Showing posts with label love. Show all posts
Showing posts with label love. Show all posts

Wednesday, December 3, 2014

Latepost: A (Late) Gift for Mum

Happy bornday Mum!
Walau sedih, karena akhir bulan November semakin mendekat pada Januari. Itu artinya sebentar lagi saya balik ikut ke Balikpapan sesuai mufakat bersama.

Dari awal bulan November Mamah sudah woro-woro berencana bakal menanak nasi kuning pada 25 November, tepat hari ulangtahunnya itu. Saya juga tengah berpikir tentang menghadiahkan sesuatu yang diinginkan Mamah dari tahun kapan gitu: mukena terusan model jumbo!
Sesuatu yang saat ini susah dicari, saya kira, plus ukuran bigsize untuk Mamah tercinta. Kemarin-kemarin Mamah malah sempat beli mukena duluan, karena tak ada ganti mukena terusan warna hijau tuanya. Mukena hijau tua itu pemberian bibi saya, lupa-tahun-kapan-ngasihnya. Dan saking sukanya, mukena usang jaman baheula yang katun putih sampai sobek sana-sini.

dari Taaj
Karena saya sekarang-sekarang ini masih belum bisa bebas jalan sana-sini, jadilah jari saya yang mencari (browsing maksudnya) di internet. Setelah berhari-hari mencari *lebay*, pilihan saya berkisar di kerudung Taaj, hadramaut, dan POnya Mbak Ghaida Hapsiana.
Setelah lihat-lihat di Taaj, eh ternyata ada model mukena terusannya ... setelah saya chat dengan adminnya, saya bisa pre-order (PO) warna lain dalam waktu sebulan pengerjaan. Wah, mundurlah saya dari sana, karena waktu yang cukup lama tersebut.
Kemudian saya beralih ke mukena hadramaut, saya langsung jatuh cinta. Motifnya banyak sekali, saya yakin sekali Mamah bakal suka. Toh Mamah juga selama ini pakainya polosan terus. Tapi setelah saya pikirkan ulang, saya urungkan juga untuk memesannya, karena khawatir ukuran mukenanya tidak sesuai dengan yang saya mau. Kelemahan Mamah terdapat di muka, jadi paling tidak Mamah butuh mukena yang bagian mukanya ada karet sehingga bisa nyaman menyesuaikan.

hadramaut
Sudah tanggal belasan November 2014, akhirnya saya putuskan bertanya-tanya pada Mbak Ghaida, yang sebenarnya untuk rekomendasi gamis dan rok tumpuk dari salah seorang teman. Belakangan dia sedang giat promo PO  mukena katun jepang. Owww katun jepang! *saya salah satu penggemar bahan katun yang satu ini :D
Karena PO mukena ini bisa menyesuaikan ukuran, maka saya sekalian tanya bikin model mukena terusan, bisakah? Ternyata bisa, dan kurleb membutuhkan pengerjaan 2-3 hari sampai seminggu pengerjaan. Tak apa, saya sudah katakan bahwa ini untuk kado Mamah, jadi dia bersedia mendahulukan pengerjaan mukena pesanan saya. Saya memaklumi bahwa sistem PO begini sangat memungkinkan saya untuk molor memberikan kadonya alias telat ngasih. Maka dengan jaminan tak sampai pertengahan Desember (soalnya kelamaan kan), sayapun deal dan langsung transfer.

Jadi 2 Desember kemarin (ih tepat seminggu setelah hari ultahnya ya), barang sudah di tangan. Heran kok saya berasa senang sekali. Mungkin karena 3 hal: pertama karena lihat coraknya, wih cantik! Kedua, karena begitu Mamah pakai, ukurannya sangat pas seperti mukena hijaunya. Ketiga, Mamah langsung pakai untuk sholat Maghrib :))
from Ghaida XD
There's always a big love for you Mum, the best mother ever *kisskisskiss

Saturday, November 29, 2014

Bukan Cinta Sekilas Mata

"Mengapa pria bisa setega itu ya ..."
Saya menyimbolkan diri dengan mengerutkan dahi.
"Aku sudah sampai di pengadilan tadi."
"Mau mengurus itu?"
"Tidak, hanya tanya-tanya."

...

Saya ini orang datar, sebenarnya. Menemukan 'cinta' sejati saja butuh waktu khusus bermuhasabah dahulu. Lalu bagaimana kalau seseorang bertanya. "Apa kamu bisa mudah memutus cinta lalu mencari yang lain dalam waktu singkat?"
Saya ditanya begitu oleh seorang wanita berumur 40 tahunan, sebut saja Ceceu. Profesinya sebagai tukang pijat, tapi orang-orang mungkin lebih familiar kalau menyebutnya sebagai dukun bayi. Mukanya bersih putih, malah saya kira masih umur 30an ... orangnya sigap dan cekatan, sehingga kami kira dia tidak betah di rumah saking 'terburu-buru'nya. Ia sering mengomel soal kebersihan selepas melahirkan, tentu dengan memberi tips cuma-cuma seputar kecantikan. Punya 3 anak, jagoan semua. Namun entah dengan suaminya.

source
Katanya, Ceceu adalah seorang istri dari lelaki Betawi yang kabarnya sering tenggelam. Maksudnya, suami Ceceu ini tidak jelas keberadaannya, kadang pulang sebulanan, kadang juga nyaris 6 bulan. Tak ada nafkah. Konon malah karena Ceceu terlalu kerja keras di kota orang, anaknya sampai tak mengenalnya sebagai ibu, tapi sebagai Uwak. Menangis sejadi-jadinyalah Ceceu mengetahui bahwa anak yang dulu masih balita itu tak pernah dikasih tahu yang mana ibunya. Maka kembalilah dia ke Kuningan, dengan resiko tak sering bertemu dengan suaminya.

Sekian tahun tak dinafkahi bagi Ceceu sudah biasa. Anak-anak sudah besar, saya kira dia sudah sangat fokus dengan menafkahi kebutuhan sehari-harinya saja, nyatanya tidak.
Banyak yang menyarankan agar statusnya dipastikan saja lewat pengadilan agama (baca: cerai sepihak), karena siapa tahu ada lelaki lain yang lebih baik ingin memperistrinya? Dengan nada bercanda, Ceceu cuma menertawakan keadaannya yang tak lagi muda, dan kemungkinan kecil memikirkan pernikahan kedua.

Lalu pada siaran entertainmen pagi itu, ia banyak mengomentari artis yang sudah beberapa kali kawin-cerai yang kini membahas hal serupa dengan pernikahan ke sekian kalinya.
"Neng, artis kok bisa mudahnya pindah ke lain hati."
"Sensasi, Ceu ..."
"Sepertinya pernikahan cuma jadi permainan saja ya."
"Yah ... artis ... nggak tahu juga apa yang ada di pikiran mereka."
"Terus kok bisa ya melupakan cinta begitu saja? Neng gitu juga nggak?"
"..." (muter-muter otak mikirin cinta)
"Ceceu rasanya gak bisa kayak gitu. Biar suami salah, Ceceu tetap aja belain. Goblok memang. Apa ya ... Ceceu sudah cinta sama suami. Melepas begitu aja mana bisa!"
"..."
"Eh Neng, kalau cerai bisa balik lagi gak?"
"Bisa. Kecuali ditalak tiga kali."
"Oh."

Begitulah.
Entah ada angin apa yang membawa Ceceu ke pengadilan agama tepat di samping rumah kami ini, semoga dijauhkan dari segala keburukan. Tak bisa saya ikut campur akan urusannya sekalipun tahu permasalahannya. Mungkin jika waktu itu ada orangtua saya, perasaannya bisa lebih ringan. Apa daya saya tak bisa menyarankan apa-apa, pun karena pernikahan saya sendiri baru menginjak 1 tahun. Waktu yang terlalu muda untuk menyarankan ini dan itu. Hanya pembelajaran cinta yang bisa saya dapatkan dari sekelumit perjalanan seorang manusia.


Friday, November 28, 2014

Si Gadis!

Seperti diingatkan, saya belum mengenalkan gadis baru dalam kehidupaan saya. Makasih sudah mengingatkan ya Mbak Rien :)

Awal karier saya sebagai orangtua telah dimulai sejak 25 Agustus 2014, tepat adzan maghrib ... seorang gadis telah lahir di RS Wijaya Kusuma. Sadar-sadar saya merasa tengah diangkat ke pembaringan. Obat bius sudah sangat memengaruhi penglihatan. Katup mata rasanya berat sekali, pun tubuh menggigil hebat padahal tangan saya tak dingin sama sekali.
Sudahlah, kalian tak perlu tahu bagaimana rasanya. Yang terpenting ialah bagaimana saya bisa menemui si gadis secepatnya, karena tak mau dia terus-terusan minum sufor. Sudah tahu dia agak 'sakit', perawat malah tak cepat mempertemukan kami. Maka dalam waktu 12 jam, saya paksakan untuk berdiri, dibantu suami tersayang melangkah perlahan menuju ruang bayi.

Selama beberapa waktu, perasaan kamu-anak-saya? sepertinya masih menggejala. Maklum, operasi yang memang tak merasakan sakitnya proses melahirkan lewat normal sering dianggap tak seimbang dengan perjuangan seorang ibu.
Dulu memang sempat kepikiran, tapi setelah banyak sharing dengan teman, saya tak ambil pusing. Hal terpenting yang bisa saya lakukan hanya bersyukur ... bahwa saya tak perlu merasa sakit seperti yang lain apalagi mengalami sindrom baby blues, ataupun sampai pendarahan bahkan kehilangan nyawa saking tidak kuatnya kondisi sang ibu. Juga tak lupa bersyukur atas meruahnya ASI yang bisa saya beri untuk si gadis (walau 3-4 hari hanya mengeluarkan sedikit cairan bening) :')

Jadi tepat tanggal 25 November kemarin adalah usianya yang ke-3 bulan.

Tak terasa dia sudah mulai memiringkan tubuhnya, walau BBnya tak termasuk gemuk, tak apalah yang penting dia sehat ... sudah melewati masa gejala kuning ... sudah cukup berisi dibandingkan awal-awal ia lahir.
Afiqa Adwa Nugroho

Semoga shalihat ya Nak, membanggakan Rasul kita, juga menjadi panutan terpuji karena akhlakmu.
Semoga selalu sehat, ceria dan ikut membahagiakan orang-orang di sekelilingmu ...

Wednesday, August 21, 2013

I'M MARRIED!

kisah sebelumnya

Mengurus perizinan menikah itu gampang-gampang susah (nah, berarti gampangnya lebih banyak ;)). Karena suami saya jauh dan kemungkinan terbang ke Jawa itu minim waktu, maka saya mengurus sendiri. Mau mulai mengurus itu tinggal datang saja ke kelurahan, nanti tanya mau daftar nikah (karena saya perempuan lho ya). Pihak pria mengurus perizinan juga, kalau tidak salah langsung dari KUA setempat, nanti diberi semacam surat keterangan dari sana. Pihak perempuan nanti 'meneruskan' surat tersebut ke KUA di daerahnya. Jadi di kelurahan tadi nanti bisa tanya apa-apa saja syaratnya. Kalau murni mengerjakan sendiri, insyaallah gak mahal. Susahnya, petugas di kelurahan itu yang agak sulit ditemui. Karena beliau juga urus-urus orang nikahan, seringnya beliau mobile sana-sini nangkringin orang hajatan :D
Nah makanya mintain aja nomer kontaknya agar bisa dihubungi langsung.

Tak ada kendala berarti menuju persiapan pernikahan kami di 6 Juli 2013, alhamdulillah. Meski sempat tegang karena tempat sewanya mendadak dilokasikan untuk kantor sementara atas Keputusan Bupati, kami bisa melobinya dengan segera.

Disuruh datang pas setelah subuh saja ngaret 1 jam (hohoho). Tapi tetap saja alhamdulillah, tak ada keterlambatan dandan karena penghulunya sendiri lebih telat datangnya XD
Begitu dipanggil, saya melenggang menuju 'kursi panas' yang bakal disaksikan Gusti Allah, penghulu, orangtua dan segenap keluarga kami. Kalau saya liat-liat lagi fotonya, seneng sekali saya godain suami karena ekspresi tegangnya kentara banget XD

Finally I'm a WIFE! *yaaaayy :D

Buat my circles, bisa lihat foto-fotonya di sini ;)

Rasanya ... masih belum terbangun dari mimpi ...

____________________________

Saran dari saya, sesimpel-simpelnya menikah adalah dengan orang satu daerah, percayalah.
Terpisah jarak itu cukup menyita pikiran, sebenarnya. Keluarga pihak pria terutama, karena pasti banyak yang ingin menyaksikan peristiwa ijab kabul anggota keluarganya (yg insyaallah) sekali seumur hidupnya. Ada hal-hal yang sebaiknya dipersiapkan dengan matang seperti jumlah kepala, waktu, kendaraan, tempat menginap sampai konsumsi ... tak luput juga biaya perjalanan.
Keluarga suami saya sebenarnya arek Jawa Timuran. Cuma sebagian besar keluarga ayah mertua tinggal di Kalimantan, sementara keluarga ibu mertua yang sebagian besar di Jawa. Jadi ibu mertua saya itulah perantau Kalimantan tulen :D

Lanjutt...
Kalau memang jodoh pan gak bisa ditebak ya .. kalau memang dapat yang jauh, berarti kemungkinan ngunduh mantu (pihak pria mengadakan tasyakuran sendiri) itu sangat besar. Nah kebetulan keluarga suami di Kaltim sebagian besar juga cuma mengikutsertakan doa, makanya diminta mengadakan syukuran sendiri nantinya (semoga lancar di bulan depan). Kalau mau sederhana, ya adakan saja syukuran kecil dengan mengundang tetangga dan orang terdekat. Bentuknya bisa macam-macam kan ya, jadi saya gak tahu idenya mau seperti apa terserah kalian, singles. Bicarakan dengan seksama, jangan sampai ada yang ketinggalan ;)
Ada yang mau menambahkan? Sila dishare di kolom komen yaa...

Tuesday, August 20, 2013

C.o.m.m.i.t.

Perkenalan kami tidak lama, hanya sekitar 3 bulan. Lalu bagaimana bisa orang jauh sepertinya bisa hinggap di pelaminan bersama saya?
Komitmen. Hanya itu.

Akhir September tahun lalu, selepas wisuda dalam keremangan kamar seseorang menghubungi saya.
"Mbak, sekarang ini lagi ada seseorang yang lagi dekat sama kamu gak?"
"Oh, ya... ada, teman dekat..."
"Ah bukan... maksud saya, apa Mbak punya teman dekat laki-laki ... untuk calon suami gitu?"
"..."
Saya mengeluh dalam hati. Sejujurnya malas sekali berhubungan dengan yang namanya kenal-kenalan untuk urusan jodoh. Maklum, masih girang main sana-sini, pesta pora dan dugem... #2 alasan belakang cuma ilusi tambahan
 "Belum sih..."
"Nah... mau gak kenalan sama temennya anakku? Dia kebetulan lagi cari calon istri Mbak, insyaallah anaknya baik."
"Eng..."
"Kenalan aja dulu mbak..."
"Eu..."
"Kan ga ada salahnya kenal tho..."
"Mm... orang mana gitu Bu?"
"Kalimantan, kota Balikpapan."
"Waaa... jauh Bu, Mamah mana ngijinkan ke orang jauh..."
"Yaa namanya juga usaha, sapa tahu cocok... ketemu dulu kan ndak masalah..."
"..."

Dan, bertemulah kami pada bulan November 2012. Ditingkahi hawa sejuk yang melenakan, saya menyambut kedatangan kerabat dari Jogja... bersama seorang pria yang belum pernah saya temui di rumah mereka.
"Oh, ini toh Mas Andri?" sapa saya. Sepertinya ia masih canggung berada di tempat saya. Begitu berkenalan dengan bapak, keegangan mulai mencair. Para bapak yang lama tak bersua mulai mengobrol seru, tertawa-tawa keras. Sementara saya dan ibu sepupu ngobrol sana-sini, sepupu dan Mas Andri melihat-lihat beranda rumah.

Cuma itu perkenalan kami. Di awal perkenalan kami telah menunjukkan kebiasaan masing-masing, tapi dia tetap menghubungi saya untuk sekedar ngobrol ringan seperti layaknya sahabat.

"Gimana Mas?" Tanya saya suatu hari.
"Apanya?"
"Kita sama-sama sudah ketemu dan melihat. Mau dilanjutkan atau kita berteman saja?"
"Saya mau lanjut saja, Neng."
Saya menghela napas. Nah.
Kalau sudah mau lebih jauh selain berkenalan, saya belum pengalaman.
"Neng gimana?" katanya dari seberang sana.
"Mm... kalau gitu, aku minta waktu."
"Maksudnya?"
"Aku minta waktu buat mempertimbangkannya lagi ... dengan serius." *terus yg kemaren itu emangnya maen-maen ya Neng? -_-
"Kalau minta waktu sebulan gimana?" lanjut saya.
Ada hela napas berat di sana.
"2 minggu bisa?"
Ada gerundelan nyaring di hatinya *ciaelah dari kapan bisa baca hati orang
"Sepertinya ... aku agak ketergantungan sudah denger suara Neng." *eaaa buka rahasia si aa
"Nah kan ..."
"Iya, makanya aku mau lanjut. Biar lebih tenang aja, tapi waktu selama 2 minggu rasanya terlalu lama. Seminggu sepertinya cukup, Neng."

Insyaallah.
Dengan waktu seperti itu, saya kembali memantapkan niat, mencari kepastian agar tak salah mengira bahwa Aa bisa jadi imam yang baik untuk saya kedepannya. Pun meminta pendapat orang-orang terdekat, bagaimana dan sebaiknya apa. Kelak jika kalian, wahai para single, akan menghadapi pertimbangan mengenai jodoh, jangan sekali-kali abaikan saran dan pendapat dari mereka. Sebab kita kelak tak cuma menyatukan 2 insan, tetapi 2 keluarga besar.
Mamah tetap orang yang paling sulit menerima kenyataan bahwa saya dikenalin mulu ke orang jauh. Tapi yaa ... yang namanya jodoh memang misteri. Sekalipun menolaknya sampai jatuh bangun, ia akan tetap sampai pada yang telah digariskan. Biar mengejarnya hingga ufuk barat sekalipun, kalau Dia bilang tidak ya takkan pernah sampai. Makanya kalau cinta tidak usah berlebihan, sebab seringnya ia cuma dorongan nafsu sesaat.

Desember 2012, bergetar saya berkata 'Ya' padanya untuk meminang saya pada tahap selanjutnya. Saya mendoakan keikhlasan dan ridho orangtua serta Illahi sajalah, sebab takkan ada lagi yang memuluskan langkah selain itu.

Semula saya agak sangsi, apa bisa keluarganya menerima saya sementara orangtuanya saja belum pernah berhadapan langsung dengan saya. Tetapi apa yang terjadi atas kehendakNya, ya terjadilah. Saya ingat sekali 10 Februari 2013, A Andri beserta keluarganya tiba di kediaman kami bakda Dzuhur. Alhamdulillah, di hari itu juga saya resmi 'diikat' komitmen seorang pria yang insyaallah bertanggungjawab. Karena saya tahu komitmen itu nilai tertinggi dari sebuah kesepakatan, saya tahu persis bagaimana menghormatinya.

credit

Rasanya seperti mimpi.
Saya sudah resmi memiliki calon suami, oi! Berkali-kali saya lirik cincin pemberiannya. Sebenarnya itu hanya simbolis saja, dengan ucapan 'lamaran diterima' saja sudah cukup. Komunikasi kami jadi mengarah seputar perencanaan keuangan, tabungan anak dan pendidikannya, program pemantapan rohani, ide-ide di luar bidang seputar wirausaha, meluruskan hobi positif hingga rencana membuat kebun organik saja kami bicarakan :D

bersambung

 
Powered by Blogger.