Friday, April 19, 2013

KAPAAANNN???

taken from here
Mood itu memang berubah-ubah ya...

Dulu dia santai saja ketika orang menanyakan kapan dia lulus, kapan kerja, kapan nikah. Nah tepat hari ini ada orang menanyakannya, sebutlah si L: "Mbak belum kelar kuliah ta?"
Dia ga jawab, cuma ngasih statement, "Kuliah kehidupan gapernah kelar."
Entahlah, hari ini dia lagi pingin sendirian kayaknya.
Lalu ditanya lagi, "Ga kerja mbak? Apa masih ngurusin piaraan?"

Well, ingin tahu sekali kayaknya si L ini. Rasanya... baru kali ini saya liat dia agak marah ditanya begitu. Atau mungkin malah tersinggung ... karena buat ukuran orang yang jarang nyapa, L ini kepo sekali.
Akhirnya dia cuma jawab, "Belum ada rejekinya."

Dia sedang nganggur. Atau tepatnya, dia kerja yang tidak kantoran... bukan yang wara-wiri dengan dokumen maupun rapat dan banyak agenda. I wonder, apa dengan begitu L mau memberi solusi?
Yang pasti setahu saya, dia sedang ada suatu urusan jangka panjang, tapi saya tak bisa bilang itu apa *ceritanya rahasia sohib

Yaa... sekedar mengingatkan kembali ... yang namanya hidup kan gak seputar itu. Habis tanya kabar, akan lebih baik nanya domisili daripada pekerjaan. Atau nomer yang bisa dihubungi... atau yang lainnya. Ini seakan mengingatkan saya pada status temanku dulu (sekali)...
Saya akan lebih berterimakasih ditanyakan sudah berapa juz Quran atau hapalan hadits yang kamu kuasai ketimbang 'sudah punya berapa anak?' (karena setahu saya beliau belum diamanahi keturunan di usia pernikahan yang ke sekian tahunnya)

Semoga sabar belum lenyap dari sisi kemanusiaan kita.
*karena saya juga nganggur... T___T
Mohon doanya ya kawan-kawan, insyaallah tahun ini sedang menjemput rejeki di luar kota kelahiran saya ... mudah-mudahan dimudahkan, mudah-mudahan dilapangkan. Aamiin.

Wednesday, April 17, 2013

Ibu-ibu Ngeblog

Salah satu hal yang saya suka dari blogwalking adalah ... nemu gaya bahasa. Mau itu anak muda, ibu muda, paruh baya bahkan sepuh juga ada. Alhamdulillah saya bisa kenalan dengan orang-orang keren, kan seenggaknya nanti saya bisa ketularan keren juga... :))

Sorotan saya baru-baru ini sama ibu-ibu paruh baya. Yaa gak sepuh juga ding ...  tapi kehidupannya udah dikaruniai beberapa orang anak, bertetangga dengan ini dan dia. Kehidupannya kalau ditilik-tilik yaah sama lah dengan Mamah di rumah. Ini-itu diurusin... cuma bedanya, Mamah kagak narsis kayak kebanyakan ibu-ibu blogger... *sungkem*

Enaknya? Banyak!
Selain berbagi resep, rata-rata para beliau ini punya gaya bahasa yang enak dibaca. Becandanya juga renyah ... lebih nrimo sebagai korban ketika ada 'ejekan' dan lebih sabar ngadepin adek-adeknya yang baru beranjak dewasa.  Bahkan ketika adek-adeknya soktau juga mereka serius menanyakannya dengan senyum di ujung kalimat. Sabar bener, padahal orang kayak gitu nyebelin kan... *iyee kayak kamoh Pe~


Yaa... udah gitu aja.
Selebihnya saya mau nyari ide lain buat jurnal.
*sumpah ini postingan ga penting sekali -__-

Friday, April 5, 2013

puritama vera (?)

Hey are you looking for me?
Yes, I am an ex- Multiplayer with puritama ID ... almost famous with the-orange-girl named Veraveravera.

I found this in my real-time feedjit.



I'm trully curious who searched in me. Are you my old friend? Or do you have any business with me?
Hope this posting will answer your searching~



#gini neh kalo mau jadi buronan yg baek ... contoh tuh... #songong

Sewing Things

Ajang pamer ga penting sebenernya.... hanya saja ini mungkin bakal ngiler temen-temen yang hobi berkreasi handmade.
Meski saya ga ahli soal mengreasi sesuatu, pada dasarnya saya suka pernak-pernik #dasar cewek

Satu komplek pertokoan wilayah Jl. Pandesan, Pekalangan-Pekalipan ini sepertinya khusus untuk jahit-menjahit. Kurang tahu juga detilnya, tapi yang pasti ada 3 buah toko berderet khusus untuk bahan/alat jahit.
Ga sengaja nangkep baliho ini, bisa jadi tempat tujuan kamu yang mau beli mesin jahit nih... di toko Dua Tiga mungkin ada, secara gambar balihonya aja mesin jahit ;)


Naa.. sebenarnya di sinilah tujuan teteh ipar saya: toko Intan...
berbagai bahan keperluan menjahit

toko aksesoris dan alat jahit














aktivitas jual-beli dalam toko

berbagai rantai (?)















tas lucu homemade sana juga ada lho
tadinya pingin beli ini buat kado adek :D
















berbagai aksesoris
berbagai kebutuhan menjahit

I WANT THIS! #the shirt I mean...

Tuesday, April 2, 2013

Wonogiri, in Afin's Wed (a bit kadaluwarsa)

Sudah beberapa bulan sih... hahaha gakpapa ya.

Jadi ceritanya 2 Februari 2013 kemarin saya dan Pepi silaturahim ke tempatnya Afin, yang konon dia manten di hari itu. Alhamdulillah, dengan perjalanan yang cukup hebat, kami nyampe juga pada siang hari. Saya ngebis dari Jogja menuju Tirtonadi Solo, diteruskan bis Aneka Jaya, dan kami langsung nyampe di tempat. Wonogiri wow juga ya, melintasi hutan-hutan sampe hilang sinyal di situ.

Datang-datang kami tak langsung masuk, tapi dipersilakan duduk dahulu sambil menikmati sajian yang ada. Ooo mungkin begini resepsi a la Jawa ... ini baru pertama kalinya saya menghadiri nikahan dengan sajian makanan yang dilayani langsung panitia, jadi maksudnya kami ndak ngambil makan prasmanan sendiri tapi diambilin panitia sana gitu.
Capcus jam 8 pagi, pulang jam 11 malam. Thanks Rabb, Kau telah mempersilakan saya kembali merasakan kelayapan malam-malam lagi ...

Ah ya, ini berarti kali kedua saya bertemu dengan Afin. Dulu saya bertemu dengannya di Jakarta, dan dalam kesempatan ini saya double kopdar kedua dengan dia dan Mamang. Karena kami agak asing dengan resepsi semacam ini, kamipun tak berani ambil foto sembarang (lagian susah ngambil gambar). Jadilah jauh-jauh mamang bawa alat potonya, hanya saya dan Pepi yang figuran ini malah jadi potomodel sehari :))

Tingkiuh Afin dan juga Mamang atas ramah-tamahnya kemarin. Semoga kita ada waktu buat kumpul-kopdar lagi sama yang lainnya :D

Saturday, March 30, 2013

Indah dalam Kesabaran


Kami bertemu lagi pada bulan Maret.
Wajah keduanya masih sumringah seperti pengantin baru pada umumnya. Agak merasa bersalah juga karena sebelumnya saya tak menengok dia yang baru saja keguguran.
Ah, mungkin Allah punya rencana yang lebih baik untuknya nanti...
Saya percaya itu.
Dan memang selalu begitu, kan?

___________

Kami bertemu lagi kemarin.
Berkumpul bersama di rumah keluarga mereka.
Para tetangga juga hadir.

Dan hari ini kita kembali bertemu dalam banyak doa menyertai.
Di tanah merah yang basah. menatap pusara suamimu, Sepupuku.
Semoga ia tenang dalam surgaNya.

 Kullu nafsin dzaa ikatul maut
taken from here






***
Jumat pagi sekitar pukul 9 WIB, kami diberitakan kabar duka dari sepupu bahwa suaminya mengalami kecelakaan tunggal dan meninggal seketika. Tak ada luka sama sekali, tetapi diketahui mengalami luka dalam.

Innalillahi wa inailaihi raaji'un.
Sepupu saya adalah orang yang Allah cintai, insyaallah. Ketika menikah tahun lalu ia sudah tak bersama orangtua, dan di usia 10 bulan pernikahannya ini ia kembali diuji (iman) dengan kehilangan suami.

Di setiap ujian ada keindahan di hikmahnya.
Semoga Allah melimpahkan rahmat dan ridho di sepanjang sisa umurmu, sepupu.
Sebab yang kami tahu itu pasti benar.


#Jadi rencana bikin siomay dimsum gagal (lagi)... *curcol gapenting

Friday, March 29, 2013

Saya Pemikir Analitis (?)

Iseng #as usual#, membaca blog seseorang yang 'sengaja' saya cari dan tak sengaja menemukannya. Isi blog-blog perempuan cantik ini inspiratif, setidaknya untuk saya, terutama karena saya 'berkenalan' dengannya ketika menemukan jurnalnya yang berkisar seputar hijrahnya berhijab. Well, saya pasti suka-pingin-terharu kalau dengar atau baca kisah-kisah hidayah begini *bukan-pilem-religi-lho*

Saya dapet link soal tes kepribadian dari dia di ipersonic. Daaan... ah, dari pendapat psikolog pun ternyata 'seiman' dengan apa yang saya pikirkan tentang saya *bukan-narsis*. Saya berantakan.
Dari ipersonic, mengabarkan ...

Saya tipe kepribadian: Pemikir Analitis

Tipe Pemikir Analitis adalah orang-orang pendiam dan tidak banyak bicara. Mereka suka menggali hingga ke dasar masalah – rasa ingin tahu adalah dorongan terbesar mereka. Mereka ingin tahu apa yang menyatukan dunia jauh di dalamnya. Mereka tidak butuh lebih banyak untuk kebahagiaan mereka karena mereka adalah orang-orang yang rendah hati. Banyak ahli matematika, filsuf, dan ilmuwan merupakan tipe ini. Tipe Pemikir Analitis tidak suka kontradiksi dan ketidaklogisan; dengan kecerdasan mereka yang tajam, dengan cepat dan menyeluruh mereka menangkap pola, prinsip, dan struktur. Secara khusus mereka tertarik dengan sifat mendasar segala hal dan penemuan-penemuan teoritis; bagi mereka, tidak penting apakah mereka harus menerjemahkannya menjadi tindakan-tindakan praktis atau membagi pemikiran mereka kepada orang lain. Tipe Pemikir Analitis suka bekerja sendiri; kemampuan mereka untuk berkonsentrasi lebih menonjol dibanding tipe kepribadian yang lain. Mereka terbuka dan tertarik pada informasi baru.

Tipe Pemikir Analitis hanya memiliki sedikit ketertarikan pada masalah sehari-hari – mereka selalu agak seperti „profesor linglung“ yang rumah dan tempat kerjanya berantakan dan hanya mengkhawatirkan diri sendiri dengan hal-hal dasar seperti kebutuhan fisik ketika hal itu menjadi sangat tidak bisa dihindarkan. Pengakuan atas karya mereka oleh orang lain juga memegang peranan penting bagi mereka; secara umum, mereka cukup mandiri dalam hubungan sosial dan sangat mengandalkan diri sendiri. Oleh karena itu tipe Pemikir Analitis sering memberi kesan kepada orang lain bahwa mereka arogan atau congkak – terutama karena mereka tidak ragu untuk melontarkan isi kepala mereka dengan kritik mereka yang biasanya pedas (sekalipun beralasan) dan rasa percaya diri mereka yang tak tergoyahkan. Orang-orang di sekitarnya yang tidak kompeten tidak akan lolos dengan mudah dari mereka. Namun barangsiapa berhasil memenangkan rasa hormat dan ketertarikan mereka akan mendapatkan orang yang jenaka dan sangat cerdas untuk diajak berbincang. Pasangan yang membuat seseorang takjub dengan pengamatannya yang tajam dan selera humornya yang getir.

Butuh waktu sebelum tipe Pemikir Analitis bisa berteman, namun biasanya mereka akan berteman seumur hidup. Mereka hanya butuh sedikit orang di sekitar mereka. Kemampuan yang paling penting bagi mereka adalah kecocokan dan dengan demikian memberi mereka inspirasi. Kewajiban sosial yang terus-menerus dengan cepat membuat mereka jengkel; mereka butuh banyak waktu sendiri dan sering menarik diri dari orang lain. Pasangan mereka harus menghargai ini dan mengerti bahwa ini bukan karena kurangnya kasih sayang. Begitu mereka sudah memutuskan menyukai seseorang, tipe Pemikir Analitis adalah pasangan yang setia dan dapat diandalkan. Namun demikian, Anda jangan mengharapkan romansa dan ekspresi perasaan berlebih dari mereka dan mereka jelas akan lupa ulang tahun pernikahan mereka. Namun mereka selalu siap menyambut malam yang diisi dengan perbincangan menggairahkan dan segelas anggur lezat!

Begitu katanya.
Mungkin beberapa hal ada yang salah, karena diantara tipikal 2 pilihan yang diajukan, saya merasa ada dalam keduanya. Namanya juga punya orangtua lengkap *alhamdulillah*, tentu saja ada beberapa kebiasaan yang saya tiru dari kedua orang yang berkarakter beda itu kan?
Kalau kalian juga pingin sekedar tahu, bisa coba tesnya di sini. Gratis! Dapatkan segera! *ah, abaikan 2 kalimat tanda seru ini*

Wednesday, March 27, 2013

Cilok Siomay (ngawur) a la Seadanya


Ceritanya hari Minggu kemarin saya ke Car Free Day-nya Kuningan. Tujuan sehatnya sih jalan pagi, tapi modus nakalnya ya jajan dooong :))
Sambil ngerjain chores dari mamah, yaitu ngambil barang di rumah sepupu, sambil jalan-jalan juga bareng keluarga Aa. Tak seperti CFD sebelum-sebelumnya, rute jalan kami kali ini seputaran stadion saja. Lebih dekat dari rumah -____-
Tapi kabar gembiranya, kami nemu cilok spesial... tadam pararam-pam ♥ ♪ ♫

Sebetulnya cilok itu dimana-mana, hanya saja rasanya ya begitu-gitu aja, kadang malah ga panas... itu kan tidak nikmat, Mang!
Yah... singkatnya, cilok kali ini agak beda sama yang ada di pasaran (tingkat Kuningan lho ya).
Pilihan isinya ada gajih (lemak) sama ayam.

Well, serasa bertahun-tahun ga makan cilok, terbitlah minat saya untuk bisa bikin sendiri camilan yang satu ini. Berbekal gugel dan antek-anteknya, saya nemu resep simpelnya di resepmasakantradisional.

Kira-kira beginilah resep cilok dan siomay versi saya...

Bahan:
- 1 cangkir tepung terigu
- 1 cangkir tepung kanji
- 2 siung bawang putih, ulek
- merica secukupnya
- penyedap rasa (kalau kalian anti MSG pake aja garam+gula)
- daun bawang, iris tipis (bisa juga ditambah seledri)
- air panas secukupnya
Nah karena saya ngotot pingin pake kaldu tapi ga ada bahan, jadilah saya ambil 4 nugget ayam di kulkas. Maksa direbus, terus airnya dipakai sebagai kaldu deh. Nuggetnya dipotong-potong kecil buat jadi isi cilok ceritanya *namanya juga resep ngawur*
- isi/campurannya bisa pakai abon, ikan, udang, ayam, gajih atau bahkan keju

Caranya:
- Campurkan semua tepung, bawang putih, merica, bumbu, dan daun bawang
- Tambahkan air kaldu sedikit demi sedikit ke dalam campuran
- Uleni dengan sendok kayu atau tangan (kalau kebal panas) hingga terasa kalis (bisa dibentuk)
- Bila telah kalis, bentuk adonan menjadi bulat-bulat dan isi dengan bahan yang telah disediakan
- Masukkan adonan yang telah dibentuk ke dalam panci berisi air
- Rebus cilok sampai mengapung di air
- Angkat, lalu kukus sampai matang

Masih dengan adonan yang sama, saya kurang telaten kalau kudu membulat-bulatkan dan mengisi adonan satu per satu. Jadilah saya pingin seperti nge-siomay kayak dim sum. Apalah daya ternyata di kotaku yang kecil ini saya agak sulit menemukan kulit pangsit. Muter otak gimana cara yg praktis, akhirnya saya pakai kubis aja sebagai pengganti kulit pangsit deh :D

Tuesday, March 19, 2013

Kangen Indonesia (2012)

Penulis: Hisanori Kato
Penerjemah: Ucu Fadhilah
Penerbit Buku Kompas


Indonesia sebagai kepulauan yg punya banyak budaya tentu saja seperti jelajah dunia. Kita keluar negara, maka akan jumpa dengan orang asing berbicara dengan bahasa yg tak dimengerti, pun kebiasaan yg tak pernah kita jumpai di negeri sendiri. Tapi ... sekali lagi, ini Indonesia. Anda bepergian ke perbatasan atau ke lain pulau, bisa dipastikan Anda menemui 'orang asing' dengan bahasa berbeda.

Saya ini Sunda tulen rumahan. Pertama kali saya menginjakkan kaki di Jogja untuk melanjutkan studi, rasanya berada di luar negeri, katakanlah itu saya batasi dari segi bahasa. Tak bisa saya jumpai orang berbahasa Sunda! Geli-geli romantik kalau ingat kembali.
Akibat rumahan itu, saya sering mengalami xenophobia. Secara tak langsung, tulisan Pak Hisanori Kato rasanya membikin saya jadi ingin lebih bisa membuka diri terhadap orang asing.

Saya pikir orang Indonesia yang bisa berinteraksi dengan orang asing tanpa rasa takut atau malu itulah yang disebut manusia internasional yang baik. (10)

Agaknya kurang tepat bahwa penulis menjadikan bukunya sebagai 'Kangen Indonesia', karena yang saya baca kebanyakan kehidupan di Jakarta. Hebat, beliau sangat tertarik orang-orang pribumi sehingga betah berlama-lama di kota yg konon banyak bedebahnya itu ya...
Kadang saya heran kenapa beliau tidak mencoba keluar dari Jakarta? Saya kira 'kenalan' dengan Indonesia-nya akan lebih beragam kan?
Sejauh yang saya baca, beliau mungkin tertarik.... dan masih akan sangat tertarik pada kehidupan ibukota. Menurutnya, ibukota Indonesia itu sangatlah 'luar negeri'... hahaha bisa aja si bapak...

Beliau tak berpikir akan makan masakan Jepang menggunakan tangan, tetapi pasti akan melakukannya ketika memesan makanan di RM Padang. Hal nomor satu yang dibahasnya adalah mengenai pemakaian kata "Tak apa-apa" ketika bagi beliau, kondisinya sebetulnya akan sangat 'apa-apa' jika dibandingkan dengan orang Jepang, terutama kaitannya dengan waktu.
Kalau dipikir-pikir, teman-teman saya yang baik juga banyak sekali yang sangat pemaaf... misalkan dalam memenuhi janji, seringkali ada orang yang gemar (bahkan sengaja) memepetkan waktunya untuk datang ke TKP. Itu hal lumrah, dan sudah terjadi, mau apa lagi selain:
 "Gak papa..." <--- sambil pasang muka asem.
Parah-parahnya palingan pergi melengos tanpa sepatah katapun. Tapi kalau dia yg terlambat sudah mengejar dan minta maaf, bisa dipastikan jawabannya "Gakpapa" juga... :))

Tuesday, February 19, 2013

Love Journey: Ada Cinta di Tiap Perjalanan (2012)

Tak cuma ilmu yang bisa kaudapat saat jengkal-jengkal kakimu melangkah keluar dari zona kuasamu. Tak juga melulu suvenir manis saat kau tiba di sebuah tempat asing. Jauh dari semua itu, kau bisa temukan butiran pesan cinta dariNya.
Maka bertamulah dan kenalkan dirimu pada keajaiban-keajaiban yg diciptaNya. Tajamkan indera-inderamu pada tadabbur Yang Maha Indah. Tatap varian warna bumi di balik lensa matamu sendiri. Lakukanlah perjalanan, dan lihatlah dunia!

Begitu quote yang saya buat ketika Mbak Rien mengadakan lomba kecil-kecilan. Alhamdulillah saya senang bisa jadi salah satu yang memenangkan buku Love Journey ini secara cuma-cuma. 

Buku yang merupakan sejarah bagi para kontributor di dalamnya ini merupakan bintang empat saya dalam menemukan gaya baru soal bagaimana mereka bertemu 'cinta' dalam sebuah perjalanan yang berkesan. 

Jadi begini, awalnya saya mengira bahwa ini mungkin bakal semacam buku guide tentang apa yang dibutuhkan dalam perjalanan, sebaiknya apa yg dilakukan maupun ke-khas-an apa yg ditemukan di sepanjang perjalanan mereka masing-masing itu. Tapi begitu saya baca ... saya bertemu 'kenalan' baru. 

Dimulakan dengan perjalanan seorang pendaki yang kemudian bertemu dengan belahan jiwanya di alam Ciremai *wah, kampung halaman saya memang penuh cinta :p*. Hal serupa juga diceritakan dalam Cinta di Gerbong Kereta, Honeymoon ala Backpacker, It's A Long Journey, dan Cinta Bujursangkar.
Lalu ada juga beberapa cerita perjalanan di alam seperti dalam Malinau nan Memukau, juga 'guide' lengkap ala Mbak Rien dalam Menaklukkan Rasa Takut di Dasar Laut Pulau Dewata. Wah, kelak kalau saya ada kesempatan seperti beliau-beliau ini pasti terbantu sekali sudah baca deskripsinya di buku ini :D
Lain halnya dengan kisah bu dokter dalam Selamat Tinggal Gaza Sang Cinta. Percayalah, saya menitikkan air mata membacanya *buka kartu*. Terus lagi kisah deja vu-nya Om Yasdi bertemu belahan hatinya, kecintaan seorang ibu pada anaknya dalam Kain Gendongan Batik Sebagai Saksi Cinta dan, kecintaan akan ilmu berkomunikasi ala Mbak Yudith Febiola, cinta anak pada ibunya seperti tersaji oleh cerita Mbak Ulil Lala, cinta seorang bocah pada Oom yang bahkan baru dikenalnya, hingga kecintaan pada kendaraan umum seperti pete-pete ala Mbak Pia. Juga patah hati!

Ada juga kecintaan negeri bersama Mbak Helene dan Mas Fatah ... membikin saya makin ingin berkelana di negeri sendiri.


Cinta itu beraneka wujud.
Ada semacam perasaan tak terungkap saat sedang bertatapan langsung dengan alam. Mungkin suatu hari nanti ketika saya menemukan keindahan alam lain, saya cukup mengarsipkannya sendiri. Terus terang saya sangat tersentil dengan beberapa cerita dari buku ini. Saya ingin menjaganya juga. Dan beruntung itu adalah ... saya lahir di negeri yang alamnya meruah seperti Indonesia.
Perjalanan itu sendiri semacam fitrah manusia mengarungi hidup. Bukan melulu soal melangkahkan kaki dari titik satu ke titik lain, tetapi juga bagaimana manusia menemui berbagai setting dalam sekian waktu.

4 stars! :D

 
Powered by Blogger.