Thursday, January 3, 2013

Sepotong Hati yang Baru (2012)

gambar dari sini



Penulis: Tere Liye
Editor: Andriyati


Akhirnya... setelah buku Daun yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin belum juga dibaca sampe sekarang, saya malah milih buku serial Berjuta Rasanya yg berjudul Sepotong Hati yang Baru.

Agak mengecewakan juga dapetnya kumpulan cerita pendek, pinginnya novel. Tapi karena sinopsis belakang sampulnya bagus, ya udah jadilah saya pilih judul ini *alesan

Dalam buku inilah pertama kali saya berkenalan dengan tulisan Om Tere. Plotnya wajar dan mengalir, settingnya bisa saya imajinasikan sendiri, karakter di tiap cerita juga cukup kuat. Ada 8 cerita yg disajikan Om Tere Liye. Keseluruhan ceritanya merupakan kesedihan, simpelnya: kasih tak sampai.

Saya belajar banyak hal di sini. Apalagi kalau bukan soal cinta *sebetulnya saya eneg ngomongin ini manjang di timeline #pencitraan#
Kalau kau seorang pelajar sekolahan, maka berhati-hatilah saat cinta itu hadir di tengah kehidupanmu. Bisa jadi perhatian seseorang itu hanya sebatas kebaikan semata, kisahnya tertuang persis seperti yg dialami Nana dalam Hiks, Kupikir Itu Sungguhan. Pada Sepotong Hati yg Baru, ada banyak tulisan yg sengaja saya bikin quotes buat apdet status di pesbuk, hahaha.
... cinta bukan sekadar soal memaafkan. Cinta bukan sekadar soal menerima apa adanya. Cinta adalah harga diri. Cinta adalah rasionalitas sempurna.

Jika kau memahami cinta adalah perasaan irasional, sesuatu yg tidak masuk akal, tidak butuh penjelasan, maka cepat atau lambat, luka itu akan kembali menganga. Kau dg mudah membenarkan apa pun yg terjadi di hati, tanpa tahu, tanpa memberikan kesempatan berpikir bahwa itu boleh jadi karena kau tidak mampu mengendalikan perasaan tersebut. Tidak lebih, tidak kurang. (51)

Lain halnya cerita Kisah Sie Sie, saya belajar melihat sabar dalam sebenar-benarnya sifat. Suguhan ikhlas mewujudkan cinta adalah sebuah keniscayaan dan memang sangat berpeluang bahwa bahagia itu bisa eksis bahkan dari sebuah pernikahan yg awalnya tanpa cinta. Di sini saya banyak membatin: ih telat banget! Lalu membodoh-bodohi tingkah suami yg sok juragan itu.
Tapi yaa kebahagiaan tak selalu berkorelasi baik dengan waktu lama. Tidak.
Kebahagiaan dan kebersamaan dalam waktu lama bisa jadi sebuah kejenuhan juga kan? Misalnya kayak di pilem 5 CM itu ... *ng, mari skip aja*

Mimpi-mimpi Sampek-Engtay mengingatkan saya pada jurnal ini. Agak berbeda sih, tapi ternyata memang kisah mereka pernah jadi legenda betulan. Bener kata kaka, roman cerita silat itu aslinya sangat 'dalam' efeknya. Kalau tragis, ya beneran sangat dramatis ... kalau romantis, ya beneran sangat 'kena' :D

Begitu baca penggalan awal Itje Noerbaja & Kang Djalil, rasanya terlempar ke taun penjajahan Belanda. Khoesoes seatoe kisah ini memakai kaidah bahasa jaman doeloe. Pertamanja agak kagok, tapi lama-lama terbiasa joega. Romantisme jaman penjajahan, mau tak mau harus ada perjuangan negeri juga agar tak selalu jadi baboe. Merdeka itu sulit sekali, teman. Sampai harus tahan menjadi pembunuh, berontak dan 'menyumbang' darah. Sayang, dari sekian banyak mayat bangsa kita ini, generasinya malah mengembangkan sistem penjajahan lain: korup made in mata duitan.

BAHKAN BARU TAHU KISAH RAMA-SINTA! *histeris
Bayangpun, bangsa macam apa saya ini ... pewayangan saja payah. Sebagian dari kalian mungkin sudah hapal alurnya. Sebenarnya saya tahu kisah mereka secara terpisah-pisah, thanks to Om Tere yg mau mengisahkan kembali cerita mereka lewat buku ini.


Adalah menyakitkan ketika sisa hidupmu hanya mengenang kebahagiaan di masa lalu, tanpa ia berusaha meraih yg baru di esok harinya. Tapi apa kata pendapat Hesty?
Dua puluh tahun lagi hidup dengan mengenang masa lalu itu dari sisi positif lebih dari menyenangkan. (205)

Oke, itu pendapat dia. Menyimpan satu orang saja di hati mungkin kelihatannya wujud setia yg nyata. Tapi bagi saya itu malapetaka. Sama saja dengan tidak move on, membiarkan kesempatan cinta yg datang menjadi percuma dan menyia-nyiakan hidupmu sendiri.
Saya tak bakal bilang bahwa itu mudah, tapi bisa.
Cuma teringat seorang teman saja, "Teori mah gampang, tapi pada kenyataannya apa? Tak pernah dengar soal begitu!"
Well, makan saja pendapatmu selagi pikiranmu sempit oleh hal-hal pesimis lainnya. Bukan problem saya juga ... *maap kebawa sensi*

Ngomong-ngomong soal kisah Kalau Semua Wanita Jelek, saya berasa deja vu :|
Rasanya pernah baca cerita semacam itu sebelumnya. Di novel kalau tak salah.
Ceritanya agak beda sih ... *ntar deh dicari dulu

Buku yg sangat layak, saya anggap membaca itu sedang berguru pada seorang penulis yg rela meluangkan waktunya merangkai pengalaman, entah pengalaman atau diciptakannya sendiri. Ibarat pelajaran Kewarganegaraan soal esai, di samping butuh ilmu untuk mensinergiskannya dengan akal, kau butuh prinsip agar esaimu tak melulu dari buku. Tak semua yg kau indera itu benar adanya. Manusia harus berpendapat agar bisa jadi bahan pertimbangan orang lain, kan?

Happy reading ;)

Monday, December 31, 2012

Catatan Akhir 2012

Sariak layung tanpa lembayung.

Telah menggelayut basah di lelangit kisah,
ingin menyudah gempita Masehi dua belas


Saya berharap malam ini hujan deras. Sederas-derasnya.
Akan lebih banyak doa yg dipanjatkan saat Tuhan mengguyur tanahNya, daripada berteriak-teriak dan aplaus pada rentetan bunga api.



Pada akhir Masehi 2012 ini, saya membuat keputusan besar. Keputusan yg sarat harapan, semoga tidak salah, karena saya meminta Allah ikut dalam musyawarah ini. Memang membingungkan, tapi lebih membingungkan lagi bila saya tak membuat keputusan.

Jika ini goal pada waktunya nanti, saya ingin merencanakan sesuatu terhadapnya.
Semoga ini mulia, dan semoga rencana ini pula sebagian kecil dari ibadah saya.
Aamiin.

Alhamdulillah, sesuai keinginan sederhana saya ... postingan tahun ini meningkat dari 2 tahun saya memasuki dunia menulis di blog. Apakah curhat, review amatiran, jepretan kecil-kecilan ... kali ini mencapai 152 judul, setelah sebelumnya berjumlah 142 postingan (2011) dan 99 postingan (2010). Berharap di tahun masehi mendatang akan lebih banyak lagi postingannya.

Well, terutama karena tahun-tahun sebelumnya saya getol menulis di Multiply -- yg semakin hari -- semakin getol di QN (Quick Note)nya yg cukup sebaris-dua-baris. Oh tidaks, semoga ke depannya saya bisa menulis lebih berirama lagi. Tak selalu tulisan serius yg ber-ratus-ratus karakter lah, cuukup kekonsistenan saya menulis lebih banyak. Dan semoga tulisan soal curhat bisa diminimaliskan! Aamiiiiinnn.


Di antara dua kotak cokelat Belgium, notes kecil ... dan mi kering yg telah tandas.
31 Desember 2012

Menggabungkan 2 Gambar dengan Transparency Tool Corel Draw

Dari perjalanan pulang kemarin Afin minta tutorial photoshop buat gabungin 2 gambar/foto seperti di sini. Naa... masalahnya saya kurang tahu gabungin poto macam begitu lewat photoshop. Saya nyaranin pake CorelDraw.
Makanya hari ini saya sempatkan bikin tutorial gabungin 2 gambar lewat Corel Draw. Bikin Header.

Header ngasal yg saya bikin nantinya begini:

Tuzki tatoan memandang bibit-bibitnya

Langsung yaa, gini loh step-stepnya ...

1. Buka Corel Draw (saya pake cdr X3), klik New
2. Atur ukuran kertasnya. Saya pake ukuran header Facebook, yaitu 850 x 315 pixel.

3. Buatlah kotak dari Rectangle Tool di dalam ukuran 'kertas'~

4. Import gambar-gambar yg akan digabung, nanti kursornya berubah jadi garis segitiga begitu. Tekan seperti membuat kotak dan buat sesuai ukuran yg diinginkan. Letaknya bisa sembarang.

5.  Klik salah 1 gambar, klik Effects - PowerClip - Place Inside Container.
 -  Nanti kursormu berubah jadi tanda panah besar. klik ke kotak tadi.
 - Karena sudah otomatis 'terkunci' di dalam, kalian bisa mengeditnya dengan mengklik kanan kotaknya, lalu pilih Edit Contents.
 - Edit gambar seperti yg diinginkan.
 - Masukkan gambar selanjutnya ke dalam kotak yg sama.

6. Sampai sini sebenarnya 2 gambar tadi udah tergabung, ya ngga? Cuma garis pemisahnya terlihat kentara banget :D
Makanya yuk kenalan sama (Interactive) Transparency Tool. Letaknya sejajar sama Interactive Blend Tool (yg gambar kotak berderet di kiri bawah itu lho). Gambarnya kayak gelas berbayang gitu.
 - Posisikan gambar dalam keadaan Edit Contents.
 - Klik salah satu gambar, lalu klik Transparency Tool. Nanti muncul kotak hitam-putih seperti pada gambar-gambar berikut ini. Jangan takut buat coba atur-atur posisinya yak~
di luar gambar

sebagian di luar, sebagian di dalam gambar

diagonal

ujung ke ujung
Can you see the differences?

7. Bila sudah jadi, jangan lupa mengunci hasil editan dengan klik kanan - Finish Editing

8. Save gambar dengan klik File - Export - pilih format JPG

Selesaaaaaiiii~
Semoga membantu.

Wednesday, December 19, 2012

Seandainya begini dan begitu

Entah dari kapan saya memikirkan hal ini.

Mungkin seorang wanita bisa mencurahkan perhatiannya pada siapapun, bahkan seorang pendosa sekalipun. Tetapi untuk memberikan hatinya pada seseorang, ia akan berpikir berkali lipat walau ia telah hapal firman-firmanNya.

Suatu ketika seorang gadis bercerita.
Ibunya ketakutan akan kehilangannya saat ia ditikah pada seorang lelaki. Ia tahu dia akan baik-baik saja. Sesuai pertimbangannya, lelakinya amat baik dan memenuhi segala kebutuhannya. Ia tahu ia seorang yg tak sempurna, tetapi merasa amat beruntung menjadi wanita pilihan lelaki baik tersebut.
Dia berkecukupan walau tak berkarier.
Punya anak-anak terbaik yg ia cinta.
Punya keluarga harmonis sesuai yg ia impikan.

Lalu saya potong sebentar.

Mari berbicara soal umur.
Adakah yg tahu berapa lama nafasmu bertahan?
Bagaimana kalau ternyata umur lelakimu tak panjang?
Maka mandirilah. Sebab saya tak sedang berbicara tentang emansipasi. Ini tentang jangka hidup saja: seandainya begini dan begitu.

Ketika kau bertemu, kau juga harus siap dengan perpisahan.
Saya ingin sekali menikah. Sangat ingin.
Saya telah berencana harus bagaimana ketika nanti berkeluarga, dititipkan anak, dan menyiapkan segala indera untuk mereka.
Dan ... harus ada pemikiran lebih lanjut ke arah depan. Lagi-lagi seandainya begini dan begitu.

Saya tidak sedang memikirkan uang dan khawatir terlantar, tentu tidak.
Allah akan berskenario luwes untuk hal takdir. Tapi lagi-lagi memakai syarat saya begini dan begitu.

Tak ada yg tak mungkin, kan?
Mungkin cuma saya yg merasa, padahal belum apa-apa *tertawalah sana yg keras!

Ini perkara kehilangan. Mungkin saya agak takut.
Lucunya, padahal saya belum pernah memiliki. Disentuh saja belum~

Yah, ini sekedar muhasabah sendiri saja. Sekalian ingin kembali menulis.
Siapa tahu menangis. Tapi bukan meratap.

Ini bukan juga sajak.
Saya lupa bagaimana caranya menulis bijak agar menyentuh qalbu.
Mungkin harus sering-sering mengadu pada Tuhan.




Wah sudah malam.
Jangan terlalu memikirkan hal yg belum terjadi, begitu nasihat seseorang.
Harusnya begitu. But I think I still think them too much, so how?
Doakan saja ya.


Kita rencanakan yg indah-indah saja dulu.
Menemukan cinta.

Tuesday, December 18, 2012

Halo Jakarta: Kopdar Bareng Ndoro Ayu~

sambungan dari sini

Bye Bandung ...

Setelah berjuang mencari penginapan untuk keluarga yg mampir Bandung sebelum menuju TKP (Tempat Kreatif Pernikahan :p), yg namanya ga jodoh ya engga dapat juga Kamis malam yg lalu (13/12/2012). Ya sudahlah, daripada mencari ke tempat lain pas malam-malam gerimis begitu, mending saya suruh Ati sekalian yg nyari. Kebetulan ada temannya yg punya motor, jadi lebih praktis wara-wirinya.

Hanya semalam menginap, keluarga langsung menjemput untuk tujuan utama kami di Jekardah~
Ga sempet lagi belanja ... padahal Mi pesen ini-itu yg penting dibeliin ... huehue, boro-boro dirimu Mi, teteh aja gak beli apa-apa selain sendal jepit :))

Sudah tak saya perhatikan dandanan maut a la Vera, dengan warna tabrak sana-sini. Ah, meski gitu tetap charming kok ... *hadezig*
Saya kebagian di jok belakang. Sama si Aa.

Dan Jakarta masih saja panas. AC aka angin cepoy-cepoy yg biasanya bisa kayak hawa es bahkan tak mempan di tengah terik matahari menjelang senja begini. Semalaman glundungan di kamar ipar yg ber-AC ... kebetulan ada samwan nelepon, ada temen ngadem di beranda. Sementara hujan mulai turun ... tapi tetep panas.  *glundungan galau*

Ah bingung mau nulis apa lagi ...
Skip, skip, skip ...

Ga butuh 1 jam berpakaian, saya siap berangkat. Heels sudah disiapkan, mending dipakai di mobil~
Ati ... sesuai bayangan saya, dia pas banget pakai maxi dress a la hijabers. Dengan sedikit sentuhan keterampilan, jadilah dia begini:

sehabis acara, poto atas sampe bawah :D

Gimana? Gimana cara kerudungannya? Oke ga? Oke ga? Hasil karya sayah itu teh~ *bangga amat :))

Yg membikin kurang oke itu perihal jenis party-nya. Pesta berdiri Standing party gitu.
Sebagai pemudi yg baik dan menghormati yg lebih tua itu suatu keharusan, masa iya tega ngebiarin para sepuh berdiri sementara kita-kita yg muda-bugar gini duduk-ngobrol-cekikikan? Ke laut aja ngungsinya, Non~

Jadilah selama beberapa jam, saya dan Ati wara-wiri geje ... tahu-tahu pegel karena kelamaan berdiri. Jadi muda bukan berarti tahan nahan barbel 40 kg selama 1 jam, kan? Muda juga bukan berarti tahan dibanting-banting kingkong selama 4 jam, kan? Muda juga ga berarti tahan di bawah terik matahari selama 10 jam, kan? *maap, ekstrim*
Jadi yaa ikut duduk sajalah di pinggir panggung buat orkesnya, toh banyak juga yg duduk di situ.

Ah ya, saya ngajak Afin buat kopdaran di Menara Hijau ini. Mumpung jarak yg (semoga) ga nyampe 50 km, saya berharap bisa ketemu sama diajeng manis ini. Dia sempat curhat betapa nervousnya dia mau ketemu temennya di dunia maya. Ow please Fin, saya cuma sekedar artis domestik keluarga biasa aja kok~
Pas ketemu?

Kayaknya kok malah saya yg jadi diem. Apa boleh buat, cool memang sudah bagian dari diri saya ... ===digigit Afin===
Tapi itu cuma awal.
Begitu makanan dibuka ... saya lepas heels narik Afin buat berburu hidangan di sana, terutama Dim Sum. Ini masakan semacam siomay asal Cina, kalau tak salah. Bentuknya lebih mini, dan kulitnya lebih tipis daripada siomay di negeri kita yg kebanyakan tepung. Rasanya? Enak! Kapan-kapan saya kudu ditraktir makan ini lagi ... huehue~ #perasaan tiap mosting kok ada bahasan soal makanan ya#

Yah ... saya ketemu Afin cuma bentar, perkiraan saya mah 10 menit doang palingan. Di luar juga udah mendung gimanaa gitu, jadi ya kesian juga kalau kudu diajak pulang ke Kuningan *ya iyyyaaalaaahh
Thanks so much ya Dear, kapan-kapan kalau dirimu ke Jogjes traktir makan di Warung Pasta Jejamuran yak ... mwahahhaha~
Semoga ada kesempatan lagi kita ketemu ... tentunya tanpa heels.

NB: poto-poto lainnya bisa dilihat di marih

Monday, December 17, 2012

Be A Dress Hunter in Bandung

Jadi ...
Dari sekian usia adek saya ini, ceritanya Ati menemukan gaun yg bahkan lebih panjang dari tinggi badannya. Alhamdulillah.

Bagi kami yg bongsor-bongsor ini, undangan pernikahan saudara itu sedikit 'malapetaka'. Tak masalah ketika undangannya bertempat di rumah maupun tempat sederhana lainnya. Tapi ketika harus menghadiri di sebuah gedung/hajatan mewah, kostum kondangan sudah jadi dilema tersendiri buat kami. Kalau mau cuek, mungkin pakai baju kuliah juga sudah bisa. Tapi berhubung agak sulit mengabaikan momen istimewa begitu, maka mau ga mau hunting masalah sandang sekunder itu perlu :D

Well, setiap gadis punya pendirian sendiri mengenai cara ia berpakaian, tentu saja dengan style tersendiri. Tapi kami -- eh, adik saya -- jangankan style, sudah menemukan ukuran yg sesuai saja sudah beruntung!


mall Paris Van Java
gerbang masuk






[









Maunya seharian itu jelajah Bandung, sekalian pingin mampir ke Koffie Fabriek. Sayang waktunya tak cukup, kami baru bisa berangkat siang hari selepas Ati kuliah.
Ati datang, kami langsung menuju PVJ.


Yeah, setelah 2 kali naik angkot, sampai juga kami di sana.
Karena pengetahuan kami yg masih minim di jalanan Bandung, kami sempet nyasar walau gedung PVJ sudah di depan mata. Well, ternyata itu bagian belakangnya. Lalu mana depannya?
Lewat jalan memutar lewat gang pemukiman penduduk. Ini saatnya saya bilang wow.
Gedungnya mah 'cuma' di sebelah pemukiman, tapi memutarnya lumayan juga. Butuh perjuangan demi mencari gerbang depannya.


nyusur jalan menuju gerbang utama
dekorasi yg asik di lantai 2
















Yosh, akhirnya dapat juga gerbang masuknya. Kecil. Tak lebih besar dari gerbang swalayan di kampung kami. Cuma gerbang depannya yg lebar-besar untuk keluar-masuk mobil. Terus kami yg pejalan tangguh begini lewat mana?
O o o ... ada trotoar khusus pengunjung PVJ di sebelah kanan ternyata ... 

kayak parkiran :D
Rekomendasi dari teman Ati, di lantai bawahnya terdapat butik khusus untuk baju-baju ukuran ekstra large, alias ukuran besar. 
Kalau niat mah saya beli selusin deh ... cuma karena budget kere yg kudu diperhitungkan, sementara ada beberapa keperluan lain buat beberapa hari ke depan juga ... maka kami ga beli apa-apa dari PVJ. Tapi kami cukup senang bisa lihat-lihat di dalamnya (doang). Sangat ... luas ... makanya saya berasa sedang berjalan di palataran parkir. Padahal toko-tokonya mah seukuran di mall-mall biasa. Yang ga kalah kerennya mungkin desain baju-baju yg ditawarkan. So magnetic dah, sampai pake satpam segala~
Well, we bought an experience, at least.


Hujan rintik setelah kami keluar dari PVJ agak bikin gelisah, sejujurnya. Ati lagi ada gejala flu, sementara saya lupa tak bawa jaket. Saya tak masalah untuk hujan-hujanan, tapi rasanya terlalu sekali kalau basah-basahan karena masih harus nyari keperluan Ati. 
bergaya di jembatan -_-

Ada rekomendasi dari samwan, katanya ada butik di Kartika Sari. Mengingat rerintik hujan yg mulai turun juga jarak ke sana yg harus ditempuh beberapa kali naik angkot, meluncurlah kami ke sana dengan taksi.

Usaha kami membuahkan hasil.
Kami dapat sebuah maxi dress biru dongker tanpa lengan. Dapat dari butik (lupanamanya) di sana. Kebetulan Ati punya 'cardigan' abu, jadi nanti mau dipadankan.
Sebelumnya, saya sudah lapar mata di Grage Mall Cirebon dengan membeli 2 pashmina cantik (er... entah mau dipakai kapan itu urusan nanti), merah marun dan biru dongker. Takdir yg sepadan, jadi Ati tidak perlu beli kerudung maupun tambahan lain, kecuali wedges abu sederhana yg manis dari Istana Sepatu. Kedua sendal saya sehari-hari rusak semua, jadi saya juga beli sepasang sendal dong ... *ngelirik 2 adek yg cuma mesem-mesem abis make sendal tetehnya*

tahu Jepang bumbu telur asin
Bandung tanpa kuliner itu sungguh tidak berarti, kawan ... *halah
Melewati jembatan penyebrangan, Ati promo beli makan ke d'Cost di (entah-gedung-apaan-ntu-namanya). Saya cuma pesan cumi dan minta dibungkus, sementara Ati ngiler nyoba tomyam sama tahu Jepang bumbu telur asin. Saya pun ikut coba kedua masakan itu.
Oh Allaaaahh, nikmat beudddd ... enak tingkat dewa *halah*. Beneran enak lho, setidaknya menurut saya sama Ati.

tomyam
Kuah tomyam yg semula saya kira bakal agak anyir seafood, ternyata enggak. Sekilas malah mirip kuah apaaa gitu (saya juga lupa, but so Indonesian!). Tahu Jepangnya juga .... enak~ *meleleh-leleh dibuatnya*
Tahu sutera mungkin ya, teksturnya lembuuuut. Terus bumbunya itu ... lezat deh. Mungkin kolesterol banget ya. Campuran merahnya telor asin sama mentega ... ngomong-ngomong saya ngerasa ada kejunya juga sih, tapi mungkin pengaruh dari mentega ya? Atau memang ditambahkan keju leleh juga? Ah, enak pokoknya~  
Not recommended buat yg diet :D

Kami tak melakukan banyak perjalanan selama di sana. Selain cuaca yg seringnya tak mendukung (petirnya benar-benar ngeri), kami puaskan dengan mengobrol urusan wanita di kamar dan menunggu jemputan ke Jakarta hari Sabtunya.



to be continued~

Thursday, December 6, 2012

Yok ke http://globe.mosquelife.com/puritama

01pk4sc14yt itu kode verifikasiku ! Dapatkan punyamu di http://globe.mosquelife.com/passwd

Monday, November 12, 2012

[perhaps] The Last Award Mpers

Langsungan yak ...
Ini dia para nominator pilihan sayah~

1. ternarsis: hanifahnunk (poto)
2. tergeje: mupengml
3. ratu/raja kopdar: katerinas/moestoain
4. teralay/unyu: myelectricaldiary
5. terkonsisten: malambulanbiru/kopiradix
6. teraniaya: firstkid *ih, jadi kangen ngusilin
7. terjaim: - *kabehan na gelo*
8. tersilet: -
9. terinspiratif : - *banyak, kalaupun ada yg suka ga kelewat dibaca ituu ... dianya jadi juri~
10. os paling gaul: ummuyusuf24 *eh, udah cancel akun ya?
11. terbohong : mulpid
12. ter-oot : mupengml
13. terlucu : emokidonlastevening
14. terbawel : myelectricaldiary
15. raja/ratu curhat : afininda
16. tersesat : ayudiahrespatih
17. terlantar : afininda *jadi kapan kitah ketemuaaaaan???
18. terpanas : wayanlessy/juriglagu


Ikutan buat memeriahkan ini~

Tuesday, November 6, 2012

Nasi Kasreng Kuliner Kuningan

Teman saya dari kemarin curious sama nasi kasreng. Dengar-dengar pembicaraan para senior ini, nasi kasreng itu khas daerah Luragung-Cibingbin-an, masih Kuningan dong~
Barusan main ke daerah Garawangi, wah mampir dulu nih ke sebuah warung kecil di depan ... KUA kali ya ... *soalnya saya masuk ke Balai Nikah buat nebeng ke toilet :))
Penampakannya biasa, cara ngelipat nasi bungkusnya sekilas kayak bungkusan sate. Jadi itu nasi biasa, terus lauk pelengkapnya bisa kita tambah sendiri. Misalnya tadi saya pakai sawi dan timun mentah, tak lupa sambelnya, terus tambah 2 pia-pia (bakwan) panas. Nasinya mungkin seporsi nasi kucing khas Jogja, cuma lebih banyak dikit. Teman saya yg lain ada juga yg nambah pake tauge mentah, rebon dan telur goreng. Sederhana tapi nikmat, ini deh yg namanya surga ala desa ;)
Itu yg di Garawangi. Kalau udah daerah kulinernya sana mungkin lauknya lebih beragam. Iseng saya search, ternyata memang ga cuma telur-gorengan aja. Ada juga yg lebih variatif semisal nambahin ikan paray atau ayam goreng.
Keterangan lebih lanjut bisa dilihat di sini, dan sejarahnya juga bisa dilihat di marih. Saya ga sempat foto, jadinya nyomot di sini aja deh.


Monday, November 5, 2012

サムライ・ハイスクール: Samurai High School (2009)

Rating: 4/5
Director: Sato Toya (ep1,3,6,9), Inomata Ryuichi (ep2,4,7), Kariyama Shunsuke (狩山俊輔) (ep5,8)
Screenwriter: Inoue Yumiko
Cast.:
Miura Haruma / Mochizuki Kotaro
Shirota Yu / Nakamura Tsuyoshi
Anne /Nagasawa Ai
Ohgo Suzuka / Mochizuki Yuna
Kobayashi Ryoko / Minami Yurika
(source)



Mochizuki Kotaro ialah seorang siswa biasa yang banyak melakukan hal bodoh dan ga penting. Suatu hari ia menemukan sebuah perpustakaan sejarah yang dijaga oleh seorang perempuan aneh berambut seleher berkimono merah. Secara tak langsung, ia menemukan nama dirinya dalam sebuah buku sejarah. Tak hanya itu, buku tersebut mendadak seperti bernyawa, melepaskan 'ruh' yg ada di dalamnya. Sejak hari itulah, hidup Kotaro tak lagi menjadi biasa.

Kira-kira begitulah garis besar 9 episode dorama Jepang ini.
Yaaa ... sebenernya ada adegan 'nyrempet' dikit ~  tapi secara keseluruhan memang netral. Anak sekolahan banget. Seperti khasnya Jepang, di sini saya banyak menemukan pencerahan untuk bisa berpikir lebih dalam. Penggunaan kata-kata bijak juga banyak ditemui. Terkesan menggurui ya? Tapi banyak pesan-pesan baik yg ingin disampaikan. Jadinya cocok ditonton untuk semua kalangan, termasuk anak-anak. Makanya saya suka Jepang *nah, korelatif gak nih? :))

Pertama kali saya lihat Miura Haruma ini di movie Kimi ni Todoke. Maniiis pas lagi senyum (walau agak maksa, menurut nurani jahat saya). Lha, melihatnya di dorama ini jadi goyahlah citra itu ... rusak dengan aktingnya yg norak sebagai siswa pecundang.
Saya kasih 4 bintang itu ya ... karena ada poin bagus untuk pembelajaran. Terus terang saya ga begitu melihat alurnya kali ini. Tapi dari segi ide pun udah sangat membantu ingatan. Dorama berlatar sejarah gini kan jarang ada di persinetronan negeri kita ya? Kali aja nih dorama bisa jadi ide baru untuk bikin persinetronan lokal kita jadi lebih berkualitas.

Sejarah kita banyak yg unik, kenapa juga dianggurin? Cerita rakyat di marih juga sangat beragam (berhubung punya banyak suku), kenapa juga yg itu-itu aja yg muncul?
Sineas, generasi muda kita masih banyak yg fresh pemikiran. Jadi ga usah ragu untuk mempopulerkan sebuah latar yg belum terkenal. Akan banyak penghargaan dari generasi selanjutmu ketika berkarya untuk mengembalikan eksistensi sejarahmu sendiri. Dan akan banyak bangsa menghargai kita ketika kita menghargai pribumi ini. *halah malah OOT panjang-lebar*

 
Powered by Blogger.