Friday, July 2, 2010

For The Rose


Aku tak yakin tepatnya kapan tetapi kami bertemu saat masa-masa sekolah-menengah-atasku akan berakhir. Tambah lagi, aku lupa bagaimana caranya kami bisa sangat dekat. Yang kutahu, kami sama-sama menyukai buku, tak ketinggalan pula komik.

“Eh? Komik apa itu Teh?” Mungkin begitu kataku waktu pertama kali bertemu. Beliau sedang mengisi waktunya dengan membaca komik serial yang sepertinya tak asing bagi aku.

Zaman sekolah kuisi dengan segala imajinasi liar yang bisa kukeluarkan seluas-luasnya kala itu. Tak salah bila aku hapal setiap cover komik yang kutemui dimanapun. Walau tahu kota kelahiran kecilku ini tak ada apa-apanya terhadap perkembangan teknologi termasuk buku-buku terbaru di luar sana, aku tetap bisa mencarinya di internet yang baru masuk sekolah. Walaupun di sana tengah huru-hara dapat kenalan si ini dan si itu, toh aku selalu dapat kesempatan untuk menggunakan komputer sekolah.

Teteh menolehkan wajahnya ke arahku, tak lupa senyumnya terkembang. Beliau menampakkan cover komik yang tengah dibacanya. Benarlah dugaanku, itu serial cantik rupanya.

“Suka baca komik Neng?” Aku mengangguk. Secara refleks, senyumku melebar dengan sendirinya. Mungkin mirip Garfield yang ketahuan mencuri ikan oleh majikannya, atau seperti Chesire Cat yang meninggalkan bayang geliginya sebelum menghilang.

“Suka banget Teh! Ini pinjam ya?”

“Iya.”

“Dimana? Boleh kupinjam dong?”

“Di dekat rumah ada rental buku kok. Nih, Teteh pinjamkan yang ini dulu ya. Biar kamu ngerti awal-awal ceritanya.” Ia menyodorkan komik seri pertamanya padaku.

“Hehe, makasih Teh…kirain si Teteh tak suka baca komik.”

“Wah Neng suka baca toh… tahu begitu Teteh pinjamkan dari dulu-dulu. Teteh sering pinjam kok.”

Aku hanya nyengir mendengarnya. Dari dulu aku juga heran mengapa tak semua penjaga toko Apak bisa langsung akrab denganku. Jadi serasa Profesor Snape yang dijauhi anak-anak Gryffindor saja…



Teteh dipanggil Ibah oleh teman-teman toko dan keluarganya. Aku tak pernah menanyakan ataupun tahu dengan pasti siapa nama panjangnya. Biarlah mengalir selayaknya saudara.

Tak ada yang kuketahui tentang ayahnya. Yang kudengar sudah meninggal dunia. Sementara ibunya… -entah bagaimana harus kuceritakan…- mungkin bisa kugambarkan sebagai sosok yang tak mau ambil pusing terhadap segala sesuatunya. Uwaknya saja sampai harus terang-terangan membentaknya agar berusaha mencari pekerjaan dan bukannya menadahkan tangan pada saudara-saudaranya. Sangat berbanding terbalik dengan puterinya mencari nafkah sebisa mungkin sampai-sampai tubuhnya saja tak begitu terurus baik.

Walau tubuh kurus sepertinya rawan untuk hilir-mudik melayani kepentingan para pembeli, Teteh lincah sekali bergerak kesana-kemari. Terlebih saat tahun ajaran baru tiba, orang-orang berteriak agar mendapat jatahnya sesegera mungkin. Ada yang minta buku gambar, selusin pensil, mencari kitab kuning, pesan buku Yaasin untuk lima puluh orang, belum lagi pesanan sekolah yang menuntut barang dalam jumlah besar, di depan kasir menumpuk padat orang-orang yang mau membayar. Dengkulku capek.

Waktu tak mungkin terhenti saat itu. Tanaman tak mungkin selalu biji, alang-alang tak mungkin tak disandari laba-laba, umur tak mungkin selalu muda, sementara sekolah harus berganti tahun ajaran, dan aku tak ingin menjadi siswa selamanya. Aku berniat melanjutkan pendidikan di luar kota. Kota pelajar yang katanya penuh budaya yang kini kutempati menjadi tujuan utamaku; Yogyakarta.

Aku senang ketika saat inilah aku bisa memiliki handphone sendiri. Aku tak perlu meminjam handphone Apak dan aku berhak memiliki kartu nomor sendiri. Gaya sekali aku. Tak lupa kuberitahu nomorku pada Teh Ibah agar masih bisa berkomunikasi. Teteh menyampirkan doanya untuk keberhasilanku di sana, sementara aku mengamininya dengan khidmat.



Gudang segala silsilah keluarga terdapat pada Mamah. Dengan runtutnya beliau selalu menceritakan segala kejadian menyangkut keluarga besar kami. Saking banyaknya nama, aku kesulitan menghapal alur ceritanya karena memoriku payah sekali.

Suatu hari aku mendapati Mamah tengah sedang dari kejauhan saat aku mengobrol dengan Teteh. Sesekali orang yang kusayangi itu memalingkan wajah, walau akhirnya kembali mengawasi kami. Tak terlalu kupedulikan, karena sebuah prasangka terlalu jahat untuk orang baik yang punya rahim.

            “Teh, sekarang kamu akrab dengan Ibah ya…,” kata Mamah membuka percakapan saat kami tiba di rumah. Aku menoleh padanya dan tersenyum, lalu asyik menatap gambar bergerak-gerak di kotak ajaib bernama televisi sebesar 21 inchi.

“Iya Mah.”

“Hati-hati ya Teh, kamu jaga jarak sama dia.”

Tak kusangka pernyataan seperti itu bakal meluncur dari sosok yang kumuliakan itu. Waktu itu aku cuma terdiam. Aku yakin ibuku mengerti bahwa ini adalah  sikapku meminta penjelasan dan bukan sekedar alasan.

“Dia mengidap penyakit liver, Teh, Mamah hanya khawatir kamu tertular.” Ada nada seorang yang kukenal baik: kecemasan sekaligus rasa cinta seorang ibu. Beliau berkata lembut, walau agak tergetar. Mungkin kekhawatirannya melebihi perkiraanku.

Pikiranku menerawang panjang, jauh merongrong angkasa mungkin sampai menembus Capella. Selayang kenangan masa lalu melintas tak berjeda; bakung, nuansa hitam dan kematian. Pekat sekali menghiasi sejarah keturunan Apakku. Beberapa waktu silam, salah seorang saudara Apak meninggal dunia karena jenis penyakit ini, meninggalkan suami dan keempat buah hatinya. Aku sangat paham aturan bergaul dengan para pengidap penyakit ini. Apa-apa harus terpisah dan dijaga. Mendeskriminasi.

“Mamah cuma minta kamu menjaga jarak pembicaraan dengannya, jangan terlalu intens juga ya.” Aku mengangguk mengerti, membuatnya bernapas lega barang sejenak.



Kegiatanku sebagai seorang mahasiswa tak seindah seperti di sinetron kegemaran adikku. Aku membutuhkan banyak waktu untuk beribadah dengan tenang karena harus bekejaran dengan jadwal perkuliahan, belum lagi tugas-tugas entah itu paper atau persiapan presentasi. Sudah kuabaikan peraturan makan dan istirahat teratur, cuma kuturuti ketika lapar dan capek saja.

Komunikasiku dengan Teh Ibah tak begitu sering. Dulu bisa sampai beberapa kali balasan, kali ini cukup 2-3 kali membalas, setelah itu tenggelam dalam kegiatan masing-masing.

Obrolan kami masih tetap berkisar soal komik, yang baru maupun mini seri. Hanya saja saat aku sedang libur kuliah, obrolan kami kini tak cuma komik.

“Neng, Teteh ingin curhat,” katanya. Aku langsung berbalik menghadapinya dan memasang telinga.

“Ada orang yang suka sama Teteh.”

Senyuman yang berbeda. Terlebih lagi ada sapuan pemerah alami di pipinya. Belum lagi kulihat matanya, kentara sekali aura merah jambu menguat di situ. Aku berseri mendengarnya, aku senang ada yang akhirnya benar-benar melihatmu Teh, batinku.

“Lalu?”

“Ya… kami hanya menjalani begitu saja, padahal sepertinya dia mau serius denganku.”

“Terus? Tidak tantang dia untuk menikah saja?”

“Masih banyak pemikiran menuju ke sana Neng, Teteh juga tahu diri Teteh cuma begini keadaannya,” katanya datar, namun dengan senyum yang anteng mengembang.

“Begini keadaannya bagaimana? Teteh sudah saatnya berumahtangga lho, tak usah merendah begitu,” kataku.

“Yaah, mudah-mudahan Teteh bisa diterima di keluarganya. Kita jalani saja dulu.”

“Mudah-mudahan dipercepat menuju pernikahan,” kataku disela seruan ‘hei!’-nya, “… kita kan tak tahu umur, Teh,” lanjutku sungguh-sungguh, tanpa tahu bahwa kata-kata itu kelak menjadi bumerang besar bagiku. Teh Ibah hanya nyengir dan kembali melayani seorang pembeli yang masuk.



Aktifitasku seperti biasa saja di kampus pendidikan. Tongkronganku hanyalah kos-kantin-kampus, begitu seterusnya. Kalaupun liburan kampus, tetap saja tak seenak udel bisa kupergunakan untuk mudik. Ongkos travel makin naik dan sebaiknya memang memanfaatkan waktu di Yogyakarta.

Dering telepon selulerku menjerit, terdapat nama Rumah di sana. Ah, Mamah memang baik, tahu kesepianku di kos. Kuangkat dan kusapa dengan salam.

“Waalaikumsalam Teh, ngapain?”

“Ga ngapa-ngapain, lagi liburan Mah.”

“Sehat Teh?”

“Iya, sehat. Mamah juga kan?”

“Iya Alhamdulillah. Teh…,” kalimat Mamah menggantung. Aku merasa ada keraguan dalam suaranya.

“Kenapa Mah?”

“Ibah meninggal tadi pagi…”

“Hah?”



Kau ini seperti mawar yang rapuh. Tapi memesona setiap makhluk yang melintasinya, walaupun tak selalu begitu. Aku ingin kau bahagia di alam sana, ditemani dengan yang belum pernah kaumiliki sejauh jantungmu berdegup.

 

Aku berduka karena tak pernah menjumpaimu saat pernikahanmu belum sempat terlaksana.

Aku menyesali mengapa kata-kata ‘umur pendek’ pernah kutujukan padamu, padahal aku tahu dalam setiap ucapan terdapat doa yang menyertainya.

Tapi aku sama sekali tak pernah menyesal bahwa menjadikanmu sebagai rahmatNya adalah perihal yang indah walau hanya sekejap waktu.

 

 

 

 

 

Yogyakarta 28 Juni 2010, 04.15 pm

For The Rose, ingatkah ketika kau menyebutkan judul komik kesukaanmu itu?
Aku benar-benar terhanyut ketika membacanya, sama terhanyutnya ketika aku memaknai sebuah persahabatan bersamamu. Berbahagialah di sana, aku meminta keadilanNya untukmu. Amin.

Diceritakan kembali untuk mengikuti lomba Berbagi Cerita dengan Kata

Wednesday, June 30, 2010

Kepada Z



Maafkan aku, yang lebih memilih ibu daripada Anda.
Aku tak ingin ibu membenci Anda lebih dalam lagi.
Pahami keputusanku
Pria lajang bukan hanya Anda, walau wanita lajangpun bukan cuma aku

Mari berteman saja, bukankah kita sudah cukup mengenal?





30 Juni 2010, warnet Limuny G3
Untuk Bang ikhwan di seberang pulau,
Jauh bukan halangan, tetapi restu adalah keridhoanNya.

Pasar Kangen Taman Budaya Juni 2010




Ini nih, Pasar Kangen di siang hari. Sayah ke sana karena janjian sama temen se-SMA tanggal 29 Juni kemarin. Muter-muter....muter-muter... muter-muter... ternyata Dede (temen sayah itu) nunggunya di Benteng. Oalahh, jadi ga enak sama my Pie (temen yg nganter sayah). Akhirnya kami langsung tancappp ke Mirota...biar ngadem bentar di sanah.

Tapi, saya sempat foto-foto dikit suasana di dalam gedungnya. Banyak motor antik dipamerin (tapi engga kufoto :p). Gapapa deh, daripada ga dapet samasekali ya ngga??

Kafe di Atas Awan 3


            Ruangan sepi senyap walau ada banyak orang yang bekerja. Jadi, kuhampiri langsung meja Mas Padri, si penelepon.

“Ada apa, Mas?” tanyaku hati-hati. Ia melirikku sebentar dan matanya kembali serius menatap layar komputer. Tegang sekali kelihatannya, begitu pula dengan pegawai lainnya. Semenit kemudian aku tahu jawabannya. Seorang lelaki separuh botak melintasi ruang karyawan dengan langkah perlahan bak pengantin pria. Ia merapikan jas putihnya yang sepertinya kebesaran. Matanya tertumbuk melihatku berdiri di samping Mas Padri. Inikah pak direktur itu?

“He kamu! Ngapain berdiri disitu?! Kenapa juga seragammu tak dipakai, ha?! Mau dipecat, ya?!” Aku celingukan, mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru ruangan. Lho, semuanya ‘kan pakai seragam?

“He tengak-tengok kemana kamu?!”

“Ooh saya, Pak?” tanyaku sambil menunjuk diri.

“Siapa lagi?!”

“Tapi saya bukan pegawai, Pak.” Setelah usai kuucapkan kalimat itu, mendadak ekspresinya sedikit melunak. Roman mukanya yang mengeras dihiasinya dengan senyuman.

“Ooh, maafkan saya. Ada yang bisa saya bantu, Dik?” katanya lembut.

“Saya ditelepon Mas Padri, katanya Mas editor ada perlu dengan saya mengenai...”

“Oh, mari, mari! Mari saya antar!” Aku cepat-cepat berjalan mendahuluinya ketika ia hendak meraih pundakku. Ugh, inikah Om direktur itu? Tak bermoral.

            Pintu ruang kerja editor terbuka. Aku masuk dengan sedikit canggung. Ini adalah yang kedua kalinya aku masuk ke ruang editor. Pemula, sih! Seketika itu, dua penghuni ruangan itu, Mas Didit dan Mas Yoga serempak menoleh siapa yang datang. Seperti biasa, Mas Didit tersenyum ramah dan Mas Yoga tetap dengan gaya juteknya yang nyantei. Dua cangkir kopi dan sekaleng besar camilan menemani mereka. Namun ketika mereka melihat siapa yang datang bersamaku, reaksinya berubah total.

            “Oh, Pak direktur. Selamat sore, Pak,” sapa Mas Didit memulai dengan agak tegang. Mas Yoga meliriknya sambil mendengus tak sopan.

“Makasih sudah nganter, Om Ganteng. Silakan keluar dulu,” katanya dengan nada merendahkan yang terdengar jelas. Pak direktur itu kelihatannya ingin menerkamnya bulat-bulat, tapi ia sembunyikan begitu ia melihatku. Ia akhirnya beranjak pergi setelah memperlihatkan taringnya padaku.

“Lagi, Wa?” tanya Mas Didit pelan, tapi senyumnya tak hilang dari bibirnya. Aku mengangguk mengiyakan, kusodorkan naskah yang kukepit padanya.

“Tegas sedikitlah, Wa. Aku jadi gemas lihat kamu diusilin mereka. Disini bahaya selama ‘om ganteng’ itu ada,” Mas Yoga menambahkan tanpa melihatku. Aku meminta maaf.

“Kalo kamu laki-laki, aku nggak bakal secemas ini,” tambahnya sambil menyeruput kopi. Aku berterima kasih padanya. Sejutek-juteknya Mas Yoga, ternyata perhatian juga orangnya.

“Kamu mau pulang sekarang? Kalau nanti, biar kita yang antar. Nanti kusuruh adikku nemenin kita,” Mas Didit menawarkan disertai lirikan singkat milik Mas Yoga. Kukatakan bahwa aku ingin pulang sekarang. Meja Mas Yoga bergeletak, dan memintaku agar ia dan Mas Didit menjagaku sampai pintu masuk kantor. Tak masalah, aku selamat dari cengkeraman “om ganteng”. Ha...ha... Setidaknya ada orang yang bisa kupercaya, kan?



            Maghrib menyapaku sepulangku dari swalayan di dekat kantor. Kuhirup aroma martabak telorku dalam-dalam, nikmat. Di paviliun, kujumpai seorang anak kosku bersama seorang anak kos tetangga.

“Assalamu’alaikum. Mbak ‘Wa, abis beli martabak, ya?” katanya manja sambil mencium punggung tanganku. Aku membalas salamnya segera.

“Iya, kalau mau ambil aja, ya. Nanti sekalian temenmu itu juga...”

“Ah nggak usah, Mbak. Udah makan tadi, kok,” tolak temannya sopan. Serempak, dua penghuni kosku yang lain berhamburan keluar begitu mendengar penawaranku.

“Assalamu’alaikum Mbak. Udah pulang ya? Sini dibawain.” , “Mbak, martabak, ya?”, “Boleh minta satu dong, Mbak?”, “Enak nih!” Aku tertawa senang melihat mereka berebut menolongku membawakan belanjaan. Kuiyakan mereka mengambil martabakku. Kami masuk ke rumah dan terlibat pembicaraan hangat beserta curhat-curhat mereka seputar sekolah.

“Eh Mbak, ada titipan. Ini tadi ada di depan pintu, pas lihat kartunya ternyata buat Mbak.” Anak kos dikepang dua itu menyerahkan seikat bunga mawar merah yang cantik padaku. Aku bertasbih dalam hati.

“Ini nggak salah? Dari siapa?” Kulihat roman mukanya seakan ingin menggodaku lebih jauh. Ia menyikutku perlahan sambil mesem-mesem. Kutinju pelan bahunya dan ia masuk ke kamar sambil tertawa-tawa. Kucari kartunya dan akhirnya kutemukan secarik kertas bercorak indah.

Assalamu’alaikum warahmatullah wabarakatuh. Semoga Allah swt. merahmatimu karena cintamu pada manusia.

            Airmataku menitik di sudut minda, turut bertasbih pada sederet kalimat itu. Demi Allah, ini do’a tercantik untukku yang pernah kutemui. Semoga Allah merahamatimu, batinku penuh haru.

Kafe di Atas Awan 1

Heu, iseng-iseng saya bongkar-bongkar gudang cerpen lama. Ehh, nemu cerpen aneh sewaktu masih mentah-mentahnya nulis cerita. Ah yang penting kan berani (ngeles deh). Saya pingin berbagi aja, terserah mau berpendapat seperti apa, syukur-syukur sayadapet masukan bagus. Soalnya setelah dibaca berulang-ulang, kok nonsense banget neh... huehuehehee... panjang juga pembukanyah. Monggo diboco (huehuehehehh... bahasa jawa yang ngasal...)


cerita 1.
            Mulanya kupikir kafe itu dipakai khusus untuk para workaholic, tapi nyatanya tidak. Orang biasa, yang sekedar lewat atau habis berbelanjapun bisa mengunjunginya kapanpun mau. Bahkan yang menakjubkan, abang tukang becak saja bisa rehat disitu selama yang diperlukan. Bayar? Tidak! Gratis kok, kecuali yang pesan makanan tentunya.

“Povo! Povo!” teriakan ala kenek bis membuyarkan lamunanku. Aku bersicepat mengeluarkan uang dari kantung jaketku. Tas yang kukepit telah bolong di bagian pinggirnya. Aku tersenyum. Ternyata aku kemalingan. Seorang lelaki tegap khas aktivis mesjid mandahuluiku membayar uangnya pada si kenek.

“Dua, Bang,” katanya seraya menunjukku. Aku terbengong menatapnya. Ia mengisyaratkan tangan agar aku mengikutinya seraya keluar.

“Heran, eh?” katanya agak keras saat bis mulai meninggalkan terminal. Suara bising membuat kami harus berkomunikasi lebih keras. Kuanggukkan kepala seraya mengerenyitkan kening meneduhkan pandangan mata. Hari benar-benar panas!

“Masuk yuk,” ajaknya sambil melangkah ke sebuah warung makan. Eh? Itu kan kafe yang sering kulewati? Aku membatin. Ragu-ragu kulangkahkan kaki menjajari langkah-langkahnya yang lebar.

            Memang unik, ada lift yang menuju ke atas ada di dalam kantor berkaca mewah itu. Liftnya ditutup oleh kaca transparan menuju puncak kantor. Tak kuduga sebelumnya bahwa ternyata kafe maupun kantor para workaholic itu menyatu begitu apik. Di satu sisi, para pegawai kantoran berpusing ria dalam tumpukan pekerjaan, sementara kafe ini menyediakan fasilitas unik yang memuaskan. Kontras sekali.

“Eh—aku belum pernah kesini sebelumnya,” ucapku seraya memandang langit-langitnya. Ia memesan sesuatu dan pamusaji menawarkan menunya padaku.

“Ee…air saja,” canggung kujawab pesanannya. Aku mengelap kening yang basah oleh tisu yang tersedia. Lelaki berbaju takwa itu menyodorkan saputangannya.

“Ah tidak, terima kasih. Itu kan milik antum, kalau kupakai pasti kotor.”

“Pakai saja, kerudungmu pasti membikin panas.”

“Tidak kok, yang panas bukan kerudung, tapi mataharinya. Tuh, bapak itu juga sepertinya kepanasan.” Aku menunjuk pada seorang tukang becak di dekat pintu. Lelaki itu menghela napas seolah sudah capek menghadapiku dan menyerah.

“Tadi berapa? Ini, sembilan ratus,” kataku seraya menyodorkan sejumlah uang receh.

“Apa?” Keningnya berkerut tanda tak mengerti.

“Yang tadi, ongkos bis. Maaf cuma segini, seratusnya buat bayar air.”

“Jangan, ongkos tadi sudah jadi milikmu. Itu sudah hakmu, simpan sajalah. Air itu biar kubayar. Lagipula, untuk pulangnya bagaimana kalau tak ada uang lagi?” tolaknya halus.

“Eh—antum tahu aku tak punya uang lebih?”

“Ya, kamu kecurian, kan? Kenapa tak kaujaga tasmu itu?” katanya melirik tasku.

“Jadi antum lihat?” ujarku agak malu. Lelaki itu tak menjawab. Ia mengeluarkan sebuah notes mungil dan menyodorkannya padaku. Aku memandangnya dengan tatapan bertanya.

“Tulis alamat dan kampusmu disini, ini cara perkenalanku...” Ya Rahman, sekian banyak orang yang kukenal, baru kali ini aku melihat ada orang seperti dia. Agak aneh juga, tapi kutulis nama dan alamatku di notes itu.

“Memangnya (sambil menulis), antum siapa? Aku kan belum tahu.”

“Ridwan.” Aku manggut-manggut dan kuserahkan notesnya.

            Hei kawan, langit di atas sana cerah sekali. Siang memang panas, tapi perkenalan aneh ini membuat suasana di kafe menyejukkan.



Kafe di Atas Awan 4


            Novelku sudah terbit dua hari yang lalu. Oh ya, belakangan ini aku suka “bertandang” ke kafe unik di seberang kantor penerbit novelku. Di sana ada banyak orang yang bisa kuajak kenalan. Ya mahasiswa, ibu muda, abang tukang becak, ataupun pelayannya. Belajar mengenal, itulah tujuanku. Berkat perkenalan-perkenalan akrab itu, aku jadi tahu kehidupan orang lain.

            Atas izin mereka, kurajut benang-benang kisah mereka. Akan kusatukan kembali ukhuwah mereka dengan rajutan jaring-jaring penaku, agar mereka belajar memahami, bahwa mereka tidak sendirian. Tidak menderita seperti yang telah mereka keluhkan padaku.

            “Karya-karyamu makin asyik, Wa,” cetus Mas Yoga saat kuantarkan cerpen terbaruku. Aku nyengir kuda begitu ia menolehku dengan antusias. Kuucapkan terima kasih padanya.

“Memangnya yang dulu kenapa, Mas?” kataku penasaran.

“Jelek, nggak hidup,” katanya cuek. Deg, kok enteng amat ngritik-nya?

“Jangan gitu Yog, dia kan udah usaha...,” tegur Mas Didit lunak dibarengi cengiran lebarku. Yah, sebetulnya aku sedikit tersinggung juga. Sebelumnya, aku sering begadang demi memikirkan ide cerpen. Tapi sekarang? Aku berjumpa banyak orang di kafe unik itu, juga berjumpa dengan banyak kehidupan. Ah, terima kasih banyak.

Aku bergegas keluar dari kantor penerbit setelah mas-mas editor itu menyuruhku memperbaiki bagian yang kurang pas. Hari ini giliranku menyiram tanaman di halaman rumah. Anak-anak kos selalu sibuk oleh tugas di hari Minggu, sih.

            Mataku tertarik pada seonggok benda yang tergeletak di paviliun rumah. Ah, mawar cantik itu lagi! Aku agak heran menerimanya, tapi tujuan si pengirim benar-benar padaku. Tertempel di kartunya. Mulanya kupikir bunga-bunga mawar ini salah kirim. Tetapi benar-benar tak ada yang mau mengaku... atau mungkin memang untukku, ya?

            Hingga sampai sebulan ini aku menerima ikatan-ikatan mawar merah seperti yang telah kuterima pertama kali. Menurut buku yang kubaca, bunga merah itu lambang pernyataan cinta. Karena aku tak mau salah langkah, makanya mawar-mawar itu terus kurawat agar orang yang mengambilnya kelak tak merasa kecewa. Lagipula bunganya kasihan, nanti layu dan keindahannya bisa hilang kalau tak dipelihara. Yang kusesalkan, kenapa sih pengirim misterius itu tak melampirkan nama atau kata-kata selain bait-bait doa? Hobinya mungkin senang membuatku menangis...



            Sekarang, aku sedang berada di dalam kafe unik ini, sedang berusaha memenuhi janjiku untuk bertemu dengan si pengirim bunga misterius. Ia mengirimku sepucuk surat dan seikat bunga kemarin sore, dan sekarang ia akan menunjukkan dirinya di tempat tertinggi di kafe itu. Yaah, dimana lagi kalau bukan di atap gedung—di puncaknya itu? Bismillahirrahmaanirrahiim... Kunaiki lift sambil memegang memo-memo pemberiannya erat-erat. Aku bertekad akan mengembalikan memo-memo ini padanya.

            Terus terang aku agak risau mengenai kepergianku kali ini. Aku tak meminta seseorang untuk menemaniku, sama seperti aku pergi ke penerbit. Sendirian. Kekhawatiranku sama seperti wanita-wanita pada umumnya. Kukira si pengirim mawar itu pasti lelaki, jadi agak was-was juga. Tapi...siapa yang mau kuajak? Anak-anak kosku sibuk mempersiapkan ujian mereka besok. Hhh...

            Kupandang bumi dari kaca lift. Gedung-gedung pencakar menciut, mengecil, dihiasi kelipan aneka lampu yang berpendar-pendar. Pintu lift terbuka dan aku melangkah keluar, menghirup udara malam. Suasana tenang dan sejuk, tidak panas seperti siang. Langit menghitam bersih, memamerkan kilau-gemilau bintangnya. Purnama tersenyum jernih, menguning terang di atas gedung. Duhai Allah, Engkau sempurna sekali...

Ada gumpalan awan di sekeliling gedung, dan kulihat sesosok tegap membelakangi purnama. Ia tengah tersenyum, dan kurasakan serpihan angin mendesir-desir di hati. Lelaki berbaju takwa itu...? Subhanallah, dia jauh berbeda ketika kutemui pertama kalinya. Ia lebih teduh, lebih menenangkan, dan lebih...

            “Ridwan?” Ia menganggukkan kepala dan mengulurkan tangan padaku. Kutolak halus sebab jika tidak, bara neraka bisa-bisa menghujaniku.

“Bukan, aku amalmu, suami seiman, penjawab pertanyaan Izrail, temanmu dalam surga-Nya. Bergembiralah, kita ditunggu Yang Maha Mencinta,” katanya menuju gumpalan awan di seberangku. Aku terkejut, hanya mampu bengong dalam keterdiamanku. Sekali lagi, ia jengah dengan sikapku yang pelan menyiput. Ia membimbingku tanpa bisa kucegah. Kuikuti dia setengah menahan napas.

Awan melaju pelan begitu kami naiki, samirana menerpa, menyibakkan gaun-gaun kami, dan purnama seakan melambai mesra. Nun jauh disana kulihat secercah cahaya menyilaukan. Perlahan-lahan kupincingkan mata, dan yang kulihat saat itu benar-benar membuatku kembali tercekik, terhenyak, sampai-sampai tak bisa kunyanyikan bait-bait kerinduanku untuk-Nya. Pegangan memoku lenyap, aku rasakan percikan air mengalir deras tanpa bisa kutahan, menyaksikan apa yang kulihat kini. Perlahan pandanganku menggelap dan tubuhku serasa dibawa angin menuju rumah, dan melupakan memo-memo yang terbang melayang...

 

Senja berjingga, 18 Mei 2005

Kafe di Atas Awan 2


            Kerudungku kelihatan kotor sekali. Bagian lipatannya menghitam, dan berbau tak enak. Musim kemarau ini memang saat-saat orang harus sering mandi dan mencuci. Kriiing! Telepon rumah berdering nyaring, ingin segera diangkat.

“Assalamu’alaikum warahmatullah,” aku menjawab.

“Hei , Hawa, kan? Kamu kesini ya, ada yang mau diomongin pak editor tuh.” Suara di seberang sana cepat kukenali sebagai pegawai di suatu penerbit.

“Soal cerpen?”

“Ya iya, kali. Kesini sajalah!” elaknya buru-buru dan telepon terputus. Aku mendesah risau. Kejadian ini sudah berulangkali terjadi. Setiap aku pergi kesana, mereka pasti tertawa terbahak-bahak sambil memegangi perutnya. Aku suka diusili. Pernah kutanya alasannya kenapa mereka berbuat seperti itu. “Kau itu anak baik, bisa bikin kita ketawa-ketawa!” begitu katanya. Waktu itu aku menanggapinya hanya dengan senyum. Aku bisa memaklumi, karena direkturnya galak. Selalu mondar-mandir dan mencari-cari kesalahan, bikin orang sekantor terdiam dan tegang sampai-sampai keringat dingin bermunculan. Belum lagi wanita-wanitanya dijahili sampai menjerit-jerit. Dasar hidung belang, bikin para pegawai lelaki iri (hush!).

            Aku menyandang tas bututku (lagi) setelah kujahit robekan besar di pinggirnya. Kunaiki bis yang tadi siang, dan bis segera melaju mengantar para penumpang. Sekarang aku cuma mengisi dua ribu rupiah dalam kantung tas. Kulirik Almas emas-ku, ternyata jam 5 lewat sedikit. Mudah-mudahan tak ada yang serius. Aku akan beli belanja sekalian sepulangnya dari sana.

Wednesday, June 9, 2010

Selenting Romantika Malam

Lalu datanglah pujangga hening
Hujan berhenti merintih
Menyisakan lelap dengkur anak-anak Adam

Larik mudamu tak pernah ditelan kelam,
gemilang memesona,
menghentakku ramai

Tahukah romansaku tak terputus hanya karena kegelapan?
Tahukah setapak aksaramu sudah menggores tanda pada setiap sel dermaku?

O.. kepada Pangeranku,
dia terlalu membekaskan tanda hingga lukaku menganga tak kering juga!
dia memilukanku di setiap sunyiku walau ia terus diam dalam lengkung bibirnya!

Kupinta sedikit saja pembebat luka ini
kumohon doa kerdilku Kauhampiri sejenak
biar titi nadaMu yang memecah keramaian dirinya






dalam rinduku yang melepuh belum mengering
16 april '10

Monday, June 7, 2010

Ciremai




Foto ini diambil ketika di perjalanan menuju Mandirancan, dimana saudara saya menikah. Maaf kalau buram atau gelap sebab saya mengambil dari seadanya hape di dalam mobil dalam perjalanan (jadi gak gitu jelas).

The Day the Earth Stood Still

Director: Scott Derrickson
Keanu Reeves – Klaatu
Jennifer Connely – Dr. Helen Benson


Film ini bergenre action technology (walau tak sepenuhnya action). Nuansa hari akhir-nya lebih terasa di ending mengingat penyerangan besar2n secara serempak oleh makhluk-makhluk aneh.

Film ini bercerita mengenai Bumi yang dikunjungi benda asing berbentuk bulat keperakan yg bersinar-sinar. Saat semua orang terpukau, turunlah salah satu ‘makhluk’ bernama Klaatu dari benda tersebut. Semua angkatan bersenjata segera bersiaga dengan persenjataannya, sementara itu seorang ilmuwan wanita mendekatinya (mungkin karena merasa Klaatu tak membahayakan). Ketika Klaatu mengulurkan tangannya, ia malah ditembak. Anehnya, ia memiliki darah.

Saat kepanikan terjadi setelah penembakan itu, ‘makhluk’ lainnya yang lebih besar turun dan mengalirkan kekuatan energinya sehingga seluruh listrik tiba-tiba mati bahkan manusia tak bisa bertahan dengan gelombang suara yang tak biasa. Beruntungnya, Klaatu belum mati sehingga ia bisa mencegah temannya membinasakan orang-orang di sekitarnya itu.

Belakangan mereka tahu bahwa dari dalam kulit luarnya (yuck!), Klaatu memiliki rupa seperti manusia: punya kepala, badan, tangan dan kaki. Saat semuanya telah pulih, pemerintah AS bahkan tak bisa mendapatkan setitik terangpun mengenai tujuan maupun apa sebenarnya makhluk ini. Klaatu malah berhasil meloloskan diri (dengan tenangnya) dengan menggunakan kekuatan yang ia miliki. Ia juga bisa menemukan Helen, sang ilmuwan wanita yang ia temui pertama kalinya saat ia mendarat di Bumi.

Sekalipun Helen sudah membantunya menyediakan zat-zat yang ia butuh, kendaraan, membantu menemukan professor untuk berdiskusi, ia tetap tak bisa mengorek keterangan lebih lanjut tentang Klaatu.

Selanjutnya ia tahu, Klaatu dikirim ke Bumi untuk menyelamatkan planet Bumi dari manusia. Selama perjalanannya di Bumi, Klaatu menemui banyak hal yang menurutnya manusia tak layak menempati Bumi. Ia melihat manusia yang berkelahi hingga tega membuat salah satunya roboh, maka bagaimana ia bisa mempercayakan kebertahanan Bumi pada umat manusia? Helen yang menyadari rencana ini memohon pada Klaatu agar memberi kesempatan lain pada manusia untuk memperbaiki kesalahannya. Namun nihil.

Klaatu diutus ke Bumi ternyata untuk membuka ‘segel’ pertahanan Bumi. Ingat makhluk besar yang mematikan listrik dalam sekejap? Badannya ternyata merupakan sekumpulan kumbang metal yang mematikan, yang kemudian menyerang badan penelitian sampai menuju kota. Seluruh dunia huru-hara. Kumbang-kumbang tersebut bermunculan saat benda keperakan itu disentuh Klaatu.

Kaget, Helen juga mendapat akibat yang tak kalah fatal. Anak lelakinya mulai mengeluarkan darah dari hidungnya hingga tergeletak tak sadarkan diri. Setelah mereka berdua memeriksanya, anaknya ternyata telah meninggal. Ingat bahwa Klaatu bisa membangkitkan kembali orang mati, Helen memohon-mohon padanya agar menghidupkan kembali anaknya. Tanpa disadarinya, ia juga mengalami hal serupa sebelum anaknya meninggal. Saat ia menyadarinya, ia tetap memohon agar Klaatu menghidupkan anaknya kembali. Trenyuh melihat seorang ibu yang kehilangan anak satu2nya, Klaatu akhirnya ‘menghisap’ saripati penyakit kedalam tubuhnya sampai Helen dan anaknya benar2 pulih dari sakit. Lalu bagaimana akhirnya kehidupan manusia? Musnahkah mereka diburu kumbang-kumbang itu? Lalu apakah Klaatu bisa menghadapi masalah pelik ini?

Penting menyadari satu hal bahwa sangat banyak hal yang mungkin terjadi sebagaimana halnya memberi kesempatan kedua. Saya yakin bagi orang-orang yang punya prinsip kuat takkan pernah memberi kesempatan lain setelah kesempatan kedua. Bila janji pertama saja telah dilanggar, maka takkan ada lagi kepercayaan yang begitu dalam sebelum perjanjian tersebut.

Menurut saya, film ini jelas skenario yang termasuk aneh bikinan Amerika (lagi). Seandainya terdapat keyakinan bahwa harkat apapun adalah milikNya, manusia pasti selalu punya cara untuk menyelesaikan persoalan sebanyak apapun. Sangat disayangkan (dalam film ini) bahwa manusia baru bisa memohon2 setelah banyak makhluk asing ‘menjajah’ Bumi.
Hanya saja, film ini punya bagian yang membuat saya jatuh hati: teknologi. Digambarkan di sana terdapat scanner pendeteksi DNA, dilengkapi dengan data touch juga. Aagghh, nambah imajinasi saja!!!

Saya agak bingung juga, soalnya saya menonton movie tanpa ada terjemahannya. Maka, tolong beritahu bila ada salah pengertian ataupun alur. Terimakasih.
Selamat menonton.

 
Powered by Blogger.