Monday, October 29, 2012

ATM Er Rak Error (2012)



Rating: 2/5
Director: Mez Tharatorn
Starred: Chantavit Dhanasevi (Sua), Preechaya Pongthananikorn (Jib)



Beberapa kali nonton komedi Thailand hasilnya ga mengecewakan. Dulu-dulu sempat lihat review-an movie satu ini, cuma belum kesampaian dapetin filmnya. Review-reviewannya variatif, makanya mending saya masukkan ke list movie yang akan ditonton daripada merusak imajinasi *halah
Dulu saya nonton om Chantavit ini di Hello Stranger, jadi saya pikir bakal lucu lagi kalau nonton dia.

Movie_atm_errak_error-1Bank tempat Jib dan Sua bekerja punya peraturan bahwa sesama karyawan tidak diperbolehkan memiliki hubungan spesial dalam kantor. Jika ketahuan, salah satu dari mereka harus keluar dari Bank tersebut.
Dilema menghantui Jib, karena sebagai pimpinan yang terkenal tegas dalam peraturan Bank, ia sebenarnya tengah menjalin hubungan dengan Sua, rekan kerjanya sendiri.
 Di lain kasus, Bank tersebut tengah memasang sebuah ATM baru di sebuah tempat. Karena suatu kesalahan, ATM tersebut mengeluarkan sejumlah dobel dari uang yang diminta pelanggan. Berita tersebar cepat sehingga orang-orang berebut ingin mengambil uang dari ATM tersebut agar nominalnya berganda.
Dengan beberapa alasan dan taruhan, akhirnya Jib dan Sua mengusut kasus tersebut agar nominal kerugiannya bisa kembali dari para oknum.

 ***
Saya sengaja membuat sinopsis menggantung begitu, karena kalau dirunut kejadiannya bakal bikin saya senewen saking banyaknya~
Setidaknya ada sekitar 6 ‘kasus’ yang diceritakan dalam movie ini. Semuanya aneh dan bisa bikin perut sakit saking kebanyakan bingung tawa. Sekilas tampaknya tak nyambung sama kasus-kasus itu, tapi ternyata berkaitan.
 Poin pertama yang saya simpulkan adalah ... komedi yang satu ini absurd. Memunculkan ide-ide yang terlalu orisinil secara tiba-tiba, jadinya sangat-membikin kaget saking anehnya. Saya ternganga dan mengerutkan kening, tapi juga terpingkal-pingkal.
Poin keduanya adalah ... endingnya kali ini bisa ditebak. Uhmm .... satu hal yang biasanya agak sulit saya tebak di movie Thai itu ending. Kebanyakan movie sana yang saya tonton itu gantung-gantung gitu. Jadi kalian sendiri bisa ‘membuat’ sambungan cerita sesuai dengan imajinasimu walau beberapa orang tak suka pada ending semacam ini.Tapi tenang aja, ending movie ini bisa dibilang clear~

Secara keseluruhan, saya kurang bisa menikmati alurnya walau saya sangat-sangat menikmati komedi ala Thai di sini. Sangat berlebihan, iya. Memang begitu adanya kan kalau movie Thai udah main? Tapi yang satu ini benar-benar ... lebay dengan cara yang aneh~
Para pemainnya juga berakting baik, seperti drama-drama-komedi Thai lainnya yang biasa saya lihat. Kali ini kecepatan mereka dalam berbahasa juga lebih kentara, jadinya ga cuma logatnya yang lucu itu yang dipertimbangkan buat nonton pelem Thai... ===dikeplak===

Thursday, October 25, 2012

Puncak-nya Kuningan, Jawa Barat

"Ayo ikut ke Puncak!"
Nyaris bersorak saya dan teteh ipar saya mendengarnya. Bayangan pertama yg tergambar adalah pemandangan kebun teh dan hawanya yg menyegarkan.
"Ngapain kesana?"
"Liat sapi ..."
...
Deskripsi saya berputar sejenak, sedikit mencelos. Tak mungkin liat sapi sampai ke Puncak Bogor segala *ketawa dalam hati*, maka saya menebak Puncak yg dimaksud itu pastilah Cisantana, salah satu kecamatan di Kuningan yg terkenal sebagai penghasil susu sapi segar. Letaknya juga sekitaran Palutungan, dataran tingginya kota kecil kami, tentu.

Agak meleset, ternyata 'Puncak' itu terdapat di daerah Cileuleuy, daerah Cigugur.
Ipar saya yg bawa Ditdut jadi hoream (kuatir) keluar, mengingat cuaca terik di luar. Akhirnya kami tinggal di mobil, padahal sama-sama panas juga.
Belakangan saya bersyukur mereka tak ikut mantau sapi untuk sembelihan. Jalan yg kami lalui itu benar-benar membukit dan berkelok. Memang masih pemukiman, tapi medannya cocok untuk hiking :D

Sambil mendengar penjelasan 'juragan'nya,diam-diam 2 orang wirausahawan ini tergoda membeli bibit ternak. Apa tertarik ‘nanam modal’ untuk sapi jaguar sementara Aa tertarik pada bibit kambing.

Si penjual kemudian menjelaskan, katakanlah membeli bibit sapi 10 juta. Kemudian nanti ketika telah layak dijual, kita bisa menjualnya seharga 20 juta. 10 juta balik modal, sisanya adalah laba kotor. 
Untuk pemeliharaannya sendiri, kita bisa mempekerjakan orang merawat si ternak tersebut. Dan uang hasil keuntungannya dapat dibagi sekian persennya untuk peternak tersebut. Barulah sisa penjualan tadi bisa jadi laba bersihnya. Bibitnyapun tak selalu ambil dari luar daerah. Cukup petani lokal, malah bagus karena secara tak langsung itu berarti membantu usaha mereka juga. 

Berhubung pas turun dari mobil tadi kelupaan bawa kamera, jadilah cuma ini yg berhasil ditangkap kamera Nokia X2 saya :D

Tuesday, October 16, 2012

Songs for My W-Day

Iseng.
*atau kesurupan ya?*
Tapi cukup berharap benar-benar diiringkan ketika saya mengalaminya nanti :D

Berawal ketika becandaan soal masa depan dengan keluarga. Berhubung kami bersaudara sudah tak lagi umur anak-anak, maka wajar ketika celetukan yg menyangkut soal lawan jenis ditanyakan secara bebas. Sialnya karena saya anak perempuan paling tua, jadi sayalah yg sering kena tangkisan 2 biji adik saya itu.

Jadi kalau pertanyaan, "Mi, udah punya cowok belum?" atau "Mana nih pacarnya ... kenalin dong, Ti ..."
Maka jawaban Ati sama Mi bakal begini, "Ah, Teteh aja dulu~" atau "Ah, Teteh aja belom punya ..." 
Artinya, adik-adik saya itu beneran ngeliat contoh dari kakak-kakaknya. Kayak dulu kalau saya ditanya hal serupa, pastilah jawabannya, "Aa aja belum~"
Tapi agak beda kasus sih, kalau saya jawab gitu pasti diserbu, "Loooh ... kakakmu kan laki-laki, gak begitu masalah dong~ Dia mah tinggal milih aja ..." Terus biasanya cukup dijawab balik senyum cool ... *nasib beda setaun sama kakak semata wayang*



Ceritanya adik-adik saya suka nyanyi. Bahkan sebelum saya nginjek kamar karaokean, mereka udah nginjek duluan dan sepertinya ketagihan unjuk suara pakai mik. Agak becanda, saya bilang, "Wah ... nanti hiburan pas nikahanku mah kalian aja yg nyanyi, ya?"
"Boleh." Kikiki, mantaps dah ... ga usah keluar uang buat nyewa penyanyi segala ya~ #pelit#

Tapi akibat pernyataan itu juga, adek saya nganggep itu suatu hal yg penting. Jadinya kalau di mulai ngeluh pingin karaokean, mesti ditembak mati, "Teteh kapan atuh nikahnya? Aku pingin nyanyi."
...
*krik*

Makanya, isenglah saya bikin daftar lagu siang-siang gini :3

  1. You and Me - Lifehouse
  2. Darling I Do - Landon Pigg feat Lucy Schwartz
  3. Coba Katakan - Maliq & d'Essentials
  4. Dia - Maliq & d'Essentials
  5. I M U L - d'Cinnamons
  6. Kala Cinta Menggoda - Chrisye
  7. Dan Sekarang - GIGI
  8. Seribu Tahun Lamanya - Jikustik
  9. Dinda Dimana - Katon Bagaskara
  10. Pandangan Pertama - RAN
  11. Dia - Reza Artamevia
  12. My Love - Ten2Five
  13. Hanya Untukmu - Ten2Five
  14. Janji Suci - Yovie n Nuno
  15. Can't Take My Eyes Off You - Lauryn Hill
Mmm ...  aslinya banyaaak banget lagu cakep yg saya suka, cuma kalau dipikir-pikir ... genre musik saya kebanyakan itu swing yg otomatis ngeslow. Jadinya milih yg kira-kira ga bikin ngantuks dan ga mengubah kepuitisannya *ceileh

Kalau boleh diterusin nih ya ... entar nikahnya outdoor, resepsinya malam hari *kan otomatis tuh tamu yg dateng juga pada ngantuk, jadi gak lama-lama XD
Atau boleh juga akad di puncak Bromo ... hahaha, menggigil-gila tuh penghulu ... keburu beku~

Tapi keinginan terbesar saya sederhana saja. Berhubung tak suka berada di keramaian lama-lama (apalagi kalau penganten kan gak bisa makan semaunya), jadi kantor KUA buat sekedar ijab-qobul sepertinya sudah bisa sah. Resepsi cukup berbagi berkat untuk sekedar selamatan, selesai. Biaya resepsinya biar jadi tabungan haji sama suami *lebih manis kan?
Ngg ... terus lagunya ... dinyanyiin di kantor KUA? Wakakaka ...

Yaks, sepertinya gitu doang ...
Mungkin saya tinggal ngasih catatan gakpenting ini ke adek saya biar dihapalin semua itu liriknya~

Well, ada yg mau ganti/nambahin? :3




Kuningan bergeledek, 16 Oktober 2012

Friday, October 12, 2012

Islamic Center on Progress

Ada waktu selepas Ashar, ada saudara dari Jalaksana datang.
Setelah beli brokoli pesanan Mamah, keluarga kecil Aa dan saya tetap memutuskan untuk jalan-jalan sore seputaran Kuningan.

Bingung mau kemana, sebenarnya saya cuma pingin menggerakkan kaki saja. Rasanya tak banyak membantu walau di rumah ngider sana-sini. Boro-boro jalan kaki, yang ada naik kendaraan :))
Tak apalah, yang penting akhirnya saya tahu Islamic Center-nya Kuningan sekarang.

 Maketnya gak dipoto *lupa*
Yg pasti luas, di sekelilingnya masih berasa sabana kering. Mungkin karena sudah beberapa bulan hujan belum rajin mampir, dan keadaan sekitarnya juga masih sepi, terutama karena belum ada akses kendaraan umum dan jauh dari pemukiman.

Lantai bawah tak saya poto karena sedang ada acara (kecuali tampak luarnya)~
Di dalam lantai atasnya kira-kira begini:


Setelah itu, kami ngueng ke TK (Taman Kota).
Beli martabak deket sana, terus pulang *ini jurnal suka-suka amat ya*












Kuningan, 12 Oktober 2012


 

Wednesday, October 10, 2012

Be My Lady


Masih lembur ngerjain sesuatu sambil JetAudio-an ... well 'dihantam' lagu ini.
Saya jadi inget kenangan di Bandung.
Seseorang dengan gitar lusuh menyanyikan lagu ini.
Awalnya para mojang tak menghiraukan, pun saat petikan awal dimainkan.
Tapi saat dia mulai menyanyikannya ...
Indah.
Hati mana yang tak berdesir?



Bandung dalam kenangan, 10 Oktober 2012

*Pada seorang pengamen bersuara lembut:
You sang pretty handsome, Man ... but sorry I just had a thousand for you~
Someday we'll meet again then I'll give you more.
This might be so exaggerated.
But I do appreciate your voice.

Thursday, October 4, 2012

Satu Judul



Kini aku tahu mengapa,
gilanya merindui buku tua yang keriput ...
daripada berlipat jurnal dalam arsip digital ...

Saturday, September 29, 2012

Homemade Pepes Jamur

Akhirnya ... dapat juga kesempatan bebas praktik nge-pepes jamur. Mamah beli 4 plastik kiloan jamur tiram, berhubung sebagian pingin percobaan tambah ini-itu, saya pakai 2 plastik untuk dipepes murni jamur.

Photo4286

Bahan dan Bumbu:

Daun pisang, bersihkan bagian dalamnya, sobek secukupnya untuk wadah pepes

2 plastik jamur tiram, suwir-suwir, cuci

6 cabe sesuai selera (merah campur rawit), iris kasar (ga usah tipis)

6 siung bawang merah, iris kasar

4 siung bawang putih, iris kasar

1 batang serai, potong jadi 6-7 bagian dan keprek (atau potong kasar aja)

5-6 daun salam

Garam (dan gula, tergantung selera)

 

Cara membuat:

1. Campurkan semua bahan kecuali daun salam ke dalam 1 wadah, aduk-aduk

2. Ambil daun pisang, selembar daun salam, lalu tumpuk dengan bahan jamur tadi

3. Karena mengandung air dan saya kuatir bumbunya kurang meresap, taburi lagi dengan garam secukupnya

4. Bungkus, lalu kukus selama kira-kira 15 menit (sampai harum)

Cukup buat 6-7 bungkus pepes tuh~


Yummmyyyyyyy~

Thursday, September 27, 2012

The Queen of Reversals, LBS channel


Belakangan saya suka nongkrongin kamar keponakan.
Yaa awalnya memang buat gangguin dia, tapi ternyata saya menemukan hal lain untuk hiburan di sana.

2 tipi di rumah sebenarnya memakai parabola, otomatis ada beberapa channel ‘istimewa’ yg masuk. Hanya anehnya, channel-channel tiap tipi tersebut berbeda-beda. Misalnya saja, tipi keluarga bisa menayangkan Jchannel (ini Jazeerah bukan ya?), sementara di tipi bawah tidak ada. Cuma beberapa channel luar saja yg sama, misalnya NHK World (love it!).

Nah ceritanya saya ‘nemu’ channel LBS, celakanya saya diberitahu bahwa itu merupakan channel K-drama 24 jam. We-o-we kan? Padahal sekilas cuma terlihat seperti tayangan iklan Lejel aja, tapi ternyata isinya tak melulu tayangan komersil.

Awalnya nonton semua tayangan – ya, beberapa aja sih – salah satunya The Queen of Reversals. Entah kenapa sekali nonton langsung ngerti alurnya, padahal itu udah nyampe episode belasan.
Ceritanya soal suami-isteri yg bekerja satu kantor, kemudian ternyata bercerai karena hilangnya kepercayaan pada sang suami, karena satu divisi sama mantan pacar sang suami (nah lho, pusing?). Padahal aslinya sang suami ga macem-macem.
Terus di sana ada atasan sang isteri yg notabene masih muda dan gagah ... yg ternyata menaruh hati padanya. Ini mungkin yg namanya kagum berujung cinta :))
 
Terus terang, nonton pilem ini mendadak ikut risau. Masalahnya, si suami itu cakep dan setia ... tapi di sisi lain si atasan juga anaknya narsis dan lucu. Kayaknya kalau saya jadi penulis skenario, mesti ada salah satu yg mati.
Masing-masing pihak masih cinta. Tadi episode 16 itu si atasan hampir mengungkapkan perasaannya saking galaunya.
Hadeh.
I know how feel it, man. She loves him, she loves you not.
He loves her, he loves me not. For times. But it’s ok. I’ve graduated finally, man ... *loh

Memang pada akhirnya fisik itu bukan sesuatu yg penting. Banyak orang yg bersimpati pada si isteri bukan karena dia cantik lho, tapi karena kecerdasan dan empati yg dimilikinyalah yg bikin (kalau saya) orang bakal tersanjung dan menghormatinya.
Dari sini juga saya menemukan motivasi yg bisa kita pelajari. Ceritanya si isteri ngelatih temannya untuk bisa tampil dan lancar membawakan acara proyek mereka. Temannya sangat minder dan demam panggung, sementara Tuan Mok yg ikut menemani selalu membela temannya ini agar si isteri tak memaksanya untuk terus latihan. Si isteri dengan tegas mengatakan,
Tuan Mok, orang-orang berada di dekatmu merasa nyaman karena kau tak pernah memaksa. Dan itu disayangkan, karena dengan begitu kau tak pernah bisa membuat mereka maju.
Yeah, kalau terus berada dalam lingkar kenyamanan, kita tak pernah tahu rasanya berubah. Dan ini amat menohok perasaan rasanya.

Recommended buat yg suka K-drama. Poin lain yg saya suka dari serial ini adalah settingnya yg merupakan kantoran dan sudah melewati masa pernikahan. Bukan lagi membahas cinta sepasang remaja ataupun cinta aneh rakyat jelata dengan milyuner muda *no offense*

Monday, September 24, 2012

Makan di Warung, Gokana Teppan Bandung~

1 minggu nganggur jelang wisuda, saya bengong di rumah ... sambil nemenin para tamu yg mulai pada bubar, sambil maen sama ponakan kecil, sambil trial-error gaya kerudungan buat wisuda, sambil merencanakan sesuatu buat nanti di Jogja *halah,apaini~

Rencana ngajak adik saya ke Jogja seminggu sebelum wisuda ternyata gagal. Pengambilan toga dan segala perlengkapannya saya percayakan sama bibi yg duluan ke sana, karena pulangnya hari Sabtu ... sementara saya ngebet ikut ke Cilebak pada hari itu :))
Tiba-tiba adik saya berencana ke Bandung dari hari Minggu. Konon anggota kelasnya diwajibkan rapat untuk registrasian maba jurusan mereka. Berhubung cuma sedikit orang (sekelas cuma 8 orang), rapat-rapatanpun jadi agak meragukan. Tapi dengan pede, saya menawarkan diri agar pergi ke sana sekalian ngembaliin printer dan perlengkapan wisuda yg kelupaan beli *mumpung lagi THR-an, sesekali royal~

Rencana bermalam 2 hari saja agar tak begitu mepet dengan hari keberangkatan ke Jogja pada hari Kamis.
Perjalanan makan waktu sekitar 7 jam (ampun deh macetnya). Datang-datang disambut kamar kos yg 11-12 sama kamar kos lama saya. Hasegedeh, saya bela-belain ngebenahin itu kamar sampe lumayan rada enak buat selonjoran nyante.

Hadeh pembukanya aja lama banget... jadi langsung ajalah karena laper, saya diajak Ati ke "Makan di Warung", sebuah rumah makan seafood sederhana di daerah Dipati Ukur, Bandung.

Makan di Warung, Dipati Ukur


 Hmh. Enak.
Saya lupa nama menu yg dipilih, yang pasti Ati mesen cumi sama sepiring sapo tahu Jepang (benerann enak!). Sapo tahu ini sampe saya cari resepnya gimana. Udah nyoba, tapi rasanya beda :)) padahal lumayan nih kuah buat pengganti capcay yg gitu-gitu aja. Belum lagi tahunya ... uh, lembut banget di mulut.
Biar kata orang segitu terbilang murah, tapi buat saya tentu aja engga (karena ngebandingin yg di Jogja). Dan ... itu kenapa juga minumnya biasa banget? Ohoo ... itu karena setiba kami di Bandung, ndadak kondisi badan down dan tenggorokan kena radang (lagi). Tapi tetep aja kuliner itu pantang disia-siakan ... *serius*


Lanjut esoknya kami capcus agak siangan, karena ... kepala mulai cenat-cenut dan badan mulai menggigil. Kami ke Istana Sepatu buat nyari sepatu wisudaan. Ati juga butuh sendal gede (karena ukuran kakinya jumbo). Daaaan .... terpilihlah sepatu-sendal simpel tanpa hak buat wisudaan.
"Orang ga bakal liat kamu sampe detil dari atas sampe bawah!" Begitu keyakinan saya.

Entah gimana rupa saya, berkali-kali Ati nanyain, "Teteh gakpapa? Ini kalo mau muterin bakal lama lho. Makan aja dulu yuk ..." Oke. Saatnya nyari tempat yg enak sekalian istirahat ...

 
Gokana Teppan
        

 
 


Mm... ada reviewan dari teman saya yg cantik soal GT ini. Tadinya pingin yg paket apaa gitu namanya, cuma Ati ngingetin ada teriyaki di situ. Yang biasa saya kuatirkan pake angciu-nya itu lho. Jadi saya pesan yg netral saja, ada ebiapaa gitunamanya. Biasa deh, kayak di Hokben ato Bee's. Btw kerupuknya enak~
Karena feelin' unwell ini, saya ga bisa nyicip total. Pedas dikit, kesiksa tenggorokan. Sempat nyicip kuah ramen pesanan Ati juga. Agak pedas sih. Walau begitu, lagi-lagi habis sampe ke es-nya tuh, mwahahaha~ *banyak makan biar cepet sembuh #alesan-gempur-radang#

Mendadak ditilpun Mamah, disuruh pulang cepet biar ada waktu rehat pas nanti perjalanan ke Jogja. Yap, jadi malamnya kami ngetravel pulang dengan oleh-oleh sakit. Travel juga serasa milik pribadi, berhubung penumpangnya cuma kami berdua doang :))

Wednesday, September 19, 2012

Kondangan Wow ala Cilebak

"Tahu sungai kering kan? Yang biasanya jadi penuh batu besar begitu? Nah,kayak gitulah kira-kira jalan menuju ke sana."
Sepanjang perjalanan saya menuju Jogja biasanya juga mengalami itu. Jalan sekitaran Losari dan Brebes biasanya rusak dan berulangkali gagal 'genah'. Mengenang tahun-tahun pertama saya ke sana, jalanan lebih parah. Daerah Gombong yang konon merupakan jalan alternatif bagi para mobil travel, merupakan 'jalan bulan' saking 'gerogot'nya itu aspal.
Kami mendapat undangan dari salah seorang ex-anak kos di rumah. Pas kakak saya beberapa waktu silam menikah, dia juga hadir. Makanya sekarang dia mengundang, masa iya kami tidak datang? Maka setelah beberapa hari disibukkan dengan para tamu seabreg di rumah selepas lebaran (karena ada resepsi sepupu saya), kami serombongan pergi ke mantenan. Kenapa serombongan? Simpel: Karena kami enggak tahu dimana itu Cilebak :))
"... bedanya, kalau sungai itu datar aja, nah ini jalannya nanjak~"
Wah.
Memang benarlah adanya begitu. Kami menuju Cilebak lewat Ciwaru. Konon ini merupakan jalan pintas menuju sana. Menuju daerah perbukitan. Start-lah kami pada jam setengah 8 lebih.
Saya sempat mengabadikan foto-foto jalanannya, hanya sayang tak percapture dengan baik sehingga hanya ini yang lumayan buat dipajang :D

Img_0121

Selengkapnya sila dipandangi (halah) di sini ya~
Sepanjang perjalanan tak henti-hentinya 3 bersaudara (Mamah dan 2 kakaknya) ini riuh berkomentar soal jalanan yang rusak. Sesekali wajahnya tegang melihat tanjakan curam berkelok dengan lubang di tengah jalan. Wanti-wanti juga terdengar dari berbagai arah agar kakak saya mengendarai dengan hati-hati. Ahaha ... rameee~
Di jam ke sekian, kami sampai juga di desa Cilebak. Kejutan juga menanti kami di persimpangan sana ...

Img_0156

Yang benar saja!
Jauh-jauh mendaki bukit lewati jalan terjal, masa harus kembali tanpa bertemu dengan pengantin? Hedeh, maksa-maksa alhamdulillah bisa masuk juga dengan menekuk kedua spion mobil :))
Kejutan kedua menanti di tanjakan superkeren ketika kami masih harus terus naik untuk dapat meraih balai desa. Tanjakan kali ini benar-benar curam, sehingga para penumpang juga pingin turun ketimbang ikutan bahaya nanjak bersama mobil. Benarlah ketika mesin meraung untuk bisa naik ke puncak, ban mobil tak mampu menaklukkan jalan berpasir itu. Mobil berbalik mundur *untung engga ada kendaraan lain di belakang kami -__-
Ke-3 saudara sudah berpucat-ria memilih turun di tengah tanjakan ketimbang di dalam mobil. Akhirnya semua penumpang termasuk saya juga turun. Dan dengan kecepatan tinggi, kakak saya sukses ngendarain mobil ke puncak. Horeee~

Photo4193

Dan atas keselamatan yg masih dilimpahkan, sempet juga poto-poto~


Perjalanan pulang kami tak lagi lewat Ciwaru. Kami memilih lewat Subang yang lebih panjang jalurnya ketimbang jalan pendek yang bikin napas jadi pendek-pendek juga :))
Sempet-sempetnya ibuku berkelakar, "Teh ... kalaupun ada laki ganteng di sana, Mamah gak bakal ngijinin kamu nikah sama orang sana. Bahaya aja kalo mudik kudu lewat jalan kayak begitu ..."
*tepokdahi*

 
Powered by Blogger.