Showing posts with label fiksi. Show all posts
Showing posts with label fiksi. Show all posts

Friday, January 18, 2013

Susah-Gampangnya Flash Fiction

Lagi, setelah sekian lamanya saya skip info tentang lomba menulis, kemarin ndilalah banyak sekali yang pasang infonya. Salah satu yang saya minati adalah lomba FF Boliners. Pinginnya dua FF sekaligus bisa ikutan, tapi ... gak deh. Kenapakah gerangan? :))

Saya sudah lama sekali ga membaca 'dengan serius', apalagi sampai 'asyik' hingga lupa waktu. Padahal tahu sendiri untuk dapat inspirasi selain banyak-banyak pergi, ya dengan membaca itu.
But yeah, I do miss that time.

Membaca itu kadang suka sampai lupa waktu dan orang, sampai-sampai teman saya harus tepuk pundak dulu kalau mau saya ladeni. Banyak hal yang membikin saya terlupa membaca. Hahaha, karena yah... saya bukan seorang pembaca sejati. Saya memang menikmati, tapi karena lain hal, ketertarikan saya membelok pada banyak hal. Tak apalah.

Kalau ga percaya, saya aslinya sudah memikirkan ide FF lomba itu dari awal info diterbitkan. Hanya saja, ide itu tak serta-merta muncul begitu saja. Saya mulai berpikir, bahwa saya tak lagi berada di usia remaja sekolahan. Dan tentu saja gaya penulisan saya pasti sudah sangat berbeda. Bisa, gak, bisa, gak ...

dicomot dari sini

Yah, tak ada salahnya mencoba.
Persyaratannya 500-700 kata, no more nor less.

Sudah pasti yang bikin saya agak susah itu ide. Saya gak mau walaupun sasarannya untuk usia 17-20 tahun, style-nya harus  galau berlebihan. Jangan deh, meski umur segitu dibilang alay di zaman sekarang, saya yakin masih banyak yg berstyle normal kok :))

Setelah ganti-hapus-ganti-coret-ganti-buang ... saya dapat ide yang lumayan juga. Segeralah saya tulis dan ketik. Entah kenapa, menulis itu jauh lebih mengalirkan energi tersendiri ketimbang mengetik. 

Akhirnya selesai juga 1 naskah FF. Hanya 1, padahal maunya 2 ... T--T
Susah-susah gampang juga. 
Kalau dilihat mah mungkin 'hanya' sekitar 1-2 halaman A4 saja, tapi tulisan saya malah melebihi batas ketentuan: 700 kata lebih! Dengan ga mengurangi penyesalan, saya coba potong-potong lagi bagian cerita yg sekiranya tak diperlukan agar memenuhi syarat lomba.

Setelah beberapa hari berlalu, admin lomba sempat asus (apdet status). Bahwa ternyata masih banyak yg kurang memenuhi syarat dan tentu saya kena diskualifikasi. Salah satu syaratnya adalah bukan merupakan kisah pertemuannya alias kudu pada saat sedang mengagumi orang tersebut. Well, saya sudah senyum kecut, mengingat naskah yg saya kirim itu justru berat ke titik pertemuan/alasannya. 

Tak apalah, dengan hal ini saya masih kudu membiasakan diri menulis lagi kalau pingin dapat tulisan yg berkualitas. Kalau lihat progres tulisan masa lalu, sepertinya konsistensi menulis saat ini melempem jauh. Jenuh sekali, hampir nol kalau mau dinilai dengan skala 10. 

Hyah, dengan kejadian begini ... saya mending agak fokus sekalian ke dunia tulis-menulis lagi. Mumpung masih jabatan jobseeker ... huehuehehehehe... *dikeplak ortu*

Mari semangaaaattt... cari ide lagiiii .... cari kerjaan...   :D

Thursday, January 3, 2013

Sepotong Hati yang Baru (2012)

gambar dari sini



Penulis: Tere Liye
Editor: Andriyati


Akhirnya... setelah buku Daun yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin belum juga dibaca sampe sekarang, saya malah milih buku serial Berjuta Rasanya yg berjudul Sepotong Hati yang Baru.

Agak mengecewakan juga dapetnya kumpulan cerita pendek, pinginnya novel. Tapi karena sinopsis belakang sampulnya bagus, ya udah jadilah saya pilih judul ini *alesan

Dalam buku inilah pertama kali saya berkenalan dengan tulisan Om Tere. Plotnya wajar dan mengalir, settingnya bisa saya imajinasikan sendiri, karakter di tiap cerita juga cukup kuat. Ada 8 cerita yg disajikan Om Tere Liye. Keseluruhan ceritanya merupakan kesedihan, simpelnya: kasih tak sampai.

Saya belajar banyak hal di sini. Apalagi kalau bukan soal cinta *sebetulnya saya eneg ngomongin ini manjang di timeline #pencitraan#
Kalau kau seorang pelajar sekolahan, maka berhati-hatilah saat cinta itu hadir di tengah kehidupanmu. Bisa jadi perhatian seseorang itu hanya sebatas kebaikan semata, kisahnya tertuang persis seperti yg dialami Nana dalam Hiks, Kupikir Itu Sungguhan. Pada Sepotong Hati yg Baru, ada banyak tulisan yg sengaja saya bikin quotes buat apdet status di pesbuk, hahaha.
... cinta bukan sekadar soal memaafkan. Cinta bukan sekadar soal menerima apa adanya. Cinta adalah harga diri. Cinta adalah rasionalitas sempurna.

Jika kau memahami cinta adalah perasaan irasional, sesuatu yg tidak masuk akal, tidak butuh penjelasan, maka cepat atau lambat, luka itu akan kembali menganga. Kau dg mudah membenarkan apa pun yg terjadi di hati, tanpa tahu, tanpa memberikan kesempatan berpikir bahwa itu boleh jadi karena kau tidak mampu mengendalikan perasaan tersebut. Tidak lebih, tidak kurang. (51)

Lain halnya cerita Kisah Sie Sie, saya belajar melihat sabar dalam sebenar-benarnya sifat. Suguhan ikhlas mewujudkan cinta adalah sebuah keniscayaan dan memang sangat berpeluang bahwa bahagia itu bisa eksis bahkan dari sebuah pernikahan yg awalnya tanpa cinta. Di sini saya banyak membatin: ih telat banget! Lalu membodoh-bodohi tingkah suami yg sok juragan itu.
Tapi yaa kebahagiaan tak selalu berkorelasi baik dengan waktu lama. Tidak.
Kebahagiaan dan kebersamaan dalam waktu lama bisa jadi sebuah kejenuhan juga kan? Misalnya kayak di pilem 5 CM itu ... *ng, mari skip aja*

Mimpi-mimpi Sampek-Engtay mengingatkan saya pada jurnal ini. Agak berbeda sih, tapi ternyata memang kisah mereka pernah jadi legenda betulan. Bener kata kaka, roman cerita silat itu aslinya sangat 'dalam' efeknya. Kalau tragis, ya beneran sangat dramatis ... kalau romantis, ya beneran sangat 'kena' :D

Begitu baca penggalan awal Itje Noerbaja & Kang Djalil, rasanya terlempar ke taun penjajahan Belanda. Khoesoes seatoe kisah ini memakai kaidah bahasa jaman doeloe. Pertamanja agak kagok, tapi lama-lama terbiasa joega. Romantisme jaman penjajahan, mau tak mau harus ada perjuangan negeri juga agar tak selalu jadi baboe. Merdeka itu sulit sekali, teman. Sampai harus tahan menjadi pembunuh, berontak dan 'menyumbang' darah. Sayang, dari sekian banyak mayat bangsa kita ini, generasinya malah mengembangkan sistem penjajahan lain: korup made in mata duitan.

BAHKAN BARU TAHU KISAH RAMA-SINTA! *histeris
Bayangpun, bangsa macam apa saya ini ... pewayangan saja payah. Sebagian dari kalian mungkin sudah hapal alurnya. Sebenarnya saya tahu kisah mereka secara terpisah-pisah, thanks to Om Tere yg mau mengisahkan kembali cerita mereka lewat buku ini.


Adalah menyakitkan ketika sisa hidupmu hanya mengenang kebahagiaan di masa lalu, tanpa ia berusaha meraih yg baru di esok harinya. Tapi apa kata pendapat Hesty?
Dua puluh tahun lagi hidup dengan mengenang masa lalu itu dari sisi positif lebih dari menyenangkan. (205)

Oke, itu pendapat dia. Menyimpan satu orang saja di hati mungkin kelihatannya wujud setia yg nyata. Tapi bagi saya itu malapetaka. Sama saja dengan tidak move on, membiarkan kesempatan cinta yg datang menjadi percuma dan menyia-nyiakan hidupmu sendiri.
Saya tak bakal bilang bahwa itu mudah, tapi bisa.
Cuma teringat seorang teman saja, "Teori mah gampang, tapi pada kenyataannya apa? Tak pernah dengar soal begitu!"
Well, makan saja pendapatmu selagi pikiranmu sempit oleh hal-hal pesimis lainnya. Bukan problem saya juga ... *maap kebawa sensi*

Ngomong-ngomong soal kisah Kalau Semua Wanita Jelek, saya berasa deja vu :|
Rasanya pernah baca cerita semacam itu sebelumnya. Di novel kalau tak salah.
Ceritanya agak beda sih ... *ntar deh dicari dulu

Buku yg sangat layak, saya anggap membaca itu sedang berguru pada seorang penulis yg rela meluangkan waktunya merangkai pengalaman, entah pengalaman atau diciptakannya sendiri. Ibarat pelajaran Kewarganegaraan soal esai, di samping butuh ilmu untuk mensinergiskannya dengan akal, kau butuh prinsip agar esaimu tak melulu dari buku. Tak semua yg kau indera itu benar adanya. Manusia harus berpendapat agar bisa jadi bahan pertimbangan orang lain, kan?

Happy reading ;)

Sunday, April 24, 2011

Tanpa Akhir

Lelaki tua itu keluar sambil membawa segelas kopi hitam yang masih mengepulkan asap. Ia duduk di depan gubuk kecilnya.
Sesekali orang yang lewat menyapa dan tersenyum padanya. Ceu Mirah seperti biasa melambaikan tangan ke arahnya dari seberang jalan. Kalau sudah begitu, seorang pemuda biasanya akan membawakan cemilan cuma-cuma padanya.
Benarlah rupanya, tak sampai 5 menit, ia kini ditemani sepiring goreng pisang di samping gelas kopinya.

Sementara waktu merangkak makin larut, bulan membentuk clurit di angkasa. Suasana kampungpun senyap, dan orang-orang terlelap pada hipnotis malam. Hanya sosok renta yang masih betah duduk sambil mengunyah gorengan.

***

"Ingatkah kau saat aku melamarmu? Sungguh aku pria paling beruntung di dunia ini bisa pernah mendampingimu. Menemaniku ketika sakit dan membelaimu ketika kau gundah.

Aku senang sekali melihat semu pipimu saat menerima setangkai bunga dahulu. Aku sungguh bersyukur bisa melihat senyummu kala itu.
Ah, bagiku hanya kaulah satu-satunya bunga yang dapat kutanam di hati."

Benak si lelaki terapung.

Mengingat sosok wanita yang tak dapat memberinya keturunan, membuatnya lemah menatap sorot lembut yang berkaca karena rindu akan hadirnya anak dari rahimnya. Betapa ingin ia meyakinkan bidadarinya bahwa kehadirannya sudah amat berarti.

Hanya ada satu wanita dalam hidupnya.

***

Jemari keriput itu bergerak meraih cangkir kopi. Sayang, cuma ampasnya yang mengendap, juga isyarat airmata yang menggulirkan kepedihan.

"Hei isteriku yang cantik, apa kabarmu di nirwana sana...?" batinnya lirih sebelum ia kembali ke dalam gudang kenangan.


________

Hanya fiksi, terinspirasi lagu Takkan Habis Cintaku-nya Lingua. Dibikin buat ngeramein lombanya mb peb..
*pidionya boleh nyusulkah? [ngarep ada yg mau bantu masukin]

*muga gak kena dis

Lingua - Takkan Habis Cintaku.mp3

Thursday, April 21, 2011

Kisah di Hutan Terlarang


Pagi yang cerah.
Saya mengambil kayu bakar di hutan terlarang -- entah kenapa bisa disebut demikian. Gosip yang beredar dari penduduk desa yang sok tahu, katanya ada naga jahat bertaring racun mematikan tinggal di sana. Konon naga itu terbuang dari kawanannya dari gunung Dewa. Dia kalah tarung sehingga sayapnya lepas sebelah, makanya tak bisa kembali ke sarangnya.

Sementara orangtua saya bilang katanya ada penyihir yang suka mengambil perawan para gadis desa. Nah, kalau versi ini saya percaya, karena hanya orang pengecut macam maniak yang mau tinggal di hutan sepi agar aibnya tak diketahui banyak orang.

“Jangan cari di hutan terlarang, Nak. Kamu cukup mencari ranting di kebun saja…” Begitu pesan ibu ketika saya diminta mencari ranting guna menghidupi kecukupan pangan kami sekeluarga. Ah saya bukan gadis Bu, batin saya tergelak keras sambil melangkahkan kaki menentang amanat beliau.

-----

Ketimbang disebut sebagai hutan terlarang yang terkesan seram, keadaan di dalamnya malah terkesan tenang. Saya melihat berbagai kehidupan satwa liar di sini. Pepohonan di sini rimbun sehingga amat sejuk ketika saya berjalan.

Sesekali sinar matahari nakal menembus sela-sela daun. Semua penghuninya rukun, saya tak melihat adanya pertentangan antara tupai dan burung dalam satu pohon, atau rangrang dan ulat dalam satu daun, atau berang-berang dan kuda nil dalam satu sungai.


Sialnya, saya juga semakin sadar tak ada ranting terjatuh di tepi-tepi hutan, sehingga tanpa terasa kaki saya telah jauh masuk ke dalamnya. Hingga sampailah saya pada sebuah telaga kelam di jantungnya. Ada sebuah pondok rapuh di sampingnya, juga bercerobong asap hitam dan berbau sedap keluar dari sana. Aroma yang amat menggoda, saya jadi ingin bertandang ke sana sekalian menyapa si pemilik gubuk.

Saya tak peduli diakah sang penyihir atau naga yang pandai menyamar atau siapa tahu ia memang orang baik yang tinggal di hutan. Tangan saya sudah terlanjur mengetuk daun pintunya. Beberapa saat kemudian saya mendengar langkah-langkah berat mendekat hingga akhirnya terkuaklah pintu itu.

-----

Seorang wanita tua bercelemek lusuh kini berhadapan dengan saya. Tangan kirinya terbungkus sarung tangan seperti milik ibu saat ia memasak. Saya rasa ia juga tengah memasak menu makan siang. Saya tersenyum sebagai sapaan pertama padanya. Ia membalas sapaan hening saya dengan senyuman lebar. Saat itulah tampak oleh saya, taring geliginya tampak tersembul di kanan dan kiri sudut bibirnya.

“Oh maaf aku menakutimu dengan taring-taring ini, Nak. Apa kamu sedang dalam perjalanan? Masuklah, akan kubuatkan sup untuk bekal perjalananmu,” ajaknya ramah. Saya mengekor dan mendapati ruangan di dalam gubuk ini amat bersih dan nyaman. saya disuguhi sedikit makanan, namun rasanya enak dan dia bermurah hati memberi sebagian makan siangnya untuk saya.
Kini saya yakin bahwa dia bukanlah penyihir yang diceritakan orangtuaku maupun naga yang diisukan para penduduk desa.

-----

Saat saya merunut pengalaman saya pada orangtua di rumah, roman muka ibu berubah pucat dan sikapnya menjadi sangat gugup. Ayah mengacak rambutnya dan mondar-mandir resah di hadapan saya. Saya tidak mengerti, oleh karena itu saya mendesak keduanya untuk bersikap jujur pada saya. Karena tahu kemauan saya yang seperti baja ini tak bisa dibodohi begitu saja, mereka mengungkap kenyataan tentang wanita tua di jantung hutan itu.

Seorang saudagar tampan yang saya ketahui terkenal masyhur terpelajar telah membunuh banyak gadis demi kepentingan dirinya. Saya tak tahu apakah dia punya syahwat yang terlalu banyak ataukah terlalu banyak gadis yang mencintainya ataukah kekurangan harta (sehingga membunuh ahli waris hartawan setelah menikahinya terlebih dahulu). Masa bodoh dengan dia yang kalah dengan kelakuan binatang di hutan itu!
“Dia membuang mayat para gadis malang itu ke telaga di tengah hutan, dan nenekmulah yang mengambil jasad-jasad kaku itu lalu menguburkannya di sana…”
Apa?!
Mungkin detik sejenak tak berdetak begitu mengetahui kenyataan perih itu...

Suatu hari yang muram, hari dimana hujan turun lebat dengan kilatan-kilatan petir yang gemar merobek langit.
Seharian ini saya merasa amat tak tenang. Saya tertusuk jarum ketika menjahit terompah usang milik ayah. Saya menimba air di sumur, namun pengungkitnya rusak dan tali embernya putus. Saya coba membantu ayah menyelesaikan ukiran kayu, tetapi semua perkakas telah berkarat dan saya kesulitan mencungkilnya.

Akhirnya malam ini saya duduk menghadap hujan dari balik jendela yang mulai berkabut, memperhatikan beberapa orang yang tengah memikul sesuatu menuju hutan. Oh baguslah, gosip itu tak lagi menguar sehingga orang-orang tak perlu takut untuk masuk ke dalamnya. Tak terasa mata saya semakin berat, memandangi petir mungkin tak baik untuk kornea.

----

Yang saya ingat keesokan harinya hanyalah kematian kekasih saya. Kerumunan orang berbaju hitamlah yang saya lihat di sana. Memberitakan hilangnya gadis yang amat saya cintai itu. Ibunya menangis tetapi aksi pingsannya sudah tak wajar. Yang saya tahu dia tahu puterinya mati. Ibunya bungkam tapi saya tahu pasti siapa yang membunuhnya tanpa luka.

----

Tahu-tahu saya tengah memandang api yang berkobar di depan gerbang megah milik sang saudagar. Tangan saya lengket berlumur minyak. Saya ingin berlari tapi ingin menyaksikan terlebih dahulu orang biadab itu rusak terbakar. Saya tahu kemudian banyak orang menjerit-jerit dan berteriak kepada saya. Ah mereka tak sabaran, tiba-tiba saja saya disergap, dipukuli dan ditendang dengan berbagai alat. Diusung, lalu dilempar ke sebuah tempat yang basah dan dingin.

Penglihatan saya sudah gelap. Tak tahu apa yang terjadi di luar sana. Oh payah, padahal saya ingin melihat nenek saya barang sebentar saja. Lalu, inikah pertama kalinya ia akan menguburkan sebuah jasad laki-laki? Nek, akan seperti apa rautmu ketika menemukanku dalam keadaan begini...?


_________________________________
gambar dari sinih

Buah Pendosa


Aku mengangkat sekeranjang buah segar itu dengan hati berdebar. Tak bisa kubayangkan seandainya Ayah menerima kejutan kecil ini di rumah.
Kuamat-amati kembali keranjang tersebut dengan seksama. Hanya segini saja sudah bagus, tetapi tetap saja aku merasa ada yang kurang.
Sebuah ide melintas di pikiranku. Mungkin akan lebih cantik bila kugaunkan selilit pita atau setampah kain sebagai alas buahnya. Kuletakkan bebuahan di samping keranjang, dan mulailah kulilit raffia putih di sepanjang pegangannya.

*

Aku menatap hampa pada keadaan di depanku. Ayah menelungkup di lantai bersama seorang wanita entah-siapa. Tadi dia melenguh panjang, mungkin kesakitan. Sekarang sudah tak bergerak.

Aku tak pernah tahu kapan pertama kalinya aku membuat dosa. Orang bilang, tangisan saat bayi dilahirkan itulah dosa pertama setiap umat manusia. Aku hanya berharap tak memiliki dosa lagi selain itu.

*

Parsel buah yang cantik itu masih kujinjing dalam kepalan kiriku. Tadinya mau kukupaskan sekalian untuknya. Sayangnya likuid amis ini telah mengotori pisau dalam genggaman kananku.
Maaf ya Yah, mungkin aku telah berdosa lagi padamu…


____________________________________________________
*just-fiction*

Monday, August 30, 2010

[FF] Maghrib Benderang

Dalam diam, saya meradang. Benci pada diri sendiri mengapa tak mampu bersabar. Antrian mushola mini di sebuah kafe di Jalan Kaliurang tak bisa saya tolerir. Setankah mereka, ukuran kafe megah berlantai dua hanya memiliki mushola seukuran kamar mandi kos?
Saya pergi dalam resah panjang, berharap menemukan mesjid di sekitarnya.
#
Saya termangu mendengarkan getar nada bicara di seberang telepon sana. Ibu bilang Kuningan menggulita setiap malam. Bukan karena matahari tenggelam, tapi karena gardu utama listriknya meledak. Butuh satu bulan untuk memasang trafo baru, begitu kata pihak sana.
"Kami cukup puas bisa tarawih di rumah, walau Ibu agak sulit menyiapkan sajian berbuka dalam keremangan seperti ini."
Bagaimana dengan adzan, Bu?
#
Sia-sia, tukang parkir saja tak tahu soal mesjid. Saya berbalik kembali dan mengantri lebih lama. Benci pendaran neon, tak bisa menutupi kegelisahan hati.
Shof sudah sangat rapat tanpa hijab. Saya gugup, ingin rasanya memaki-maki diri mengapa bisa menyiput begini? Dua lelaki itu masih juga berdebat menentukan siapa yang hendak mengimami, deret wanitanya tertekan dan berdoa semoga kami masih beruntung. Tuhan... kami terbirit-birit menujuMu!
Salah satu lelaki mengalah, beriqomat.
"Allahu akbar."


Allahu akbar, Allahu akbar!
Astaga, isya telah diserukan...




* Turut mendoakan semoga padamnya listrik di Kuningan tak menyurutkan gairah Ramadhan sampai akhir

Sunday, August 22, 2010

Ada anak bertanya pada Ustadz...

Ada seorang anak Muslim Indonesia yang belajar ke Luar negeri tepatnya di Amerika yang dibiayai oleh Bapaknya yang kaya raya (korupsi kali ya)... setelah menyelesaikan Kuliahnya disana, diapun pulang ke Indonesia.

Ada sesuatu yang berbeda dari dirinya. Dulu yang fasih membaca Alquran...sekarang bacaannya buku-buku lintas agama (sekuler). Dulu suka ke Mesjid...sekarang tempat dugem dan banyak lagi sih perubahan yang mencolok.

Dia bertanya kepada teman-temannya di dekat rumahnya bahwa dia ingin mencari seorang ulama untuk diajak debat. (setelah dapat ilmu dari Amerika nih..lagaknya)

Setelah beberapa ulama maupun Ustadz yang tidak mampu mengalahkannya di bidang debat tentang kepercayaanya yang di dapat di Amerika. akhirnya datanglah salah satu Ustadz tua yang mungkin sudah sangat uzur...!!
pertanyaan nya sangat simple...sederhana...!!

1. Tuhan dimana? tidak nampak kan? sehingga Tuhan itu pasti tak ada...
2. Apa itu Taqdir....dia tak percaya dengan taqdir...sesuatu yg digariskan bagi setiap umat manusia...
3. Iblis terbuat dari api....dan mengapa Iblis dimasukkan ke Neraka sementara Neraka terbuat dari api...!! api koq sama api...kan kawan!

Sang Ulama tua nih pun tersenyum sedikit, serta tanpa basa basi langsung MENAMPAR nih anak.
Si anak langsung terkejut (langsung tereak KURANG AJAR NIH BANGKOTAN TUA)
sang Ulama tua hanya tersipu dan menjawab....bahwa itu JAWABAN dari semua pertanyaan itu...

Anak : "Mengapa kau tampar aku?"
Ulama:" kau kan ingin aku menjawab pertanyaanmu"
Anak: "apa hubungannya?"
Ulama:" tentu saja ada....Kau merasakan sakit?"
Anak:" tentu saja!!"
Ulama" nampak?"
anak :"tentu saja tidak!!"
Ulama: "itulah jawaban untuk no 1...Itu jawaban tentang adanya Allah!!"
Anak:' "?????...jadi yg kedua apa?"
Ulama:" Kau tahu kalau mau kutampar?"
Anak :"tentu saja tidak"
Ulama:" itu jawaban no 2...bahwa Taqdir itu kita tidak mengetahuinya..hanya Allah yang memberikan kepada siapapun umatnya tanpa umatnya tau...!!!"
Anak : "???? kalo Yg ketiga?"
Ulama:" tanganku dari kulit...pipimu dari kulit...ku tampar...tapi terasa sakit kan....Allah lebih mengetahui apa yang terjadi di langit dan di bumi...itulah jawabanku untuk no 3!!"


* copas dari seorang lelaki yang baik
kalau ada yang punya judul bagus, kasih saran yaaa...

Tuesday, August 17, 2010

[FF] Iqro untuk Hana



Mata gadis cilik berkerudung biru itu terbelalak melihat banyak buku di sekelilingnya. Rak-rak toko dipenuhi buku dan alat tulis. Bagian etalasenya juga ditata rapi, sesuai ukuran buku.
Oh, ada Qur’an besar seperti milik Bunda! Tetapi belum saatnya ia membaca huruf-huruf keriting serumit Qur’an. Yang ia butuhkan hanya Iqro lima dan enam, persis yang disarankan guru mengajinya.

“Kakak mau pilih yang mana?” Notasi lembut yang sudah ia hapal menegurnya. Si gadis menolehkan wajahnya dan meminta maaf telah mengalihkan perhatiannya sejenak. Terdapat tiga buah Iqro di depan hidungnya. Dua buah diantaranya berwarna menarik, sementara yang satunya berwarna hitam dan agak tebal.

“Yang hitam ini kumpulan Iqro dari jilid pertama sampai ke enam, Kak. Lalu, dua Iqro ini sudah sesuai saran ibu guru,” Bunda menjelaskan.
Sejenak si gadis bingung, anjuran gurunya tentu sudah tepat. Tapi ia sendiri belum pernah membaca Iqro satu sampai empat.

Si gadispun menimbang-nimbang. Selain dirinya, si gadis teringat teman sebayanya yang sering duduk berhimpit dengan anak lain agar bisa ikut membaca Iqro. Belajar mengaji di bulan suci ini serasa tambah sulit saja.

“Setiap ngaji, Kakak suka nyempil ke teman-teman biar bisa ikut baca Iqro punya mereka lho, Bunda.”
“Iyakah? Maaf ya, kemarin Bunda belum belikan Iqro buat Kakak. Tapi sekarang, Kakak bisa langsung memilih Iqronya.”
“Bolehkah Kakak pilih yang hitam itu, Bunda?”
“Tentu saja, Kak. Ada lagi tidak?”
“Bolehkah Kakak minta dibelikan dua buah, Bunda?”
“Untuk apa, Kak?
“Hana juga ikut nyempil lho, Bunda. Kasihan sekali kalau nanti dia hanya nyempil sendirian. Bolehkah kita membelikannya sebuah Iqro, Bunda?”






*Terinspirasi dari kisah nyata

_____________________________________________________________________________
Tema: Ramadhan
Diikutsertakan dalam lomba Hadiah Lebaran dari berkah membuat FF oleh Mbak Intan

[FF] Melepasku



Aku mengikatkan tali sepatu kets usangku. Jantungku berdebar tak keruan, membayangkan sepatu ini masuk dan menjejak tangga sebuah burung besi yang megah.

Sejenak kemudian kutatap lawang kamar yang terbentang di sudut mataku; seprai biru, sang jubah ranjang berderit-ku beserta guling-guling kempis di sana, cermin mungil yang tergantung di dinding bulukku. Lama kupandangi, ternyata baru kusadari betapa sebuah nilai artistik tak selalu dari tangan seorang seniman.

*

Derak langkahku cukup membuat sosok renta itu berpaling. Kaos oblong kusam masih melekat di badannya, sesekali berkeliwir terhilir angin. Sarung kotak favoritnya juga tetap mejeng, warna biru tua seperti biasanya. Raut mukanya tak suram, cuma padanan bangga yang bisa kubaca dalam gesturnya.

Ia bergerak lambat, menatapku dengan mata presbiopnya. Kurasa ia mencoba meruahkan segenap telaga ketegarannya untukku. Menimang sisa-sisa waktu yang ada antara seorang bapak dengan lelaki tunggalnya. Menebas rasa ego antara dua pria dalam perbedaan zaman. Mengusik rasa haru yang seringnya menghampiri umat Hawa. Tak ada kata, tak juga suara. Hanyalah tepukan jantan di pundakku, seakan memberiku metafisik sakti untuk menjagaku di negeri baru.

Aku menggeret koper jadul pemberiannya yang berharga menuju travel Spartan di depan pohon jambu kami. Kuhempaskan diri di tepi jok mobil dan kubuka jendelanya agar bisa kulihat lagi raut khas itu. Derum mesin dinyalakan.

Masih kupandangi beliau seakan-akan hanya dialah pemandangan terindah di hadapanku. Masih dengan sesungging senyum di bibirnya,ia mengangkat tangan. Ia melambaikan tangan. Tiba-tiba mataku pedas, padahal aku berpikir lecut-lecut aristokrat bapak takkan pernah meluruhkan dongeng cengeng dalam biografiku. Pada nyatanya, aku belum mampu mengalahkannya…




_____________________________________________________________________________
Tema: Anak dan Ayah
Diikutsertakan dalam lomba Hadiah Lebaran dari berkah membuat FF oleh Mbak Intan

Wednesday, June 30, 2010

Kafe di Atas Awan 3


            Ruangan sepi senyap walau ada banyak orang yang bekerja. Jadi, kuhampiri langsung meja Mas Padri, si penelepon.

“Ada apa, Mas?” tanyaku hati-hati. Ia melirikku sebentar dan matanya kembali serius menatap layar komputer. Tegang sekali kelihatannya, begitu pula dengan pegawai lainnya. Semenit kemudian aku tahu jawabannya. Seorang lelaki separuh botak melintasi ruang karyawan dengan langkah perlahan bak pengantin pria. Ia merapikan jas putihnya yang sepertinya kebesaran. Matanya tertumbuk melihatku berdiri di samping Mas Padri. Inikah pak direktur itu?

“He kamu! Ngapain berdiri disitu?! Kenapa juga seragammu tak dipakai, ha?! Mau dipecat, ya?!” Aku celingukan, mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru ruangan. Lho, semuanya ‘kan pakai seragam?

“He tengak-tengok kemana kamu?!”

“Ooh saya, Pak?” tanyaku sambil menunjuk diri.

“Siapa lagi?!”

“Tapi saya bukan pegawai, Pak.” Setelah usai kuucapkan kalimat itu, mendadak ekspresinya sedikit melunak. Roman mukanya yang mengeras dihiasinya dengan senyuman.

“Ooh, maafkan saya. Ada yang bisa saya bantu, Dik?” katanya lembut.

“Saya ditelepon Mas Padri, katanya Mas editor ada perlu dengan saya mengenai...”

“Oh, mari, mari! Mari saya antar!” Aku cepat-cepat berjalan mendahuluinya ketika ia hendak meraih pundakku. Ugh, inikah Om direktur itu? Tak bermoral.

            Pintu ruang kerja editor terbuka. Aku masuk dengan sedikit canggung. Ini adalah yang kedua kalinya aku masuk ke ruang editor. Pemula, sih! Seketika itu, dua penghuni ruangan itu, Mas Didit dan Mas Yoga serempak menoleh siapa yang datang. Seperti biasa, Mas Didit tersenyum ramah dan Mas Yoga tetap dengan gaya juteknya yang nyantei. Dua cangkir kopi dan sekaleng besar camilan menemani mereka. Namun ketika mereka melihat siapa yang datang bersamaku, reaksinya berubah total.

            “Oh, Pak direktur. Selamat sore, Pak,” sapa Mas Didit memulai dengan agak tegang. Mas Yoga meliriknya sambil mendengus tak sopan.

“Makasih sudah nganter, Om Ganteng. Silakan keluar dulu,” katanya dengan nada merendahkan yang terdengar jelas. Pak direktur itu kelihatannya ingin menerkamnya bulat-bulat, tapi ia sembunyikan begitu ia melihatku. Ia akhirnya beranjak pergi setelah memperlihatkan taringnya padaku.

“Lagi, Wa?” tanya Mas Didit pelan, tapi senyumnya tak hilang dari bibirnya. Aku mengangguk mengiyakan, kusodorkan naskah yang kukepit padanya.

“Tegas sedikitlah, Wa. Aku jadi gemas lihat kamu diusilin mereka. Disini bahaya selama ‘om ganteng’ itu ada,” Mas Yoga menambahkan tanpa melihatku. Aku meminta maaf.

“Kalo kamu laki-laki, aku nggak bakal secemas ini,” tambahnya sambil menyeruput kopi. Aku berterima kasih padanya. Sejutek-juteknya Mas Yoga, ternyata perhatian juga orangnya.

“Kamu mau pulang sekarang? Kalau nanti, biar kita yang antar. Nanti kusuruh adikku nemenin kita,” Mas Didit menawarkan disertai lirikan singkat milik Mas Yoga. Kukatakan bahwa aku ingin pulang sekarang. Meja Mas Yoga bergeletak, dan memintaku agar ia dan Mas Didit menjagaku sampai pintu masuk kantor. Tak masalah, aku selamat dari cengkeraman “om ganteng”. Ha...ha... Setidaknya ada orang yang bisa kupercaya, kan?



            Maghrib menyapaku sepulangku dari swalayan di dekat kantor. Kuhirup aroma martabak telorku dalam-dalam, nikmat. Di paviliun, kujumpai seorang anak kosku bersama seorang anak kos tetangga.

“Assalamu’alaikum. Mbak ‘Wa, abis beli martabak, ya?” katanya manja sambil mencium punggung tanganku. Aku membalas salamnya segera.

“Iya, kalau mau ambil aja, ya. Nanti sekalian temenmu itu juga...”

“Ah nggak usah, Mbak. Udah makan tadi, kok,” tolak temannya sopan. Serempak, dua penghuni kosku yang lain berhamburan keluar begitu mendengar penawaranku.

“Assalamu’alaikum Mbak. Udah pulang ya? Sini dibawain.” , “Mbak, martabak, ya?”, “Boleh minta satu dong, Mbak?”, “Enak nih!” Aku tertawa senang melihat mereka berebut menolongku membawakan belanjaan. Kuiyakan mereka mengambil martabakku. Kami masuk ke rumah dan terlibat pembicaraan hangat beserta curhat-curhat mereka seputar sekolah.

“Eh Mbak, ada titipan. Ini tadi ada di depan pintu, pas lihat kartunya ternyata buat Mbak.” Anak kos dikepang dua itu menyerahkan seikat bunga mawar merah yang cantik padaku. Aku bertasbih dalam hati.

“Ini nggak salah? Dari siapa?” Kulihat roman mukanya seakan ingin menggodaku lebih jauh. Ia menyikutku perlahan sambil mesem-mesem. Kutinju pelan bahunya dan ia masuk ke kamar sambil tertawa-tawa. Kucari kartunya dan akhirnya kutemukan secarik kertas bercorak indah.

Assalamu’alaikum warahmatullah wabarakatuh. Semoga Allah swt. merahmatimu karena cintamu pada manusia.

            Airmataku menitik di sudut minda, turut bertasbih pada sederet kalimat itu. Demi Allah, ini do’a tercantik untukku yang pernah kutemui. Semoga Allah merahamatimu, batinku penuh haru.

Kafe di Atas Awan 1

Heu, iseng-iseng saya bongkar-bongkar gudang cerpen lama. Ehh, nemu cerpen aneh sewaktu masih mentah-mentahnya nulis cerita. Ah yang penting kan berani (ngeles deh). Saya pingin berbagi aja, terserah mau berpendapat seperti apa, syukur-syukur sayadapet masukan bagus. Soalnya setelah dibaca berulang-ulang, kok nonsense banget neh... huehuehehee... panjang juga pembukanyah. Monggo diboco (huehuehehehh... bahasa jawa yang ngasal...)


cerita 1.
            Mulanya kupikir kafe itu dipakai khusus untuk para workaholic, tapi nyatanya tidak. Orang biasa, yang sekedar lewat atau habis berbelanjapun bisa mengunjunginya kapanpun mau. Bahkan yang menakjubkan, abang tukang becak saja bisa rehat disitu selama yang diperlukan. Bayar? Tidak! Gratis kok, kecuali yang pesan makanan tentunya.

“Povo! Povo!” teriakan ala kenek bis membuyarkan lamunanku. Aku bersicepat mengeluarkan uang dari kantung jaketku. Tas yang kukepit telah bolong di bagian pinggirnya. Aku tersenyum. Ternyata aku kemalingan. Seorang lelaki tegap khas aktivis mesjid mandahuluiku membayar uangnya pada si kenek.

“Dua, Bang,” katanya seraya menunjukku. Aku terbengong menatapnya. Ia mengisyaratkan tangan agar aku mengikutinya seraya keluar.

“Heran, eh?” katanya agak keras saat bis mulai meninggalkan terminal. Suara bising membuat kami harus berkomunikasi lebih keras. Kuanggukkan kepala seraya mengerenyitkan kening meneduhkan pandangan mata. Hari benar-benar panas!

“Masuk yuk,” ajaknya sambil melangkah ke sebuah warung makan. Eh? Itu kan kafe yang sering kulewati? Aku membatin. Ragu-ragu kulangkahkan kaki menjajari langkah-langkahnya yang lebar.

            Memang unik, ada lift yang menuju ke atas ada di dalam kantor berkaca mewah itu. Liftnya ditutup oleh kaca transparan menuju puncak kantor. Tak kuduga sebelumnya bahwa ternyata kafe maupun kantor para workaholic itu menyatu begitu apik. Di satu sisi, para pegawai kantoran berpusing ria dalam tumpukan pekerjaan, sementara kafe ini menyediakan fasilitas unik yang memuaskan. Kontras sekali.

“Eh—aku belum pernah kesini sebelumnya,” ucapku seraya memandang langit-langitnya. Ia memesan sesuatu dan pamusaji menawarkan menunya padaku.

“Ee…air saja,” canggung kujawab pesanannya. Aku mengelap kening yang basah oleh tisu yang tersedia. Lelaki berbaju takwa itu menyodorkan saputangannya.

“Ah tidak, terima kasih. Itu kan milik antum, kalau kupakai pasti kotor.”

“Pakai saja, kerudungmu pasti membikin panas.”

“Tidak kok, yang panas bukan kerudung, tapi mataharinya. Tuh, bapak itu juga sepertinya kepanasan.” Aku menunjuk pada seorang tukang becak di dekat pintu. Lelaki itu menghela napas seolah sudah capek menghadapiku dan menyerah.

“Tadi berapa? Ini, sembilan ratus,” kataku seraya menyodorkan sejumlah uang receh.

“Apa?” Keningnya berkerut tanda tak mengerti.

“Yang tadi, ongkos bis. Maaf cuma segini, seratusnya buat bayar air.”

“Jangan, ongkos tadi sudah jadi milikmu. Itu sudah hakmu, simpan sajalah. Air itu biar kubayar. Lagipula, untuk pulangnya bagaimana kalau tak ada uang lagi?” tolaknya halus.

“Eh—antum tahu aku tak punya uang lebih?”

“Ya, kamu kecurian, kan? Kenapa tak kaujaga tasmu itu?” katanya melirik tasku.

“Jadi antum lihat?” ujarku agak malu. Lelaki itu tak menjawab. Ia mengeluarkan sebuah notes mungil dan menyodorkannya padaku. Aku memandangnya dengan tatapan bertanya.

“Tulis alamat dan kampusmu disini, ini cara perkenalanku...” Ya Rahman, sekian banyak orang yang kukenal, baru kali ini aku melihat ada orang seperti dia. Agak aneh juga, tapi kutulis nama dan alamatku di notes itu.

“Memangnya (sambil menulis), antum siapa? Aku kan belum tahu.”

“Ridwan.” Aku manggut-manggut dan kuserahkan notesnya.

            Hei kawan, langit di atas sana cerah sekali. Siang memang panas, tapi perkenalan aneh ini membuat suasana di kafe menyejukkan.



Kafe di Atas Awan 4


            Novelku sudah terbit dua hari yang lalu. Oh ya, belakangan ini aku suka “bertandang” ke kafe unik di seberang kantor penerbit novelku. Di sana ada banyak orang yang bisa kuajak kenalan. Ya mahasiswa, ibu muda, abang tukang becak, ataupun pelayannya. Belajar mengenal, itulah tujuanku. Berkat perkenalan-perkenalan akrab itu, aku jadi tahu kehidupan orang lain.

            Atas izin mereka, kurajut benang-benang kisah mereka. Akan kusatukan kembali ukhuwah mereka dengan rajutan jaring-jaring penaku, agar mereka belajar memahami, bahwa mereka tidak sendirian. Tidak menderita seperti yang telah mereka keluhkan padaku.

            “Karya-karyamu makin asyik, Wa,” cetus Mas Yoga saat kuantarkan cerpen terbaruku. Aku nyengir kuda begitu ia menolehku dengan antusias. Kuucapkan terima kasih padanya.

“Memangnya yang dulu kenapa, Mas?” kataku penasaran.

“Jelek, nggak hidup,” katanya cuek. Deg, kok enteng amat ngritik-nya?

“Jangan gitu Yog, dia kan udah usaha...,” tegur Mas Didit lunak dibarengi cengiran lebarku. Yah, sebetulnya aku sedikit tersinggung juga. Sebelumnya, aku sering begadang demi memikirkan ide cerpen. Tapi sekarang? Aku berjumpa banyak orang di kafe unik itu, juga berjumpa dengan banyak kehidupan. Ah, terima kasih banyak.

Aku bergegas keluar dari kantor penerbit setelah mas-mas editor itu menyuruhku memperbaiki bagian yang kurang pas. Hari ini giliranku menyiram tanaman di halaman rumah. Anak-anak kos selalu sibuk oleh tugas di hari Minggu, sih.

            Mataku tertarik pada seonggok benda yang tergeletak di paviliun rumah. Ah, mawar cantik itu lagi! Aku agak heran menerimanya, tapi tujuan si pengirim benar-benar padaku. Tertempel di kartunya. Mulanya kupikir bunga-bunga mawar ini salah kirim. Tetapi benar-benar tak ada yang mau mengaku... atau mungkin memang untukku, ya?

            Hingga sampai sebulan ini aku menerima ikatan-ikatan mawar merah seperti yang telah kuterima pertama kali. Menurut buku yang kubaca, bunga merah itu lambang pernyataan cinta. Karena aku tak mau salah langkah, makanya mawar-mawar itu terus kurawat agar orang yang mengambilnya kelak tak merasa kecewa. Lagipula bunganya kasihan, nanti layu dan keindahannya bisa hilang kalau tak dipelihara. Yang kusesalkan, kenapa sih pengirim misterius itu tak melampirkan nama atau kata-kata selain bait-bait doa? Hobinya mungkin senang membuatku menangis...



            Sekarang, aku sedang berada di dalam kafe unik ini, sedang berusaha memenuhi janjiku untuk bertemu dengan si pengirim bunga misterius. Ia mengirimku sepucuk surat dan seikat bunga kemarin sore, dan sekarang ia akan menunjukkan dirinya di tempat tertinggi di kafe itu. Yaah, dimana lagi kalau bukan di atap gedung—di puncaknya itu? Bismillahirrahmaanirrahiim... Kunaiki lift sambil memegang memo-memo pemberiannya erat-erat. Aku bertekad akan mengembalikan memo-memo ini padanya.

            Terus terang aku agak risau mengenai kepergianku kali ini. Aku tak meminta seseorang untuk menemaniku, sama seperti aku pergi ke penerbit. Sendirian. Kekhawatiranku sama seperti wanita-wanita pada umumnya. Kukira si pengirim mawar itu pasti lelaki, jadi agak was-was juga. Tapi...siapa yang mau kuajak? Anak-anak kosku sibuk mempersiapkan ujian mereka besok. Hhh...

            Kupandang bumi dari kaca lift. Gedung-gedung pencakar menciut, mengecil, dihiasi kelipan aneka lampu yang berpendar-pendar. Pintu lift terbuka dan aku melangkah keluar, menghirup udara malam. Suasana tenang dan sejuk, tidak panas seperti siang. Langit menghitam bersih, memamerkan kilau-gemilau bintangnya. Purnama tersenyum jernih, menguning terang di atas gedung. Duhai Allah, Engkau sempurna sekali...

Ada gumpalan awan di sekeliling gedung, dan kulihat sesosok tegap membelakangi purnama. Ia tengah tersenyum, dan kurasakan serpihan angin mendesir-desir di hati. Lelaki berbaju takwa itu...? Subhanallah, dia jauh berbeda ketika kutemui pertama kalinya. Ia lebih teduh, lebih menenangkan, dan lebih...

            “Ridwan?” Ia menganggukkan kepala dan mengulurkan tangan padaku. Kutolak halus sebab jika tidak, bara neraka bisa-bisa menghujaniku.

“Bukan, aku amalmu, suami seiman, penjawab pertanyaan Izrail, temanmu dalam surga-Nya. Bergembiralah, kita ditunggu Yang Maha Mencinta,” katanya menuju gumpalan awan di seberangku. Aku terkejut, hanya mampu bengong dalam keterdiamanku. Sekali lagi, ia jengah dengan sikapku yang pelan menyiput. Ia membimbingku tanpa bisa kucegah. Kuikuti dia setengah menahan napas.

Awan melaju pelan begitu kami naiki, samirana menerpa, menyibakkan gaun-gaun kami, dan purnama seakan melambai mesra. Nun jauh disana kulihat secercah cahaya menyilaukan. Perlahan-lahan kupincingkan mata, dan yang kulihat saat itu benar-benar membuatku kembali tercekik, terhenyak, sampai-sampai tak bisa kunyanyikan bait-bait kerinduanku untuk-Nya. Pegangan memoku lenyap, aku rasakan percikan air mengalir deras tanpa bisa kutahan, menyaksikan apa yang kulihat kini. Perlahan pandanganku menggelap dan tubuhku serasa dibawa angin menuju rumah, dan melupakan memo-memo yang terbang melayang...

 

Senja berjingga, 18 Mei 2005

Kafe di Atas Awan 2


            Kerudungku kelihatan kotor sekali. Bagian lipatannya menghitam, dan berbau tak enak. Musim kemarau ini memang saat-saat orang harus sering mandi dan mencuci. Kriiing! Telepon rumah berdering nyaring, ingin segera diangkat.

“Assalamu’alaikum warahmatullah,” aku menjawab.

“Hei , Hawa, kan? Kamu kesini ya, ada yang mau diomongin pak editor tuh.” Suara di seberang sana cepat kukenali sebagai pegawai di suatu penerbit.

“Soal cerpen?”

“Ya iya, kali. Kesini sajalah!” elaknya buru-buru dan telepon terputus. Aku mendesah risau. Kejadian ini sudah berulangkali terjadi. Setiap aku pergi kesana, mereka pasti tertawa terbahak-bahak sambil memegangi perutnya. Aku suka diusili. Pernah kutanya alasannya kenapa mereka berbuat seperti itu. “Kau itu anak baik, bisa bikin kita ketawa-ketawa!” begitu katanya. Waktu itu aku menanggapinya hanya dengan senyum. Aku bisa memaklumi, karena direkturnya galak. Selalu mondar-mandir dan mencari-cari kesalahan, bikin orang sekantor terdiam dan tegang sampai-sampai keringat dingin bermunculan. Belum lagi wanita-wanitanya dijahili sampai menjerit-jerit. Dasar hidung belang, bikin para pegawai lelaki iri (hush!).

            Aku menyandang tas bututku (lagi) setelah kujahit robekan besar di pinggirnya. Kunaiki bis yang tadi siang, dan bis segera melaju mengantar para penumpang. Sekarang aku cuma mengisi dua ribu rupiah dalam kantung tas. Kulirik Almas emas-ku, ternyata jam 5 lewat sedikit. Mudah-mudahan tak ada yang serius. Aku akan beli belanja sekalian sepulangnya dari sana.

Tuesday, March 2, 2010

Satu Jalan Tiga Cerita

            Rasanya sudah lama sekali aku tak pulang ke desa kelahiranku. Akhirnya, aku bisa pulang juga hari ini. Aku dibekali banyak uang oleh Bunda, jadi masih lumayan banyak sisa. Karena aku sering merasa tak puas kalau hanya berbuka sedikit, makanya aku sudah beli 3 buah roti barangkali kemaghriban di jalan sebelum mudik. Sengaja puasa, biar bisa sekalian belajar menahan diri kalau ada apa-apa.

            Di perempatan jalan besar, aku bertemu seorang pengemis. Dia tak bawa apa-apa kecuali selembar baju kumal yang dikenakannya dan plastik untuk meminta uang. Begitu melihatku, dia menghampiri dan terlihat merana sekali. Kantung plastik lusuhnya terlihat menggembung.

            “Bapak kok kelihatannya merana banget?” Iseng, kusapa saja sekalian sebelum kuberi uang. Hihi, sepertinya kok bodoh sekali kutanya seperti itu.

“Ooh iya Neng, saya belum makan. Neng pasti punya makanan, bisa minta nggak ya? Tolonglah…,” katanya memelas. Tanpa tanya-tanya lagi, kukasih selembar ribuan, tapi dia geleng-geleng kepala.

“Lho, ini kan buat Bapak? Kok nggak mau?” kataku heran.

“Saya ingin makan Neng, bukannya uang,” katanya membalas. Setelah kupikirkan baik-baik, akhirnya kuberikan salah satu rotiku, toh aku masih punya dua. Namun, lagi-lagi ia menggeleng.

“Lho? Kok masih nggak mau?”

“Iya, tapi saya mencium bau-bau daging, kok ya? Saya pengen yang daging atuh, udah setahun nggak makan daging…”

            Duh, nawar lagi! Tadinya roti daging itu sengaja kubeli sebagai menu spesial buka puasa.

“Neng, nggak mau ngasih ya?” katanya memelas sedih. Rupanya pengemis itu sakti juga, dia tahu yang kupikirkan! Uuugh, ‘ga tega liatnya.

“I…ini, nggak apa-apa, ambil aja deh, Pak. Mungkin ini rejeki Allah buat Bapak lewat perantara saya…,” kataku agak berat, sebenarnya. Tapi kan…kasihan! Daaag, roti daging ayaaam….

“Yes! Yes! Asyiiik!!!” serunya gembira sambil jejingkrakan lincah. Aku bengong. Tadi lemes, sekarang seger banget.

Dasar, segitu amat sih…itu namanya kesenangan diatas penderitaan orang, batinku kesal. Lalu aku beranjak pergi. Tapi sebelum aku jalan lebih jauh, dia memanggilku lagi. Aku berbalik.

“Makasih Neng, kudo’akan agar hatimu diikhlaskan Allah., ya. Assalamu’alaikum!”

            Tak ada yang lebih menakjubkan dari ini. Aku melihat pengemis itu merentangkan sesuatu seperti…sayap! Ia mengibaskan ‘sayap’nya, perlahan naik ke langit sambil tersenyum bening. Untuk beberapa detik kurenungi fenomena cepat yang luar biasa itu. Apa Allah sedang mengujiku? Duhai Allah, aku tak bisa berkomentar apa-apa lagi rasanya.

*               

            Aku lari tunggang langgang begitu tahu ada orang gila yang mengamatiku. Orangnya cakep sih, seperti orang waras saja. Kulitnya putih, matanya bening, rambutnya rebondingan hitam mengkilat….Untunglah ibu penjaga warung memberi tahu tadi. 

            Aku bersandar ke tiang sebuah surau biru. Tuh, kan…saat aku sudah dapat tempat sejuk, awan malah menutup matahari. Giliran aku jalan, nggak ada awan sama sekali. Astaghfirullah, aku kok banyak mengeluh hari ini. 

            Kulirik ransel hijauku dengan penuh minat. Lho, kok kebuka ya? Ketika risletingnya akan kututup, kulihat sesuatu yang indah di dalamnya. Tanpa sengaja, aku bersenandung “Pelangi-pelangi” waktuku kecil dulu:

Es jeruk-es jeruk…Alangkah indahmu

Jeruk ditambah es, itulah isimu

Dari perantauan, dimanakah itu?

Es jeruk-es jeruk, sebelah kosan

            Setelah sepersekian detik kupertimbangkan, dengan gerakan kilat, kuraih botol plastik berwarna jingga itu. Deuu…pasti seger kalo diminum!

Tapi tunggu, itu makruh namanya! Kata ayah, membatalkan puasa dengan sengaja berarti dosa. Dasar, kenapa mau dosa saja aku mesti ingat kata-kata ayah duluan? Akhirnya, kuletakkan kembali botol itu ke tas dan kututup tasku rapat-rapat.

            Rasa-rasanya, aku diperhatikan seseorang sejak duduk tadi. Perlahan, kutolehkan wajah ke sebatang pohon di seberang surau.

HAH! Orang gila yang tadi mengamatiku itu ada disana! Takut-takut, kulihat rautnya sekali lagi. Ada yang lain di wajahnya, yang bukan sebagai orang gila. Dia tersenyum.

Matanya menatapku hormat (?), mungkin begitu. Dia melambaikan tangannya lalu berbalik pergi.

            Duh Allah, rasanya aku jahat sekali. Kukira kegilaan seseorang mampu membuat seseorang mati. Ahh, prasangkaku terlalu kejam untuk sebuah senyuman.

*               

            Kakak beradik, itu pasti. Sedari tadi menenteng kecrekan dan bernyanyi riang ditengah orang-orang yang kegerahan. Lagu pertama berlalu tanpa ada reaksi dari para penumpang bis. Tak lelah, si kakak mulai menyanyi lagu kedua. Si adik menadahkan kaleng bekas untuk mengumpulkan uang. Begitu ia sampai pada seorang lelaki berparfum menyengat yang duduk 3-4 bangku di depanku, si lelaki gendut itu mendengus tak tanggung-tanggung.

            “Masih bocah kok minta-minta. Nggak pantes.” Begitu katanya sesumbar tanpa mengeluarkan koceknya. Beberapa penumpang mulai tertarik untuk memperhatikannya. Asyik diperhatikan, duh tolong, kepalanya makin besar!

            “Waktu gua masih kecil, gua yang kasih duit ke orang, bukannya minta! Bocah-bocah mestinya urusin pe-er sekolah, ABG seneng-seneng, dewasa kawin dapet kerja, tua bikin mesjid gede! Nah elo pada?” katanya sinis sambil mendorong sedikit tubuh si adik yang kurus kering. Suasana senyap. Walaupun bukan aku yang mengalami, tenggorokanku serasa tertohok tajam ucapannya. Enak amat kalau hidup begitu gampangnya. Abang ini belum pernah merasakan yang namanya cobaan atau memang sifatnya sangat sabar sampai-sampai apa yang dibicarakannya penuh duri dan menyakitkan hati?

            Apa maksudnya ini? Begitu inginnyakah dirinya dipandang besar hingga bisa-bisanya sesumbar pada orang yang tak setara dengannya?

“Kalo Bapak nggak mau ngasih juga nggak maksa, kok,” kata si kakak pelan, membela diri. Jawaban tak terduga itu meluncur darinya. Subhanallah.

“Ya udah sana! Turutin tuh saran gua,” balasnya angkuh, mengibas-ngibaskan tangan agar kedua anak itu menjauh. Si kakak segera berbalik tanpa kata-kata lagi. Namun, kulihat si adik masih tetap di tempat si lelaki itu.

“Elo ngapain?” katanya seraya menatap si adik.

“Semoga nasehat Bapak menjadi kebaikan disisi Allah,” katanya polos sambil tersenyum manis. Si lelaki tampak terdiam, tak menanggapi ucapannya. Ia hanya melengos, mengalihkan tatapannya ke luar jendela. Malu mungkin.

            Tak lama kemudian mereka menghampiriku. Cepat-cepat kususut airmataku yang sedikit menggenang. Sepertinya aku masih terkesima melihat adegan yang disutradarai Allah tadi.

            Mereka menadahkan kalengnya. Kurogoh kantung gamisku…my Lord, aku kecopetan! Dompet, handphone… Sedih rasanya, ingin memberi tapi malah aku yang kehilangan. Lama kupikirkan setidakanya aku bisa memberi sesuatu selain uang, akhirnya …

            “Dek, kalo uangnya diganti roti…Adek mau nggak?” tawarku. Mereka menatapku agak curiga. Aku jadi tak enak, apa mungkin mereka menyangka aku seorang penjual anak?

“Ehh… Teteh lupa uangnya habis untuk ongkos bis ini,” kataku berbohong, “…yang Teteh punya sekarang mungkin cuma roti ini,” lanjutku.

            “Dompetnya ilangya, Teh?” tanya si adik. Sebisa mungkin kurentangkan bibir selebar mungkin, bermaksud menutupi kejadian buruk yang menimpaku kali ini.

“Teteh kecopetan yah?” tebak si kakak telak sekaligus membuatku merasa malu lagi. Eggh! Kenapa kejadiannya aneh-aneh begini? Bahkan di bis!

“I…iya sih, tapi ‘ga pa-pa kok. Ehh…ini rotinya,” aku mengakui kebohonganku secara tak langsung sambil menyerahkan 2 roti terakhirku. Mereka menyambut ke-2 rotiku dengan kening berkerut, tapi aku tahu mereka girang sekali menerimanya.

“Wah Teh, makasih banyak! Akhirnya Ade bisa nyicip roti, A!” kata si adik pada kakaknya yang tampak senang juga dengan pemberianku.

“Bener-bener nggak apa-apa, ya Teh?”

“Iya, tapi…,” kataku memotongnya penuh rahasia. Senyuman mereka berkurang, matanya berganti menjadi pandangan penasaran.

“Doakan Teteh biar nggak kemaghriban di jalan, ya,” lanjutku memutus rasa penasaran di benak mereka. Mereka mendesah lega.

            Mereka turun di perempatan, melambaikan tangan ceria sambil berteriak, “Teteh pasti pulang sebelum maghrib!” Aku tersenyum samar. Aku tahu aku takkan mungkin sampai ke rumah karena masih harus sekali lagi naik bis. Sementara kalian tahu sendiri kan? Uangku kecopetan. Harus berapa jam aku bisa sampai di rumah dengan berjalan kaki?

*               

            Aku turun di terminal, sambil berjuang menerobos para penumpang lain. Sesaat aku bengong, tak tahu harus pulang dengan apa. Mobil bak? Lalu aku numpang sampai ke daerahku? Ha-ha seorang gadis keluyuran sore-sore naik mobil bak, sepertinya agak membahayakan juga. Ah, apa aku menginap dulu ya? Setahuku ada musholla terminal…

            “Woi! Sini, De!” Gelegar suara kakakku mengagetkanku. Aku berbalik, menatapnya tak percaya. Ia melambaikan tangan dan mengisyaratkanku untuk masuk ke mobil.

“Kok bisa…?” cicitku sambil berjalan cepat menghampirinya.

“Aku sudah sms bakal jemput kamu di terminal, nggak biasanya Bunda nyuruh-nyuruh aku jemput kamu segala. Feeling katanya,” jawab kakakku santai.

            Allahu rabbi! Aku terkejut luar biasa. Mematung selama beberapa saat. Begitu tersadar, hatiku penuh hujan dan aku memaksa diri supaya cepat masuk mobil.

“Alhamdulillah….,” ungkapku merasa sangat mensyukurinya.

“Apa, sih? Kok nangis?”

“Alhamdulillah…,” ucapku lagi di sela-sela tangisku.

“Kenapa, De? Apa saking rindunya?”

“Alhamdulillah...” Aku menutup wajah dengan jemariku setengah tersenyum. Aku malu kalau harus terus diperhatikan kakak semata wayangku.

“Nanti cerita, ya.”

            Walau segala nama kuungkap, maksudku takkan pernah bisa dimaknai oleh sekedar kata-kata. Allah memang Maha Segalanya. Biarlah tetap tersimpan dalam hati, biar Allah yang tahu seberapa luasnya aku bersyukur pada-Nya hari ini...

 

 

Yogyakarta, 27 April 2007

 

 

 
Powered by Blogger.