Pagi yang cerah.
Saya mengambil kayu bakar di hutan terlarang -- entah kenapa bisa disebut demikian. Gosip yang beredar dari penduduk desa yang sok tahu, katanya ada naga jahat bertaring racun mematikan tinggal di sana. Konon naga itu terbuang dari kawanannya dari gunung Dewa. Dia kalah tarung sehingga sayapnya lepas sebelah, makanya tak bisa kembali ke sarangnya.
Sementara orangtua saya bilang katanya ada penyihir yang suka mengambil perawan para gadis desa. Nah, kalau versi ini saya percaya, karena hanya orang pengecut macam maniak yang mau tinggal di hutan sepi agar aibnya tak diketahui banyak orang.
“Jangan cari di hutan terlarang, Nak. Kamu cukup mencari ranting di kebun saja…” Begitu pesan ibu ketika saya diminta mencari ranting guna menghidupi kecukupan pangan kami sekeluarga. Ah saya bukan gadis Bu, batin saya tergelak keras sambil melangkahkan kaki menentang amanat beliau.
Ketimbang disebut sebagai hutan terlarang yang terkesan seram, keadaan di dalamnya malah terkesan tenang. Saya melihat berbagai kehidupan satwa liar di sini. Pepohonan di sini rimbun sehingga amat sejuk ketika saya berjalan.
Sesekali sinar matahari nakal menembus sela-sela daun. Semua penghuninya rukun, saya tak melihat adanya pertentangan antara tupai dan burung dalam satu pohon, atau rangrang dan ulat dalam satu daun, atau berang-berang dan kuda nil dalam satu sungai.
Sialnya, saya juga semakin sadar tak ada ranting terjatuh di tepi-tepi hutan, sehingga tanpa terasa kaki saya telah jauh masuk ke dalamnya. Hingga sampailah saya pada sebuah telaga kelam di jantungnya. Ada sebuah pondok rapuh di sampingnya, juga bercerobong asap hitam dan berbau sedap keluar dari sana. Aroma yang amat menggoda, saya jadi ingin bertandang ke sana sekalian menyapa si pemilik gubuk.
Saya tak peduli diakah sang penyihir atau naga yang pandai menyamar atau siapa tahu ia memang orang baik yang tinggal di hutan. Tangan saya sudah terlanjur mengetuk daun pintunya. Beberapa saat kemudian saya mendengar langkah-langkah berat mendekat hingga akhirnya terkuaklah pintu itu.
Seorang wanita tua bercelemek lusuh kini berhadapan dengan saya. Tangan kirinya terbungkus sarung tangan seperti milik ibu saat ia memasak. Saya rasa ia juga tengah memasak menu makan siang. Saya tersenyum sebagai sapaan pertama padanya. Ia membalas sapaan hening saya dengan senyuman lebar. Saat itulah tampak oleh saya, taring geliginya tampak tersembul di kanan dan kiri sudut bibirnya.
“Oh maaf aku menakutimu dengan taring-taring ini, Nak. Apa kamu sedang dalam perjalanan? Masuklah, akan kubuatkan sup untuk bekal perjalananmu,” ajaknya ramah. Saya mengekor dan mendapati ruangan di dalam gubuk ini amat bersih dan nyaman. saya disuguhi sedikit makanan, namun rasanya enak dan dia bermurah hati memberi sebagian makan siangnya untuk saya.
Kini saya yakin bahwa dia bukanlah penyihir yang diceritakan orangtuaku maupun naga yang diisukan para penduduk desa.
Saat saya merunut pengalaman saya pada orangtua di rumah, roman muka ibu berubah pucat dan sikapnya menjadi sangat gugup. Ayah mengacak rambutnya dan mondar-mandir resah di hadapan saya. Saya tidak mengerti, oleh karena itu saya mendesak keduanya untuk bersikap jujur pada saya. Karena tahu kemauan saya yang seperti baja ini tak bisa dibodohi begitu saja, mereka mengungkap kenyataan tentang wanita tua di jantung hutan itu.
Seorang saudagar tampan yang saya ketahui terkenal masyhur terpelajar telah membunuh banyak gadis demi kepentingan dirinya. Saya tak tahu apakah dia punya syahwat yang terlalu banyak ataukah terlalu banyak gadis yang mencintainya ataukah kekurangan harta (sehingga membunuh ahli waris hartawan setelah menikahinya terlebih dahulu). Masa bodoh dengan dia yang kalah dengan kelakuan binatang di hutan itu!
“Dia membuang mayat para gadis malang itu ke telaga di tengah hutan, dan nenekmulah yang mengambil jasad-jasad kaku itu lalu menguburkannya di sana…”
Apa?!
Mungkin detik sejenak tak berdetak begitu mengetahui kenyataan perih itu...

Seharian ini saya merasa amat tak tenang. Saya tertusuk jarum ketika menjahit terompah usang milik ayah. Saya menimba air di sumur, namun pengungkitnya rusak dan tali embernya putus. Saya coba membantu ayah menyelesaikan ukiran kayu, tetapi semua perkakas telah berkarat dan saya kesulitan mencungkilnya.
Akhirnya malam ini saya duduk menghadap hujan dari balik jendela yang mulai berkabut, memperhatikan beberapa orang yang tengah memikul sesuatu menuju hutan. Oh baguslah, gosip itu tak lagi menguar sehingga orang-orang tak perlu takut untuk masuk ke dalamnya. Tak terasa mata saya semakin berat, memandangi petir mungkin tak baik untuk kornea.
Yang saya ingat keesokan harinya hanyalah kematian kekasih saya. Kerumunan orang berbaju hitamlah yang saya lihat di sana. Memberitakan hilangnya gadis yang amat saya cintai itu. Ibunya menangis tetapi aksi pingsannya sudah tak wajar. Yang saya tahu dia tahu puterinya mati. Ibunya bungkam tapi saya tahu pasti siapa yang membunuhnya tanpa luka.
Tahu-tahu saya tengah memandang api yang berkobar di depan gerbang megah milik sang saudagar. Tangan saya lengket berlumur minyak. Saya ingin berlari tapi ingin menyaksikan terlebih dahulu orang biadab itu rusak terbakar. Saya tahu kemudian banyak orang menjerit-jerit dan berteriak kepada saya. Ah mereka tak sabaran, tiba-tiba saja saya disergap, dipukuli dan ditendang dengan berbagai alat. Diusung, lalu dilempar ke sebuah tempat yang basah dan dingin.
Penglihatan saya sudah gelap. Tak tahu apa yang terjadi di luar sana. Oh payah, padahal saya ingin melihat nenek saya barang sebentar saja. Lalu, inikah pertama kalinya ia akan menguburkan sebuah jasad laki-laki? Nek, akan seperti apa rautmu ketika menemukanku dalam keadaan begini...?
_________________________________
gambar dari sinih
____________________________________________________




