Saturday, September 29, 2012

Homemade Pepes Jamur

Akhirnya ... dapat juga kesempatan bebas praktik nge-pepes jamur. Mamah beli 4 plastik kiloan jamur tiram, berhubung sebagian pingin percobaan tambah ini-itu, saya pakai 2 plastik untuk dipepes murni jamur.

Photo4286

Bahan dan Bumbu:

Daun pisang, bersihkan bagian dalamnya, sobek secukupnya untuk wadah pepes

2 plastik jamur tiram, suwir-suwir, cuci

6 cabe sesuai selera (merah campur rawit), iris kasar (ga usah tipis)

6 siung bawang merah, iris kasar

4 siung bawang putih, iris kasar

1 batang serai, potong jadi 6-7 bagian dan keprek (atau potong kasar aja)

5-6 daun salam

Garam (dan gula, tergantung selera)

 

Cara membuat:

1. Campurkan semua bahan kecuali daun salam ke dalam 1 wadah, aduk-aduk

2. Ambil daun pisang, selembar daun salam, lalu tumpuk dengan bahan jamur tadi

3. Karena mengandung air dan saya kuatir bumbunya kurang meresap, taburi lagi dengan garam secukupnya

4. Bungkus, lalu kukus selama kira-kira 15 menit (sampai harum)

Cukup buat 6-7 bungkus pepes tuh~


Yummmyyyyyyy~

Thursday, September 27, 2012

The Queen of Reversals, LBS channel


Belakangan saya suka nongkrongin kamar keponakan.
Yaa awalnya memang buat gangguin dia, tapi ternyata saya menemukan hal lain untuk hiburan di sana.

2 tipi di rumah sebenarnya memakai parabola, otomatis ada beberapa channel ‘istimewa’ yg masuk. Hanya anehnya, channel-channel tiap tipi tersebut berbeda-beda. Misalnya saja, tipi keluarga bisa menayangkan Jchannel (ini Jazeerah bukan ya?), sementara di tipi bawah tidak ada. Cuma beberapa channel luar saja yg sama, misalnya NHK World (love it!).

Nah ceritanya saya ‘nemu’ channel LBS, celakanya saya diberitahu bahwa itu merupakan channel K-drama 24 jam. We-o-we kan? Padahal sekilas cuma terlihat seperti tayangan iklan Lejel aja, tapi ternyata isinya tak melulu tayangan komersil.

Awalnya nonton semua tayangan – ya, beberapa aja sih – salah satunya The Queen of Reversals. Entah kenapa sekali nonton langsung ngerti alurnya, padahal itu udah nyampe episode belasan.
Ceritanya soal suami-isteri yg bekerja satu kantor, kemudian ternyata bercerai karena hilangnya kepercayaan pada sang suami, karena satu divisi sama mantan pacar sang suami (nah lho, pusing?). Padahal aslinya sang suami ga macem-macem.
Terus di sana ada atasan sang isteri yg notabene masih muda dan gagah ... yg ternyata menaruh hati padanya. Ini mungkin yg namanya kagum berujung cinta :))
 
Terus terang, nonton pilem ini mendadak ikut risau. Masalahnya, si suami itu cakep dan setia ... tapi di sisi lain si atasan juga anaknya narsis dan lucu. Kayaknya kalau saya jadi penulis skenario, mesti ada salah satu yg mati.
Masing-masing pihak masih cinta. Tadi episode 16 itu si atasan hampir mengungkapkan perasaannya saking galaunya.
Hadeh.
I know how feel it, man. She loves him, she loves you not.
He loves her, he loves me not. For times. But it’s ok. I’ve graduated finally, man ... *loh

Memang pada akhirnya fisik itu bukan sesuatu yg penting. Banyak orang yg bersimpati pada si isteri bukan karena dia cantik lho, tapi karena kecerdasan dan empati yg dimilikinyalah yg bikin (kalau saya) orang bakal tersanjung dan menghormatinya.
Dari sini juga saya menemukan motivasi yg bisa kita pelajari. Ceritanya si isteri ngelatih temannya untuk bisa tampil dan lancar membawakan acara proyek mereka. Temannya sangat minder dan demam panggung, sementara Tuan Mok yg ikut menemani selalu membela temannya ini agar si isteri tak memaksanya untuk terus latihan. Si isteri dengan tegas mengatakan,
Tuan Mok, orang-orang berada di dekatmu merasa nyaman karena kau tak pernah memaksa. Dan itu disayangkan, karena dengan begitu kau tak pernah bisa membuat mereka maju.
Yeah, kalau terus berada dalam lingkar kenyamanan, kita tak pernah tahu rasanya berubah. Dan ini amat menohok perasaan rasanya.

Recommended buat yg suka K-drama. Poin lain yg saya suka dari serial ini adalah settingnya yg merupakan kantoran dan sudah melewati masa pernikahan. Bukan lagi membahas cinta sepasang remaja ataupun cinta aneh rakyat jelata dengan milyuner muda *no offense*

Monday, September 24, 2012

Makan di Warung, Gokana Teppan Bandung~

1 minggu nganggur jelang wisuda, saya bengong di rumah ... sambil nemenin para tamu yg mulai pada bubar, sambil maen sama ponakan kecil, sambil trial-error gaya kerudungan buat wisuda, sambil merencanakan sesuatu buat nanti di Jogja *halah,apaini~

Rencana ngajak adik saya ke Jogja seminggu sebelum wisuda ternyata gagal. Pengambilan toga dan segala perlengkapannya saya percayakan sama bibi yg duluan ke sana, karena pulangnya hari Sabtu ... sementara saya ngebet ikut ke Cilebak pada hari itu :))
Tiba-tiba adik saya berencana ke Bandung dari hari Minggu. Konon anggota kelasnya diwajibkan rapat untuk registrasian maba jurusan mereka. Berhubung cuma sedikit orang (sekelas cuma 8 orang), rapat-rapatanpun jadi agak meragukan. Tapi dengan pede, saya menawarkan diri agar pergi ke sana sekalian ngembaliin printer dan perlengkapan wisuda yg kelupaan beli *mumpung lagi THR-an, sesekali royal~

Rencana bermalam 2 hari saja agar tak begitu mepet dengan hari keberangkatan ke Jogja pada hari Kamis.
Perjalanan makan waktu sekitar 7 jam (ampun deh macetnya). Datang-datang disambut kamar kos yg 11-12 sama kamar kos lama saya. Hasegedeh, saya bela-belain ngebenahin itu kamar sampe lumayan rada enak buat selonjoran nyante.

Hadeh pembukanya aja lama banget... jadi langsung ajalah karena laper, saya diajak Ati ke "Makan di Warung", sebuah rumah makan seafood sederhana di daerah Dipati Ukur, Bandung.

Makan di Warung, Dipati Ukur


 Hmh. Enak.
Saya lupa nama menu yg dipilih, yang pasti Ati mesen cumi sama sepiring sapo tahu Jepang (benerann enak!). Sapo tahu ini sampe saya cari resepnya gimana. Udah nyoba, tapi rasanya beda :)) padahal lumayan nih kuah buat pengganti capcay yg gitu-gitu aja. Belum lagi tahunya ... uh, lembut banget di mulut.
Biar kata orang segitu terbilang murah, tapi buat saya tentu aja engga (karena ngebandingin yg di Jogja). Dan ... itu kenapa juga minumnya biasa banget? Ohoo ... itu karena setiba kami di Bandung, ndadak kondisi badan down dan tenggorokan kena radang (lagi). Tapi tetep aja kuliner itu pantang disia-siakan ... *serius*


Lanjut esoknya kami capcus agak siangan, karena ... kepala mulai cenat-cenut dan badan mulai menggigil. Kami ke Istana Sepatu buat nyari sepatu wisudaan. Ati juga butuh sendal gede (karena ukuran kakinya jumbo). Daaaan .... terpilihlah sepatu-sendal simpel tanpa hak buat wisudaan.
"Orang ga bakal liat kamu sampe detil dari atas sampe bawah!" Begitu keyakinan saya.

Entah gimana rupa saya, berkali-kali Ati nanyain, "Teteh gakpapa? Ini kalo mau muterin bakal lama lho. Makan aja dulu yuk ..." Oke. Saatnya nyari tempat yg enak sekalian istirahat ...

 
Gokana Teppan
        

 
 


Mm... ada reviewan dari teman saya yg cantik soal GT ini. Tadinya pingin yg paket apaa gitu namanya, cuma Ati ngingetin ada teriyaki di situ. Yang biasa saya kuatirkan pake angciu-nya itu lho. Jadi saya pesan yg netral saja, ada ebiapaa gitunamanya. Biasa deh, kayak di Hokben ato Bee's. Btw kerupuknya enak~
Karena feelin' unwell ini, saya ga bisa nyicip total. Pedas dikit, kesiksa tenggorokan. Sempat nyicip kuah ramen pesanan Ati juga. Agak pedas sih. Walau begitu, lagi-lagi habis sampe ke es-nya tuh, mwahahaha~ *banyak makan biar cepet sembuh #alesan-gempur-radang#

Mendadak ditilpun Mamah, disuruh pulang cepet biar ada waktu rehat pas nanti perjalanan ke Jogja. Yap, jadi malamnya kami ngetravel pulang dengan oleh-oleh sakit. Travel juga serasa milik pribadi, berhubung penumpangnya cuma kami berdua doang :))

Wednesday, September 19, 2012

Kondangan Wow ala Cilebak

"Tahu sungai kering kan? Yang biasanya jadi penuh batu besar begitu? Nah,kayak gitulah kira-kira jalan menuju ke sana."
Sepanjang perjalanan saya menuju Jogja biasanya juga mengalami itu. Jalan sekitaran Losari dan Brebes biasanya rusak dan berulangkali gagal 'genah'. Mengenang tahun-tahun pertama saya ke sana, jalanan lebih parah. Daerah Gombong yang konon merupakan jalan alternatif bagi para mobil travel, merupakan 'jalan bulan' saking 'gerogot'nya itu aspal.
Kami mendapat undangan dari salah seorang ex-anak kos di rumah. Pas kakak saya beberapa waktu silam menikah, dia juga hadir. Makanya sekarang dia mengundang, masa iya kami tidak datang? Maka setelah beberapa hari disibukkan dengan para tamu seabreg di rumah selepas lebaran (karena ada resepsi sepupu saya), kami serombongan pergi ke mantenan. Kenapa serombongan? Simpel: Karena kami enggak tahu dimana itu Cilebak :))
"... bedanya, kalau sungai itu datar aja, nah ini jalannya nanjak~"
Wah.
Memang benarlah adanya begitu. Kami menuju Cilebak lewat Ciwaru. Konon ini merupakan jalan pintas menuju sana. Menuju daerah perbukitan. Start-lah kami pada jam setengah 8 lebih.
Saya sempat mengabadikan foto-foto jalanannya, hanya sayang tak percapture dengan baik sehingga hanya ini yang lumayan buat dipajang :D

Img_0121

Selengkapnya sila dipandangi (halah) di sini ya~
Sepanjang perjalanan tak henti-hentinya 3 bersaudara (Mamah dan 2 kakaknya) ini riuh berkomentar soal jalanan yang rusak. Sesekali wajahnya tegang melihat tanjakan curam berkelok dengan lubang di tengah jalan. Wanti-wanti juga terdengar dari berbagai arah agar kakak saya mengendarai dengan hati-hati. Ahaha ... rameee~
Di jam ke sekian, kami sampai juga di desa Cilebak. Kejutan juga menanti kami di persimpangan sana ...

Img_0156

Yang benar saja!
Jauh-jauh mendaki bukit lewati jalan terjal, masa harus kembali tanpa bertemu dengan pengantin? Hedeh, maksa-maksa alhamdulillah bisa masuk juga dengan menekuk kedua spion mobil :))
Kejutan kedua menanti di tanjakan superkeren ketika kami masih harus terus naik untuk dapat meraih balai desa. Tanjakan kali ini benar-benar curam, sehingga para penumpang juga pingin turun ketimbang ikutan bahaya nanjak bersama mobil. Benarlah ketika mesin meraung untuk bisa naik ke puncak, ban mobil tak mampu menaklukkan jalan berpasir itu. Mobil berbalik mundur *untung engga ada kendaraan lain di belakang kami -__-
Ke-3 saudara sudah berpucat-ria memilih turun di tengah tanjakan ketimbang di dalam mobil. Akhirnya semua penumpang termasuk saya juga turun. Dan dengan kecepatan tinggi, kakak saya sukses ngendarain mobil ke puncak. Horeee~

Photo4193

Dan atas keselamatan yg masih dilimpahkan, sempet juga poto-poto~


Perjalanan pulang kami tak lagi lewat Ciwaru. Kami memilih lewat Subang yang lebih panjang jalurnya ketimbang jalan pendek yang bikin napas jadi pendek-pendek juga :))
Sempet-sempetnya ibuku berkelakar, "Teh ... kalaupun ada laki ganteng di sana, Mamah gak bakal ngijinin kamu nikah sama orang sana. Bahaya aja kalo mudik kudu lewat jalan kayak begitu ..."
*tepokdahi*

Wednesday, September 5, 2012

Surat Kuasa Kepada Multiply Indonesia

Dear Multiply Indonesia,
Dengan surat ini, saya:
nama : Vera
multiply id : http://puritama.multiply.com/

memberikan kuasa kepada :
nama : Wahyu W.
multiply id : http://wib711.multiply.com/

yang pada hari jumat tanggal 7 September 2012 akan datang ke kantor Multiply Indonesia untuk memberikan DVD kepada Multiply Indonesia, agar Multiply segera mendownload semua isi blog saya di http://puritama.multiply.com/ (termasuk yang personal/privacy) ke dalam DVD tersebut. Saya mohon kerjasamanya.
Terimakasih.


Yogyakarta, 5 September 2012
ttd,

Vera
(pemilik blog ini)

 
Powered by Blogger.