Friday, October 25, 2013

Banua Patra: Second Party

Dandan tebal itu cuma sekali seumur hidup, hanya saat pernikahanmu!

Nyatanya kalimat itu tidak berlaku bagi saya. Setelah melepas lajang Juli lalu saya tak langsung ikut suami ke Kalimantan, saya menikmati kebersamaan Ramadhan bersama keluarga besar di Kuningan. Jadilah selama long distance itu saya dan suami bertelepon-teleponan ria sama seperti komunikasi sebelumnya. 

Pada pertengahan Agustus 2013, suami saya datang menjemput. Tibalah saat-saat harus berpamitan dengan keluarga tercinta. Saatnya harus memulai hidup mandiri, saat-saat genting harus bisa melakukan sesuatu yang di luar kebiasaan, juga tentu saja belajar berumahtangga dari nol.
Kesemuanya tak secara langsung dilepas, karena saatnya saya 'berkenalan' dengan keluarga suami, maka mertua sayalah yang kini mengawasi dan menasihati kami yang masih hijau dalam berumahtangga. Rasanya bersyukur juga pernah ngekos jauh dari rumah, setidaknya ada satu-dua hal yang mirip dengan anak kos, terlebih kami belum dikaruniai anak. Tapi saya takkan bahas itu sekarang, karena bakal gak nyambung sama judulnya :D

Bagi saya yang seorang introvert tapi pecicilan pingin tahu kerak globe dunia, xenophobia itu melekat erat meski sudah banyak tahun dilewati di luar kota kelahiran seorang diri. Begitu halnya sebagai anggota baru keluarga suami, saya gak mangkir kalau awal-awal merasa sangat asing dengan situasi dan kondisi di sini. Tentu saja lain ngekos, lain berumahtangga.
Saya berusaha untuk berpikir tenang, bahwa segala sesuatu bisa diatasi asalkan mau belajar. Belajar juga meyakinkan hati, bahwa pergi jauh dari keluarga bukan berarti tak pernah ada lagi yang akan memperhatikan dan menyayangi. Justru di bumi Allah-lah semua keridhaan bisa dicari, bahkan dimanapun itu berada.
Jiaaah, malah jadi panjang pembukanya.. -_-

Jadwal hijrah saya jadi dipercepat beberapa hari di bulan Agustus tersebut. Padahal rencananya malah kemungkinan baru awal September suami bisa jemput.
Mengingat banyaknya keluarga mertua yang tak bisa menghadiri akad dan selamatan pernikahan kami di Kuningan, maka atas anjuran dan saran beberapa pihak, keluarga mertuapun mengadakan acara resepsi pada akhir bulan September di Balikpapan. Dalam bahasa kami, resepsi oleh pihak suami disebut sebagai Ngunduh Mantu.

Singkat cerita, acara tersebut diselenggarakan di Banua Patra, sebuah gedung milik Pertamina persis di pinggir pantai. Pagi-pagi saya, Mamah dan Ati cepat menuju rumah ibu mertua untuk dirias.
Seperti biasa, perias salonan selalu menginginkan riasannya lengkap agar tampak bagus saat difoto.
Menggunakan gaun manten harus pakai kerudung yang tak nutup dada? Yah ... oke, karena nantinya ada sedikit penutup dari gaun yang saya kenakan.
Menggunakan bulu mata palsu? Oke ... walau harus pakai atas-bawah. Dengan ini saya mohon maaf sebesar-besarnya pada Tante Syahrini beserta para fansnya, bahwa ini tidak dalam rangka meniru-niru Tante Syahrini dalam berdandan. Bahkan insyaallah hiasan ini jadi tampilan perdana dan terakhir kalinya dalam hidup saya.
Yang membikin saya mulai terusik, perias meminta izin agar saya mencukur alis. Aduh kayak ketek aja dicukur-cukur padahal tidak mengganggu sama sekali. Alis saya ini sebenarnya sudah tampak terbentuk sendiri dari lahir dan memang sudah seupil tipis begitu adanya. Karena tak mau terlalu ngoyo akan bagusnya sebuah dandanan, lebih baik katakan tidak sebelum alis tambah setipis benang :|
Saya tetap saja tak bisa berperilaku anggun demi mendapatkan foto cantik yang manis. Tapi berkat dekor dan riasan lembut sang perias, fotonya cukup memukau juga :))
Beberapa foto lain bisa dilihat di sini

foto bareng para adik :D

Ditulis Oleh : Veraveravera Puritama // 9:58 PM
Kategori:

6 comments:

  1. saya juga paling anti dicukur alis, begitupun pas nikah, gak mauuuu.. biarin acak2an alisnya, daripada nampak aneh :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya teh, untung periasnya ga maksa walau ngotot juga :))

      Delete
  2. wah saya kelewatan nih dgn pestanya....
    Selamat menempuh hidup baru ya.... smg menjadi keluarga Sakinah, Mawaddah, Warahma.

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya ya, coba komen-komenannya dari kemarin :D

      Delete
  3. ve
    suamimu itu mirip ayahnya jibran
    jibran itu temen main khansa
    kekeke
    jadi aku taunya kan ayahnya jibran dulu ni
    pas liat foto vera nikah
    loh mirip
    hehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. oya? hahaha...
      iya kayaknya banyak yg bilang mirip orang lain...
      gakpapalah, wajah familiar kan dikenal banyak orang *tssaahh :)))

      Delete

 
Powered by Blogger.