Monday, November 25, 2013

Let's Visit Beach(es)

Balikpapan merupakan gerbang utama pulau Kalimantan. Kota yang berada di pulau terbesar di Indonesia ini berada di sepanjang perairan selat Makassar, makanya gak heran tiap saya berkunjung ke mertua di Balikpapan Tengah biasanya minta lewat pantai sekaligus pelabuhan Semayang, karena dulu memang jarang sekali saya bisa sengaja nge-pantai :D

Ngobrolin soal pantai, selama kurang lebih 5 bulan di sini saya sering diajak kencan suami. Murah meriah sekaligus romantis ya ke pantai. Dibilang murah karena hanya mengeluarkan kocek untuk parkir kalau ada tukang parkir, meriah karena banyak orang yg berkunjung sekaligus berjualan jajanan, dan romantis karena ... kami berduaan saja disana *eaaaa

Pasir putih, nyiur melambai, senja yang sendu ...


Terimakasih ... 
Engkau hadirkan ia untukku,
menjadikan kami berpadu

Terimakasih ...
telah memberi segala indera perasa,
Kau luluhkan hatiku untuknya,
menjadi rindu yang tak kadaluarsa.

Ya Rabb, I love the man standing next to me ...

 
pantai Kemala-Banua
 
Klandasan





 


  


 





Wednesday, November 20, 2013

Baronang Goreng

Beli bahan mentah di pasar ikan, dipilihlah ikan Baronang. Kemarin-kemarin sudah mau beli tapi gak dapet terus, tapi kali ini kami dapat Baronang hampir 2 kg (kira-kira 11 ekor). Sudah waswas habis berapa duit karena konon itu termasuk ikan mahal buat dijadikan lauk. Alhamdulillah malah cukup murah, sebanding dengan 1 kg udang malahan. Kami beli 80 ribu rupiah aja, yaaayy~

Dimasak dengan lumuran bumbu halus bawang merah-putih, kunyit, jahe, garam, dan merica, lalu digoreng 10-12 menitan dengan api kecil di setiap sisinya, jadilah ikan gosong garing yg enak. Sajikan dengan balado terong-kentang pedas. Tandaslah itu makanan~
Dengan pengetahuan alakadar seperti biasa, berhasil juga saya menyenangkan perut suami sehingga hasil masakannya aja difoto setelah kami makan sebagian :))


Wednesday, November 6, 2013

Seblak: Pasta Pengganti Mi Instan

Dulu sebelum saya menikah, adek saya Ati yang kuliah di Bandung pernah beberapa kali membuat seblak. Itu katanya cemilan asal Bandung, wah saya saja bahkan baru dengar namanya -_-
Buat saya ini jenis cemilan 'agak berat' karena cukup mengenyangkan perut. Tapi sekarang pengalaman kemarin lumayan berharga karena kalau sedan tak punya bahan makanan dan belum belanja, memasak seblak saja sudah cukup :D
Kalau suami tahu biasanya saya kena marah, soalnya dia lebih suka kalau saya makan masakan yang lebih bergizi dari sekedar karbo saja (iya kan, kerupuk dan pasta-pastaan termasuk karbohidrat?). Jadi masak beginian cukup untuk sesekali saja ya.
Dulu pernah juga saya dan Ati masak seblak berdua dengan tambahan brokoli. Dan hasilnya lumayan, saya suka makan brokoli dengan lelehan kuah seblak di sana :9
Nah kali ini karena bahan yang ada cuma bahan dasarnya aja, yuk sama-sama simak resep simpel ini ;)

Bahan:
- kerupuk (selain kerupuk udang) mentah
- makaroni (boleh juga diganti dengan spageti atau bahan pasta lainnya)
- bon cabe secukupnya sesuai selera (saya pake bon cabe level 10)
- sedikit merica
- 1 siung bawang putih, iris
- garam
- 1 butir telur

Cara:
- Siapkan mangkuk berisi air panas, masukkan kerupuk dan makaroni mentah, diamkan selama sekitar 5 menit
- Sementara itu, panaskan sedikit minyak, tumis bawang putih sampai harum
- Goreng telur orak-arik
- Masukkan semangkuk air panas yang telah diisi kerupuk dan makaroni mentah
- M asukkan merica, bon cabe dan garam
- Aduk-aduk, tunggu sampai air agak menyusut dan berubah kental
- Seblak siap disajikan

Buat yang mau pakai sayur, masukin sayurnya belakangan yaa pas air seblak sudah agak menyusut. Ah ya, karena saya suka kuah, jadi saya tambah airnya. Ini juga soal suka-suka saja, aslinya seblak itu katanya tak ada kuah ... kalaupun ada ya cuma nyemek aja.
Gampang kaaan? Mau yang instan-instan gak perlu pakai MSG ya bikin semacam ini saja ... ;)

Monday, November 4, 2013

Balikpapan Culinary

Selama di sini saya diajak ke beberapa tempat icip-icip jajanan a la Balikpapan.
Awal-awal suami saya pernah ngajak ke dekat Klandasan untuk mencoba soto Makassar. Wuah, jenis soto yg lain daripada yang pernah saya makan sebelum-sebelumnya. Soto ini penuh rempah, dan bahan utamanya ialah daging sapi.

source
Kata suami, ketupatnya bisa ambil berapapun yang dimau secara gratis. Hahaha buat yang kelaperan boleh tuh ambil ketupat sebanyak-banyaknya :))

Lanjut ke Melawai, ini tempat mirip angkringannya Balikpapan, sebab ini dibuka dari sore hingga hampir tengah malam. Menu-menunya beragam, ada sate, aneka minuman, salome maupun pempek ada. Yang khas di sini adalah pisang gapit. Jadi ini pisang goreng yang dibakar dengan alat penjepit (halah, gaktau namanya). Hm, kalau di Jawa mungkin disebut penyet kali ya, sebab gapit dalam bahasa Banjar artinya jepit. Kebetulan beberapa kali saya diajak main ke sini dan berkesempatan mencicipi menu khas Samarinda ini, beginilah sosok pisang gapitnya:

pisang gapit Melawai
Kayaknya biasa, tapi rasanya khas. Setelah googling, bumbunya itu ternyata pakai kuah santan gula merah, pake pandan juga biar wangi.

Selanjutnya, saya tanya-tanya soal kuliner sini, sepertinya kaya sekali soal seafoodnya. Itu karena awal-awal saya masak daging tidak berinteraksi dengan ayam, tapi dengan udang. Berlanjut ke ikan, barulah menuju ayam *duhai amatirnya kamu, Nak :))
Salah satu favorit saya ketika memikirkan ikan adalah ... olahan ikan tengiri. Familiar dengan pempek yang beberapa waktu lalu pernah saya buat, dan hasilnya jauh dari memenuhi syarat, jadi kepingin juga dimana saya bisa jajan pempek di sini? Maka suami pun mencarikannya untuk saya. Yang mengejutkan, dia ternyata juga kurang begitu tahu dimana pempek yang enak bisa ditemukan di sini. Tapi berhubung di dekat rumah mertua ada toko dengan baliho besar pempek, jadilah kami icip ke sana. Sekali pesan, kami beli beberapa porsi, sampai saya sisakan sedikit karena perut sudah tak muat lagi menampung makanan. Pempeknya enak, hanya rasanya masih belum puas karena belum the best menurut saya.
Ah maaf saya tidak foto, karena memang ga kepikiran juga. Yang pasti saya mau nyari lagi, mungkin juga tempat rekomendasi tante kami bisa dijadikan tujuan selanjutnya.
Ya A? Ayo ke sana kapan-kapan! *ngomong sama poto

Nah, berhubung Balikpapan merupakan kota transit yang mayoritasnya orang-orang pendatang, jadi di sini punya segala macam hidangan tapi tak punya masakan/makanan khas. Awal-awal saya menginjakkan kaki di sini, suami mengajak saya ke bakwan Bintang. Pikiran pertama yang melintas di kepala saya adalah gorengan perkedel yang biasa disebut juga bakwan sewaktu saya di Jogja dulu. Jeng-jeng ... yang dimaksud bakwan itu ternyata bakso Malang :))
Sebetulnya saya kurang suka bakso urat karena suka nyelip di gigi. Rasanya enak, bakso uratnya juga saya suka, sebab termasuk lembut kalau digigit.

Satu hal yang gampang diingat dari ayah mertua adalah gemar makan nasi goreng terasi. Awal-awal saya masak sepertinya berbeda dari nasgor yang biasa beliau makan, tapi karena kepingin saya bikinkanlah itu. Tapi bila sedang bosan makan masakan rumahan, pastilah kami akan belikan di Iga Bakar Mas Giri, pesanan nasi goreng iga dan tongseng iga jadi menu wajib buat ayah :)

source
Meski sedang banyak keluarga berdatangan selepas acara ngunduh mantu kemarin, saya dan suami sempat-sempatnya pergi keliaran lewat jam 8 dengan mengajak adik ipar dan sepupu :D
Bukan apa-apa, kami sempat belanja keperluan sebentar, kemudian keluyuran (lagi) ke daerah Sudirman untuk menyantap semangkuk bakso. No pic doesn't mean this' a hoax, I didn't take a pic cuz it was dark for taking photo from my cam. Lagian saya googling juga gak nemu ... :D
Yang pasti daerah sini juga mirip di Melawai, jajanannya tersedia di banyak penjual dengan gerobak-gerobaknya, hanya saja viewnya tidak di pinggir pantai.

Masih di acara ngunduh mantu, suami memang berencana membeli beberapa porsi kepiting. Kapan lagi bisa icip-icip, Neng, begitu katanya. Pilihan jatuh ke kepiting Kenari (namanya resto Kenari jadi namanya juga gitu), padahal kepiting Dandito itu letaknya lebih dekat dengan rumah kami.
Lebih enak kepiting lada hitamnya di sana menurutku, gitu alasan suami. Berhubung saya juga belum pernah makan kepiting di sini, jadilah kami belikan 3 porsi. Tadaaa ...


Terakhir saya tanya-tanya (maaf saya bawel), adalah takoyaki. Sangat disayangkan adik saya yang menanti-nanti menu ini terpaksa tak bisa nyicip karena waktu berkumpul itu kami belum tahu tempat masakan Jepang berada. Aslinya ada di sebuah mall kalau tak salah, tapi menunya kurang meyakinkan akan keberadaan takoyaki :D
Setelah muter-muter, alhamdulillah nemu di area jajanan di daerah Gunung Pasir. Lokasi bagus karena banyak lembaga pendidikan di sini. Banyak meraup uang jajan para pelajar tuh, kikiki ...

source
Isinya tak ada gurita, sayang sekali. Tapi bisa menemukan cemilan setengah berat ini senangnya udah hebring. Sekalian lihat penjualnya beraksi, saya ikut mengamati cara pembuatannya. Hohoho, kalau dilihat-lihat sepertinya simpel ... kapan-kapan saya coba bikin ah, dengan isi keju ataupun udang juga bisa :D

Pernah juga saya diajak makan di luar pagi-pagi. Ngapain? Sarapan bubur ayam!
Buburnya pakai kuah, sekilas mirip sop (apa soto ya...). Ditambahi jeroan (saya gak pake) dan telur rebus. Saya pikir bubur doang gak bakal kenyang. Ow ow saya salah kira.
Bubur Samarinda ini disajikan dengan mangkuk besar, mungkin mirip-mirip mangkuk ramen. Hadeh, saya jadi cuma minum sedikit air setelah makan, karena memang tak muat lagi :))

source
Dan cemilan terakhir yang sering banget ditemui di sini: salome. Jajanan ini paling gampang ditemukan, gak beda jauh kayak cilok/cireng di pulau Jawa lah, karena memang sekilas penganan ini kembar identik :))
Bedanya, 1 plastik cilok hanya punya 1 varietas, sementara salome punya tahu sebagai pencampurnya. Isinya pun beda, salome ini biasanya berisi potongan telur rebus, dan kulit salome ini lebih kenyal dari cilok.
Karena saya suka jajanan semacam ini, jadilah saya suka beli kalau ada kesempatan. Kebetulan juga saya nemu 'varian' lainnya di pasar Klandasan, yaitu salome goreng. Tidak ada isinya, rasanya mirip bakso goreng dan lebih enak dikunyah. Sepertinya cuma di sini saya nemu, entah kalau tempat lain.
salome banyak ditemui di Lapangan Merdeka

Begitulah sekilas (apaaa sekilas kok banyak bener?) jajanan saya selama di kota orang. Saya cuma sempat memoto beberapa saja, karena memang tidak bisa selalu candid dan spontanitas. Kapan-kapan saja semoga saya bisa ceritakan lagi soal kota ini, tak lupa dengan jepretannya juga tentu.

Selamat pagi, selamat beraktifitas teman-teman :)

Hujan setengah sebelas, Gunung Bakaran.

Sunday, November 3, 2013

Ayam Kecap Mentega

Welcome home, myself! :D
Setelah seminggu kemarin nginep di rumah mertua karena ayah lagi dinas ke luar pulau, sekarang kembali beraktifitas mandiri di rumah. Sabtu sudah saya isi dengan bebersih halaman yang udah kotor kena debu bekas semalam. Jadi hari Minggu ini saya mulai coba masak ayam sisa di freezer, berhubung belum belanja lagi ke pasar ikan.
Sekalian bikin kaldu-kalduan, jadi itu ayam saya rebus semua sampe empuk, pakai bumbu bawang putih sama lada hitam, di sini nih saya bacanya. Hahaha, jadilah kaldu yang kurang sempurna karena tulang ayamnya juga tidak banyak :))
Setelah iseng bikin kaldu, saya lanjut memasak dengan bahan-bahan seadanya, yuk lihat...

Sisa ayamnya keburu dimakan :))

Bahan:
3-4 potong daging ayam ukuran sedang (bukan seekor ayam ya), matangkan (kalo saya mah yg direbus tadi)
1 buah bawang bombay kecil, iris
2 siung bawang putih, iris
1 ruas jahe, geprek
4 buah cabe rawit (optional)
2 sdm mentega
Air kaldu secukupnya (sesuai selera)

Campuran bumbu:
1/2 sdt kecap inggris
2 sdm kecap manis
5 sdm susu cair
1 sdt bubuk lada hitam
1 sdt saus teriyaki
1/2 sdt air asem
Gula-garam secukupnya

Cara:
- Tumis bawang putih, bombay, cabe dan jahe hingga layu dan harum
- Masukkan ayam dan air kaldu, dan masukkan campuran bumbu
- Aduk-aduk hingga merata, lalu sajikan

Hasilnyaaa.... hmm, gak buruk juga :9

Udang Saus Tomat

Mmm... sudaah pernah saya bahas jauuuh sebelumnya dalam sebuah notes pendek, dengan tegas saya tidak suka dengan saus tomat. Tapi pikiran seperti itu tidak lagi boleh ada di otak, begitu tegur saya. Ke depan-depannya nanti bakal ada yang harus saya perhatikan (anak maksudnya), tentu saja karena meski masih 1 keturunan bukan berarti selera dan cita rasa akan sama seperti orangtuanya. Jadi perempuan musti banyak bisa masak macem-macem kan biar gak bosen :)
Pekan lalu ayah mertua saya belanja udang besar. Kebetulan dimasak separuh, separuh lagi baru saya garap kemarin gegara ibu belum belanja. Jadilah saya coba bikin sesuai resep kemarin, he he .. *nyari simpel


Bahan:
4 buah udang besar
4 siung bawang merah, iris
5 siung bawang putih, iris
1 buah bawang bombay kecil, iris
1 buah tomat kecil, potong
1 ruas jempol jahe, geprek
saos tomat secukupnya
air secukupnya (jangan terlalu banyak yaa)
10 cabe rawit (karena ayah suka pedas)
gula-garam secukupnya

Cara:
- Tumis bawang merah, putih dan bombay beserta jahe, tomat dan cabe sampai harum dan layu
- Masukkan air, gula-garam dan udang
- Bolak-balik udang hingga cangkangnya berwarna kemerahan
- Masukkan saus tomat secukupnya, tutup hingga agak menyusut
- Udang saus tomat siap dihidangkan

Wednesday, October 30, 2013

Sop Sayur Bening

Sebagian mungkin heran kenapa saya bikin tulisan resep sop sayur. Sop gitu loh, kan gampang ... kenapa juga pake ditulis resep segala? Huehue, buat seorang pemula, ini jenis masakan yang paling wajib dipelajari. Karena ya itu tadi, bikinnya aja gampang ... segampang bikin mi instan :D

Sejak saya ikut suami, otomatis intensitas bertemu dengan mertua jadi sering. Apalagi pas harus menginap di rumah beliau, tentu saya mengikutkan diri dalam aktifitas sehari-harinya terutama memasak. 
Nyiapin masakan sendiri bisa dibilang mampu dan enak di lidah, tapi untuk masakin orang serumah? Saya belum pernah, terutama karena minder soal selera di lidah sendiri dengan orang lain pastilah berbeda. 
Meski begitu, sudah nikah gini masa iya mindernya dipelihara? Gak masak-masak buat suami dong :D
Dulu masakan pertama saya di rumah mertua adalah bayam merah. Dasar tumpul, karena sebelumnya jarang masak-masak, jadilah itu bayam laku hanya separuh dan sisanya saya gado (x__x')

Berangkat dari rasa ingin dipantaskan sebagai koki rumah, saya titeni segala kebiasaan memasak para anggota rumah mertua. Semuanya pada jago masak, termasuk mertua dan suami lho. Tapi karena naluri masak suami jarang keluar, lebih baik saya titeni adik ipar ataupun ibu mertua saja. 
Dan begini khasnya keluarga suami, masakan sini biasanya simpel, tapi kaya akan rempah. Dulu mana saya paham rempah A ketemu sop sama dengan enak, atau rempah C ketemu oseng sama dengan huek. 

Yuk langsung aja simak resepnya :D
*sop di sini ga selengkap bahan sop seperti pada umumnya, karena saya memanfaatkan bahan yang ada saja

Bahan:
1 buah wortel ukuran sedang, potong-potong
1 buah kentang, potong-potong
8-10 buah buncis (yg agak besar)
*selebihnya bisa tambahin sendiri*
4 siung bawang merah, iris
3 siung bawang putih, iris
1/2 tomat kecil
Daun bawang secukupnya, iris tipis

Bumbu:
Merica *sesuai selera pedas masing2
1/2 pala, iris-iris (bisa dikurangi biar ga terlalu kentara baunya)
3/4 ruas kelingking jahe, geprek (optional)
Gula dan garam secukupnya

Cara:
- Didihkan air dalam panci
- Masukkan pala, jahe, tomat, kentang, wortel ke air mendidih
- Sementara itu, goreng bawang merah dan putih hingga harum, sisihkan
- Setelah wortel-kentang cukup matang, masukkan buncis, gula, garam dan merica
- Masukkan daun bawang, matikan api, masukkan goreng bawang, tutup panci
Sajikan selagi panas bersama sambel dan ikan asin *kriuuuk

Porsi semangkuk biasa, bisa untuk 2-3 orang tergantung porsi perut :))

[Writing Challenge] Short Autobiography

Bismillahirrahmaanir rahiim ...

Hai.
Seorang wanita kelahiran Juli baru saja menikah dengan pria asal Balikpapan pada 6 Juli 2013 lalu. Hobinya yang dulu mengoprek padanan kalimat bahasa Inggris kini merambah ke dunia memasak. Berbekal pengetahuan seadanya perihal memasak membuatnya ingin lebih banyak belajar aneka hidangan, terutama karena ingin menyenangkan hati suami dengan cita rasa masakan sang istri.
Dunia menulis sudah ia senangi sejak remaja. Saat ini belum ada karya lagi selain 2 buku antologinya di Mozaik Indie dan Boneka Lilin. Namun demikian, ia masih punya cita-cita untuk berkarya di dunia kepenulisan. Ssst ... terlepas itu semua, pemilik panggilan Neng ini tengah berharap karunia Illahi, yaitu segera diamanahi buah hati. Doakan saja ya ;)
Itulah sekilas tentang saya, cukup singkat walau saya tidak yakin ini sebuah autobiografi yang benar. Jadi tolong koreksiannya, semoga 'latihan' menulis seperti ini membikin saya semangat lagi menelurkan ide-ide untuk ditulis ke area yang lebih luas di kemudian hari.

*rasanya aneh pake gaya menulis gini, kaku amat ya? -___-

Sunday, October 27, 2013

Writing Challenge

'Tugas' berantai semacam begini sebelumnya pernah saya coba ikuti dalam tag medraw, meski sekedar oret-oretan tiada guna, paling enggak blog saya terisi, hahaha.... *jumawa
Jadi saya pingin kembali aktif nulis lah. Kalau sekiranya karya masih mandeg, paling tidak challenge seperti ini maksain diri sendiri agar kembali menulis buat ngasah-ngasah otak biar pinter bikin kalimat :D

Kali ini begini instruksinya:


14 tulisan saja, semoga bisa dikerjakan dalam 2 minggu. Sehari 1 tulisan bukan hal berat kaaan...
Bismillah...

Friday, October 25, 2013

Banua Patra: Second Party

Dandan tebal itu cuma sekali seumur hidup, hanya saat pernikahanmu!

Nyatanya kalimat itu tidak berlaku bagi saya. Setelah melepas lajang Juli lalu saya tak langsung ikut suami ke Kalimantan, saya menikmati kebersamaan Ramadhan bersama keluarga besar di Kuningan. Jadilah selama long distance itu saya dan suami bertelepon-teleponan ria sama seperti komunikasi sebelumnya. 

Pada pertengahan Agustus 2013, suami saya datang menjemput. Tibalah saat-saat harus berpamitan dengan keluarga tercinta. Saatnya harus memulai hidup mandiri, saat-saat genting harus bisa melakukan sesuatu yang di luar kebiasaan, juga tentu saja belajar berumahtangga dari nol.
Kesemuanya tak secara langsung dilepas, karena saatnya saya 'berkenalan' dengan keluarga suami, maka mertua sayalah yang kini mengawasi dan menasihati kami yang masih hijau dalam berumahtangga. Rasanya bersyukur juga pernah ngekos jauh dari rumah, setidaknya ada satu-dua hal yang mirip dengan anak kos, terlebih kami belum dikaruniai anak. Tapi saya takkan bahas itu sekarang, karena bakal gak nyambung sama judulnya :D

Bagi saya yang seorang introvert tapi pecicilan pingin tahu kerak globe dunia, xenophobia itu melekat erat meski sudah banyak tahun dilewati di luar kota kelahiran seorang diri. Begitu halnya sebagai anggota baru keluarga suami, saya gak mangkir kalau awal-awal merasa sangat asing dengan situasi dan kondisi di sini. Tentu saja lain ngekos, lain berumahtangga.
Saya berusaha untuk berpikir tenang, bahwa segala sesuatu bisa diatasi asalkan mau belajar. Belajar juga meyakinkan hati, bahwa pergi jauh dari keluarga bukan berarti tak pernah ada lagi yang akan memperhatikan dan menyayangi. Justru di bumi Allah-lah semua keridhaan bisa dicari, bahkan dimanapun itu berada.
Jiaaah, malah jadi panjang pembukanya.. -_-

Jadwal hijrah saya jadi dipercepat beberapa hari di bulan Agustus tersebut. Padahal rencananya malah kemungkinan baru awal September suami bisa jemput.
Mengingat banyaknya keluarga mertua yang tak bisa menghadiri akad dan selamatan pernikahan kami di Kuningan, maka atas anjuran dan saran beberapa pihak, keluarga mertuapun mengadakan acara resepsi pada akhir bulan September di Balikpapan. Dalam bahasa kami, resepsi oleh pihak suami disebut sebagai Ngunduh Mantu.

Singkat cerita, acara tersebut diselenggarakan di Banua Patra, sebuah gedung milik Pertamina persis di pinggir pantai. Pagi-pagi saya, Mamah dan Ati cepat menuju rumah ibu mertua untuk dirias.
Seperti biasa, perias salonan selalu menginginkan riasannya lengkap agar tampak bagus saat difoto.
Menggunakan gaun manten harus pakai kerudung yang tak nutup dada? Yah ... oke, karena nantinya ada sedikit penutup dari gaun yang saya kenakan.
Menggunakan bulu mata palsu? Oke ... walau harus pakai atas-bawah. Dengan ini saya mohon maaf sebesar-besarnya pada Tante Syahrini beserta para fansnya, bahwa ini tidak dalam rangka meniru-niru Tante Syahrini dalam berdandan. Bahkan insyaallah hiasan ini jadi tampilan perdana dan terakhir kalinya dalam hidup saya.
Yang membikin saya mulai terusik, perias meminta izin agar saya mencukur alis. Aduh kayak ketek aja dicukur-cukur padahal tidak mengganggu sama sekali. Alis saya ini sebenarnya sudah tampak terbentuk sendiri dari lahir dan memang sudah seupil tipis begitu adanya. Karena tak mau terlalu ngoyo akan bagusnya sebuah dandanan, lebih baik katakan tidak sebelum alis tambah setipis benang :|
Saya tetap saja tak bisa berperilaku anggun demi mendapatkan foto cantik yang manis. Tapi berkat dekor dan riasan lembut sang perias, fotonya cukup memukau juga :))
Beberapa foto lain bisa dilihat di sini

foto bareng para adik :D

 
Powered by Blogger.