Teman-teman, aku ingin berbagi cerita mengenai seorang gadis manis di SMA-ku dulu. Aku mengenalnya sebagai Nila. Berperawakan kecil, tipis dan tak pernah kusangka akan menjadi salah satu teman terbaikku. Dua tahun kami berada dalam kelas yang sama. Tahun pertama kami tak begitu bagus. Pertengkaran kecil agak sering terjadi antara kami berdua. Pikiran kami kadangkala bertolak belakang dengan tajam.
Pernah suatu ketika kami berdua dapat nilai sempurna dalam ulangan matematika. Tentu sudah bukan hal baru banyak teman yang ingin tahu nilai teman-teman yang lainnya.
“Kamu dapat berapa?”, “Kamu betul berapa nomor?”, “Aku lihat hasil ulanganmu dong, mau kucocokkan…”, dan pertanyaan-pertanyaan lain yang serupa.
Aku senang karena kali ini aku berhasil menguasai materi sehingga bisa mencapai nilai bagus. Maka dengan rasa senangku yang kentara terlihat, aku menjawab jujur pertanyaan-pertanyaan mereka bahwa aku dapat nilai sepuluh. Nila yang tepat berada di depan bangkuku sampai menolehkan kepalanya ke arahku seraya berkomentar…
“Eh biasa aja sih, sombongnya…,” begitu katanya dalam gumaman yang jelas. Sontak rasa senangku berbalik menjadi reaksi marah. Aku benar-benar tersinggung mendengarnya. Boleh saja bilang ‘Biasa saja’ tapi mengapa harus tersemat kata-kata ‘sombong’ di ujungnya? Menyakitkan sekali.
“Maksudnya apa?”
“Yaa, rendah hati sajalah. Nggak usah segitunya pamer…”
“Kamu pikir kamu sendiri enggak sombong? Pura-pura merendah padahal kenyataannya sok merendah dengan tak mengatakan yang sebenarnya…,” balasku masih agak sakit hati. Nila memang terbiasa mendapat nilai sempurna hampir di setiap mata pelajaran, terutama hitung-hitungan beserta rumus dan kroni-kroninya. Tak wajarkah aku yang jarang mendapat kesempatan mendapat nilai sepuluh ini bergembira sebentar hanya untuk hari ini saja?
Untungnya teman-teman terdekat kami langsung menenangkan suasana panas tadi sesegera mungkin. Dalam hati aku malu sekali sampai ditonton beberapa anak kelas kami kala itu.
Kalau kuingant-ingat lagi, rasa geli menggelitikku untuk tak menahan tawa. Sikapku yang terkadang ingin menang sendiri mungkin membuat Nila benci setengah mati. Kami kekanakkan sekali kala itu. Tapi entah sejak kapan kami tiba-tiba tertawa dan menangis bersama, saling melempar curahan hati yang tengah bergelut di ruang hati.
Nila pernah bercerita bahwa dirinya sedang dekat dengan seorang ikhwan kota kembang. Mereka bertemu di YM dan sudah berkenalan sampai tahap pertukaran nomor telepon seluler. Lalu kutanyakan padanya apakah mereka serius menjalani hubungan maya seperti ini. Nila mengangguk. Kunasihati Nila agar jangan mempercayai hubungan maya sepenuhnya karena kita tak selalu pintar memilah teman dan tak selalu tanggap untuk menyadari kehadiran seorang penipu.
Kemudian kutanyakan lagi apakah mereka sudah bertatap muka secara langsung. Lagi-lagi Nila mengangguk dengan agak tersipu. Kutasbihkan asmaNya dalam hati, bersyukur bahwa Allah masih menjaga kejujurannya padaku.
Aku tak berani menanyakan lebih jauh lagi. Yang penting, aku bisa membuatnya merasa nyaman saat terbuka mencurahkan isi hatinya padaku, terlebih dia adalah tamuku di rumah sederhana Apakku.
Beberapa waktu kemudian, aku dikejutkan dengan sikap Nila yang lain dari biasanya. Dia mendatangiku dan bercerita kembali tentang hubungannya dengan ikhwan tersebut.
“Awalnya kami sms sebatas mengingatkan dan berkirim doa, tapi lama-lama ia berani menelepon dengan alasan ingin curhat. Aku tak tahan lagi Ve, dia terlalu sering menghubungiku di malam hari! Aku tak enak pada teman sekamarku walau hapeku sudah di-reject sekalipun, padahal aku butuh menyalakan alarm-nya agar bisa bangun pagi… Sekarang dia benar-benar seorang pengganggu, apa tak sadar kalau aku ini seorang pelajar yang butuh istirahat cukup untuk menghadapi ujian?!”
Ada isak di sela kepengapan hatinya. Luar biasa dalam tubuh kecil itu harus terus menahan himpitan kesal dan amarah agar tak diwarnai mood buruk sepanjang hari. Kusarankan sekedar yang kuperkirakan bisa mengalihkan moodnya barang sebentar. Tak lupa juga kuberikan masukan sebisaku agar setidaknya bisa membuatnya tidur nyenyak. Ah, aku sebal karena tak bisa membantunya lebih banyak.
Aku dan Nilapun harus rela melepas kebersamaan saat masa sekolah. Aku menuju timur dan gadis berkerudung besar itu menuju barat. Sama-sama merantau mencari persinggahan baru di kota baru, sama-sama mencari jati diri dan mengerucutkan tujuan hidup masing-masing.
Tak lupa kami terus saling berkomunikasi. Bukan hanya sekedar candaan dan melepas rindu saja, kami tetap saling mengingatkan agar menjadi teguran, juga saling menasehati ketika terdapat masalah yang sulit dipendar-pendarkan.
Pernah suatu hari Nila mengirimkan satu pertanyaan padaku: “Menurutmu, sahabat itu apa Ve?”. Aku berpikir persahabatan bagiku hubungan yang tak pernah terlupa dalam ingatan selama kita hidup. Yang penting adalah perasaanku pada orang yang kuingat tetap kuanggap sahabatku sekalipun dia mungkin tak pernah menganggapku ada,. Singkat saja jawabanku, tapi baru kutahu sekarang ternyata aku salah.
Berjam-jam lamanya Nila tak langsung membalas short message-ku. Barulah tengah malam ia membalas: “Insyaallah Ve, kamu selalu menjadi sahabatku”.
Saat lewat tengah malam, Nila pernah mengirimkan pesan singkat agar aku meneleponnya. Masih dalam kesadaranku yang belum sempurna benar, aku meneleponnya agar bisa mengetahui kabar terbarunya juga. Telepon diangkat, sedikit basa-basi terlontar. Lalu sampailah akhirnya pada kalimat pertama yang membuatku sadar sepenuhnya.
“Aku sedang benar-benar bingung Ve, tak tahu harus kubagi dengan siapa? Kamu masih hapal dengan ikhwan yang pernah dekat denganku itu kan? Tahukah kamu ternyata dia telah bertunangan dengan seorang wanita yang lebih cantik dariku…” Kemudian kutanyakan mengapa ia sampai bisa tahu bahwa ikhwan tersebut sudah memiliki seorang tunangan. Tak ada isak di sana, hanya suara tertekan yang bisa kutafsirkan dari nada bicaranya.
“Wanita itu sendiri yang meneleponku, mengaku, dan memintaku untuk menjauhi si ikhwan! Bagaimana bisa dia berpikir bahwa aku telah hampir merebut seorang tunangan darinya? Tidakkah dia berpikir bahwa aku ini sama-sama seorang wanita? Mana tega aku merebut tunangannya. Mana kutahu juga kalau ternyata ikhwan ini sudah punya calon, bahkan telah bertunangan…”
“Kami merencanakan sesuatu untuk ikhwan itu. Dia meminta tolong agar aku yang membujuknya untuk kembali pada tunangannya. Aku yakin ia menginginkanku untuk memutus hubungan dengan tunangannya. Tapi tak apa, aku terlanjur setuju sekaligus sakit hati sudah dibohongi seperti ini.”
Ada nada mantap di sana. Aku bersyukur karena selama dua jam ia menumpahkan kekesalannya bisa membantu sirkulasi emosinya hingga bisa berjalan normal kembali. Nila berterimakasih karena aku relakan waktu tidurku terpotong di tengah malam untuk mendengarkan semua keluh kesahnya.
“Jangan sepertiku ya Ve, tak usah menanggapi kesungguhan seseorang yang berada di dunia maya. Pokoknya sebisa mungkin hindari saja, jangan sepertiku ya? Benar-benar jangan.”
Terakhir kali sebelum aku mendengar kabar pernikahan Nila, ia telah mantap berpindah harokah. Jelas aku tahu karena sebelum ia berpindah ia bertanya padaku mengenai ketepatan keputusannya sekaligus ingin mengetahui pendapatku. Kubilang padanya bahwa suatu keputusan yang sifatnya imani tak bisa dipengaruhi siapa-siapa karena yang bisa memutuskan hanyalah yang merasa. Harokah manapun itu selama dalam istiqomah naungan Islam, aku bilang akan terus mendukungnya. Aku bukan ahli ibadah yang serbatahu ini dan itu maka kuserahkan sepenuhnya pada Nila untuk memilih.
Selang waktu beberapa minggu ke depan, hubungan kami masih seperti biasanya. Yang aku tahu, beberapa teman lama kami marah pada Nila atas keputusannya yang dianggap tergesa-gesa. Bahkan salah seorang diantaranya terang-terangan menyatakan ketidaksetujuannya atas hijrahnya ia ke harokah yang lain. Aku bisa merasakan bagaimana rasanya diperlakukan seperti itu. Padahal Nila sendiri butuh dukungan dan motivasi untuk membangun sebuah kepercayaan. Syukurlah ia bukan gadis bermental lemah. Setiap batu sandungan yang ia alami dijadikannya batu pijakan untuk berdiri. Aku benar-benar salut ketika melihat ia tampil sebagai identitas harokah yang diyakininya.
Entah sudah berlangsung berapa tahun lamanya, Nila tak pernah bercerita kembali, tak pernah ada sapaan kabar selama beberapa tahun terakhir ini, juga tak pernah ada sapaan hangat dalam sebuah jejaring sosial yang kami ikuti. Hanya akunnya yang tampil maksimal dengan sangat percaya diri, seolah-olah berkata pada dunia: inilah aku!
Sebuah sapaan hambar pernah singgah di layarku lalu lenyap tanpa sempat berbalas salam berpisah. Pernah pula sengaja aku curhat soal ini dan itu, lalu kutahu kemudian bahwa Nila tak seperti dulu. Suatu kesalahan yang besar telah bercerita banyak karena ia hanya mengirimkan sebuah link untuk solusi masalahku. Hei, ada apa ini? Apa dia pikir sebuah link sudah cukup manusiawi untuk menenangkan sebuah perasaan?
Sampai saat ini, aku tak tahu apakah makna ‘sahabat’ yang ia utarakan dulu masih ada untukku. Sampai hari inipun aku tak menemukan benang merah untuk bisa kusambungkan kembali. Yang bisa kutebak, aku tak merasakan aura persaudaraan diantara kami. Aku tak bisa menggapainya lagi. Pesan-pesan singkat sudah kukirim tanpa kuabaikan bahwa ia kini memiliki seorang suami. Tapi tak pernah ia balas. Ukhuwah yang dulu ia bangga-banggakan sepertinya telah turun harga, ia tak mau meliriknya sama sekali. Mungkinkah aku cuma pengganggu kehidupannya? Maka tak pernah kuhubungi lagi setelah itu.
Tadinya aku berharap… ketika kamu dan aku bertemu dalam sebuah pertengkaran, paling tidak aku ingin mengakhirinya dengan sebuah persahabatan. Lalu mengapa aku merasa hubungan kekeluargaan tak pernah hinggap lagi bersama dengannya? Haruskah kusesali keputusan terakhirnya yang tak bisa kucegah? Tapi akupun tak mau menyesali bahwa pernah ada seorang teman yang baik yang pernah Allah anugerahkan untukku, walaupun tak mungkin kupungkiri hati ini masih perih bila mengingatnya.
Masih segar dalam ingatanku, ia meminta agar pengalaman hidupnya diceritakan agar orang lain tak gegabah dalam berkomunikasi dengan dunia maya. Ini adalah tanggal dimana aku telah selesai membuatnya, tepat pada saat ia berulangtahun.
Hanya bisa kudoakan agar Nila berbahagia dengan keluarga barunya. Selalu dalam rahmat dan ridhoNya, dan semoga ada sahabat-sahabat baik lain untuknya. Bila suatu hari dia nyasar dan membaca tulisan ini, aku ingin dia tahu bahwa dia adalah salah satu teman baikku selama aku hidup.
Kado ke-23 tahun untuk L.A.
6 Juli 2010 dinihari
Kita dilahirkan dalam selisih hari,
Tapi prinsip kita seperti magnet dengan dua kutub yang sama…
Ditujukan untuk lomba Berbagi Cerita Dengan Kata
Subhanallah...
ReplyDeletemet milad untuk Nila.semoga sisa umur menjadi berkah. amin.
terima kasih sudah berpartisipasi ya :)
Amiiinnn
ReplyDeletemakasih sudah membaca ^^
yeyeyeee untungnya masih sempat kirim yang kedua...
keren tulisannya..
ReplyDeleteselamat ultah, semoga sukses selalu..:D
huaaahhhh....selesai baca..
ReplyDeletetengkyu ilmunya... :D
Makasih fha ^^
ReplyDeletesukses juga buatmu..
Mas uha: widiww OL pagi mas?? Thanks for sharing ^^
selalu OL....asal gak libur.. :D
ReplyDeleteweleeh..mestinya yg bilang TFS tuh sayah..kan yg sharing dikau :)
eniwei...perbedaan harokah semestinya gak bisa "meruntuhkan" bangunan yg disebut "persahabatan"...semoga NIla disadarkan yah...Amiiinn..
aku ngga tau prinsip dia sekarang seperti apa. Tp setahuku mengenai harokah yg dia pahami sekarang itu ialah "curhat = membuka aib"
ReplyDeleteWallahu a'lam, sekarang aku nggak tahu apa2 soal dia kecuali dia lagi bisnis pakaian...
harokah itu apa mba?
ReplyDeleteKata “harokah” merupakan istilah baru yang timbul pada waktu-waktu belakangan ini (era akhir abad 20), yang berarti bergerak, aktif, beramal, dan melaksanakan. Oleh sebagian orang kadang-kadang diartikan pula dengan “revolusi” atau “mengubah suatu kondisi pada kondisi lain”.
ReplyDeletelebih jelasnya lihat di sini aja ya (sayah kuatir salah tulis)
http://indonesia.faithfreedom.org/forum/harokah-t13058/
untuk orang awam agama seperti saya, singkatnya sering dikaitkan dengan 'aliran' Islam tertentu. Afwan ya, saya kurang paham ^^
Lebih lanjutnya: http://azzamalqitall.wordpress.com/2010/03/12/empat-harokah-islam-international/
ReplyDeletehadooh, kok jadi bahasan berat yg enggak sayah kuasain nih... T^T
yayaya..pendapat masing2 individu...kita hormati saja.. :D
ReplyDeletekan "perbedaan adalah rahmat " .... ^^
yeaaahhh... it's really OK....
ReplyDeleteuitss..emo-nyah...xixixixi
ReplyDeleteabis sendu..brubah jadi "fiery"...hahay
eitss..emonyah...abis sendu trus brubah jadi "fiery" gituhhh...hayhayhay
ReplyDeleteWah Vera penuturannya bagus banget, jadi enak bacanya..
ReplyDeleteKapan2 buat cerpen dunk... :-)
Pesannya : jangan mudah percaya dengan hubungan maya yah?^^ trus juga harus bisa menghormati perbedaan
... ... engkau sahabatku, tetap sahabatku ...
ReplyDelete:-))
Nice story! Menyentuh banget. Smoga suatu hari kalian akan seperti semula. Tetap sebagai sahabat.
ReplyDeleteMakasih Link-nya. Copas and saved. Baca sekilas, Harokah itu semacam aliran2 gitu ya?
ReplyDeleteMakasih mbak prita, ternyata menulis dg sepenuh hati itu memang lebih berkesan ^^
ReplyDeleteNamanya juga udah keputusan, resikonya ya harus djalani juga..
Mas unggul: siapapun yg punya sahabat, sapalah ia walau tak pernah sekalipun dibalasnya.. daripada menyesal ketika kesempatan itu tak pernah ada lagi ^^
ReplyDeletethanks for share, semoga sahabat tetap begitu adanya spt pndapat mas unggul.
Mas dadi: makasiiih, ini salah satu pngalamanku yg paling membekas sampai sekarang. Mudah2n yg lainnya bs mgambil hikmahnya.
ReplyDeleteHu um mas, copas aja. Aku cr dadakan jg cz aku msh miskin ilmu agama ^^ makanya kubilang bhw harokah ntu smacam aliran/golongan dlm Islam. Sama2 belajar yaaa.. Cmiiw
Mas uha: hu um, kalo inget kdg isih loro ati mas.. *heheu, mgkn suatu hari bs kuikhlaskan spenuhnya ^^
ReplyDeleteImho:
ReplyDeletekurang tertarik harokah.... baca2 buat pengetahuan aja :-)
Iya, monggoo masss.. Ikut salah satunya pun ndak papa kok :) hihi..
ReplyDeleteSerius2 baca, ujung2nya jeung lomba oge ha3..
ReplyDeleteCuman mun keur jalmi awam siga abdi lereus rada teu ngalartos istilah2 harokah dsb.jadina dalam hati bertanya2 naon eta teh he2..seandaina mun kangge konsumsi umum rada diminimalisir istilah2 tadi atau di ganti padanan katana nu sama ambih teu terkesan ekslusif untk kalangan tertentu wae.eh, tapi terserah deng, ieu mah masukan kecil wae.
Tentang maya relationship, leures kudu ati2, ambih kena teu makan ati.tong ngabuka diri teuing ka jalmi nu teu dikenal/nembe kenal termasuk abdi ha3, da tacan tangtu kumaha jalmi teh.mending nu real2 wae, lebih enak he2.intina mah teu berlebihan teuing bergaul.jadi temen biasa jd lebih nyaman&aman n_n
aaamiiinn..loro ati kuwi lumrah...namanya juga manusia..asalkan jgn lama2.. :)
ReplyDeletekeep cheer ya ukhti...*halahh bahasaku*
wah ver, turut mendoakan Nila-mu ya ;))
ReplyDeletegak ahh....daripada gak bisa konkesuwen...xixixi..
ReplyDeleteA dudi: oh kitu nya a? Hilap teu nyantumkeun footnote na :(
ReplyDeleteTadina mah bd nganggo istilah nu umum, tp asa teu aya kata nu pas selain harokah. Lamun 'aliran' mah asa kasar tur keeung kapirengna, mun 'golongan' asa kirang nyantol kanu dimaksad teh. Ieu oge jd bumerang pedah dtaroskeun ku nu maos, jd browsing dehh.. :">
Ambil positipna wae, pan jnten nambh kosakata anyar jdna dpilarian kann.. ^^ laen kali emg mnding pake yg umum aja biar smua lapisan bs mnikmati bacaan *thanks masukanna a
Mas uha: makasih ^^ cheer up for u too..
ReplyDeleteMbak haya: iya mbak, makasih banyakkk..
ReplyDeleteBaik sekali dirimu :)
Mas dadi: yayayaa, suit urself dehhh ^^
ReplyDeleteehh iyah..baru nyadarr..anjeun teh manggil sayah Uha pasti krn simbol ini yah "μ".. :D
ReplyDeleteiyah kita mesti berhati2
ReplyDeletedunia maya itu kejam :)
cetitanya penuh inspirasi
met milad yah^^
Mas mas, itu tanda miu kan? Jdnya muha gt ya? Hoho ya maap sayah asal manggil aja pan biar cepet :P
ReplyDeleteMbak asha: makasih ya mbak..
ReplyDeleteHu um, jgn trlalu prcaya sm dunia maya..
oohh gitu... makasih ya penjelasan singkatnya, langsung meluncur ke link yg udah dikasih hehe:)
ReplyDeleteYep, sama2 belajar yahh ^^
ReplyDeletejiahahah..gpp kok...unik ajah kalo ada yg manggil pake panggilan laen..susah nyari modifikasi kata "Muhammad" yg bisa dipake buat manggil sayah ^^
ReplyDeleteEalah mas, nama penuh rahmat bgitu kok cr pggilan laen.. Kupanggil amad aja po?? *aneh.com
ReplyDeleteehehehe...yayaya..Ahmad juga boleh..toh artinya sama.. :D
ReplyDeletetoyyib :-)
ReplyDeleteteteh, makasih udah ikut gabung ^^
ReplyDeletesama-sama, makasih sudah menjadi tuan rumah yang super baik :-)
ReplyDeletealhamdulillah, amin amin.. ^^
ReplyDelete