Showing posts with label review. Show all posts
Showing posts with label review. Show all posts

Friday, January 16, 2015

Allure: Nagihnya Si Susu Ijo

Oktober lalu suami ke Bandung demi menghadiri wisuda adik semata wayangnya. Sekalian deh, keluarga suami pada nyambangin Kuningan demi nengokin si gadis. 

"Neng, ada permen ... ENAK banget."
"Oia? Ya udah nikmatin."
"Beneran lho, ntar aa bawain ya. Ada susu juga. Rasa greentea."
"Hah? Kayak apa itu?"

Rasanya mild, tebal, keras, dan lebih berasa manisnya susu ... itulah permen Maccha Milk Candy UHA, yang ternyata kalian bisa dapatkan di kerabat A###mart. Kalau review adik saya: gak bikin eneg. Lha bukannya permen tercipta untuk menghilangkan rasa eneg? *entahlah
Saya juga suka, tapi lebih suka berupa minuman, kayak Allure ini~
segelas Allure dingin di hari yang terik <3
Rasanya? Menenangkan.
Kadang greget juga kenapa 1 sachet cuma buat secangkir mini minuman? Lagian buat ukuran economic bag cuma 14 biji. Aaaggh! >_<
Walhasil sebelum 2 minggupun saya sudah menghabiskan 1 bag susu. Bukan saya boros meminumnya toh sehari sekali saja tiap minum, tapi terkadang 2 sachet sekaligus saya bikin menjadi segelas.
Oke, saya boros.

Waktunya kembali ke masa 'ada alhamdulillah enggak ya gakpapa', soalnya Allure baru tahu dijual di Papaya, Bandung, tempat yang baru saya tahu semacam market khusus produk-produk luar negeri *wahai bangsa, maafkan lidah ini
Pantas saja mihil (utamanya buat saya yang ngirit), se-bag begitu saja sekitar 60k (dengan waktu habis kurang dari 2 minggu). Semoga Indonesia punya produk ciamik macam begini ke depannya deh, biar mahal setidaknya bisa lebih terjangkau lokasinya kan :D

Thursday, December 26, 2013

[Writing Challenge] Write a Review (film)

Ya sudahlah, Writing Challenge-nya saya bikin semaunya saja ... ternyata sehari 1 postingan itu susah juga kalau baru memulai -__-

source

Pas nih buat challenge berikutnya.
Tanggal 23 Desember yang lalu saya baru nonton film Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck (berikutnya disingkat TKVDW). Diambil dari salah satu buku era 1930-an karya Buya Hamka, film ini sukses membuat saya menyesal.
Awalnya penyesalan saya ialah liat jejeran pamflet jadwal tayang bioskopnya. Dilihat antara Soekarno dengan TKVDW, jelas saya ambil yang non-kontroversial, bisa dosa kalau terpengaruh sejarah yang keliru *alesan :p
Begitu tiket diambil dan berbalik kanan, ada EDENSOR! Aish, benar-benar nyesel ... karena nunggu barang sehari saja (Edensor tayang tanggal 24-nya) bukan hal besar. Saya dan suami sengaja menonton karena lusanya suami berangkat ke lapangan lagi.

Film ini berkisah mengenai Zainuddin yang merantau ke tanah kelahiran ayahnya di Minang. Dalam menuntut ilmu selama di sana, dikisahkan ia terkucilkan lantaran ia dianggap bukan keturunan Minang lantaran ibunya berasal dari bugis (Minang menganut sistem matrilineal alias garis keturunan ibu). Namun demikian, orang-orang mengenalnya sebagai pemuda berhati emas dan santun terhadap siapapun.
Zainuddin jatuh hati pada Hayati. Akan tetapi karena adat budaya, cinta mereka tak bisa bersatu. Lamaran Zainuddin ditolak dan Hayati dijodohkan dengan pemuda kaya bernama Aziz.

Inti dari film ini adalah kasih tak sampai (nyawa di ujung maut), dikarenakan oleh adat istiadat, tradisi dan juga latar belakang sosial. Saya kira penulis cerita ini tengah mengritik keadaan yang terjadi di masyarakatnya di masa itu. Dimana Minang itu setahu saya kental dengan ilmu agamanya, tentu saja Islam jadi sorotan. Tapi mengapa dalam hal ini Islam (sepertinya) dikesampingkan? Restu memang nomor satu, akan tetapi pertimbangan soal milih kriteria calon suaminya itu lho ... *ya baiklah di-skip saja ngobrolin ini

Kening saya berkerut juga saat musik Nidji mendominasi soundtrack film ini. Kurang pas rasanya ketika sesuatu yang klasik dipaksakan berkolaborasi dengan sesuatu yang pop, tapi saya kasih jempol untuk beberapa pilihan musik seriosa berirama begitu latar Belanda muncul.
source
Reza Rahardian, seperti biasa bisa memukau penonton dengan aktingnya. Bisa dikatakan, karakter Aziz yang dimainkannya kuat sekali. Apakah ia sedang terpesona, marah ataupun senang, ditunjukan selayaknya bangsawan dengan segala keangkuhannya. Pevita Pearce, cukup mewakili kerapuhan dan ketundukan Hayati pada suaminya. Walau aslinya saya kurang suka saat adegan ia tenggelam, rasanya terlalu didramatisir.
Tokoh utama film ini, Zainuddin, justru sukses bikin saya tepok jidat berkali-kali. Agaknya memilih Herjunot itu keputusan yang salah. Karakter Zafran dalam film 5 CM sudah melekat kuat, sehingga boro-boro mau menghayati setiap kata-kata puitis, penonton malah tertawa-tawa. Beberapa adegan terlihat berlebihan sehingga kesan marah malah seperti ngotot.

Sedikit curcol, mungkin ada baiknya tak ikutan latah ... bahwa menonton film yang diprediksi bakal booming itu ada baiknya ditonton beberapa hari setelah tayangan perdana. Hal menyebalkan selama film berlangsung adalah hilangnya mood sepanjang durasi film karena mbak-mbak sebelah saya berisik dengan timpalan-timpalannya sepanjang dialog tokoh. Bukan isak tangis karena melihat adegan yang harusnya menyayat hati, yang ada malah koor tawa dari para penonton.
Memang jadinya kurang greget sih, tapi efek bioskopnya tetep dapet kan? :D

Tuesday, March 19, 2013

Kangen Indonesia (2012)

Penulis: Hisanori Kato
Penerjemah: Ucu Fadhilah
Penerbit Buku Kompas


Indonesia sebagai kepulauan yg punya banyak budaya tentu saja seperti jelajah dunia. Kita keluar negara, maka akan jumpa dengan orang asing berbicara dengan bahasa yg tak dimengerti, pun kebiasaan yg tak pernah kita jumpai di negeri sendiri. Tapi ... sekali lagi, ini Indonesia. Anda bepergian ke perbatasan atau ke lain pulau, bisa dipastikan Anda menemui 'orang asing' dengan bahasa berbeda.

Saya ini Sunda tulen rumahan. Pertama kali saya menginjakkan kaki di Jogja untuk melanjutkan studi, rasanya berada di luar negeri, katakanlah itu saya batasi dari segi bahasa. Tak bisa saya jumpai orang berbahasa Sunda! Geli-geli romantik kalau ingat kembali.
Akibat rumahan itu, saya sering mengalami xenophobia. Secara tak langsung, tulisan Pak Hisanori Kato rasanya membikin saya jadi ingin lebih bisa membuka diri terhadap orang asing.

Saya pikir orang Indonesia yang bisa berinteraksi dengan orang asing tanpa rasa takut atau malu itulah yang disebut manusia internasional yang baik. (10)

Agaknya kurang tepat bahwa penulis menjadikan bukunya sebagai 'Kangen Indonesia', karena yang saya baca kebanyakan kehidupan di Jakarta. Hebat, beliau sangat tertarik orang-orang pribumi sehingga betah berlama-lama di kota yg konon banyak bedebahnya itu ya...
Kadang saya heran kenapa beliau tidak mencoba keluar dari Jakarta? Saya kira 'kenalan' dengan Indonesia-nya akan lebih beragam kan?
Sejauh yang saya baca, beliau mungkin tertarik.... dan masih akan sangat tertarik pada kehidupan ibukota. Menurutnya, ibukota Indonesia itu sangatlah 'luar negeri'... hahaha bisa aja si bapak...

Beliau tak berpikir akan makan masakan Jepang menggunakan tangan, tetapi pasti akan melakukannya ketika memesan makanan di RM Padang. Hal nomor satu yang dibahasnya adalah mengenai pemakaian kata "Tak apa-apa" ketika bagi beliau, kondisinya sebetulnya akan sangat 'apa-apa' jika dibandingkan dengan orang Jepang, terutama kaitannya dengan waktu.
Kalau dipikir-pikir, teman-teman saya yang baik juga banyak sekali yang sangat pemaaf... misalkan dalam memenuhi janji, seringkali ada orang yang gemar (bahkan sengaja) memepetkan waktunya untuk datang ke TKP. Itu hal lumrah, dan sudah terjadi, mau apa lagi selain:
 "Gak papa..." <--- sambil pasang muka asem.
Parah-parahnya palingan pergi melengos tanpa sepatah katapun. Tapi kalau dia yg terlambat sudah mengejar dan minta maaf, bisa dipastikan jawabannya "Gakpapa" juga... :))

Tuesday, February 19, 2013

Love Journey: Ada Cinta di Tiap Perjalanan (2012)

Tak cuma ilmu yang bisa kaudapat saat jengkal-jengkal kakimu melangkah keluar dari zona kuasamu. Tak juga melulu suvenir manis saat kau tiba di sebuah tempat asing. Jauh dari semua itu, kau bisa temukan butiran pesan cinta dariNya.
Maka bertamulah dan kenalkan dirimu pada keajaiban-keajaiban yg diciptaNya. Tajamkan indera-inderamu pada tadabbur Yang Maha Indah. Tatap varian warna bumi di balik lensa matamu sendiri. Lakukanlah perjalanan, dan lihatlah dunia!

Begitu quote yang saya buat ketika Mbak Rien mengadakan lomba kecil-kecilan. Alhamdulillah saya senang bisa jadi salah satu yang memenangkan buku Love Journey ini secara cuma-cuma. 

Buku yang merupakan sejarah bagi para kontributor di dalamnya ini merupakan bintang empat saya dalam menemukan gaya baru soal bagaimana mereka bertemu 'cinta' dalam sebuah perjalanan yang berkesan. 

Jadi begini, awalnya saya mengira bahwa ini mungkin bakal semacam buku guide tentang apa yang dibutuhkan dalam perjalanan, sebaiknya apa yg dilakukan maupun ke-khas-an apa yg ditemukan di sepanjang perjalanan mereka masing-masing itu. Tapi begitu saya baca ... saya bertemu 'kenalan' baru. 

Dimulakan dengan perjalanan seorang pendaki yang kemudian bertemu dengan belahan jiwanya di alam Ciremai *wah, kampung halaman saya memang penuh cinta :p*. Hal serupa juga diceritakan dalam Cinta di Gerbong Kereta, Honeymoon ala Backpacker, It's A Long Journey, dan Cinta Bujursangkar.
Lalu ada juga beberapa cerita perjalanan di alam seperti dalam Malinau nan Memukau, juga 'guide' lengkap ala Mbak Rien dalam Menaklukkan Rasa Takut di Dasar Laut Pulau Dewata. Wah, kelak kalau saya ada kesempatan seperti beliau-beliau ini pasti terbantu sekali sudah baca deskripsinya di buku ini :D
Lain halnya dengan kisah bu dokter dalam Selamat Tinggal Gaza Sang Cinta. Percayalah, saya menitikkan air mata membacanya *buka kartu*. Terus lagi kisah deja vu-nya Om Yasdi bertemu belahan hatinya, kecintaan seorang ibu pada anaknya dalam Kain Gendongan Batik Sebagai Saksi Cinta dan, kecintaan akan ilmu berkomunikasi ala Mbak Yudith Febiola, cinta anak pada ibunya seperti tersaji oleh cerita Mbak Ulil Lala, cinta seorang bocah pada Oom yang bahkan baru dikenalnya, hingga kecintaan pada kendaraan umum seperti pete-pete ala Mbak Pia. Juga patah hati!

Ada juga kecintaan negeri bersama Mbak Helene dan Mas Fatah ... membikin saya makin ingin berkelana di negeri sendiri.


Cinta itu beraneka wujud.
Ada semacam perasaan tak terungkap saat sedang bertatapan langsung dengan alam. Mungkin suatu hari nanti ketika saya menemukan keindahan alam lain, saya cukup mengarsipkannya sendiri. Terus terang saya sangat tersentil dengan beberapa cerita dari buku ini. Saya ingin menjaganya juga. Dan beruntung itu adalah ... saya lahir di negeri yang alamnya meruah seperti Indonesia.
Perjalanan itu sendiri semacam fitrah manusia mengarungi hidup. Bukan melulu soal melangkahkan kaki dari titik satu ke titik lain, tetapi juga bagaimana manusia menemui berbagai setting dalam sekian waktu.

4 stars! :D

Thursday, January 3, 2013

Sepotong Hati yang Baru (2012)

gambar dari sini



Penulis: Tere Liye
Editor: Andriyati


Akhirnya... setelah buku Daun yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin belum juga dibaca sampe sekarang, saya malah milih buku serial Berjuta Rasanya yg berjudul Sepotong Hati yang Baru.

Agak mengecewakan juga dapetnya kumpulan cerita pendek, pinginnya novel. Tapi karena sinopsis belakang sampulnya bagus, ya udah jadilah saya pilih judul ini *alesan

Dalam buku inilah pertama kali saya berkenalan dengan tulisan Om Tere. Plotnya wajar dan mengalir, settingnya bisa saya imajinasikan sendiri, karakter di tiap cerita juga cukup kuat. Ada 8 cerita yg disajikan Om Tere Liye. Keseluruhan ceritanya merupakan kesedihan, simpelnya: kasih tak sampai.

Saya belajar banyak hal di sini. Apalagi kalau bukan soal cinta *sebetulnya saya eneg ngomongin ini manjang di timeline #pencitraan#
Kalau kau seorang pelajar sekolahan, maka berhati-hatilah saat cinta itu hadir di tengah kehidupanmu. Bisa jadi perhatian seseorang itu hanya sebatas kebaikan semata, kisahnya tertuang persis seperti yg dialami Nana dalam Hiks, Kupikir Itu Sungguhan. Pada Sepotong Hati yg Baru, ada banyak tulisan yg sengaja saya bikin quotes buat apdet status di pesbuk, hahaha.
... cinta bukan sekadar soal memaafkan. Cinta bukan sekadar soal menerima apa adanya. Cinta adalah harga diri. Cinta adalah rasionalitas sempurna.

Jika kau memahami cinta adalah perasaan irasional, sesuatu yg tidak masuk akal, tidak butuh penjelasan, maka cepat atau lambat, luka itu akan kembali menganga. Kau dg mudah membenarkan apa pun yg terjadi di hati, tanpa tahu, tanpa memberikan kesempatan berpikir bahwa itu boleh jadi karena kau tidak mampu mengendalikan perasaan tersebut. Tidak lebih, tidak kurang. (51)

Lain halnya cerita Kisah Sie Sie, saya belajar melihat sabar dalam sebenar-benarnya sifat. Suguhan ikhlas mewujudkan cinta adalah sebuah keniscayaan dan memang sangat berpeluang bahwa bahagia itu bisa eksis bahkan dari sebuah pernikahan yg awalnya tanpa cinta. Di sini saya banyak membatin: ih telat banget! Lalu membodoh-bodohi tingkah suami yg sok juragan itu.
Tapi yaa kebahagiaan tak selalu berkorelasi baik dengan waktu lama. Tidak.
Kebahagiaan dan kebersamaan dalam waktu lama bisa jadi sebuah kejenuhan juga kan? Misalnya kayak di pilem 5 CM itu ... *ng, mari skip aja*

Mimpi-mimpi Sampek-Engtay mengingatkan saya pada jurnal ini. Agak berbeda sih, tapi ternyata memang kisah mereka pernah jadi legenda betulan. Bener kata kaka, roman cerita silat itu aslinya sangat 'dalam' efeknya. Kalau tragis, ya beneran sangat dramatis ... kalau romantis, ya beneran sangat 'kena' :D

Begitu baca penggalan awal Itje Noerbaja & Kang Djalil, rasanya terlempar ke taun penjajahan Belanda. Khoesoes seatoe kisah ini memakai kaidah bahasa jaman doeloe. Pertamanja agak kagok, tapi lama-lama terbiasa joega. Romantisme jaman penjajahan, mau tak mau harus ada perjuangan negeri juga agar tak selalu jadi baboe. Merdeka itu sulit sekali, teman. Sampai harus tahan menjadi pembunuh, berontak dan 'menyumbang' darah. Sayang, dari sekian banyak mayat bangsa kita ini, generasinya malah mengembangkan sistem penjajahan lain: korup made in mata duitan.

BAHKAN BARU TAHU KISAH RAMA-SINTA! *histeris
Bayangpun, bangsa macam apa saya ini ... pewayangan saja payah. Sebagian dari kalian mungkin sudah hapal alurnya. Sebenarnya saya tahu kisah mereka secara terpisah-pisah, thanks to Om Tere yg mau mengisahkan kembali cerita mereka lewat buku ini.


Adalah menyakitkan ketika sisa hidupmu hanya mengenang kebahagiaan di masa lalu, tanpa ia berusaha meraih yg baru di esok harinya. Tapi apa kata pendapat Hesty?
Dua puluh tahun lagi hidup dengan mengenang masa lalu itu dari sisi positif lebih dari menyenangkan. (205)

Oke, itu pendapat dia. Menyimpan satu orang saja di hati mungkin kelihatannya wujud setia yg nyata. Tapi bagi saya itu malapetaka. Sama saja dengan tidak move on, membiarkan kesempatan cinta yg datang menjadi percuma dan menyia-nyiakan hidupmu sendiri.
Saya tak bakal bilang bahwa itu mudah, tapi bisa.
Cuma teringat seorang teman saja, "Teori mah gampang, tapi pada kenyataannya apa? Tak pernah dengar soal begitu!"
Well, makan saja pendapatmu selagi pikiranmu sempit oleh hal-hal pesimis lainnya. Bukan problem saya juga ... *maap kebawa sensi*

Ngomong-ngomong soal kisah Kalau Semua Wanita Jelek, saya berasa deja vu :|
Rasanya pernah baca cerita semacam itu sebelumnya. Di novel kalau tak salah.
Ceritanya agak beda sih ... *ntar deh dicari dulu

Buku yg sangat layak, saya anggap membaca itu sedang berguru pada seorang penulis yg rela meluangkan waktunya merangkai pengalaman, entah pengalaman atau diciptakannya sendiri. Ibarat pelajaran Kewarganegaraan soal esai, di samping butuh ilmu untuk mensinergiskannya dengan akal, kau butuh prinsip agar esaimu tak melulu dari buku. Tak semua yg kau indera itu benar adanya. Manusia harus berpendapat agar bisa jadi bahan pertimbangan orang lain, kan?

Happy reading ;)

Tuesday, November 6, 2012

Nasi Kasreng Kuliner Kuningan

Teman saya dari kemarin curious sama nasi kasreng. Dengar-dengar pembicaraan para senior ini, nasi kasreng itu khas daerah Luragung-Cibingbin-an, masih Kuningan dong~
Barusan main ke daerah Garawangi, wah mampir dulu nih ke sebuah warung kecil di depan ... KUA kali ya ... *soalnya saya masuk ke Balai Nikah buat nebeng ke toilet :))
Penampakannya biasa, cara ngelipat nasi bungkusnya sekilas kayak bungkusan sate. Jadi itu nasi biasa, terus lauk pelengkapnya bisa kita tambah sendiri. Misalnya tadi saya pakai sawi dan timun mentah, tak lupa sambelnya, terus tambah 2 pia-pia (bakwan) panas. Nasinya mungkin seporsi nasi kucing khas Jogja, cuma lebih banyak dikit. Teman saya yg lain ada juga yg nambah pake tauge mentah, rebon dan telur goreng. Sederhana tapi nikmat, ini deh yg namanya surga ala desa ;)
Itu yg di Garawangi. Kalau udah daerah kulinernya sana mungkin lauknya lebih beragam. Iseng saya search, ternyata memang ga cuma telur-gorengan aja. Ada juga yg lebih variatif semisal nambahin ikan paray atau ayam goreng.
Keterangan lebih lanjut bisa dilihat di sini, dan sejarahnya juga bisa dilihat di marih. Saya ga sempat foto, jadinya nyomot di sini aja deh.


Monday, November 5, 2012

サムライ・ハイスクール: Samurai High School (2009)

Rating: 4/5
Director: Sato Toya (ep1,3,6,9), Inomata Ryuichi (ep2,4,7), Kariyama Shunsuke (狩山俊輔) (ep5,8)
Screenwriter: Inoue Yumiko
Cast.:
Miura Haruma / Mochizuki Kotaro
Shirota Yu / Nakamura Tsuyoshi
Anne /Nagasawa Ai
Ohgo Suzuka / Mochizuki Yuna
Kobayashi Ryoko / Minami Yurika
(source)



Mochizuki Kotaro ialah seorang siswa biasa yang banyak melakukan hal bodoh dan ga penting. Suatu hari ia menemukan sebuah perpustakaan sejarah yang dijaga oleh seorang perempuan aneh berambut seleher berkimono merah. Secara tak langsung, ia menemukan nama dirinya dalam sebuah buku sejarah. Tak hanya itu, buku tersebut mendadak seperti bernyawa, melepaskan 'ruh' yg ada di dalamnya. Sejak hari itulah, hidup Kotaro tak lagi menjadi biasa.

Kira-kira begitulah garis besar 9 episode dorama Jepang ini.
Yaaa ... sebenernya ada adegan 'nyrempet' dikit ~  tapi secara keseluruhan memang netral. Anak sekolahan banget. Seperti khasnya Jepang, di sini saya banyak menemukan pencerahan untuk bisa berpikir lebih dalam. Penggunaan kata-kata bijak juga banyak ditemui. Terkesan menggurui ya? Tapi banyak pesan-pesan baik yg ingin disampaikan. Jadinya cocok ditonton untuk semua kalangan, termasuk anak-anak. Makanya saya suka Jepang *nah, korelatif gak nih? :))

Pertama kali saya lihat Miura Haruma ini di movie Kimi ni Todoke. Maniiis pas lagi senyum (walau agak maksa, menurut nurani jahat saya). Lha, melihatnya di dorama ini jadi goyahlah citra itu ... rusak dengan aktingnya yg norak sebagai siswa pecundang.
Saya kasih 4 bintang itu ya ... karena ada poin bagus untuk pembelajaran. Terus terang saya ga begitu melihat alurnya kali ini. Tapi dari segi ide pun udah sangat membantu ingatan. Dorama berlatar sejarah gini kan jarang ada di persinetronan negeri kita ya? Kali aja nih dorama bisa jadi ide baru untuk bikin persinetronan lokal kita jadi lebih berkualitas.

Sejarah kita banyak yg unik, kenapa juga dianggurin? Cerita rakyat di marih juga sangat beragam (berhubung punya banyak suku), kenapa juga yg itu-itu aja yg muncul?
Sineas, generasi muda kita masih banyak yg fresh pemikiran. Jadi ga usah ragu untuk mempopulerkan sebuah latar yg belum terkenal. Akan banyak penghargaan dari generasi selanjutmu ketika berkarya untuk mengembalikan eksistensi sejarahmu sendiri. Dan akan banyak bangsa menghargai kita ketika kita menghargai pribumi ini. *halah malah OOT panjang-lebar*

Sunday, November 4, 2012

4교시 추리영역: Detective In 40 Minutes (2009)

Rating: 3.5/5

Directed: Lee Sang-yong
Genre: Mystery, Crime, Suspense

Cast. (nyomot di sini)
Yoo Seung-ho As Han Jeong-hoon
Kang So-ra As Lee Da-jeong
Jo Sang-geun As Problem child, Kim Tae-gyoo
Jeon Joon-hong As Professor – MBC, Byeong-soo
Jeong Seok-yong As Old unmarried professor, Kang Gook-man
Park Cheol-min As Professor – Crazy Dog, Han Kang-man

 

 

Di awal alur, satu ketegangan sudah dimulai. Seorang siswa di sekolah Jeong-hoon tiba-tiba keracunan hingga keluar busa dari mulutnya. Berlanjut perkelahian Jeong-hoon dengan teman sekelasnya yang usil bernama Tae-gyoo, sampai gurunya terpaksa menghukum mereka berdua mengerjakan tugas di kelas.

Kasuspun dimulai saat Jeong-hoon kembali dari kamar kecil, ia mendapati Tae-gyoo telah meninggal dalam keadaan duduk. Bagian depannya (dada-perut) basah berlumuran darah.

Adalah Da-jeong yang pertama kali mengetahui kejadian tersebut. Gadis ber-style Sadako ini tak ketakutan, justru ia tanggap berinisiatif mengamankan barang bukti, termasuk mengabadikan TKP dengan kamera polaroidnya juga menyuruh Jeong-hoon membersihkan diri agar tak dicurigai. Ia tahu Jeong-hoon tak membunuh Tae-gyoo.

Sisa waktu pelajaran hanya sedikit (40 menit) sebelum seluruh warga sekolah mengetahui pembunuhan itu. Sementara itu, Pak Komisaris juga sedang datang berkunjung untuk memantau keadaan sekolah dengan beberapa guru yang menemaninya. Mau-tak-mau Jeong-hoon ikut Da-jeong memecahkan kasus pembunuhan ini.

Di antara banyaknya siswa dan guru yang menjadi tersangka, dapatkah mereka memecahkan teka-teki pembunuhan Tae-gyoo? Selengkapnya silakan tonton sendiri yaaa~

 

Alhamdulillah sip, sinopsisnya tumben lumayan 'bener' ... :))

Movie ini dikasih temen saya sekitar 2 minggu yang lalu. Cuma setelah beberapa tumpukan movie lain saya tamatkan, baru inget yang ini belum ditonton~

Pertama kali lihat Yoo Seung-ho itu main di K-drama (kalo gak salah) Queen Seondeok, dia jadi pangeran pinter di situ. Wah ini pencitraan ato apa nih, di sini juga dia berperan sebagai siswa sekolah yang pinter. Selebihnya ... pemeran lain yang rada sering saya lihat itu malah siswa ndut yang jadi korban keracunan itu~ *tapi-gatau-namanya*

Movie ini mengingatkan saya pada sebuah komik legendaris yang konon sampai sekarang belum tamat juga! Kalian yang suka detektif pasti ga asing sama komik Detektif Conan. Bukan karakter maupun kasusnya yang bikin inget, tapi cara 'skenario' movie ini sama dengan cara Aoyama Gosho 'bercerita'. Step by step, sehingga penonton/pembaca bisa mengikuti kronologinya dengan baik. Flashback sudah pasti ada, tapi tenang aja ... ga sepusing nonton Inception kok. Masih lebih ringan juga dibandingkan movie Sherlock Holmes yang lebih kompleks lagi alur dan tokoh-tokohnya.

Cuma sayang, walau ga menutup kemungkinan ada kejadian seperti ini, tapi saya pikir akan lebih logis kalau settingnya perkuliahan. Bukan apa-apa, habisnya pembunuhan loh! *masalah buat loe, Pe?  #plaks

Sejauh saya nonton, movie ini cukup oke untuk sebuah cerita misteri. Akting mereka juga bagus sehingga membikin adegan demi adegannya juga cukup mengalir. Jadi, karena sambil nonton saya suka kebiasaan nyeletuk-nyeletuk protes kalau ada adegan aneh, makanya movie ini juga saya nilai 3.5 bintang. Untuk ukuran sekolah, pembunuhan sadis macam ini agak janggal aja. Tapi ya entahlah, kasus-kasus sekolahan luar mungkin beda juga ya dari Indonesia yang masih eksis soal gojlog-menggojlog dan tawuran~

After all, it's enjoyable movie. You'd watch this, mystery-lovers ~ ;)

Monday, October 29, 2012

君に届け (Kimi ni Todoke) - Reaching You (2010)

Rating: 3/5
Director: Naoto Kumazawa
Starring: Mikako Tabe, Haruma Miura and Misako Renbutsu

Kuronuma Sawako seringkali disebut Sadako karena memang mirip Sadako *kesimpulan apah iniii #plaks
Wajahnya yang senantiasa tertutup poni dan rambut lurus sepinggangnya menghadirkan aura muram bagi siapapun yang berada di dekatnya. Hingga suatu hari ia berjumpa dengan Kazehaya, pemuda bermuka cerah yang mudah tersenyum pada siapapun. 



Kawannya bertambah saat Sawako mulai bicara pada Yoshida dan Yano perihal dirinya yang merasa ada yang salah di mata teman-temannya.
Keterkenalan Sawako tak terhenti pada nama tempel Sadako-nya. Rumor mengenai kedekatannya dengan Yoshida, Yano dan Kazehaya membuat Sawako semakin merasa buruk untuk melanjutkan persahabatannya dengan mereka. Walau sahabat-sahabatnya tak menghiraukan rumor, tapi Sawako merasa citra para sahabatnya bisa hancur jika terus berdekatan dengannya.
 Lalu bagaimana Sawako menghadapi teman-teman sekolahnya – terlebih dirinya sendiri untuk mereka?



Ini semacam deja vu. Merasa ada hal yang buruk, terlalu ‘menjaga’ jarak dengan yang lain (apalagi dengan lawan jenis), juga krisis kepercayaan diri masa remaja.
Mungkin juga semacam xenophobia untuk kasus deja vu saya, tapi di sini kan bukan tempatnya nyerita soal si reviewer kan iiaah ... jadi mari bahas movie ini sajah~

Awal-awal kemunculan Sawako memang menyeramkan. Saya sempat berpikir jangan-jangan ini betulan movie horror berbalut kisah drama. Baguslah ternyata bukan horror~ *sujud syukur*
Drama yang tak begitu dramatis, khas Jepang yang minim musik: naturalis. Pembawaan karakter juga seadanya, konon pemilihan pemain dalam film Jepang itu dari karakter asli si pemain tersebut *itu adek saya yang bilang sih~

Konflik sederhana, sebenarnya. Tapi kalaulah diperpanjang, konfliknya tak akan bisa sesederhana itu. Terlebih melibatkan gank-gank remaja, perebutan perhatian seseorang, hingga masalah perasaan yang sulit diungkapkan. Simpel kan ya? Maksud saya, siapapun pasti mengalami hal-hal itu. Dan sangat wajar kalau saya memposisikan diri sebagai anak sekolahan, hal-hal ‘sepele’ semacam itu pasti dianggap sesuatu yang besar.
Adalah masa-masa remaja ketika mereka mulai merasa sudah besar dan merasa boleh melakukan sesuatu yang disenanginya, termasuk membela keinginannya terhadap suatu ancaman luar (memberontak-red).

Saya suka dorama ini. Soalnya ada adegan salah-tingkah-nya, huehue ....
Melihat seseorang jatuh hati dan menjadi gugup ketika bertemu dengan pujaan hati itu rasanya ... ya gitulah~

Karakter Sawako itu seperti guru buat orang yang mengalami krisis PD dalam menghadapi orang lain. Percaya atau tidak, banyak lho yang mengalami hal itu. Dan sembuhnya itu lama, lebih parah lagi kalau malah tidak sembuh dan lebih dalam bersembunyi dalam kesendiriannya.
Mencoba suatu hal yang baru bukan hal yang mudah memang, tapi tidak mencoba itu berarti melewatkan kesempatan begitu saja. Kesempatan itu kadang petunjuk Tuhan.
Apapun bentuk kekuranganmu, dobrak saja selagi bisa. Atau jika ada suatu kesempatan datang padamu, coba saja telusur dan ikuti ke mana arahnya. Mungkin saja ia akan membawamu ke mana kau bisa mendapatkan kuncinya. 

ATM Er Rak Error (2012)



Rating: 2/5
Director: Mez Tharatorn
Starred: Chantavit Dhanasevi (Sua), Preechaya Pongthananikorn (Jib)



Beberapa kali nonton komedi Thailand hasilnya ga mengecewakan. Dulu-dulu sempat lihat review-an movie satu ini, cuma belum kesampaian dapetin filmnya. Review-reviewannya variatif, makanya mending saya masukkan ke list movie yang akan ditonton daripada merusak imajinasi *halah
Dulu saya nonton om Chantavit ini di Hello Stranger, jadi saya pikir bakal lucu lagi kalau nonton dia.

Movie_atm_errak_error-1Bank tempat Jib dan Sua bekerja punya peraturan bahwa sesama karyawan tidak diperbolehkan memiliki hubungan spesial dalam kantor. Jika ketahuan, salah satu dari mereka harus keluar dari Bank tersebut.
Dilema menghantui Jib, karena sebagai pimpinan yang terkenal tegas dalam peraturan Bank, ia sebenarnya tengah menjalin hubungan dengan Sua, rekan kerjanya sendiri.
 Di lain kasus, Bank tersebut tengah memasang sebuah ATM baru di sebuah tempat. Karena suatu kesalahan, ATM tersebut mengeluarkan sejumlah dobel dari uang yang diminta pelanggan. Berita tersebar cepat sehingga orang-orang berebut ingin mengambil uang dari ATM tersebut agar nominalnya berganda.
Dengan beberapa alasan dan taruhan, akhirnya Jib dan Sua mengusut kasus tersebut agar nominal kerugiannya bisa kembali dari para oknum.

 ***
Saya sengaja membuat sinopsis menggantung begitu, karena kalau dirunut kejadiannya bakal bikin saya senewen saking banyaknya~
Setidaknya ada sekitar 6 ‘kasus’ yang diceritakan dalam movie ini. Semuanya aneh dan bisa bikin perut sakit saking kebanyakan bingung tawa. Sekilas tampaknya tak nyambung sama kasus-kasus itu, tapi ternyata berkaitan.
 Poin pertama yang saya simpulkan adalah ... komedi yang satu ini absurd. Memunculkan ide-ide yang terlalu orisinil secara tiba-tiba, jadinya sangat-membikin kaget saking anehnya. Saya ternganga dan mengerutkan kening, tapi juga terpingkal-pingkal.
Poin keduanya adalah ... endingnya kali ini bisa ditebak. Uhmm .... satu hal yang biasanya agak sulit saya tebak di movie Thai itu ending. Kebanyakan movie sana yang saya tonton itu gantung-gantung gitu. Jadi kalian sendiri bisa ‘membuat’ sambungan cerita sesuai dengan imajinasimu walau beberapa orang tak suka pada ending semacam ini.Tapi tenang aja, ending movie ini bisa dibilang clear~

Secara keseluruhan, saya kurang bisa menikmati alurnya walau saya sangat-sangat menikmati komedi ala Thai di sini. Sangat berlebihan, iya. Memang begitu adanya kan kalau movie Thai udah main? Tapi yang satu ini benar-benar ... lebay dengan cara yang aneh~
Para pemainnya juga berakting baik, seperti drama-drama-komedi Thai lainnya yang biasa saya lihat. Kali ini kecepatan mereka dalam berbahasa juga lebih kentara, jadinya ga cuma logatnya yang lucu itu yang dipertimbangkan buat nonton pelem Thai... ===dikeplak===

Thursday, September 27, 2012

The Queen of Reversals, LBS channel


Belakangan saya suka nongkrongin kamar keponakan.
Yaa awalnya memang buat gangguin dia, tapi ternyata saya menemukan hal lain untuk hiburan di sana.

2 tipi di rumah sebenarnya memakai parabola, otomatis ada beberapa channel ‘istimewa’ yg masuk. Hanya anehnya, channel-channel tiap tipi tersebut berbeda-beda. Misalnya saja, tipi keluarga bisa menayangkan Jchannel (ini Jazeerah bukan ya?), sementara di tipi bawah tidak ada. Cuma beberapa channel luar saja yg sama, misalnya NHK World (love it!).

Nah ceritanya saya ‘nemu’ channel LBS, celakanya saya diberitahu bahwa itu merupakan channel K-drama 24 jam. We-o-we kan? Padahal sekilas cuma terlihat seperti tayangan iklan Lejel aja, tapi ternyata isinya tak melulu tayangan komersil.

Awalnya nonton semua tayangan – ya, beberapa aja sih – salah satunya The Queen of Reversals. Entah kenapa sekali nonton langsung ngerti alurnya, padahal itu udah nyampe episode belasan.
Ceritanya soal suami-isteri yg bekerja satu kantor, kemudian ternyata bercerai karena hilangnya kepercayaan pada sang suami, karena satu divisi sama mantan pacar sang suami (nah lho, pusing?). Padahal aslinya sang suami ga macem-macem.
Terus di sana ada atasan sang isteri yg notabene masih muda dan gagah ... yg ternyata menaruh hati padanya. Ini mungkin yg namanya kagum berujung cinta :))
 
Terus terang, nonton pilem ini mendadak ikut risau. Masalahnya, si suami itu cakep dan setia ... tapi di sisi lain si atasan juga anaknya narsis dan lucu. Kayaknya kalau saya jadi penulis skenario, mesti ada salah satu yg mati.
Masing-masing pihak masih cinta. Tadi episode 16 itu si atasan hampir mengungkapkan perasaannya saking galaunya.
Hadeh.
I know how feel it, man. She loves him, she loves you not.
He loves her, he loves me not. For times. But it’s ok. I’ve graduated finally, man ... *loh

Memang pada akhirnya fisik itu bukan sesuatu yg penting. Banyak orang yg bersimpati pada si isteri bukan karena dia cantik lho, tapi karena kecerdasan dan empati yg dimilikinyalah yg bikin (kalau saya) orang bakal tersanjung dan menghormatinya.
Dari sini juga saya menemukan motivasi yg bisa kita pelajari. Ceritanya si isteri ngelatih temannya untuk bisa tampil dan lancar membawakan acara proyek mereka. Temannya sangat minder dan demam panggung, sementara Tuan Mok yg ikut menemani selalu membela temannya ini agar si isteri tak memaksanya untuk terus latihan. Si isteri dengan tegas mengatakan,
Tuan Mok, orang-orang berada di dekatmu merasa nyaman karena kau tak pernah memaksa. Dan itu disayangkan, karena dengan begitu kau tak pernah bisa membuat mereka maju.
Yeah, kalau terus berada dalam lingkar kenyamanan, kita tak pernah tahu rasanya berubah. Dan ini amat menohok perasaan rasanya.

Recommended buat yg suka K-drama. Poin lain yg saya suka dari serial ini adalah settingnya yg merupakan kantoran dan sudah melewati masa pernikahan. Bukan lagi membahas cinta sepasang remaja ataupun cinta aneh rakyat jelata dengan milyuner muda *no offense*

Monday, September 24, 2012

Makan di Warung, Gokana Teppan Bandung~

1 minggu nganggur jelang wisuda, saya bengong di rumah ... sambil nemenin para tamu yg mulai pada bubar, sambil maen sama ponakan kecil, sambil trial-error gaya kerudungan buat wisuda, sambil merencanakan sesuatu buat nanti di Jogja *halah,apaini~

Rencana ngajak adik saya ke Jogja seminggu sebelum wisuda ternyata gagal. Pengambilan toga dan segala perlengkapannya saya percayakan sama bibi yg duluan ke sana, karena pulangnya hari Sabtu ... sementara saya ngebet ikut ke Cilebak pada hari itu :))
Tiba-tiba adik saya berencana ke Bandung dari hari Minggu. Konon anggota kelasnya diwajibkan rapat untuk registrasian maba jurusan mereka. Berhubung cuma sedikit orang (sekelas cuma 8 orang), rapat-rapatanpun jadi agak meragukan. Tapi dengan pede, saya menawarkan diri agar pergi ke sana sekalian ngembaliin printer dan perlengkapan wisuda yg kelupaan beli *mumpung lagi THR-an, sesekali royal~

Rencana bermalam 2 hari saja agar tak begitu mepet dengan hari keberangkatan ke Jogja pada hari Kamis.
Perjalanan makan waktu sekitar 7 jam (ampun deh macetnya). Datang-datang disambut kamar kos yg 11-12 sama kamar kos lama saya. Hasegedeh, saya bela-belain ngebenahin itu kamar sampe lumayan rada enak buat selonjoran nyante.

Hadeh pembukanya aja lama banget... jadi langsung ajalah karena laper, saya diajak Ati ke "Makan di Warung", sebuah rumah makan seafood sederhana di daerah Dipati Ukur, Bandung.

Makan di Warung, Dipati Ukur


 Hmh. Enak.
Saya lupa nama menu yg dipilih, yang pasti Ati mesen cumi sama sepiring sapo tahu Jepang (benerann enak!). Sapo tahu ini sampe saya cari resepnya gimana. Udah nyoba, tapi rasanya beda :)) padahal lumayan nih kuah buat pengganti capcay yg gitu-gitu aja. Belum lagi tahunya ... uh, lembut banget di mulut.
Biar kata orang segitu terbilang murah, tapi buat saya tentu aja engga (karena ngebandingin yg di Jogja). Dan ... itu kenapa juga minumnya biasa banget? Ohoo ... itu karena setiba kami di Bandung, ndadak kondisi badan down dan tenggorokan kena radang (lagi). Tapi tetep aja kuliner itu pantang disia-siakan ... *serius*


Lanjut esoknya kami capcus agak siangan, karena ... kepala mulai cenat-cenut dan badan mulai menggigil. Kami ke Istana Sepatu buat nyari sepatu wisudaan. Ati juga butuh sendal gede (karena ukuran kakinya jumbo). Daaaan .... terpilihlah sepatu-sendal simpel tanpa hak buat wisudaan.
"Orang ga bakal liat kamu sampe detil dari atas sampe bawah!" Begitu keyakinan saya.

Entah gimana rupa saya, berkali-kali Ati nanyain, "Teteh gakpapa? Ini kalo mau muterin bakal lama lho. Makan aja dulu yuk ..." Oke. Saatnya nyari tempat yg enak sekalian istirahat ...

 
Gokana Teppan
        

 
 


Mm... ada reviewan dari teman saya yg cantik soal GT ini. Tadinya pingin yg paket apaa gitu namanya, cuma Ati ngingetin ada teriyaki di situ. Yang biasa saya kuatirkan pake angciu-nya itu lho. Jadi saya pesan yg netral saja, ada ebiapaa gitunamanya. Biasa deh, kayak di Hokben ato Bee's. Btw kerupuknya enak~
Karena feelin' unwell ini, saya ga bisa nyicip total. Pedas dikit, kesiksa tenggorokan. Sempat nyicip kuah ramen pesanan Ati juga. Agak pedas sih. Walau begitu, lagi-lagi habis sampe ke es-nya tuh, mwahahaha~ *banyak makan biar cepet sembuh #alesan-gempur-radang#

Mendadak ditilpun Mamah, disuruh pulang cepet biar ada waktu rehat pas nanti perjalanan ke Jogja. Yap, jadi malamnya kami ngetravel pulang dengan oleh-oleh sakit. Travel juga serasa milik pribadi, berhubung penumpangnya cuma kami berdua doang :))

Friday, July 6, 2012

Kalau penyuka jamur ke Jejamuran ...

Tepatnya hari Sabtu kemarin (30/6), tunailah Cakep ngelunasi utang nraktir sohib-sohibnya di Jejamuran. Bukan janjian yg bertele-tele, karena memang kali ini dia ambil keputusan sendiri untuk memutuskan tempat dan waktunya. Alhamdulillah, 5 orang terkumpul dengan mudah. 




Singkat cerita, bakda dzuhur Cakep sudah meluncur bareng salah satu sohibnya itu. Perjalanan makan waktu sampai sekitar setengah jam.



Dikira siang hari bakal masih sepi, ternyata tetap aja ramai pengunjung. Agak ceroboh juga, mengingat minggu kemarin sebenarnya sudah masuk musim liburan. Otomatis dong banyak keluarga yg bakal nyari tempat makan, tak terkecuali di sini. 

Jadilah Cakep dkk harus tunggu beberapa menit dulu sebelum akhirnya dapat meja. 


Menu yg dipilih beraneka ragam. Mulai dari makanan, minuman hingga camilan tak lupa dipesan. Tadaaa beginilah adanya pesanan mereka, 1 meja jadi penuh~



Untuk beberapa waktu, mereka sempat pesimis juga si makanan bakal mubazir kebuang. Cakep ampe udah siap-siap manggil pramusaji buat ngebungkus. Tapi toh pas ngobrol-ngobrol teteup aja pada nyemil. Intinya, bicara itu mudah tapi lidah ga bisa bohong *eaaa

Nggak lupa juga dokumentasi buat kenang-kenangan pernah makan di marih~

 

O ya, di sana juga ada tempat budidaya jamurnya. Pengunjung bisa lihat langsung tanpa harus izin dulu, toh sudah terdisplay gratis gini ~   

 

Ini lembaran menunya... *nyolong dari tempatnya Pie


 Dari menu sebanyak itu, Cakep ga perlu sampe ngeluarin uang banyak-banyak. Ngga nyampe 200 rebu juga~


Konsepnya agak berubah pas taun lalu. Biasanya si nasi pakai bakul, tapi sekarang ternyata dijatah gitu. Dulu juga ada live musicnya meski siang... kali ini Cakep dkk kurang beruntung karena gada performa itu di sana dari mereka datang sampe pulang~


Tempatnya kurang cozy buat nongkrong anak muda, IMHO. Lebih resto banget ini. Tempat - makan - bangetlah. Lebih asik buat keluarga atau pasangan, tapi ga menampik kemungkinan buat ajak-ajak orang baik kok, misalnya saya... ~~~~ eeooowww 


Sekedar tips kecil dari saya... 
Beberapa menu ada buat ukuran jumbo alias bisa berbagi sama yg lain. Misalnya kayak dadar jamur yg seporsi ada 4 potong dengan ukuran cukup tebal. Atau sop jamur yg bisa dibagi berdua, atau juga tongsengnya (favorit saya nih). 
Bumbu-bumbunya meresap... dan aseli, si jamur jadi kayak daging beneran. Mantaflah 

Kalo kalian ke Jogja ato mau ke Magelang, gada salahnya nyempetin kuliner ke marih~ 



Alamat Jejamuran:
Niron, Pandowoharjo, Sleman.
Buat yg mau rame-rame (terutama keluarga), ada baiknya juga reservasi dulu ke 0274-868170

Tuesday, March 27, 2012

Pukul Sebelas Malam (2012)

Rating:★★★★
Category:Books
Genre: Literature & Fiction
Author:Desi Puspitasari


Hidup hanyalah mengenai perkara kehilangan.
(Desi Puspitasari, 2012: 14)


Demikian yang diungkapkan sang pelayan bar dalam cerita pembuka kumcer Pukul Sebelas Malam. Saya bingung juga mau ceritain sedikit soal isinya gak ya? Sesuai dengan temanya sendiri, keseluruhan buku ini memang tentang kehilangan. Tak selalu identik dengan frustasi dan keterpurukan kok, contohnya saja Ange yang hilang kata-kata ‘Ingin mati’-nya dalam La Vie.

Saya suka saat membaca Ma, mengingatkan saya pada K-drama ‘A Moment to Remember’. Jangan bayangkan alurnya seperti dalam movie ala Korea, jauh banget. Khas Eropa kental terasa dalam keseluruhan ceritanya.
Juga cerita Pa-nya Victor soal anggapannya tentang Tuhan.... Luna yang mengingatkan saya akan Angelina Jolie *gak tahu juga kenapa*...
Wah, padat.

Ini kumcer yg cukup berat, begitu anggapan pertama saya ketika selesai membacanya. Beberapa faktor yang mungkin saya ulik sendiri mungkin karena pemilihan nama dan diksi cerpen. Jelas dong, setting luar negeri udah pasti pake nama yang khas orang-orang sana, begitu juga dengan diksi dan terminologi tertentu yang jadi kekuatan kumcer ini.
Dan terus terang, kalau ditanya Tristan ada di judul mana? Atau cerita si Victor itu akhirnya gimana?
Saya harus buka bukunya kembali. Ini sekedar share apa yg saya pikirkan ketika selesai baca lho ya... mungkin bakal beda lagi sama pembaca lain

Ada 11 cerpen yang disajikan: Pukul Sebelas Malam, Heute Herbst, Bolero, La Vie, Ma, CLOS E, Old Devil Moon, Heartfelt, Pacarku Hilang, Jembatan Jazz, dan Light My Fire.
Tiga diantaranya pernah dimuat dalam koran Tempo.
Oh ya, saya termasuk yang beruntung membaca Heartfelt, pengganti cerita pendek Jangan Percaya Penulis. Hohoho~ *jumawa


Kalau penulisnya menceritakan secara general ceritanya satu per satu, saya yakin beliau bakal lancar menyimpulkan cerpen 1, 2, 3, dst.
Memang simpel, apalagi liat bukunya yang cuma sekitar 120-an halaman.
CUMA... pendeskripsian satu per satu cerpennya tak semudah ringkasan maupun kutipan-kutipan dalam review bukunya:

Pacarku menghilang lagi. Jatuh terselip di antara halaman  buku.
(2012: 91)

Cerita-cerita kehilangan.
(2012: 15)





Just read this for enjoying every single words of her stories.
Recommended for literature-lovers 




____________________________________________
*semoga ini termasuk 'review'an...



Wednesday, March 21, 2012

(Thailand) Top Secret/The Billionaire (2011)

Rating:★★★★
Category:Movies
Genre: Other
Starring: Peach Pachara Chirathivat, Walanlak Kumsuwan, Somboonsuk Niyomsiri
Directed: Songyos Sugmakanan





Adalah seorang anak SMU bernama Aithipat “Top Ittipat” Kulapongvanich. Bermula dari hobinya bermain game online, ia memperoleh penghasilan nyata hanya dengan ‘berjualan’ benda-benda super dalam game. Ia bahkan mampu membeli beberapa laptop dan sebuah mobil.

Kesenangan itu tak berlangsung lama, akun gamenya dihapus karena dianggap telah menyalahgunakan akun untuk tujuan komersial. Sejalan dengan itu, sekolahnya terabaikan dan tak lulus seleksi PTN.

Setelah akunnya terhapus, ia mulai melirik DVD player bajakan untuk dipasarkan dari seorang penjual barang elektronik. Akan tetapi, ia ceroboh memperhatikan kualitas barang sehingga malah mengalami kerugian. Orangtuanya marah besar. Walau begitu, ia tak juga jera.  Ia juga mencari ‘peruntungan’ dari berjualan kacang.

Tak disangka, ia diberitahu bahwa ayahnya punya utang sekitar 40 juta baht (Rp12 miliar) ke bank, sehingga orangtuanya memutuskan untuk pindah ke Cina. Tapi Top memilih tinggal di rumah lamanya yg nyaris kena gusur.

Berbekal janji pada ayahnya bahwa ia akan membawa pulang orangtuanya kembali ke Thailand, iapun mulai berpetualang kembali membangun bisnis dengan bantuan seorang pamannya.


_______________
Awal menonton, saya seperti sedang disuguhi film 21. Itu lho, pelem tentang seorang jenius yg menceritakan petualangannya yg hanya berbekal otak cemerlang pada pihak MIT agar dia dapat beasiswa di perguruan yahud itu. Mengapa begitu? Karena saya lihat awalnya si Top ini juga bercerita pada petugas bank agar meminjamkan uang untuk modal usahanya. Tapi sepertinya saya meleset. Cerita Top tidak berhenti saat ia selesai menceritakan pengalamannya pada pihak bank, tapi masih ada 25% cerita yg mendingan kalian tonton sendiri deh~

Ada 1 adegan yg bikin ‘deg’.
Saat itu bisnis kacangnya sempat dilema karena asap pengolahannya mengotori atap mall. Petugas mall memberi kesempatan untuk Top agar bisa membersihkannya dalam waktu semalam, jika ia tak bisa tepat waktu menyelesaikannya, ia harus membatalkan kontrak dan tak boleh berjualan di situ.

Ditemani ibunya, Top membersihkan atap mall tersebut hingga larut malam. Sayang waktunya tidak cukup, ia keburu disuruh pulang oleh petugas mall. Top yg bersusah payah mengecat kembali atap mall, tanpa pikir panjang ‘nyogok’ petugas tersebut.

Si petugas menoleh pada ibunya, “Bu, ini anakmu?”
“Ya.”
“Tolong ajari dia makna kejujuran dan tanggungjawab.”



Begh.
Saya sepertinya bisa merasakan emosinya Top. Bukan emosi ding, tapi rasa malu... terlebih dihadapan seorang ibu. Yg lebih malu lagi tentu saja ibu sendiri. Rasanya kan gimanaa gitu...

Tapi kata-kata itu juga dijadikan pelajaran berharga dalam usaha berikutnya, terutama dalam perjalanannya membangun bisnis dengan perusahaan 7-Eleven.

Di akhir pilem terdapat epilog yg menceritakan kesuksesannya membangun usaha dalam usia belia. Dikatakan saat ini usianya baru 26 tahun. Sudah memiliki 2. 500 karyawan, mendapat pendapatan 1. 500 juta baht (Rp450 milyar) di tahun 2010. Merinding deh... mungkin saat ini ia masih di bawah 30 tahun. Whatta fantastic guy he is.
Sebenarnya ada beberapa kekurangan juga di film ini, tapi... saya lagi males nginget-nginget kesalahan #woossshh#. Gugling aja yah~

Tadinya saya kurang tahu juga ini diambil dari kisah nyata atau bukan. Tak sengaja saya search di gugel (mau nyomot gambarnyah)... lhaa ternyata saya dapet poto orang ini dengan... produknya:




Dapet keterangan dari sini, ternyata memang pelem ini diangkat dari kisah nyata.
Muda, kemauan keras, kaya raya, banyak camilan ga gampang nyerah, ganteng.... sayang sekali, bukan tetangga saya... *apaaacoba

Inspiratif 


Friday, February 24, 2012

ARKHYTIREMA 1: Pencarian Adhama

Rating:★★★
Category:Books
Genre: Science Fiction & Fantasy
Author:Dicky Zainal Arifin

Adalah Arkhytirema, seorang anak yg lahir dengan anugerah kekuatan yg melebihi para Lemurian pada umumnya. Ia terlahir sebagai keturunan penguasa energi murni. Bahkan sang pemimpin bangsanya sendiri, Rhamidaar, ikut menanganinya.

Dilahirkan dengan kekuatan melebihi 40%, tentunya dengan pencapaian ‘belajar’ yg amat singkat. Para profiler (guru) yg mengajarinya sudah mencapai batas dalam mengajari Arkhytirema. Rhamidaar menjelaskan bahwa ada 1 orang yg mungkin bisa memuaskan rasa penasaran dan pertanyaan dalam benak Arhytirema, yaitu bapak para manusia: Adhama. Hanya saja, keberadaannya sendiri tak ada yg tahu.

Maka dalam usianya yg masih anak-anak (10 tahun), dimulailah perjalanan Arkhytirema dalam mencari Adhama. Ayah-bundanya yg bisa memaklumi keinginan puteranya itupun juga akhirnya meluluskan niat Arkhytirema mencari Adhama. Berbekal tulc (tulak=kunci) yg diberi Rhamidaar, ia menempuh perjalanan panjang antar-galaksi melalui barqha (‘pintu’ yg menghubungkan antar-galaksi).

Seperti apakah perjalanan yg ditempuh Arkhytirema? Apa saja yg bakal ia temui di tiap galaksi yg dikunjungi? Dan yg terpenting, berhasilkah ia menemui Adhama? Silakeun baca triloginya Arkhytirema... *kalo gak salah mah baru nyampe buku kedua

***

Banyak kejadian tak terduga dalam perjalanannya, secara ya... biasanya dalam bayangan kita, di antar-galaksi angkasa luar sana mana ada gambaran kehidupan, sih? *kecuali para UFO-mania
Paling-paling yg terdeskripsikan itu cuma ruang hampa udara yg mengandung zat-zat beracun bagi makhluk hidup O2 kayak kita gini. Agak bingung juga mesti men-genre-kan novel ini kemana.

Pertama, settingnya ini kemungkinan zaman sekarang. Hanya saja, berbicara soal kekuatan metafisik, tenaga dalam... jurus-jurus dan sebagainya mengingatkan saya pada cersil-cersil zaman dahulu semisal Wiro Sableng atau Jaka Sakti.



Kedua, ada unsur legenda.
Tahu Lemurian? Atau paling enggak... mesti pada tahu Atlantis kan?
Nah, bangsa/ras (?) ini juga sedikit disinggung, hmm.. mungkin karena baru buku pertama ya? Beberapa bangsa/ras yg disebut antara lain Lemurian, Atlantean (Atlantis), Bropa, Rudhaza, Lilua, Mosram, Eratus, Nirranthea... haduh banyak, nggak inget. Yah, masuk akalnya aja... ada berapa galaksi di angkasa sana sih? Nah itu ajah hapalin atu-atu.

Ketiga, bicara soal teknologinya, yg dideskripsikan di situ bahkan udah sangat melebihi teknologi yg berada di zaman kita. Diulas juga mengenai sistem tubuh, terutama kinerja mitokondria dan pengetahuan umum lain... *lagi-lagi lupa apaan

Keempat, ada sedikit serapan dari bahasa Sunda, di sana disebut sebagai bahasa Zhunnda. Terus salam yg dipakai juga “Sampraazan” yang berasal dari sampurasun-nya urang Sunda.
*eh, ini sebenernya gak termasuk ketiga alesan di atas, sih... #dikeplak oleo jeyuk#


Ada juga hal menarik lainnya semisal penamaan istilah –istilah yg dipakai. Mengingatkan saya pada beberapa hal.

Membacanya seperti menonton film Dragon Ball, terutama setelah Arkhytirema ternyata bisa ‘berubah wujud’ dengan meningkatnya kekuatan dalam tubuhnya. Diceritakan rambutnya berubah menjadi panjang keemasan (kalau gak salah), dan kekuatannya naik hingga beberapa persen. Nah, persis kayak perubahannya Goku saat berubah jadi Super Seiya 1 dan 2... *katanya ada juga perubahan ‘vegeta’ yah?

Lain lagi ketika saya membaca di awal perkenalan. Istilah probe di sini juga mengingatkan saya akan ras Protoss dalam game StarCraft. Dalam game itu kita bisa memainkan 3 ‘ras’: Terran (manusia), Protoss (makhluk seperti manusia dg teknologi dan peradaban tinggi), dan Zerg (makhluk-makhluk asal larva yg teknologinya dari jaringan sel gitu deh.... kalo di bukunya mah semacem bangsa Bropa kali ya).

Nah, posisi Lemurian ini seperti pada Protoss. Istilah probe juga ada dalam game ini, itu sebutan bagi 'villagers'/pekerja bagi yg pernah maen Age of Empires pasti ngerti. Beda fungsi sih... tapi yg pasti istilah-istilahnya banyak yg rasanya deja vu pas baca

Masing-masing penampakan (bayangan sayah doang sih) akan Lemurian itu: kaya akan kristal, lalu unit rumah induknya (istilah di game-nya mah Nexus) juga berbentuk piramida. Pokoknya mirip sama yg dibahas di situs Arkhytirema lah.

Seperti yg pernah saya bahas sebelumnya, kita juga bisa kenalan sama huruf Lemurian yg ada di novel ini.



Awalnya mungkin agak membosankan, mengingat perkenalan novel ini dimaksudkan sebagai pengantar istilah-istilah yg langsung dipakai. Aselinya ada glosarium tersendiri, cuman saya nggak pinjem. Dipake buat baca buku kedua kayaknya mah.

Yang saya sayangkan, kaidah penulisannya itu sedikit 'lain' dari novel biasa yg kita temui. Istilah-istilah yg dipakai itu tak seperti tata penulisan Harry Potter. Bukan maksud saya membandingkan, tapi karena saya masukkan novel ini dalam genre sci-fan, ya paling tidak biasanya istilah tertentu cukup dikasih italic. Cmiiw, yaa...

Editornya sendiri mungkin membiarkan tata cara penulisannya seperti itu. Tapi menurut saya pribadi, terus terang agak kelelahan membaca huruf seperti itu, walau saya yakin penulisannya gak bermaksud melelahkan pikiran para pembaca.

Fyuuuh~
Selesai juga ngebahas (bukan repiu ini mah) novel ini. Beratnya mungkin karena banyak istilah yg saya belum terbiasa dan ya itu tadi... penulisannya.
Banyak hal tersurat yg ditulis di sini, terutama mengenai keberadaan Illahi, rasa syukur, menangani perasaan negatif (takut, ragu, dll) dan sebagainya... *religius juga kan yah?




Kekuatan yg besar, memunculkan tanggungjawab yg besar pula.
(sampul novel Arkhytirema)



*ngomong-ngomong, baru kali ini saya baca novel dari berbagai genre begini ^__^b

Friday, February 10, 2012

Arsene Lupin (2011): Pencuri Terhebat dalam Sejarah (?)

Rating:★★
Category:Books
Genre: Literature & Fiction
Author:Edgar Jepson & Maurice LeBlanc
Cerita ini bukan mengenai Lupin-Lipin loh

Huehue... dapet juga buku Lupin dari Pesta Buku kemarin.
Pertama kali saya kenal nama itu dari komik Conan, tepatnya saat episode kemunculan 1412 aka Kid Si Pencuri muncul. Sosoknya benar-benar klop dengan cover buku ini:



Setelah 10 tahun Duke Charmerace menghilang tanpa kabar, ia tiba-tiba datang kembali dan melanjutkan rencana pernikahannya dengan Mademoiselle Germaine Gournay-Martin.
Di tengah kesibukan jelang pernikahan, Lupin memberitahu niatnya mencuri lukisan Monsieur Gournay-Martin, ayahanda Germaine yg merupakan seorang jutawan di Prancis. Done! Dia berhasil melewati para penjaga harta sang jutawan dalam satu malam. Padahal baru saja sang jutawan juga kehilangan mobilnya yg bertenaga seratus kuda.

Niat mencurinya tak berhenti sampai di situ. Kali ini sasarannya adalah sebuah mahkota bernilai tinggi milik sang jutawan *gila ya kekayaannya ga abis-abis

Ceritanya bukan cuma soal sepak terjangnya dalam hal curi-mencuri, ada juga sisi romantik di sini. Karena ternyata dalam buku ini, ia dikisahkan jatuh cinta pada seorang gadis cantik bernama Sonia Kritchnoff...

Akankah usahanya meraih cita dan cintanya berhasil? Saksikanlah dalam novel ini! *halah kok ngiklan ngene :))


________________

Di Indonesia juga banyak lho, pencuri terhebat beberapa tahun belakangan ini... *ngelirik para korup
Apalagi kalo mikir Edy Tansil? Begh... dia itu pencuri kelas dinosaurus kali ya.. bahkan kabarnya aja gak ada yg tahu
Cuma bedanya, mereka nyuri itu gak ngabar-ngabari... #OOT

Eaaa stop.
Mari bahas bukunya.

Awal saya membaca, rasanya senang mengetahui bahwa sang penerjemah benar-benar mencermati beberapa istilah kebangsawanan, dan tentunya punya cukup pengetahuan beberapa hal lainnya.
Sayangnya saya agak terganggu dengan gaya terjemah di beberapa bagian, terutama soal deskripsi setting maupun aksi yg dilakukan para tokoh fiksi di sini. Rasa-rasanya mbulet alias muter-muter sehingga saya tak bisa berfantasi bagaimana dekorasi ruangan, rumah, dst.

Terus terang jadi pelajaran tersendiri bagi saya. Dulu pas kuliah Traslation, menerjemahkan sebuah kalimat itu sebisa mungkin mendekati makna yg dimaksud. Payahnya, saya seringkali memakai kalimat bertingkat agar maksudnya tak berubah. Benar-benar keliru bahwa pakai kalimat bertingkat itu mendekati makna. Justru karena berbelit-belit, maknanya bisa jadi tak ditangkap para pembaca.
Sederhana yg mudah dimengerti itu jauh lebih baik

Soal arti harfiah, kamus masih pegangan wajib saya... sekalipun tak lagi kuliah soal itu. Jadinya kalo adek saya sms, kadang saya juga masih buka kamus buat memastikan. Yah, gimana-gimana juga ingatan saya ini gak tahan lama *ngasihtau aib dhewe
Okelah kasus saya mah masih tahap belajar demi dapetin nilai dari dosen.
Lha kalau sudah tahap cetak buku? Ini udah tanggungjawab editornya juga kan...

Wah maaf jadi melebar gini... *sungkem
Ngomong-ngomong soal pencuri hebat, pasti gak terlepas dari detektif.
Dari buku ini, saya mengenal sosok Guerchard.
Mulanya agak berbau Holmes.
Ternyata memang beda, caranya berekspresi tak secakep Holmes. Sekali lagi, mungkin juga saya terlalu terpengaruh sama terjemahnya atau--- mungkin lebih tepat jika saya bilang editingnya masih kurang.

Selain itu, ceritanya 'jujur' sekali.
Baik diterjemahkan 'baik', perbandingan juga dijelaskan secara langsung... misalnya si A itu baik dan si B itu lembut, si X itu sombong dan si Z itu pemaaf.
Well, sejauh ini saya pikir gaya bahasanya sedikit masuk jenis anak-anak.
Padahal saya kira, buat novel petualangan begini sebaiknya melibatkan deskripsi.
Bukan tak berarti novel ini tanpa deskripsi lho ya. Bila perlu, gambarnya sekalian.

Mungkin segitu aja yg saya banyak roamingnya, yg lainnya cukup oke. Mungkin juga karena saya keburu bosan baca terus maksa namatin bukunya kali ya? Ntar coba dibaca lagi deh kalau udah mood.


Silakan mencoba baca kalau penasaran.
Versi aslinya mungkin lebih baik... *pake boso Prancis kali ya?


 
Powered by Blogger.