Friday, June 4, 2010

Balada Pendek Para Tukang

Juni ini saya mudik (lagi) ke Kuningan. Bukan cuma melepas kangen dan lari dari penatnya Jogja, tapi memang karena ada acara keluarga di sini.

Tiba di rumah, keadaan jauh lebih berantakan dibanding dua minggu lalu saya kemari. Oh, ternyata ada perbaikan kamar tengah dan praktis beberapa saudara ikut andil.

Bukan mereka yang mau saya soroti buat bahan renungan, tapi para tukang yang membantu pekerjaan rumahtangga.

Saat itu, kami tengah bersiap mengantar pengantin lelaki ke Mandirancan. Saya dan Mamah sedang menunggu Apak di paviliun depan rumah. Di depan, seorang tukang sedang mengaduk semen untuk perbaikan kamar.

"Tahu nggak Teh, dia ini teman Mamang (paman) mu semasa kuliah," bisik Mamah tiba-tiba. Saya hanya membalas dengan diam. Jauh di dalam hati, saya merasa miris mendengarnya.

Betapa tidak, adik tengah Mamah telah cukup sukses sebagai sarjana arsitek. Terbukti, beliau sering mendapat proyek kerja (walau bersifat musiman) sehingga ia bisa menafkahi keluarganya. Lukisan-lukisan kanvasnya malah punya nilai jual, kalau ia berminat.
Beliau bahkan masih mampu membantu orang-orang terdekatnya yang membutuhkan walau sedikit.

Sementara salah seorang kawannya? Ia harus cukup puas mendapat pekerjaan sebagai kuli bangunan kasar. Saya tak mengerti mengapa bisa berbeda padahal latar pendidikan nyaris sama.

Pak kuli yang satunya bernama Maman, beliau punya banyak anak yang masih kecil-kecil dengan seorang sulung di SD kelas 5/6. Mamah bilang, beliau ditinggalkan isterinya. Oh, teganyaa sampai-sampai tak memikirkan para buah hati yang telah ia kandung! Saya dengar isterinya telah menikah dengan pria lain.
Bila Pak Maman pulang, anak-anak telah menunggunya di dalam rumah. Bila beliau beruntung mendapat sebungkus makanan, maka ia akan menyuapi anak-anaknya agar terbagi dengan adil.
Bahkan saking sayangnya, beliau menolak tawaran libur dari orangtua saya. Yah, kami hanya bisa mafhum keinginan seperti itu karena keadaan yang membuatnya demikian.

"Tahu nggak Teh? Ibu Pak Maman ini dulunya orang Telkom lho, Mamah kurang tahu sekarang beliau sudah diangkat jadi kepala atau pensiunan..."
"Kok bisa...?" Maksudku, secaraa orang Telkom paling tidak mendapat gaji lumayan. Masa cucu-cucunya sekalipun tak pernah dilirik??
Mamah hanya mengangkat bahu, tak paham apa yang dipikirkan ibu macam apa sebenarnya dia ini.

Belum lagi cerita Ceu Oom yang bantuin Mamah setiap seminggu sekali. Beliau punya beberapa anak yang kesemuanya telah menikah. Tapi sayang semuanya bermasalah. Persetan masalah apa yang mereka hadapi, tapi satu yang menyakitkan: menitipkan anak-anak mereka pada ibunya.
"Kalau tak ingat cucu-cucu yang masih kecil di rumah, aku mau bunuh diri saja." Itu kata-kata yang pernah dilontarkan beliau. Ya Allah, MahapengasihMulah yang mengembalikan akal sehatnya.

Sudah kebiasaan pula Mamah memberi makan orang-orang yang membantunya. Namun kebanyakan dari mereka sering menolak.
"Takut terlena, Bu. Nanti saya telat pulang." Ceu Oom memberi alasan begitu. Makanya, setiap Mamah menyodorkan makanan. Hanya sesuap-dua suap saja bisa masuk ke kerongkongannya. Beliau merasa lebih perlu membungkusnya untuk jatah makan cucu-cucunya ketimbang ia yang makan selagi panas.

Dan, saya sangat yakin tak cuma Kuningan yang punya cerita-cerita miris seperti ini. Bahkan pasti ada cerita yang lebih menyentuh sisi kemanusiaan kita.

Sebenarnya, apa yang kita pikirkan ketika kita dengan seenaknya menyisakan makanan lalu membuangnya ke tempat sampah?
Apa yang kau incar ketika menggeleng kepala saat pengamen menadahkan kaleng dan topi mereka, padahal terdapat koin lima ratus di sakumu?
Apa yang kau rasakan ketika ada banyak kegetiran orang-orang awam di sekitarmu?

Hei, tak ada salahnya membuka lebar sisi lembutmu. Kita ini manusia yang diciptakan dengan ragam emosi. Jangan ragu untuk memberi sedikit saja dari apa yang kita miliki. Kebahagiaan datang ketika di dunia ini kita saling melengkapi dan berbagi. Bukankah ini indah?





Saya dan kamar kemanusiaan,

Kuningan selepas Jumatan, 4 Juni 2010

Tuesday, June 1, 2010

Balada Manis Keluarga Bibi


Saya sedang jenuh memikirkan ide cerita yang bakal saya ikutkan ke lomba cerpen. Hm, terlalu intens dan mendesakkan otak agar segera mendapatkan ide memang kurang bagus ternyata.
Saat sedang pusing karena memikirkan ide, tiba-tiba saya teringat cerita-cerita Mamah sewaktu saya mudik. Ketika sedang santai, televisi tengah break dengan menampilkan sejumlah iklan. Dimana-mana pasti ada wanita yang nampang di sana. Mamah tiba-tiba tergelak ketika melihat seorang wanita cantik di sebuah iklan, entah shampoo atau apalah saya lupa.
“Kenapa, Mah?” tanyaku sambil mengernyitkan dahi.
“Hehe, enggak… cuma teringat curhatan bibimu waktu Mamah ke toko.”


Anekdot Iklan
Ceritanya, bibi dan mamangmu ini sedang menonton televisi. Nah, ketika ada tayangan cewek cantik, mamangmu ini iseng-iseng berkomentar,
‘Wah, lihat tuh Bu, ceweknya cantik banget ya. Coba si Ibu dandan kayak begitu…’
Emang dasarnya bibi saya menikah awalnya tak dilandasi cinta, dengan kalemnya dia menjawab:
‘Ck! Ibu juga bisa cantik dan seksi Yah!’
Pamanku meliriknya dengan pandangan mencemooh seakan bilang ah-teori-!. Bibi menadahkan tangan dengan entengnya seraya menimpali,
‘Mana minta duitnya, biar ntar Ibu ke salon! Orang cantik tuh butuh modal, Yah! Ibu juga bisa kayak gitu kalau ada duitnya!’
‘Wah itu mah bikin Ayah tekor dong, Bu…,’ gerutu mamang kehilangan kata-kata. Mwahahaha… kesian banget mamang saya…

Selang beberapa hari/bulan kemudian, bibi saya pernah iseng juga melempar komentar mirip kejadian di atas. Bedanya, iklan yang ini menampilkan laki-laki fresh yang sedap dipandang mata. Nicholas Saputra kalau tak salah.
‘Duh, Nikolas kok ganteng amat…,’ begitu komentar Bibi. Mamang yang tengah melintas, sontak langsung mematikan TV. Fffht!
‘Ah si Ibu, anak kecil kayak begitu aja kok disukain…,’ gumamnya sambil melengos ke kamar. Untuk beberapa saat, ruangan senyap, tapi tak lama kemudian bibi tergelak.
‘Aih si Ayah segitunya, Ibu kan cuma seneng lihatnya aja Yah. Kan komentar doang...'
Hahaha, cemburu menguras bak mandi kalbu…

Anekdot Masakan
Sudah bukan rahasia lagi bahwa pada awalnya Bibi saya memang tak begitu pandai memasak. Ibunya tak pandai memasak, jadinya bingung juga mesti belajar pada siapa. Begitu bekerja di toko Apak saya, beliau ikut di rumah Mamah untuk sekedar bantu-bantu di seputaran rumah seperti menyapu dan mengurusi dapur. Alhamdulillah akhirnya saat berumahtangga, beliau tahu sedikit-banyaknya soal dapur.

Yang kami tahu, suaminya alias mamang saya ini lebih jago masak ketimbang bibi. Saat masak lodeh misalnya, kuahnya kurang begitu kental sehingga mamang sampai  mengernyitkan dahi pas icip-icip. Sampai situ, bibi pasrah saja kalau masakannya dimodifikasi mamang.

Suatu hari, Mamah mengirimkan lodeh untuk mereka karena sudah membantu suatu acara keluarga kami. Karena mamang belum tahu perihal kiriman tersebut, beliau berkomentar,
‘Wow, ini masakan si Ibu? Kok tumben enak banget nih…,’ begitu katanya (hohoho, Mamah memang the best chef ever!).
‘Bukan, ini dari ceceu (panggilan menghormati pada yg lebih tua) kok.’
‘Emh, pantesan. Coba si Ibu bikin yang seenak ini…’
Nah lo, lagi-lagi mamang nantangin bibi

Akhirnya pada suatu kesempatan, bibi berencana membuat lodeh untuk keluarga kecilnya itu. Bahan-bahan sudah disiapkan, alat masak juga stand by di lokasi masing-masing. Seperti biasa, mamang juga ikut nimbrung kegiatan masak-memasak isteri tercintanya ini. Namun ia terperangah ketika bibi membuat racikan bumbu yang lebih banyak dari biasanya.
‘Eh stop, stop Bu… kok bawangnya banyak banget sih! Segini aja…,’ pekik paman sambil memaruhkan irisan bawang. Bibi saya cemberut dan berusaha menyingkirkan tangan mamang dari talenan.
‘Katanya mau lodeh yang mirip kayak bikinan ceceu?? Ya bahannya memang segini!’

Hehe, Mamah memang suka pakai bumbu macem-macem dan agak berlebih agar terasa enak. Hanya untuk keluarga Bibi, penghematan harus terus jalan termasuk penggunaan bahan-bahan masak, karena mereka masih tergolong keluarga anyar.
‘Udah udah, bikin yang biasa aja,’ rengut mamang sambil kembali memaruhkan irisan bawang. Saat itu, senyum bibi seperti layar terkembang di pelabuhan…
Lagi-lagi pemenangnya bibi sayah, nyahaahaa......



Monday, May 24, 2010

Dunia Sekitar Kos




Baru sedikit. Tak apalah, ini saya ambil di seputaran Maskam UGM (Kuningan), Amplaz dan Karangmalang.

Sajian Rumah




Nyubuh-nyubuh, mamah udah siapin kopi susu. Beuhh... sedapnya tak terkira. Lebih-lebih habis itu disodorin bubur Bandung, serabi telor beserta para kroninya. Menjelang sore, barulah makan berat.... ada pete pula, hoho surga dunia....

Hijau Dimana-mana!




Saya kangen kabut, sayangnya dia hanya mau tampil bila ada Nona Hijau. Makanya saya upload Nona biar kabutnya datang.. haha berlebihan...

Selepas Hujan




Iseng banget diriku foto-foto pas masih gerimis. Habisnya tergoda pantul-pantulan kristal di pucuk-pucuk benda yang kena hujan sih...

Warna untuk Bumiku




Hm, memang ga banyak ragam sih soalnya cuma dari koleksi mamah :). Tapi insyaallah yang lain nyusul deh...

Kuningan Membiru




Saya jatuh hati pada langitnya. Dulu sering sekali berlama-lama di beranda kamar depan sambil ngawang-ngawang di depan kertas dan pena. Hmm really beautiful view...

Langitku Murka




Kuningan mendung... untunglah tak sampai seperti Amerika yang petirnya nyampe bumi. Mudah-mudahan enggak sampai membuat hari-hari kalian suram juga ya!

Sunday, May 2, 2010

Berita untuk Kawan

Saya bersyukur bisa pulang ke kampung kelahiran hari ini. Dari sejak sore tadi sudah saya siapkan segala sesuatunya. Wajah ibu rasanya semakin dekat bisa saya lihat senyatanya.

Sekitar pukul delapan, saya sudah menunggu travel jemputan. Perasaan saya masih acak, merasa waswas dan tak wajar. Saya juga heran mengapa begini.
Tak disangka, penantian saya disambut hujan deras. Tercurah banyak disertai angin kencang.

Gusti yang menemani saya juga jadi ikut khawatir, ia akhirnya turut mendoakan agar tak terjadi hal-hal yang tak diinginkan. Karena bangku panjang yang kami duduki dihajar hujan, jadilah kami berpindah tempat menuju angkringan dekat kos sambil menunggu jemputan. Gusti memang berniat membeli nasi kucing untuk jatah makan malamnya di situ.

Malam semakin larut, bebunyian klakson khas travel juga belum terdengar. Tambah lagi, hujan semakin deras seperti mencegah saya mati-matian. Ah, ada apa sebenarnya...

Sementara pikiran saya mulai berburuk sangka, mata saya tertumbuk pada bapak penjaga angkringan. Beliau menyalakan radio jadulnya untuk mengusir diam. Kecemasan kami juga perlahan mulai hilang, diganti oleh cuap-cuap soal sms kawan lama kami.
Agar air hujan tak masuk, bapak ini menutup celah angkringan oleh plastik besar. Syukurlah, plastiknya mampu menahan semburan air sehingga tubuh kami tetap kering dan hangat.

Lama saya perhatikan, bapak ini sudah renta. Kerutan mukanya jelas, tak lagi segar karena usia. Beliau hanya memakai baju lengan pendek, dengan rangkapan celemek lusuh. Apa tak kedinginan, Pak?

Sebentar-sebentar pandangan saya menjelajah setiap sudut tempat kecil ini. Tak ada jaket, sarung ataupun selimut. Hanya radio mini menggantung di salah satu kayu penopang, melirihkan lagu Ebith G. Ade "Berita kepada Kawan".

Baru saya sadari, betapa sebuah penantian sangat berharga untuk sedikit orang. Bapak angkringan ini misalnya.
Bukankah menunggu pelanggan memang sudah jadi sumber uangnya? Kalau ia bosan lalu meninggalkan dagangannya begitu saja, bagaimana ia menjemput rezekinya?
Saya bukan mau membahas itu, tapi saya mempertanyakan apa rasanya menunggu dalam kesendirian hanya ditemani radio yang tak bisa diajak ngobrol.
Sebelum hujan tadi, warung-warung makan masih buka ditemani lampu-lampu rumah yang memeriahkan jalanan. Namun begitu hujan, serentak mereka membumikan diri, menikmati anugerah yang tercurah dari langit bersama keluarga masing-masing. Seketika itupun, sinar-sinar lampu pun menghilang, hanya ikut berbagi dari celah-celah saja.

Apa tak kesepian, Pak? Saya membatin demikian. Dua orang lelaki datang dalam waktu yang tak sama. Syukurlah, setidaknya beliau tak sendirian. Tapi tetap saja tak tega rasanya melihat mereka yang masih tegap begitu memesan makanan dari orangtua. Pemandangan seperti ini seakan-akan mengejek ketidakmampuan anak muda mengurus diri saja. Saya makin bertanya-tanya, kemana anak-anakmu, Pak? Mengapa memilih buka pada malam yang sepi dibandingkan siang yang ramai orang? Mengapa tak mencoba usaha lain yang mungkin lebih baik?

Tapi ya... inilah hidup dan pilihan, siapapun penjualnya, dia harus siap menjadi seorang pelayan bagi para pelanggannya. Kalau ingin enak, lahirlah dari keluarga kaya raya. Toh itupun bukan jaminan mendapat kebahagiaan, ya kan?

Saya memimpikan sebuah negeri yang masyarakatnya mencintai kemanusiaan. Semuanya selalu menyumbang senyum walau selintas sapaan. Semuanya membantu sesama tanpa ada beban yang menghimpit hatinya. Semuanya meneguhkan ketika ada yang terjatuh, dan mengingatkan ketika terlupa. Semuanya 'melihat' sehingga mata hatinya selalu terbuka lebar, tak ada lubang untuk membatukan hati.
Mereka mencintai pemimpinnya yang selalu memastikan bahwa keadilan telah memayungi rakyatnya.
Mereka saling mendoakan, merebut perhatian para malaikat (agar turut mendoakan) seperti nabi-nabi yang merebut perhatian Raja Semesta...

Kapan ya?


 
Powered by Blogger.