nulis ternyata saat diupload pas internetnya hilang sinyal. Jadi urunglah saya sering-sering bisa ngeblog. 
Walau salah satu hadiah suami terbaiknya hp zenfone 4 di tahun 2014an, tetap feel blogging itu sangat berbeda saat memegang laptop. Tak sampai 2 tahun, layar hp saya sudah retak karena tak sengaja jatuh ... pun zenfone suami saya yang sampai berlayar biru saking parah kerusakannya. Maklum ya, terkadang orangtua meleng balitanya tahu-tahu mainan hp terus gak sengaja jatuh deh, bahkan parahnya ... mungkin keciprat-ciprat air. 




Laptop ASUS X453M

Bagi penulis picisan kayak saya mungkin laptop ini sudah sangat cukup memenuhi kebutuhan IRT untuk sekedar menulis dan browsing artikel. Hanya saja mengingat keribetan saya tiap mudik yang mewajibkan diri bawa ransel berisi laptop, menggeret koper juga terkadang gendong balita yang letih berjalan kaki, rasa enggan membawa laptop 1,8 kg ini selalu bikin galau. 
doc pribadi
Ditambah lagi penggunaan user semacam suami yang kalau mengetik sampai terdengar nyaring di telinga. Saya tak heran kalau si doi pasti misuh-misuh sendiri, entah dari lambannya RAM laptop yang hanya 2 GB atau hal lainnya. Dari jauh cuma bisa elus peluh aja sambil berdoa agar laptopnya tahan banting.

Lain halnya ketika kami dihadapkan pada pekerjaan yang menuntut full koneksi internet dan juga spesifikasi PC tertentu, laptop ini tak bisa dipakai mobile berlama-lama karena hanya bisa bertahan 5 jam kecuali pemakaian ceroboh sampai baterainya drop. Kadangkala spesifikasi laptop ini kurang memenuhi kepuasan user karena pekerjaan yang membutuhkan kecepatan baca video streaming yang cukup misalnya, sementara pekerjaan kami dibatasi waktu. 

ASUS ZenBook UX331UAL

Kabar baiknya datang dari Mbak Rien, yang sepertinya jadi jawaban terhadap curhatan saya di atas itu ya.  Sudah bisa dijawab di beberapa poin dengan hadirnya ASUS UX331UAL ini: 

1. Ringan tapi material tangguh
COCOK! Mau travel kemanapun bisa dibawa-bawa dong, dan tentunya gak lagi galau gara-gara beratnya. Pun tak khawatir terbentur/tertindih sesuatu karena materialnya dari magnesium aluminium alloy, membuatnya sangat ringan. Laptop ini telah lolos pengujian berat standar daya tahan military-grade MIL-STD 810G. Sehingga kalau suatu waktu nanti suami mau bawa laptop ke gunung kayaknya gak khawatir ketindih-tindih seabrek barang deh. 
ngeh gak kalo ini laptop?

2. Performa tinggi 
Nyaris seukuran kertas A4 dengan tebal hanya 13,9 mm, laptop military grade ini bisa digunakan untuk editing digital foto maupun video. Jadi hobi suami sangat bisa dilakukan dalam laptop tipis ini.
Kelebihan lainnya, ASUS ini memiliki fitur Wi-Fi Master yang mampu mendapatkan kecepatan transfer yang lebih tinggi dan jarak yang lebih jauh dibandingkan dengan laptop lain pada umumnya. Pas sekali untuk pekerjaan home based yang mengandalkan koneksi internet sepenuhnya.
I want you!

3. Baterai kuat hingga 15 jam
ASUS mengklaim dalam skenario tertentu baterai laptop ini bisa bertahan 15 jam lho temans ... selama perjalanan mudik saya saja yang kurang lebih butuh waktu setengah hari mungkin bisa sambil nonton movie kesayangan ya. Setidaknya waktu editing foto maupun video itu tak harus terus-menerus colokin chargernya karena saya rasa 15 jam ini bukan waktu singkat, ya kan? Hemat listrik banget nih, hihihi...



Friday, April 25, 2014

Dua Paket

Yayyy... senangnya didatangi Pak Pos untuk memberi kiriman paket maupun surat tagihan.
Ceritanya Kamis kemarin Pak Pos datang membawakan saya 2 paket sekaligus. Paketnya kecil-ringan saja.

Yang pertama ialah paket 'hadiah' dari penerbit Diva Press, yaitu berupa buku antologi dan sertifikat. Jadi beberapa bulan lalu saya ikut lomba antologi yang diadakan penerbit ini. Hadiahnya memang tidak begitu menggiurkan, tapi saya menulis ini dalam rangka ulangtahun suami saya pada Desember tahun lalu, makanya saya tulis persembahannya buat suami dong :">
Alhamdulillah saya ikut ke dalam salah satu nominasi para kontributornya. Mungkin karena suatu hal, nama para kontributor antologi ini tidak disebutkan. Sebagai gantinya, id tweet kamilah yang ditulis di sana (id saya sunkidsunkids). Senang sekali rasanya ... karena sampulnya lucu, desain kertasnya juga cantik didominasi ungu, tebal tapi tidak berat. Bagi yang berminat bisa coba cari di Gramedia, mengingat Diva Press termasuk penerbit yang sudah cukup dikenal di toko buku manapun.
Incaran saya selanjutnya masih berupa kumpulan cerita pendek, tentu saja milik saya semua. Walau sudah pernah ikut beberapa antologi, rasanya saya tidak puas dengan cara 'keroyokan' seperti itu ... dan karena saya juga telah salah memilah lomba juga.



Paket kedua masih berupa hadiah. Bukan dari dunia kepenulisan, melainkan dari Pak Kebun, hihihi ...
Jadi ceritanya baru-baru ini saya memfollow page Al's Garden yang hobi serta jualan bibit tanaman. Setiap minggunya beliau selalu bikin kuis yang hadiahnya tentu saja bibit-bibit hasil kebunnya. Kemarin yang dihadiahkan yaitu tomato black cherry, cabe red habanero, dan ... morning glory Youjiro!
Hyaaa kebetulan sekali saya sedang mengincar bunga rambat satu ini. Tak disangka, dari banyak-panjangnya jawaban para peminat, komentar pendek saya malah menang :">

Sekalian free ongkir, saya pesan 6 bibit lagi: marigold ice cream & French mixed, morning glory chocolate silk rose & grandpa ott, dan marvel of peru choice mixed (bunga pukul 4).

Gak nyesel saya sekalian pesan di sana, rapi sekali packagingnya...
Di dalamnya juga terdapat 'nota' rincian pesanan, terlebih kop suratnya itu lho... resmi sekali padahal ngobrol sama orangnya biasa aja kadang beliau curhat segala :))
Lebih okenya lagi, di setiap kemasan bibit itu terdapat cara menyemai benihnya. Kalau tidak begitu, saya yang masih pemula ini mungkin gugling dulu, karena beberapa biji memang seringkali butuh perlakuan khusus dari awal menanam.

Alhamdulillah, rezeki tidak terduga ...

Monday, April 14, 2014

ASUS Notebook Terbaik dan Favoritku


Di era serba elektronik seperti sekarang ini, manusia menyesuaikan diri dengan mulai ‘bersahabat’ dengan berbagai macam gadget. Dimulai dari penggunaan telepon selular, komputer, laptop, tablet beserta teman-temannya, manusia kini ikut berevolusi menjadi makhluk yang serbatahu hanya dengan sekali klik.

Kecenderungan manusia untuk bisa mengakses segala informasi dengan cepat tentu saja membutuhkan alat yang juga canggih. Dari waktu ke waktu, beragam alat elektronikpun terus mengalami inovasi seiring perkembangan ilmu teknologi yang pesat. Sudah tidak aneh lagi kita bisa menemukan manusia dengan beragam profesi memiliki perangkat komunikasi yang praktis, tak terkecuali kalangan terdidik seperti guru dan pelajar.

Pekerjaan sekolah yang dulu masih menggunakan kertas dan pena, kini terganti dengan perangkat sejenis komputer dan laptop. Selain lebih menghemat tenaga, tempat dan waktu, komputer maupun laptop memiliki banyak fasilitas software untuk untuk presentasi, membuat makalah, membuat grafik dan seterusnya.

Keluarga ASUS
Keluarga kami bisa dikategorikan sebagai keluarga ASUS. Kenapa? Hampir semua perangkat ketik kami menggunakan ASUS. Dari zaman mulai tren komputer di kota kecil kami tahun 1998, CPU komputer kakak saya telah dilengkapi hardware keluaran ASUS. Yang paling menggembirakan adalah ketika saya dihadiahkan seperangkat komputer dengan CPU canggih berlogo silver merk keren tersebut. Begitu dicoba, assessment perkuliahan saya jadi amat cepat dan mudah dikerjakan karena sistemnya yang bekerja cepat dan optimal.

Ketika itu masih minim-minimnya pengetahuan mengenai perangkat elektronik ketik praktis semacam laptop. Di kota kecil saya itu hanya terdapat satu toko komputer merangkap rental komputer. Di sanalah segalanya bermula, dimana kami diperkenalkan dengan benda mini yang berkemampuan sama dengan komputer. Karena masih minimnya tingkat pengetahuan tentang teknologi, maka notebook yang dijual hanya tersedia satu-dua merk saja.

ASUS N45S Series
Saat urgensi pemakaian barang praktis tersebut semakin dibutuhkan, maka disanalah kami diperkenalkan dengan notebook terbaik yang cocok untuk kepentingan sekolah. Tentu saja atas saran si penjual dengan membandingkannya dengan merk lain.

Mulai perkuliahan adik saya, iapun memilih notebook N43S di tahun 2012. Dengan spesifikasi yang lebih baik dari sebelumnya, laptop keren ini sudah punya kecepatan bagus di dunia maya, termasuk online-game dan streaming video.

Lain halnya dengan adik, kakak saya yang memilih peluang usaha membuka netcafe juga menjatuhkan pilihannya pada perangkat keluaran ASUS. Belum lagi untuk mengembangkan usaha lain dalam bentuk online-shop, ia juga memilih ASUS X45C series pada tahun 2013 dalam kemudahannya berselancar di dunia maya.

Plus-Minus ASUS A6R Series
ASUS A6R Series
Sebenarnya pembelian notebook ini sendiri sudah dari tahun 2006, namun baru digunakan secara maksimal di tahun 2008. Dulu KKN-PPL saya di tempat yang agak jauh otomatis memerlukan alat ketik praktis yang mudah dibawa. Alhamdulillah ada laptop ASUS A6R yang belum digunakan maksimal di rumah, maka saya bawa ke tempat praktik kerja.

Secara spesifikasi, banyak sekali hal yang kurang dalam laptop model ini dibandingkan dengan laptop-laptop keluaran masa kini. Beberapa poin yang saya perhatikan selama kurun waktu 6-7 tahun memakai A6R diantaranya ialah:
-  RAM yang hanya tersedia 256 MB, tentu saja membuat laptop ini sangat lamban beroperasi, terlebih ketika data-data dalam HDD-nya mulai penuh. Ini sangat mengganggu terutama ketika saya tengah mengoperasikan aplikasi grafis. Namun saya upgrade dengan menambah RAM 1 GB, sehingga akselerasinya bertambah cepat (sekarang pastilah sudah mencapai 2 atau 4 GB).
- Kapasitas HDD 40 GB pun amatlah kurang untuk menyimpan banyak file yang berjumlah puluhan/ratusan giga semacam mp3 dan video Tetapi Anda bisa menyiasatinya dengan membeli harddisk eksternal. Alternatif lainnya, kalian bisa mem-burning data-data yang hanya sesekali dipakai agar harddisk tidak overload oleh data internal.
kondisi sudah separuh pupus
Selain sekian kekurangan-kekurangan tersebut, saya kira laptop model ini cukup membantu kelancaran perkuliahan saya. Berikut beberapa nilai plus yang saya unggulkan dari laptop jadul ini:
- Walau terbatas pada Windows Professional SP 2 karena masih Celeron , hal ini justru membuat saya tidak perlu repot banyak meng-upgrade aplikasi yang telah ada karena secara mendasar, apa yang dibutuhkan sudah terpenuhi. Kecuali untuk hal-hal yang saya sebut kekurangan sebelumnya, tentu saja.
- Dalam kurun 6-7 tahun pemakaian dengan rutinitas penggunaan lebih dari 10 jam tiap harinya, lampu led LCD-nya hanya diganti sekali.
- Walau sedikit agak berat, laptop ini telah dilengkapi oleh DVD-RW yang bisa digunakan untuk DVD juga mem-burning data.
- Terdapat 4 buah port USB yang bisa kalian gunakan pada belakang laptop. Hal ini memudahkan users untuk cepat mencari  port karena berkumpul di tempat yang sama.

Salah satu hal yang mengejutkan, motherboard laptop jadul ini pernah dinyatakan broken dan dianjurkan untuk mengganti hardware tersebut atau membeli laptop baru. Akhirnya saya tidak jadi servis dan hanya reinstall biasa. Hebatnya, laptop ini bisa berjalan normal. Iseng memainkan game-online pun masih berjalan dengan baik.

Finally ...
Mengingat betapa outdated-nya laptop model ini, saya tidak merekomendasikan kalian untuk memilikinya. Namun dari sekian banyak hal yang jadi kekurangannya, saya tetap memilih ASUS sebagai laptop terbaik untuk ke depannya. Begitu tahan bantingnya produk ASUS, rasanya akan sulit beralih ke merk lain. Toh saya yakin dari waktu ke waktu ASUS akan selalu berinovasi ke arah yang lebih baik untuk memuaskan kebutuhan para konsumennya.
Semoga artikel ini bermanfaat untuk kalian yang sedang mencari rekomendasi notebook bagus ;)

Artikel ini diikutsertakan dalam ASUS Blog Contest

Monday, January 21, 2013

Latihan Iseng

Iseng-iseng berhadiah, begitu pikir saya ketika meniatkan diri ikut lomba ini.
FF saja sih, belum sepenuhnya 'cerpen' yang berkisar hingga 10 halaman-an itu. Sempat pasrah ketika adminnya asus begini:

Hai, sepertinya sudah jelas diinfokan di note event, kalo untuk tema "SA" itu harus langsung fokus ke tema. Jadi, tokoh utama langsung diposisikan dalam keadaan dikagumi atau mengagumi seseorang, begitu. :) Adapun perkenalan, dlsb-nya, bisa dijelaskan sebagai penunjang cerita saja.

Okey man, rasanya bagai hendak diseruduk tukang becak dari jarak ... 10 meter.
Saya kurang teliti baca persyaratannya, sehingga langsung cuap-cuap di sini. Beberapa hari kemudian sesuai janji pihak penyelenggara lomba, mereka mengumumkan FF mana saja yang berhasil lolos. Dari 404 cerita yang masuk, 306 karya yg lolos seleksi itu ... ada karya saya. Alhamdulillah.
Lengkapnya bisa dilihat di sinih

*Coba klik ctrl+F, terus ketik VERA.
Tuh, ada kan? ADA KAAANN?? *maaf, lagi lebay :))

Dari kejadian begini, saya jadi ngambil hikmah...
Bahwa rezeki itu kadang datangnya ga terduga. Boleh jadi kamu iseng terhadap suatu hal, padahal Allah selalu serius mendengar dan melihat usahamu. Kalau jadi, ya terjadilah ... \(^o^)/

Jadi ... sepertinya saya harus banyak-banyak iseng lagi nih~

Sunday, August 5, 2012

[Because It's Me] Diam tak selemah yang terlihat ...

Orang tak pernah menyangka perubahan-perubahan macam apa yang bakal terjadi dalam hidupnya. Seorang kawan berkata, "Jika hari ini sama saja dengan hari kemarin, maka aku sudah merugi!" Namun saat ia melihat pada diri orang lain yang berubah menjadi lebih buruk, ia mengoreksi ucapannya, "Mungkin tak ada perubahan itu lebih baik daripada
 berubah pada yang lebih buruk. Setidaknya ia bisa bertahan saat arus negatif menyerangnya."

Dan... beginilah ternyata saya begitu memasuki aroma sekolah yang lebih tinggi. Saya 'bertempur' dengan berbagai polemik, masalah bahasa dan budaya sudah pasti. 

Pergaulan juga yang mengharuskan kakak semata wayang saya berkomentar banyak di  hadapan teman-teman kami, "Si Neng sekarang cerewet."
Saya tidak tahu pasti perubahan ini termasuk positif atau negatif.

Beberapa orang mungkin gemar menjudge dari penampilan ... lalu gara-gara itu mereka harus dongkol di kemudian hari bahwa orang yang mereka (akhirnya) kenal ternyata jauh dari anggapan mereka. Hahaha, maaf teman ... sini saya tepuk pundakmu~


Sesempit pengetahuan saya soal hal menyenangkan, ternyata hiking itu recommended.
Tolong abaikan bagaimana betis-betis menjadi bengkak setelah berjalan berkilo-kilo yang memakan banyak detik. Peluh-peluh membasahi dahi, ketiak bahkan menjadikan kaus kaki beraroma bangkai cicak. Itu semua terbayarkan begitu sampai pada tujuan. 
Wajah-wajah risau mendadak berpose chibi dengan banyak jepretan di sana-sini.
Oh maaf, itu pengalaman teman-teman saya ... biasanya memang begitu.

Alam memang indah, iya? Iya saja, sebab tak ada makhluk yang bisa membuat oksigen. Orang juga bisa terjun bebas ke jurang ... untuk bungy jumping lho, bukan untuk sengaja terjun tanpa pengaman~


Dan Jogja telah mengubah saya. Sejujurnya.
Belakangan saya tahu seni itu menarik sekali bila diamati.

Suatu ketika saya diajak kawan-kawan untuk melihat suatu performance tari dan musik di fakultas kampus, mood itu tak hadir di hati. Tapi masa ditolak? 
Ceritanya ini semacam pertunjukan amal, tentu saja gratis, dan tentu ada kotak amal untuk menampung amal (maksud saya uang seikhlasnya dari penonton guna diberi pada yang membutuhkan). 

Dalam hati, "Ah ... kenapa tari sih ..."
Herannya begitu keluar dari gedung pertunjukan ...
"E GILAK ... GA NYESEL AKU IKUT KALIAN! GA NYESEL BWANGET LIAT PERTUNJUKAN BEGITU. SUMFEH KEREN BEUD!"
... saya heran juga bisa begitu histerisnya diiringi penyesalan mendalam mengapa berangkatnya ga lebih sorean dikit.

Dan mungkin dari situlah saya mulai suka ngincer-ngincer event Jogja yang tak pernah sepi tiap bulannya.




Ah ya ... saat-saat senggang dan bengong saya suka sempatkan mengusili mengkreasi foto orang dengan kemampuan adobe saya yang alakadarnya. 


Sepadan dengan laptop buat si pecicilan energetik ini kan? Pada awalnya kalian bisa menganggap hitam saya ini statis. Tapi ... percaya atau tidak, kaki ini sudah cukup banyak meninggalkan jejak di tanah. Dan saya masih ingin melihat dunia. 


Soal warna ...
Saya tak terpisahkan dari warna gelap, walau dalam beberapa kesempatan saya juga suka mengenakan warna yang cukup cerah. Seperti VAIO E14P hitam energetic ini: terlihat biasa dari luar, tapi ketika terbuka ... ehm.

Alhamdulillah, setidaknya perubahan lain telah dimulai dari puri cyber saya ini.

Again, for another changesDare to be different?  
Fu fu fu~


Sebenarnya saya lebih suka jadi juara 3, karena kamera saya rusak ... *maaf jadi curcol*
Tapi bila memang juri suka, teman-teman meridhoi dan Tuhan menghendaki, saya tentu bisa menang dengan tulisan yang apa adanya ini 



Ikut partisipasi lombanya Because It's Me!

Tuesday, August 16, 2011

[Puasa PertamaX] Sahur Seadanya di Kos Baru

  Ehm, fokusnya mungkin agak meleset. Tapi ndak apa-apalah yang penting ikut lomba.


Ceritanya saya pindahan tepat sehari sebelum puasa pertama di tahun ini.
Beruntungnya memiliki teman yang care, bersedia bersusah-susah membantu pindahan saya mengangkut barang dengan motor-motor mereka.
Awalnya bingung juga mau ngangkut kasur kapuk seberat gambreng siapa mau bantu? Alhamdulillah temennya temen kos rela ngangkut... ampe nyampe kos... ampe tiba di lantai 2 kamar sewa.

Semoga si adek dapet balasan rejeki dan enggak salah urat habis itu. Tuh kan, itulah gunanya punya temen baik... bukankah teman adalah cerminan diri sendiri? *narsis terselubung


Entah mengapa hari Minggu itu semuanya tampak serba mendadak. Saya dikabari sepupu yang katanya lagi menuju Jogja untuk urusan bisnis suaminya. Sementara itu saya baru angkut-angkut jam 9-10an dan ternyata sodara saya yang cantik itu sudah sampai di Jogja pada jam dzuhur.
Gimana nggak bingung... jam 12 teng saya baru selesai angkut semua barang, sementara itu sodara dalam perjalanan ke kos, belum beres-beres... dan belum mandi sarapan.

Singkat cerita, saya bertemu dengan sepupu. Kami pergi makan siang ke Jejamuran. Alhamdulillaaah, sudah lama saya ingin coba ke sana tapi belum sempat juga. Ah, inilah bonus indahnya silaturahim...
Berhubung di sana hidangannya sangat mengundang selera, saya skip saja ya. Pokoknya... ennnnnnaaaaakkkkkk... dan kenyang (banget).

Sebagai resikonya, rasa kenyang itu tetap ada sampai malam harinya. Saat itulah saya dan teman saya melaksanakan tarawih perdana, di mesjid kampus kami. Jarak dari kos sekarang ke sana lumayan jauh, tapi bisa tetap terkejar tarawih dari awal hingga akhir.
Barulah dalam perjalanan pulang tarawih, kami mulai merasa lapar. Sepakatlah kami ke warung burjo terdekat demi mie instan panas.

Tak seperti kebiasaan di kos lama ketika Ramadhan tiba. Biasanya jam setengah 3 sudah beramai-ramai membangunkan tetangga kamarnya. Namun sahur hari pertama saya ini tak terasa kegiatannya. Jam setengah 3 lebih kami sudah bangun, tapi tak menemukan aktifitas apapun. Benar-benar sepi.

Pada jam 3, suara-suara berisik mulai bermunculan di lantai bawah. Klontrang-klontreng. Olala, mereka masak.

Gerendel pintu tak terbuka. Wah, firasat buruk. Sampai hampir imsak, kami hanya bisa memutuskan memasak air panas dan menyeduh minuman. Beruntungnya masih ada persediaan. Saya hanya mengkhawatirkan teman saya yang perutnya sensitif setelah makan mie instan. Jangankan dia yang sensitif, lambung saya saja mulai perih. Tapi berkat este emje sachet, lambung saya sehat jaya hingga waktu berbuka tiba.



Usut punya usut, pemilik kos baru ini ternyata bukan Muslim. Saya baru diberitahu anak kos lama bahwa gerbang luar memang tak dibuka karena yang memegang kunci cuma si pemilik kos. Ceritanya di sini (contacts only).
Alhasil, anak-anak biasanya memasak atau delivery.

Yah sudahlah, namanya juga baru. Bukankah di luar sana masih ada yang anteng tanpa sahur (karena gak ada persediaan amunisi maupun kesiangan bangun sahur :p).

Ini kisah saya dan indomie...
Apa kisahmu? *loh




Tapi ini benar-benar saya ikutsertakan lomba trio koalisi di marih. Tidak bermaksud iklan atau sejenisnya. Bila ada hal-hal hil-hil yang sekiranya menyinggung, maafkaaanlaaah... *Inul mode on

Monday, August 15, 2011

[Unthinkable around Us] Konfirmasi Sebelum Berkendaraan Motor ("Sudah?")

 

Seringkali saya ditanyai, “Sudah?” saat hendak bepergian (nebeng) dengan kendaraan motor. Entah kapan teman karib saya memulai itu, yang pasti sekarang ini sudah menjadi kebiasaan yang tak pernah saya pikir dalam-dalam sebelumnya bahwa kata itu sudah semacam safety berarti buat penebeng seperti saya.

Kalau orang pikir mengapa “Sudah?” itu menjadi sebegitu pentingnya dalam keselamatan boncengan, ada beberapa pengalaman yang bisa menjawabnya.

Ceritanya ketika itu waktu pulang kuliah. Biasalah kebanyakan anak kuliahan pasti bawa kendaraan sendiri, yang jadi trend tentu saja motor. Bagi mahasiswa yang nebeng kayak saya ini, kami biasanya nunggu di depan sambil menunggu teman yang rela mengantar sampai kos.

Seorang teman saya – sebut  saja Uki – dibonceng temannya duluan. Saat itu kami tengah bercakap-cakap sebentar soal tugas kuliah. Begitu percakapan selesai, Uki melambaikan tangan sebagai tanda pamit pulang duluan. Nggueeengg... motor melaju tanpa Uki punya persiapan. Akibatnya ia terjangkang ke belakang, untungnya tak sampai jatuh. Refleks, Uki memukul pelan bahu si pengendara yang terkekeh-kekeh.
Saat itu kami cuma tertawa melihat adegan konyol itu.

Lain lagi dengan cerita teman saya. Dia dibonceng ayahnya saat hendak pergi ke sebuah tempat. Di tengah lampu merah, entah ia meleng dan tak memperhatikan lampu merah... motor melaju tanpa ia punya persiapan. Fatal.
Dia benar-benar jatuh terjengkang dari motor. Untungnya kendaraan di belakang tak langsung melaju.

Coba seandainya yang mengalami itu anak kecil? Sepertinya ndak cuma konfirmasi, tapi juga
safety ekstra ya...


gambar diambil dari sini

Diikutsertakan dalam lombanya mbak Idan

Sunday, April 24, 2011

Tanpa Akhir

Lelaki tua itu keluar sambil membawa segelas kopi hitam yang masih mengepulkan asap. Ia duduk di depan gubuk kecilnya.
Sesekali orang yang lewat menyapa dan tersenyum padanya. Ceu Mirah seperti biasa melambaikan tangan ke arahnya dari seberang jalan. Kalau sudah begitu, seorang pemuda biasanya akan membawakan cemilan cuma-cuma padanya.
Benarlah rupanya, tak sampai 5 menit, ia kini ditemani sepiring goreng pisang di samping gelas kopinya.

Sementara waktu merangkak makin larut, bulan membentuk clurit di angkasa. Suasana kampungpun senyap, dan orang-orang terlelap pada hipnotis malam. Hanya sosok renta yang masih betah duduk sambil mengunyah gorengan.

***

"Ingatkah kau saat aku melamarmu? Sungguh aku pria paling beruntung di dunia ini bisa pernah mendampingimu. Menemaniku ketika sakit dan membelaimu ketika kau gundah.

Aku senang sekali melihat semu pipimu saat menerima setangkai bunga dahulu. Aku sungguh bersyukur bisa melihat senyummu kala itu.
Ah, bagiku hanya kaulah satu-satunya bunga yang dapat kutanam di hati."

Benak si lelaki terapung.

Mengingat sosok wanita yang tak dapat memberinya keturunan, membuatnya lemah menatap sorot lembut yang berkaca karena rindu akan hadirnya anak dari rahimnya. Betapa ingin ia meyakinkan bidadarinya bahwa kehadirannya sudah amat berarti.

Hanya ada satu wanita dalam hidupnya.

***

Jemari keriput itu bergerak meraih cangkir kopi. Sayang, cuma ampasnya yang mengendap, juga isyarat airmata yang menggulirkan kepedihan.

"Hei isteriku yang cantik, apa kabarmu di nirwana sana...?" batinnya lirih sebelum ia kembali ke dalam gudang kenangan.


________

Hanya fiksi, terinspirasi lagu Takkan Habis Cintaku-nya Lingua. Dibikin buat ngeramein lombanya mb peb..
*pidionya boleh nyusulkah? [ngarep ada yg mau bantu masukin]

*muga gak kena dis

Lingua - Takkan Habis Cintaku.mp3

Monday, August 30, 2010

[FF] Maghrib Benderang

Dalam diam, saya meradang. Benci pada diri sendiri mengapa tak mampu bersabar. Antrian mushola mini di sebuah kafe di Jalan Kaliurang tak bisa saya tolerir. Setankah mereka, ukuran kafe megah berlantai dua hanya memiliki mushola seukuran kamar mandi kos?
Saya pergi dalam resah panjang, berharap menemukan mesjid di sekitarnya.
#
Saya termangu mendengarkan getar nada bicara di seberang telepon sana. Ibu bilang Kuningan menggulita setiap malam. Bukan karena matahari tenggelam, tapi karena gardu utama listriknya meledak. Butuh satu bulan untuk memasang trafo baru, begitu kata pihak sana.
"Kami cukup puas bisa tarawih di rumah, walau Ibu agak sulit menyiapkan sajian berbuka dalam keremangan seperti ini."
Bagaimana dengan adzan, Bu?
#
Sia-sia, tukang parkir saja tak tahu soal mesjid. Saya berbalik kembali dan mengantri lebih lama. Benci pendaran neon, tak bisa menutupi kegelisahan hati.
Shof sudah sangat rapat tanpa hijab. Saya gugup, ingin rasanya memaki-maki diri mengapa bisa menyiput begini? Dua lelaki itu masih juga berdebat menentukan siapa yang hendak mengimami, deret wanitanya tertekan dan berdoa semoga kami masih beruntung. Tuhan... kami terbirit-birit menujuMu!
Salah satu lelaki mengalah, beriqomat.
"Allahu akbar."


Allahu akbar, Allahu akbar!
Astaga, isya telah diserukan...




* Turut mendoakan semoga padamnya listrik di Kuningan tak menyurutkan gairah Ramadhan sampai akhir

Tuesday, August 17, 2010

[FF] Iqro untuk Hana



Mata gadis cilik berkerudung biru itu terbelalak melihat banyak buku di sekelilingnya. Rak-rak toko dipenuhi buku dan alat tulis. Bagian etalasenya juga ditata rapi, sesuai ukuran buku.
Oh, ada Qur’an besar seperti milik Bunda! Tetapi belum saatnya ia membaca huruf-huruf keriting serumit Qur’an. Yang ia butuhkan hanya Iqro lima dan enam, persis yang disarankan guru mengajinya.

“Kakak mau pilih yang mana?” Notasi lembut yang sudah ia hapal menegurnya. Si gadis menolehkan wajahnya dan meminta maaf telah mengalihkan perhatiannya sejenak. Terdapat tiga buah Iqro di depan hidungnya. Dua buah diantaranya berwarna menarik, sementara yang satunya berwarna hitam dan agak tebal.

“Yang hitam ini kumpulan Iqro dari jilid pertama sampai ke enam, Kak. Lalu, dua Iqro ini sudah sesuai saran ibu guru,” Bunda menjelaskan.
Sejenak si gadis bingung, anjuran gurunya tentu sudah tepat. Tapi ia sendiri belum pernah membaca Iqro satu sampai empat.

Si gadispun menimbang-nimbang. Selain dirinya, si gadis teringat teman sebayanya yang sering duduk berhimpit dengan anak lain agar bisa ikut membaca Iqro. Belajar mengaji di bulan suci ini serasa tambah sulit saja.

“Setiap ngaji, Kakak suka nyempil ke teman-teman biar bisa ikut baca Iqro punya mereka lho, Bunda.”
“Iyakah? Maaf ya, kemarin Bunda belum belikan Iqro buat Kakak. Tapi sekarang, Kakak bisa langsung memilih Iqronya.”
“Bolehkah Kakak pilih yang hitam itu, Bunda?”
“Tentu saja, Kak. Ada lagi tidak?”
“Bolehkah Kakak minta dibelikan dua buah, Bunda?”
“Untuk apa, Kak?
“Hana juga ikut nyempil lho, Bunda. Kasihan sekali kalau nanti dia hanya nyempil sendirian. Bolehkah kita membelikannya sebuah Iqro, Bunda?”






*Terinspirasi dari kisah nyata

_____________________________________________________________________________
Tema: Ramadhan
Diikutsertakan dalam lomba Hadiah Lebaran dari berkah membuat FF oleh Mbak Intan

[FF] Melepasku



Aku mengikatkan tali sepatu kets usangku. Jantungku berdebar tak keruan, membayangkan sepatu ini masuk dan menjejak tangga sebuah burung besi yang megah.

Sejenak kemudian kutatap lawang kamar yang terbentang di sudut mataku; seprai biru, sang jubah ranjang berderit-ku beserta guling-guling kempis di sana, cermin mungil yang tergantung di dinding bulukku. Lama kupandangi, ternyata baru kusadari betapa sebuah nilai artistik tak selalu dari tangan seorang seniman.

*

Derak langkahku cukup membuat sosok renta itu berpaling. Kaos oblong kusam masih melekat di badannya, sesekali berkeliwir terhilir angin. Sarung kotak favoritnya juga tetap mejeng, warna biru tua seperti biasanya. Raut mukanya tak suram, cuma padanan bangga yang bisa kubaca dalam gesturnya.

Ia bergerak lambat, menatapku dengan mata presbiopnya. Kurasa ia mencoba meruahkan segenap telaga ketegarannya untukku. Menimang sisa-sisa waktu yang ada antara seorang bapak dengan lelaki tunggalnya. Menebas rasa ego antara dua pria dalam perbedaan zaman. Mengusik rasa haru yang seringnya menghampiri umat Hawa. Tak ada kata, tak juga suara. Hanyalah tepukan jantan di pundakku, seakan memberiku metafisik sakti untuk menjagaku di negeri baru.

Aku menggeret koper jadul pemberiannya yang berharga menuju travel Spartan di depan pohon jambu kami. Kuhempaskan diri di tepi jok mobil dan kubuka jendelanya agar bisa kulihat lagi raut khas itu. Derum mesin dinyalakan.

Masih kupandangi beliau seakan-akan hanya dialah pemandangan terindah di hadapanku. Masih dengan sesungging senyum di bibirnya,ia mengangkat tangan. Ia melambaikan tangan. Tiba-tiba mataku pedas, padahal aku berpikir lecut-lecut aristokrat bapak takkan pernah meluruhkan dongeng cengeng dalam biografiku. Pada nyatanya, aku belum mampu mengalahkannya…




_____________________________________________________________________________
Tema: Anak dan Ayah
Diikutsertakan dalam lomba Hadiah Lebaran dari berkah membuat FF oleh Mbak Intan

Sunday, August 8, 2010

Dialog Sajadah dan Lampu

Dialog Sajadah dan Lampu


“Dah, batukmu sudah tak terkendali”
Kubilang tak apalah, ini sudah biasa
“Aku benci tak bisa terus menemanimu”
Kubilang tak apalah, kamu tak bisa menolongku

“Tahukah batukmu bisa membuatmu lapuk Dah?”
Aku diam tak berusik
“Kau ini sial berada di belakang, Dah”
Kubilang ini bukan mauku

Batukku menjadi
“Sabarlah Dah, Tuhan telah menentukan waktu”
Seret-seret kaki kurasakan menjauh
“Batukku cukup mereda, Pu”

“Aku ingin dia segera tiba, Pu”
Lampu terdiam
“Kalau dia ada, batukku tentu sembuh”
Lampu telah tertidur




7 Agustus 2010
Jelang Ramadhan, mari ramaikan masjid





*Tulisan Dalam rangka mengikuti lomba puisi ramadhan "Zahiya Cute"
Mbakyu2, kangmas2, meski tulisan saya tak sebagus para sastrawan/wati, saya ikut partisipasi dan meramaikannya ya... (agar saya memaksakan sendiri untuk terus menulis).
Untuk para juri, tetep semangat yaaa!

Friday, July 2, 2010

For The Rose


Aku tak yakin tepatnya kapan tetapi kami bertemu saat masa-masa sekolah-menengah-atasku akan berakhir. Tambah lagi, aku lupa bagaimana caranya kami bisa sangat dekat. Yang kutahu, kami sama-sama menyukai buku, tak ketinggalan pula komik.

“Eh? Komik apa itu Teh?” Mungkin begitu kataku waktu pertama kali bertemu. Beliau sedang mengisi waktunya dengan membaca komik serial yang sepertinya tak asing bagi aku.

Zaman sekolah kuisi dengan segala imajinasi liar yang bisa kukeluarkan seluas-luasnya kala itu. Tak salah bila aku hapal setiap cover komik yang kutemui dimanapun. Walau tahu kota kelahiran kecilku ini tak ada apa-apanya terhadap perkembangan teknologi termasuk buku-buku terbaru di luar sana, aku tetap bisa mencarinya di internet yang baru masuk sekolah. Walaupun di sana tengah huru-hara dapat kenalan si ini dan si itu, toh aku selalu dapat kesempatan untuk menggunakan komputer sekolah.

Teteh menolehkan wajahnya ke arahku, tak lupa senyumnya terkembang. Beliau menampakkan cover komik yang tengah dibacanya. Benarlah dugaanku, itu serial cantik rupanya.

“Suka baca komik Neng?” Aku mengangguk. Secara refleks, senyumku melebar dengan sendirinya. Mungkin mirip Garfield yang ketahuan mencuri ikan oleh majikannya, atau seperti Chesire Cat yang meninggalkan bayang geliginya sebelum menghilang.

“Suka banget Teh! Ini pinjam ya?”

“Iya.”

“Dimana? Boleh kupinjam dong?”

“Di dekat rumah ada rental buku kok. Nih, Teteh pinjamkan yang ini dulu ya. Biar kamu ngerti awal-awal ceritanya.” Ia menyodorkan komik seri pertamanya padaku.

“Hehe, makasih Teh…kirain si Teteh tak suka baca komik.”

“Wah Neng suka baca toh… tahu begitu Teteh pinjamkan dari dulu-dulu. Teteh sering pinjam kok.”

Aku hanya nyengir mendengarnya. Dari dulu aku juga heran mengapa tak semua penjaga toko Apak bisa langsung akrab denganku. Jadi serasa Profesor Snape yang dijauhi anak-anak Gryffindor saja…



Teteh dipanggil Ibah oleh teman-teman toko dan keluarganya. Aku tak pernah menanyakan ataupun tahu dengan pasti siapa nama panjangnya. Biarlah mengalir selayaknya saudara.

Tak ada yang kuketahui tentang ayahnya. Yang kudengar sudah meninggal dunia. Sementara ibunya… -entah bagaimana harus kuceritakan…- mungkin bisa kugambarkan sebagai sosok yang tak mau ambil pusing terhadap segala sesuatunya. Uwaknya saja sampai harus terang-terangan membentaknya agar berusaha mencari pekerjaan dan bukannya menadahkan tangan pada saudara-saudaranya. Sangat berbanding terbalik dengan puterinya mencari nafkah sebisa mungkin sampai-sampai tubuhnya saja tak begitu terurus baik.

Walau tubuh kurus sepertinya rawan untuk hilir-mudik melayani kepentingan para pembeli, Teteh lincah sekali bergerak kesana-kemari. Terlebih saat tahun ajaran baru tiba, orang-orang berteriak agar mendapat jatahnya sesegera mungkin. Ada yang minta buku gambar, selusin pensil, mencari kitab kuning, pesan buku Yaasin untuk lima puluh orang, belum lagi pesanan sekolah yang menuntut barang dalam jumlah besar, di depan kasir menumpuk padat orang-orang yang mau membayar. Dengkulku capek.

Waktu tak mungkin terhenti saat itu. Tanaman tak mungkin selalu biji, alang-alang tak mungkin tak disandari laba-laba, umur tak mungkin selalu muda, sementara sekolah harus berganti tahun ajaran, dan aku tak ingin menjadi siswa selamanya. Aku berniat melanjutkan pendidikan di luar kota. Kota pelajar yang katanya penuh budaya yang kini kutempati menjadi tujuan utamaku; Yogyakarta.

Aku senang ketika saat inilah aku bisa memiliki handphone sendiri. Aku tak perlu meminjam handphone Apak dan aku berhak memiliki kartu nomor sendiri. Gaya sekali aku. Tak lupa kuberitahu nomorku pada Teh Ibah agar masih bisa berkomunikasi. Teteh menyampirkan doanya untuk keberhasilanku di sana, sementara aku mengamininya dengan khidmat.



Gudang segala silsilah keluarga terdapat pada Mamah. Dengan runtutnya beliau selalu menceritakan segala kejadian menyangkut keluarga besar kami. Saking banyaknya nama, aku kesulitan menghapal alur ceritanya karena memoriku payah sekali.

Suatu hari aku mendapati Mamah tengah sedang dari kejauhan saat aku mengobrol dengan Teteh. Sesekali orang yang kusayangi itu memalingkan wajah, walau akhirnya kembali mengawasi kami. Tak terlalu kupedulikan, karena sebuah prasangka terlalu jahat untuk orang baik yang punya rahim.

            “Teh, sekarang kamu akrab dengan Ibah ya…,” kata Mamah membuka percakapan saat kami tiba di rumah. Aku menoleh padanya dan tersenyum, lalu asyik menatap gambar bergerak-gerak di kotak ajaib bernama televisi sebesar 21 inchi.

“Iya Mah.”

“Hati-hati ya Teh, kamu jaga jarak sama dia.”

Tak kusangka pernyataan seperti itu bakal meluncur dari sosok yang kumuliakan itu. Waktu itu aku cuma terdiam. Aku yakin ibuku mengerti bahwa ini adalah  sikapku meminta penjelasan dan bukan sekedar alasan.

“Dia mengidap penyakit liver, Teh, Mamah hanya khawatir kamu tertular.” Ada nada seorang yang kukenal baik: kecemasan sekaligus rasa cinta seorang ibu. Beliau berkata lembut, walau agak tergetar. Mungkin kekhawatirannya melebihi perkiraanku.

Pikiranku menerawang panjang, jauh merongrong angkasa mungkin sampai menembus Capella. Selayang kenangan masa lalu melintas tak berjeda; bakung, nuansa hitam dan kematian. Pekat sekali menghiasi sejarah keturunan Apakku. Beberapa waktu silam, salah seorang saudara Apak meninggal dunia karena jenis penyakit ini, meninggalkan suami dan keempat buah hatinya. Aku sangat paham aturan bergaul dengan para pengidap penyakit ini. Apa-apa harus terpisah dan dijaga. Mendeskriminasi.

“Mamah cuma minta kamu menjaga jarak pembicaraan dengannya, jangan terlalu intens juga ya.” Aku mengangguk mengerti, membuatnya bernapas lega barang sejenak.



Kegiatanku sebagai seorang mahasiswa tak seindah seperti di sinetron kegemaran adikku. Aku membutuhkan banyak waktu untuk beribadah dengan tenang karena harus bekejaran dengan jadwal perkuliahan, belum lagi tugas-tugas entah itu paper atau persiapan presentasi. Sudah kuabaikan peraturan makan dan istirahat teratur, cuma kuturuti ketika lapar dan capek saja.

Komunikasiku dengan Teh Ibah tak begitu sering. Dulu bisa sampai beberapa kali balasan, kali ini cukup 2-3 kali membalas, setelah itu tenggelam dalam kegiatan masing-masing.

Obrolan kami masih tetap berkisar soal komik, yang baru maupun mini seri. Hanya saja saat aku sedang libur kuliah, obrolan kami kini tak cuma komik.

“Neng, Teteh ingin curhat,” katanya. Aku langsung berbalik menghadapinya dan memasang telinga.

“Ada orang yang suka sama Teteh.”

Senyuman yang berbeda. Terlebih lagi ada sapuan pemerah alami di pipinya. Belum lagi kulihat matanya, kentara sekali aura merah jambu menguat di situ. Aku berseri mendengarnya, aku senang ada yang akhirnya benar-benar melihatmu Teh, batinku.

“Lalu?”

“Ya… kami hanya menjalani begitu saja, padahal sepertinya dia mau serius denganku.”

“Terus? Tidak tantang dia untuk menikah saja?”

“Masih banyak pemikiran menuju ke sana Neng, Teteh juga tahu diri Teteh cuma begini keadaannya,” katanya datar, namun dengan senyum yang anteng mengembang.

“Begini keadaannya bagaimana? Teteh sudah saatnya berumahtangga lho, tak usah merendah begitu,” kataku.

“Yaah, mudah-mudahan Teteh bisa diterima di keluarganya. Kita jalani saja dulu.”

“Mudah-mudahan dipercepat menuju pernikahan,” kataku disela seruan ‘hei!’-nya, “… kita kan tak tahu umur, Teh,” lanjutku sungguh-sungguh, tanpa tahu bahwa kata-kata itu kelak menjadi bumerang besar bagiku. Teh Ibah hanya nyengir dan kembali melayani seorang pembeli yang masuk.



Aktifitasku seperti biasa saja di kampus pendidikan. Tongkronganku hanyalah kos-kantin-kampus, begitu seterusnya. Kalaupun liburan kampus, tetap saja tak seenak udel bisa kupergunakan untuk mudik. Ongkos travel makin naik dan sebaiknya memang memanfaatkan waktu di Yogyakarta.

Dering telepon selulerku menjerit, terdapat nama Rumah di sana. Ah, Mamah memang baik, tahu kesepianku di kos. Kuangkat dan kusapa dengan salam.

“Waalaikumsalam Teh, ngapain?”

“Ga ngapa-ngapain, lagi liburan Mah.”

“Sehat Teh?”

“Iya, sehat. Mamah juga kan?”

“Iya Alhamdulillah. Teh…,” kalimat Mamah menggantung. Aku merasa ada keraguan dalam suaranya.

“Kenapa Mah?”

“Ibah meninggal tadi pagi…”

“Hah?”



Kau ini seperti mawar yang rapuh. Tapi memesona setiap makhluk yang melintasinya, walaupun tak selalu begitu. Aku ingin kau bahagia di alam sana, ditemani dengan yang belum pernah kaumiliki sejauh jantungmu berdegup.

 

Aku berduka karena tak pernah menjumpaimu saat pernikahanmu belum sempat terlaksana.

Aku menyesali mengapa kata-kata ‘umur pendek’ pernah kutujukan padamu, padahal aku tahu dalam setiap ucapan terdapat doa yang menyertainya.

Tapi aku sama sekali tak pernah menyesal bahwa menjadikanmu sebagai rahmatNya adalah perihal yang indah walau hanya sekejap waktu.

 

 

 

 

 

Yogyakarta 28 Juni 2010, 04.15 pm

For The Rose, ingatkah ketika kau menyebutkan judul komik kesukaanmu itu?
Aku benar-benar terhanyut ketika membacanya, sama terhanyutnya ketika aku memaknai sebuah persahabatan bersamamu. Berbahagialah di sana, aku meminta keadilanNya untukmu. Amin.

Diceritakan kembali untuk mengikuti lomba Berbagi Cerita dengan Kata

 
Powered by Blogger.