Wednesday, December 3, 2014

Latepost: A (Late) Gift for Mum

Happy bornday Mum!
Walau sedih, karena akhir bulan November semakin mendekat pada Januari. Itu artinya sebentar lagi saya balik ikut ke Balikpapan sesuai mufakat bersama.

Dari awal bulan November Mamah sudah woro-woro berencana bakal menanak nasi kuning pada 25 November, tepat hari ulangtahunnya itu. Saya juga tengah berpikir tentang menghadiahkan sesuatu yang diinginkan Mamah dari tahun kapan gitu: mukena terusan model jumbo!
Sesuatu yang saat ini susah dicari, saya kira, plus ukuran bigsize untuk Mamah tercinta. Kemarin-kemarin Mamah malah sempat beli mukena duluan, karena tak ada ganti mukena terusan warna hijau tuanya. Mukena hijau tua itu pemberian bibi saya, lupa-tahun-kapan-ngasihnya. Dan saking sukanya, mukena usang jaman baheula yang katun putih sampai sobek sana-sini.

dari Taaj
Karena saya sekarang-sekarang ini masih belum bisa bebas jalan sana-sini, jadilah jari saya yang mencari (browsing maksudnya) di internet. Setelah berhari-hari mencari *lebay*, pilihan saya berkisar di kerudung Taaj, hadramaut, dan POnya Mbak Ghaida Hapsiana.
Setelah lihat-lihat di Taaj, eh ternyata ada model mukena terusannya ... setelah saya chat dengan adminnya, saya bisa pre-order (PO) warna lain dalam waktu sebulan pengerjaan. Wah, mundurlah saya dari sana, karena waktu yang cukup lama tersebut.
Kemudian saya beralih ke mukena hadramaut, saya langsung jatuh cinta. Motifnya banyak sekali, saya yakin sekali Mamah bakal suka. Toh Mamah juga selama ini pakainya polosan terus. Tapi setelah saya pikirkan ulang, saya urungkan juga untuk memesannya, karena khawatir ukuran mukenanya tidak sesuai dengan yang saya mau. Kelemahan Mamah terdapat di muka, jadi paling tidak Mamah butuh mukena yang bagian mukanya ada karet sehingga bisa nyaman menyesuaikan.

hadramaut
Sudah tanggal belasan November 2014, akhirnya saya putuskan bertanya-tanya pada Mbak Ghaida, yang sebenarnya untuk rekomendasi gamis dan rok tumpuk dari salah seorang teman. Belakangan dia sedang giat promo PO  mukena katun jepang. Owww katun jepang! *saya salah satu penggemar bahan katun yang satu ini :D
Karena PO mukena ini bisa menyesuaikan ukuran, maka saya sekalian tanya bikin model mukena terusan, bisakah? Ternyata bisa, dan kurleb membutuhkan pengerjaan 2-3 hari sampai seminggu pengerjaan. Tak apa, saya sudah katakan bahwa ini untuk kado Mamah, jadi dia bersedia mendahulukan pengerjaan mukena pesanan saya. Saya memaklumi bahwa sistem PO begini sangat memungkinkan saya untuk molor memberikan kadonya alias telat ngasih. Maka dengan jaminan tak sampai pertengahan Desember (soalnya kelamaan kan), sayapun deal dan langsung transfer.

Jadi 2 Desember kemarin (ih tepat seminggu setelah hari ultahnya ya), barang sudah di tangan. Heran kok saya berasa senang sekali. Mungkin karena 3 hal: pertama karena lihat coraknya, wih cantik! Kedua, karena begitu Mamah pakai, ukurannya sangat pas seperti mukena hijaunya. Ketiga, Mamah langsung pakai untuk sholat Maghrib :))
from Ghaida XD
There's always a big love for you Mum, the best mother ever *kisskisskiss

Saturday, November 29, 2014

Bukan Cinta Sekilas Mata

"Mengapa pria bisa setega itu ya ..."
Saya menyimbolkan diri dengan mengerutkan dahi.
"Aku sudah sampai di pengadilan tadi."
"Mau mengurus itu?"
"Tidak, hanya tanya-tanya."

...

Saya ini orang datar, sebenarnya. Menemukan 'cinta' sejati saja butuh waktu khusus bermuhasabah dahulu. Lalu bagaimana kalau seseorang bertanya. "Apa kamu bisa mudah memutus cinta lalu mencari yang lain dalam waktu singkat?"
Saya ditanya begitu oleh seorang wanita berumur 40 tahunan, sebut saja Ceceu. Profesinya sebagai tukang pijat, tapi orang-orang mungkin lebih familiar kalau menyebutnya sebagai dukun bayi. Mukanya bersih putih, malah saya kira masih umur 30an ... orangnya sigap dan cekatan, sehingga kami kira dia tidak betah di rumah saking 'terburu-buru'nya. Ia sering mengomel soal kebersihan selepas melahirkan, tentu dengan memberi tips cuma-cuma seputar kecantikan. Punya 3 anak, jagoan semua. Namun entah dengan suaminya.

source
Katanya, Ceceu adalah seorang istri dari lelaki Betawi yang kabarnya sering tenggelam. Maksudnya, suami Ceceu ini tidak jelas keberadaannya, kadang pulang sebulanan, kadang juga nyaris 6 bulan. Tak ada nafkah. Konon malah karena Ceceu terlalu kerja keras di kota orang, anaknya sampai tak mengenalnya sebagai ibu, tapi sebagai Uwak. Menangis sejadi-jadinyalah Ceceu mengetahui bahwa anak yang dulu masih balita itu tak pernah dikasih tahu yang mana ibunya. Maka kembalilah dia ke Kuningan, dengan resiko tak sering bertemu dengan suaminya.

Sekian tahun tak dinafkahi bagi Ceceu sudah biasa. Anak-anak sudah besar, saya kira dia sudah sangat fokus dengan menafkahi kebutuhan sehari-harinya saja, nyatanya tidak.
Banyak yang menyarankan agar statusnya dipastikan saja lewat pengadilan agama (baca: cerai sepihak), karena siapa tahu ada lelaki lain yang lebih baik ingin memperistrinya? Dengan nada bercanda, Ceceu cuma menertawakan keadaannya yang tak lagi muda, dan kemungkinan kecil memikirkan pernikahan kedua.

Lalu pada siaran entertainmen pagi itu, ia banyak mengomentari artis yang sudah beberapa kali kawin-cerai yang kini membahas hal serupa dengan pernikahan ke sekian kalinya.
"Neng, artis kok bisa mudahnya pindah ke lain hati."
"Sensasi, Ceu ..."
"Sepertinya pernikahan cuma jadi permainan saja ya."
"Yah ... artis ... nggak tahu juga apa yang ada di pikiran mereka."
"Terus kok bisa ya melupakan cinta begitu saja? Neng gitu juga nggak?"
"..." (muter-muter otak mikirin cinta)
"Ceceu rasanya gak bisa kayak gitu. Biar suami salah, Ceceu tetap aja belain. Goblok memang. Apa ya ... Ceceu sudah cinta sama suami. Melepas begitu aja mana bisa!"
"..."
"Eh Neng, kalau cerai bisa balik lagi gak?"
"Bisa. Kecuali ditalak tiga kali."
"Oh."

Begitulah.
Entah ada angin apa yang membawa Ceceu ke pengadilan agama tepat di samping rumah kami ini, semoga dijauhkan dari segala keburukan. Tak bisa saya ikut campur akan urusannya sekalipun tahu permasalahannya. Mungkin jika waktu itu ada orangtua saya, perasaannya bisa lebih ringan. Apa daya saya tak bisa menyarankan apa-apa, pun karena pernikahan saya sendiri baru menginjak 1 tahun. Waktu yang terlalu muda untuk menyarankan ini dan itu. Hanya pembelajaran cinta yang bisa saya dapatkan dari sekelumit perjalanan seorang manusia.


Friday, November 28, 2014

Si Gadis!

Seperti diingatkan, saya belum mengenalkan gadis baru dalam kehidupaan saya. Makasih sudah mengingatkan ya Mbak Rien :)

Awal karier saya sebagai orangtua telah dimulai sejak 25 Agustus 2014, tepat adzan maghrib ... seorang gadis telah lahir di RS Wijaya Kusuma. Sadar-sadar saya merasa tengah diangkat ke pembaringan. Obat bius sudah sangat memengaruhi penglihatan. Katup mata rasanya berat sekali, pun tubuh menggigil hebat padahal tangan saya tak dingin sama sekali.
Sudahlah, kalian tak perlu tahu bagaimana rasanya. Yang terpenting ialah bagaimana saya bisa menemui si gadis secepatnya, karena tak mau dia terus-terusan minum sufor. Sudah tahu dia agak 'sakit', perawat malah tak cepat mempertemukan kami. Maka dalam waktu 12 jam, saya paksakan untuk berdiri, dibantu suami tersayang melangkah perlahan menuju ruang bayi.

Selama beberapa waktu, perasaan kamu-anak-saya? sepertinya masih menggejala. Maklum, operasi yang memang tak merasakan sakitnya proses melahirkan lewat normal sering dianggap tak seimbang dengan perjuangan seorang ibu.
Dulu memang sempat kepikiran, tapi setelah banyak sharing dengan teman, saya tak ambil pusing. Hal terpenting yang bisa saya lakukan hanya bersyukur ... bahwa saya tak perlu merasa sakit seperti yang lain apalagi mengalami sindrom baby blues, ataupun sampai pendarahan bahkan kehilangan nyawa saking tidak kuatnya kondisi sang ibu. Juga tak lupa bersyukur atas meruahnya ASI yang bisa saya beri untuk si gadis (walau 3-4 hari hanya mengeluarkan sedikit cairan bening) :')

Jadi tepat tanggal 25 November kemarin adalah usianya yang ke-3 bulan.

Tak terasa dia sudah mulai memiringkan tubuhnya, walau BBnya tak termasuk gemuk, tak apalah yang penting dia sehat ... sudah melewati masa gejala kuning ... sudah cukup berisi dibandingkan awal-awal ia lahir.
Afiqa Adwa Nugroho

Semoga shalihat ya Nak, membanggakan Rasul kita, juga menjadi panutan terpuji karena akhlakmu.
Semoga selalu sehat, ceria dan ikut membahagiakan orang-orang di sekelilingmu ...

Wednesday, November 26, 2014

Unexpected Friend

Sudah sekitar 9 tahun selepas lulus dari SMA, banyak sekali perubahan yang terjadi. Mulai dari lingkungan, cara pandang hidup, pencarian jati diri yang sepertinya belum puas berbenah, juga orang-orang 'pilihan' buat menjadi teman.

Beberapa tahun silam seorang teman pernah bertanya "Apa makna 'sahabat' buatmu Ve?"
Perlu bolak-balik berpikir untuk menjawabnya. Bagi saya yang berteman akrab dengan beberapa orang saja tentu saja merasa aneh juga kenapa teman sekelas saya ini bertanya demikian pada orang seperti saya. Teman saya ini sebenarnya bukan tak punya sahabat. Saya berani memastikan dia punya lebih banyak sahabat dari saya, bahkan rasanya saya bukan seorang 'sahabat' untuknya. Hanya saja, akhirnya saya menjawab begini: "Sahabat itu ... ketika yang lain melupakan, tapi ia mengingatmu walau kalian tak bertegur sapa."
Daaaan ... saya sadari sekarang bahwa itu salah.

Sahabat tidak cuma mengingat, tapi lebih mengarah pada 'gelar'. Pernah baca saja bahwa dalam periwayatan Rasulullah saw tak pernah disebutkan soal 'teman' ataupun 'kawan' :))
'Sahabat' merupakan 'gelar' tinggi untuk hal ini. Wah, saya jadi tak mau main-main pakai ngomong 'Kamu sahabatku!' segampang itu ^__^'
Kok ngomongin sahabat sih, Madam? *eaa efek post-nikah :))
Yah, simak dulu deh cerita saya~

Singkat cerita saat menikah 6 Juli 2013 kemarin, saya tak banyak mengundang resmi teman-teman semasa sekolah. Banyak faktor, selain waktu yang terbatas untuk mengirim undangan, banyak dari mereka tak berdomisili di Kuningan lagi. Maka dengan fast invitation a la masa kini, saya manfaatkan social media untuk mengundangnya. Beberapa teman dumay malah saya kirim undangan real karena selama saya berteman dengan mereka ada banyak kenangan yang membekas dan rasanya kami sudah sangat dekat saking akrabnya :D

Dan benarlah sesuai perkiraan, bahwa teman yang menghadiri undangan bisa dihitung jari. Justru teman-teman semasa ngekos kuliah malah datang, sampai terharu karena tahu mereka datang dari kota jauh.
Tidak saya sangka, teman seangkatan SMA ... yang notabene tidak pernah sekelas, hanya temanan satu organisasi, jarang tegur-sapa ... cowok lagi!

source

Kami cuma sekedar tahu, tak pernah ngobrol lama. Yang saya takjub juga adalah saat dia main ke Jogja, yang diingat ternyata saya. Weits, jangan mikir macam-macam lho ... dia awalnya minta info anak-anak alumni yang berada di Jogja, agar bisa ikut numpang nginep. Lumayan kan ... gratis~
Saya juga menyanggupi untuk ketemuan di Malioboro (semua orang tahu dooong) biar gampang nandain tempat. Dengan minta anter teman langgan mbonceng, bertemulah kami di sana.

Trenyuh begitu mendengar ceritanya, bahwa saya juga merasakan siapa yang kamu anggap teman bukan berarti demikian bagi mereka. Seorang teman sekampung datang ke kota yang baru baginya, ada 'teman' untuknya tapi tak dipedulikan. Dia sedikit mengungkapkan kekecewaannya, bahwa tidak sedikit 'teman-temannya' sudah tak lagi menganggapnya teman. Mungkin saya salah satu dari sedikit teman yang tak keberatan main sebentar untuk sekedar berbincang ringan dan menyambung komunikasi. Bener lho, kalau mau ngajak ketemuan saya pasti sempatkan waktunya, cuman selama ini jarang ada yang ngajak ... *menatap tanah
Well, teringat note kecil yang pernah saya baca bahwa teman maupun 'sahabat' itu toh akan berganti ketika menapaki fase demi fase kehidupan. Apa sih yang abadi?

Pun ketika teman saya ini mau balik, ia sengaja datang ke kos saya yang sumpeknya naudubillah ... hanya untuk berpamitan. Pantesan dia nanya-nanya jalan lewat telepon. Saya pikir cuma telepon ataupun SMS saja kan bisa, toh saya bisa sangat maklum karena tak tahu jalan.
Sama juga saat menjelang saya lulus, dia sempat datang berkunjung ke rumah beberapa bulan selepas Ramadhan. Ebuseeet ... itu saya belom mandi lohh, dan saya dikira lagi tidur doang *eaa malah bangga~
Datangnya kali ini sama mantan adek kelas kami, walau sebenarnya saya nebak sudah naik pangkat jadi calon istrinya sih :))
Masyaallah! Masyaallah!
source

Satu pembelajaran berharga dari orang yang tidak saya sangka-sangka, niatan silaturahimnya kuat sekali. Semoga saya bisa datang ke pernikahanmu nanti yak, saya bisa malu 7 bulanan kalau sampai melewatkannya begitu saja.

Selepas menikah ... seperti biasa tak banyak berkomunikasi dengan teman-teman, kecuali beberapa orang yang biasa saya 'ganggu' :)) tapi teman cowok saya ini pernah menanyakan nomor hp saya pada salah satu teman lama juga. Hehh? Iya saya agak heran. Kan bisa lewat inbox social media, pun setelah saya beritahu nomornya dia belum pernah menghubungi.

Nah, jadi pembuka awal itu nyambung gak sama inti cerita saya? ( '  ') ...

Tuesday, November 25, 2014

Miss Blogging

Nggak bisa mangkir bahwa kenyataan memiliki anak akan sangat menyedot perhatian, terlebih balita. Dari kehamilan yang saya-bingung-mengungkapkannya hingga kini dititipi anak newborn (oh, happy 3 months my gadis!), tiba-tiba saja merasa kehilangan waktu yang amat panjang. Maksudnya saya baru mengira bahwa mungkin selama berbulan-bulan kemarin saya sedang tidak begitu bahagia. Bukan karena kehamilannya, bukan karena ditinggal kerja suami ataupun jauh dari orang-orang tercinta ... tapi waktu yang dirasa sia-sia.
Saya tak mau cerita, karena masalah ini sepertinya aib bagi saya.
Pun ketika si gadis lahir ke Bumi (thanks for your strength to stay health!), masalah ini tetap saja sangat menggelitik. Sampai detik ini rasanya ghirahnya meningkat drastis begitu bersentuhan dengan keyboard laptop.
Selama kemarin gairahnya menurun drastis. Lhe memang aneh ya? Ini lagi girang-girangnya main sama anak malah banyak ide bermunculan. Fasilitas internetan memang bisa didapat dari tab ataupun hape jadul saya, tapiii ... tapiii ... beda sekali dibanding laptop. Rasa-rasanya isi dunia langsung terbentang gitu internetan di laptop.

source

Doakan kami punya laptop untuk hal-hal positif.
Saya kangen para fans nulis.

Tuesday, August 12, 2014

Benda Multifungsi: Sarung

Sarung yang selama ini dikenal dekat dengan pria Jumatan, sangat bersahabat pula dengan saya. Jadi saya=dekat dengan pria Jumatan? Ohoho mari kita gak udah bahas itu ...

source
Sebenarnya gak dari awal juga saya suka dekat-dekat dengan sarung, mulanya ialah saat saya di bangku perkuliahan. Bukan maksudnya saya suka bawa sarung saat kuliah lho, tapi dialah yang membuat malam saya selalu hangat walau kamar kos bocor kemana-mana.
Sarung berwarna hijau cerah yang identik motif kotak-kotak itu sudah sangat setia jadi selimut saya kala tidur. Mungkin di benak teman saya membatin miris "Segitu miskinnya kah kamu sampai selimut aja ga punyaaa" hahaha ... *turut prihatin pada seorang teman yang pernah 'mencicip' tempat tidur saya saat KKN dulu :))
Awalnya saya pakai sarung itu sempat 'disinisi' teman kos. Bukan sinis sih, cuma pandangan mereka seakan berkata gue-gak-bakal-pakek-gituan! Seiring berjalannya waktu, jadwal bioskop kosan pindah dari kamar teman ke kamar saya. Alhamdulillah, punya laptop yang dipasang TV tuner itu udah berasa kaya raya banget di sana. Alhasil teman-teman betah nongkrongin kamar sampai malam. Begitu nyamannya saya pakai sarung ketika musim hujan tiba, teman-teman mulai mempertanyakan apa badan saya baik-baik saja dengan itu?
Singkat cerita, mereka mencoba sendiri memakai sarung saat berkumpul. Hasilnya? Tiap nongkrong time mereka selalu pakai sarung ketimbang selimut bedcover tebal untuk menghalau dingin :))

Selepas menikah, saya sudah agak menjauh dari sarung *gak nangis dong
Sarung 2 biji hanya diperuntukkan untuk ibadah sholat suami, dan saya cukupkan pakai selimut untuk kebutuhan tidur. Tapi bukan berarti saya lepas si sarung begitu saja.
Ceritanya saya hamil tua ini sudah mulai kesulitan bergerak. Beberapa area tubuh rasa-rasanya lebih baik tidak melakukan aktivitas berlebihan. Bayangpun, sekarang mau pakai mukena bawah saja mulai kesulitan. Tapi saya tak mau itu jadi kendala besar, yang namanya mau dikasih anugerah Allah kok ngeluh? :)
Singkat cerita, hal yang sering dialami bumil adalah BAK yang terus kebelet dengan intensitas berlebih dibandingkan saat tidak hamil. Masalah terbesar saya adalah tidak punya rok karet. Kenapa harus rok?
Simpelnya, saya khawatir air seni yang keluar akan nyiprat kemana-mana termasuk celana panjang, misalnya. Kalau daster mah tak masalah, tapi pada saat daster masih di wadah cucian ... masalah besar dong. Lagi-lagi, sarunglah yang membantu saya dalam urusan pengganti rok :D

Ada hal yang mengherankan saat awal kepulangan saya ke Kuningan. Melihat ponakan saya yang baru sebiji, bukan hal aneh kalau dia tak mengenali saya karena sudah hampir setahun lamanya saya tak bertemu muka. Tapi ada kebiasaan yang membuat saya mengerutkan dahi.
Sepanjang Ramadhan ini keluarga kecil kakak saya menginap di rumah. Dalam beberapa hari saja, saya bisa tahu kebiasaan orang-orang di rumah termasuk cara kakak menidurkan anaknya. Jadi, malam-malam saat saya terbangun ... kakak saya tengah 'mengalungkan' sarung di pundaknya. Di dalam sarung itulah ada ponakan saya. Singkatnya, si sarung telah jadi alat praktis untuk ayunan ternyata ... -__-

Begitulah sedikit tentang persahabatan saya dengan sarung. Ada pengalaman kalian yang gak kalah uniknya dengan sarung? Dijadikan sebagai taplak meja darurat misalnya... :))
Sudah ah, dzuhuran dulu~

Monday, August 11, 2014

Selamat Lebaran 1 Syawal 1435 H

Telat sekitar 12 hari .... :))
Gakpapalah, yang penting saya turut mengucapkan karena mungkin banyak terdapat tulisan yang nyeleneh, cenderung mengejek maupun bersenda gurau yang tak pada tempatnya selama menghuni blogspot. Oleh karenanya, saya haturkan permohonan maaf yang mendalam, karena sakit hati mungkin tak pernah terganti walau waktu tetap mendetik. Semoga Allah membalas maaf yang penuh ikhlas dari pengunjung semua :)

foto diambil saat sedang silaturahim ke tempat nenek
Cerita sedikit soal kemuraman saya pada lebaran akhir Juli ini, lagi-lagi saya tak bisa berkumpul dengan suami tercinta. Ini merupakan kali kedua tahun pernikahan kami yang diharuskan LDR; saya di Kuningan dan aa di laut (gak kumpul juga sama keluarganya disana). Saya tidak sedih, hanya merasa kesepian sepanjang waktu tanpanya *eaa
Herannya, kadang saat dekat kami malah sering jahil-menjahili sampai kadang rasa jengkel mencuat. Tapi yaa, sejengkel-jengkelnya perasaan toh tetap saja ada rindu karena seringnya kami hidup terpisah dibanding berdua (ujiang oh ujian :p). Tapi yang namanya sudah komit, mau tak mau harus dijalani. Mungkin saja di masa mendatang nanti Allah telah siapkan pekerjaan yang membuatnya bisa berada di rumah setiap hari, atau mungkin ada rezeki tak terduga, atau dik bayi bikin penjemputan nafkah makin mudah, deras dan luwes. Aamiin ... setiap harapan saya yakin adalah sebuah doa.

Oh ya, sebelumnya saya belum pernah cerita ya?
Seperti kebanyakan pasutri baru menikah, tentu salah satu tujuan menikah adalah meneruskan garis keturunan. Sengaja saya yang meminta menunda beberapa bulan untuk program anak, karena pertimbangan nomaden yang dikhawatirkan berimbas buruk pada janin. Hingga akhirnya kami merasa sudah cukup jalan-jalan mengenal daerah baru, sudah mulai menetap di satu tempat, dan mulai rindu celoteh balita (ciee) barulah program dilakukan. Setelah sekitar 5-6 bulan lamanya kami menunda, program kami tak perlu ditunggu lama karena Allah segera memberi kepercayaan kami berupa testpack positif saat janin menginjak usia 2 bulan. Alhamdulillah.

Jadi saat saya pulang ke Kuningan untuk lebaran sekaligus lahiran di sana, pandangan keluarga pada fokus ke perut semua :)) Alhamdulillah, tak perlu mendapat pertanyaan menjengkelkan seperti yang terdahulu (kapan lulus? mana pacarnya? kapan nikah?). Pertanyaan mainstream kali ini adalah: "Berapa bulan?" dan "Suamimu mana?", hahaha ...

Segitu dulu deh tulisannya, topik lagi bisa disambung dan direquest, haha ...

Friday, April 25, 2014

One Day One Juz

Memaksakan diri untuk melakukan sesuatu tak ada salahnya terlebih sesuatu itu bersifat positif, begitu saya rasa. Ajang 'pemaksaan' beda tipis dengan belajar, itu artinya kalau kamu tidak melakukan ya tidak akan bisa. Dipikir-pikir, saya ini masih ada di urutan paling jongkok ya ... tapi masih beruntung masih termasuk di sana, tinggal selaraskan niat dengan aksinya ;)

source
Berangkat dari keinginan itulah, saya memutuskan untuk mengikuti kegiatan yang akhir-akhir ini marak berseliweran di ruang maya saya: ODOJ alias One Day One Juz, satu hari satu ayat. Awal-awalnya saya ditanya-tanyain sama teman soal ODOJ, lalu dia memutuskan untuk ber-ODOJ duluan karena dulu tahunya hanya bisa via WhatsAp.
Ng ... saya sih pingin, namun masih ada 'tapi'. Inilah kalau muslim sudah futur, bangkitnya susah sekali. Ngaji saya cuma selembar-dua lembar perharinya, itupun kalau gejala M sedang absen. Dulu biarpun malas, begitu dengar teman sekos terbangun dan mulai gericikan air wudhu, toh keikut juga. Pun ketika sedang tak ingin mengaji, tapi motivasi itu keluar sendiri begitu mendengar ada teman yang tilawah selepas maghrib atau subuh. Oo ... begini rasanya tidak diawasi MR maupun kawan, saya musti berjuang sendiri untuk membiasakan diri melakukan hal positif ini dan itu dari awal.

source
Dan ... majulah saya ikut info Afin yang ngasih tahu bahwa ODOJ ada di fb juga. Berbekal nge-add seseorang bagian ODOJ wilayah Cirebon, saat ini saya tergabung dalam naungan ODOJers. Masih hijau, baru sekitar seminggu saja ... tapi alhamdulillah selalu selesai 1 juz sebelum maghrib.

Masa perkenalan tidak terlalu banyak, saya sudah lihat biodata dan foto anggota grupnya ... dan mereka masih pada muda sekali ... #berasapalingtuasendiri
Angkat topi deh buat para muslimah ini, rata-rata mereka seumuran adik bungsu saya ... sekitar SMP-SMA, sementara saya di umur segitu sedang banyak berkeringat pada aktivitas ekskul wajib di sekolah.

Apapun umurnya, kegiatannya, statusnya ... semoga istiqomah selalu ya para muslimah shalihat.
Juga mudah-mudahan langkah awal ini jadi kebiasaan positif saya di kemudian hari, terlebih menurun pada putera-puteri saya kelak, aamiin.

Dua Paket

Yayyy... senangnya didatangi Pak Pos untuk memberi kiriman paket maupun surat tagihan.
Ceritanya Kamis kemarin Pak Pos datang membawakan saya 2 paket sekaligus. Paketnya kecil-ringan saja.

Yang pertama ialah paket 'hadiah' dari penerbit Diva Press, yaitu berupa buku antologi dan sertifikat. Jadi beberapa bulan lalu saya ikut lomba antologi yang diadakan penerbit ini. Hadiahnya memang tidak begitu menggiurkan, tapi saya menulis ini dalam rangka ulangtahun suami saya pada Desember tahun lalu, makanya saya tulis persembahannya buat suami dong :">
Alhamdulillah saya ikut ke dalam salah satu nominasi para kontributornya. Mungkin karena suatu hal, nama para kontributor antologi ini tidak disebutkan. Sebagai gantinya, id tweet kamilah yang ditulis di sana (id saya sunkidsunkids). Senang sekali rasanya ... karena sampulnya lucu, desain kertasnya juga cantik didominasi ungu, tebal tapi tidak berat. Bagi yang berminat bisa coba cari di Gramedia, mengingat Diva Press termasuk penerbit yang sudah cukup dikenal di toko buku manapun.
Incaran saya selanjutnya masih berupa kumpulan cerita pendek, tentu saja milik saya semua. Walau sudah pernah ikut beberapa antologi, rasanya saya tidak puas dengan cara 'keroyokan' seperti itu ... dan karena saya juga telah salah memilah lomba juga.



Paket kedua masih berupa hadiah. Bukan dari dunia kepenulisan, melainkan dari Pak Kebun, hihihi ...
Jadi ceritanya baru-baru ini saya memfollow page Al's Garden yang hobi serta jualan bibit tanaman. Setiap minggunya beliau selalu bikin kuis yang hadiahnya tentu saja bibit-bibit hasil kebunnya. Kemarin yang dihadiahkan yaitu tomato black cherry, cabe red habanero, dan ... morning glory Youjiro!
Hyaaa kebetulan sekali saya sedang mengincar bunga rambat satu ini. Tak disangka, dari banyak-panjangnya jawaban para peminat, komentar pendek saya malah menang :">

Sekalian free ongkir, saya pesan 6 bibit lagi: marigold ice cream & French mixed, morning glory chocolate silk rose & grandpa ott, dan marvel of peru choice mixed (bunga pukul 4).

Gak nyesel saya sekalian pesan di sana, rapi sekali packagingnya...
Di dalamnya juga terdapat 'nota' rincian pesanan, terlebih kop suratnya itu lho... resmi sekali padahal ngobrol sama orangnya biasa aja kadang beliau curhat segala :))
Lebih okenya lagi, di setiap kemasan bibit itu terdapat cara menyemai benihnya. Kalau tidak begitu, saya yang masih pemula ini mungkin gugling dulu, karena beberapa biji memang seringkali butuh perlakuan khusus dari awal menanam.

Alhamdulillah, rezeki tidak terduga ...

Monday, April 14, 2014

ASUS Notebook Terbaik dan Favoritku


Di era serba elektronik seperti sekarang ini, manusia menyesuaikan diri dengan mulai ‘bersahabat’ dengan berbagai macam gadget. Dimulai dari penggunaan telepon selular, komputer, laptop, tablet beserta teman-temannya, manusia kini ikut berevolusi menjadi makhluk yang serbatahu hanya dengan sekali klik.

Kecenderungan manusia untuk bisa mengakses segala informasi dengan cepat tentu saja membutuhkan alat yang juga canggih. Dari waktu ke waktu, beragam alat elektronikpun terus mengalami inovasi seiring perkembangan ilmu teknologi yang pesat. Sudah tidak aneh lagi kita bisa menemukan manusia dengan beragam profesi memiliki perangkat komunikasi yang praktis, tak terkecuali kalangan terdidik seperti guru dan pelajar.

Pekerjaan sekolah yang dulu masih menggunakan kertas dan pena, kini terganti dengan perangkat sejenis komputer dan laptop. Selain lebih menghemat tenaga, tempat dan waktu, komputer maupun laptop memiliki banyak fasilitas software untuk untuk presentasi, membuat makalah, membuat grafik dan seterusnya.

Keluarga ASUS
Keluarga kami bisa dikategorikan sebagai keluarga ASUS. Kenapa? Hampir semua perangkat ketik kami menggunakan ASUS. Dari zaman mulai tren komputer di kota kecil kami tahun 1998, CPU komputer kakak saya telah dilengkapi hardware keluaran ASUS. Yang paling menggembirakan adalah ketika saya dihadiahkan seperangkat komputer dengan CPU canggih berlogo silver merk keren tersebut. Begitu dicoba, assessment perkuliahan saya jadi amat cepat dan mudah dikerjakan karena sistemnya yang bekerja cepat dan optimal.

Ketika itu masih minim-minimnya pengetahuan mengenai perangkat elektronik ketik praktis semacam laptop. Di kota kecil saya itu hanya terdapat satu toko komputer merangkap rental komputer. Di sanalah segalanya bermula, dimana kami diperkenalkan dengan benda mini yang berkemampuan sama dengan komputer. Karena masih minimnya tingkat pengetahuan tentang teknologi, maka notebook yang dijual hanya tersedia satu-dua merk saja.

ASUS N45S Series
Saat urgensi pemakaian barang praktis tersebut semakin dibutuhkan, maka disanalah kami diperkenalkan dengan notebook terbaik yang cocok untuk kepentingan sekolah. Tentu saja atas saran si penjual dengan membandingkannya dengan merk lain.

Mulai perkuliahan adik saya, iapun memilih notebook N43S di tahun 2012. Dengan spesifikasi yang lebih baik dari sebelumnya, laptop keren ini sudah punya kecepatan bagus di dunia maya, termasuk online-game dan streaming video.

Lain halnya dengan adik, kakak saya yang memilih peluang usaha membuka netcafe juga menjatuhkan pilihannya pada perangkat keluaran ASUS. Belum lagi untuk mengembangkan usaha lain dalam bentuk online-shop, ia juga memilih ASUS X45C series pada tahun 2013 dalam kemudahannya berselancar di dunia maya.

Plus-Minus ASUS A6R Series
ASUS A6R Series
Sebenarnya pembelian notebook ini sendiri sudah dari tahun 2006, namun baru digunakan secara maksimal di tahun 2008. Dulu KKN-PPL saya di tempat yang agak jauh otomatis memerlukan alat ketik praktis yang mudah dibawa. Alhamdulillah ada laptop ASUS A6R yang belum digunakan maksimal di rumah, maka saya bawa ke tempat praktik kerja.

Secara spesifikasi, banyak sekali hal yang kurang dalam laptop model ini dibandingkan dengan laptop-laptop keluaran masa kini. Beberapa poin yang saya perhatikan selama kurun waktu 6-7 tahun memakai A6R diantaranya ialah:
-  RAM yang hanya tersedia 256 MB, tentu saja membuat laptop ini sangat lamban beroperasi, terlebih ketika data-data dalam HDD-nya mulai penuh. Ini sangat mengganggu terutama ketika saya tengah mengoperasikan aplikasi grafis. Namun saya upgrade dengan menambah RAM 1 GB, sehingga akselerasinya bertambah cepat (sekarang pastilah sudah mencapai 2 atau 4 GB).
- Kapasitas HDD 40 GB pun amatlah kurang untuk menyimpan banyak file yang berjumlah puluhan/ratusan giga semacam mp3 dan video Tetapi Anda bisa menyiasatinya dengan membeli harddisk eksternal. Alternatif lainnya, kalian bisa mem-burning data-data yang hanya sesekali dipakai agar harddisk tidak overload oleh data internal.
kondisi sudah separuh pupus
Selain sekian kekurangan-kekurangan tersebut, saya kira laptop model ini cukup membantu kelancaran perkuliahan saya. Berikut beberapa nilai plus yang saya unggulkan dari laptop jadul ini:
- Walau terbatas pada Windows Professional SP 2 karena masih Celeron , hal ini justru membuat saya tidak perlu repot banyak meng-upgrade aplikasi yang telah ada karena secara mendasar, apa yang dibutuhkan sudah terpenuhi. Kecuali untuk hal-hal yang saya sebut kekurangan sebelumnya, tentu saja.
- Dalam kurun 6-7 tahun pemakaian dengan rutinitas penggunaan lebih dari 10 jam tiap harinya, lampu led LCD-nya hanya diganti sekali.
- Walau sedikit agak berat, laptop ini telah dilengkapi oleh DVD-RW yang bisa digunakan untuk DVD juga mem-burning data.
- Terdapat 4 buah port USB yang bisa kalian gunakan pada belakang laptop. Hal ini memudahkan users untuk cepat mencari  port karena berkumpul di tempat yang sama.

Salah satu hal yang mengejutkan, motherboard laptop jadul ini pernah dinyatakan broken dan dianjurkan untuk mengganti hardware tersebut atau membeli laptop baru. Akhirnya saya tidak jadi servis dan hanya reinstall biasa. Hebatnya, laptop ini bisa berjalan normal. Iseng memainkan game-online pun masih berjalan dengan baik.

Finally ...
Mengingat betapa outdated-nya laptop model ini, saya tidak merekomendasikan kalian untuk memilikinya. Namun dari sekian banyak hal yang jadi kekurangannya, saya tetap memilih ASUS sebagai laptop terbaik untuk ke depannya. Begitu tahan bantingnya produk ASUS, rasanya akan sulit beralih ke merk lain. Toh saya yakin dari waktu ke waktu ASUS akan selalu berinovasi ke arah yang lebih baik untuk memuaskan kebutuhan para konsumennya.
Semoga artikel ini bermanfaat untuk kalian yang sedang mencari rekomendasi notebook bagus ;)

Artikel ini diikutsertakan dalam ASUS Blog Contest

Saturday, April 12, 2014

Saya Ingin Narsis!

Betapa senangnya orang-orang bisa dengan mudahnya nampang di facebook, juga di G+ ini. Ada yang rutin ber-selfie dengan today's outfit (bukan model, tapi punya butik), berpose kiyut dengan anaknya, foto standar dengan keluarga atau pasangannya, berakting ala bibir ducky, dan sebagainya. Terus terang saya sirik, sejujurnya ingin sekali bisa nampangin foto-foto sejenis itu *naluri alay saya masih ada

Pernah suatu ketika saya pakai foto alay jaman awal kuliah dulu. Dengan khimar sarung, saya poles itu muka dengan penambahan kumis tebal. Hasilnya? Kolom komentar di bawahnya bejibun ... banyak sekali. Benar-benar puas saya bisa 'menarik' minat orang mengomentari apa yang saya lakukan. Saya tidak berpura-pura bahwa orang-orang berkomentar di postingan saya merupakan hal yang menyenangkan. Itu artinya mereka memperhatikan apa yang saya kerjakan, senang dong *dasar perempuan

Suatu hari saya mulai 'berulah' lagi dengan memakai pic foto KTP hitam-putih, ajib sekali. Itu foto asli tanpa rekayasa, hanya saya sedikit tan-kan kulit biar eksotis. Lagi-lagi mengundang beragam komentar dan saya menikmati itu.

Tapi kesemuanya tak bertahan lama. Banternya sebulan, seringnya dalam hitungan hari/minggu sudah ganti lagi ke pic yang saya comot di gugel image. Foto bayi, jeruk, atau tuzki bertampang datar sering jadi pilihan saya dan berhasil bertengger selama berbulan-bulan.

Pas awal nikah, barulah saya nampang dengan suami. Tentu itupun dengan topeng khas pengantin :))
Kesimpulannya, saya jarang mengekspos wajah. Dan semakin hari rasanya semakin ketat, begitu saya posting muka dalam beberapa acara travelling, saya tutup wajah dengan watermark.

Dulu saat saya masih lumayan konsisten dengan teori-teori seputar anjuran Islam dalam berhati-hati 'menampang' diri di socmed, saya betulan menjaga itu. Buktinya, hanya foto KTP yang masih nangkring sampai sekarang di album PP facebook. Sekarang-sekarang ini memang sudah tak begitu memedulikan (ngerasa udah taken jadi pede gak bakal ada lagi yg naksir XD), tapi tetap saja naluri alay itu seperti tersumbat. Tidak tersalurkan sempurna.


Tuhan, saya ingin mencoba narsis!
Seolah-olah hati kecil saya ini gelisah kalau sampai kejadian muka asli saya dipampang. Jadilah sampai detik ini saya hanya berani me-watermark muka atau memakai pic ukuran mini seperti yang saya tampilkan di G+ #eaa ujungnya promosi berkunjung ke sanah~
Ya sudahlah, biarkan saja seperti begini adanya. Mungkin krisis ini akan menghilang di lain hari. Saya masih percaya bahwa semua akan indah pada waktunya ... *apadeh

Thursday, April 10, 2014

Cemburu

Warning, postingan gak penting!


Seumur-umur, baru sekarang saya membenarkan para sok ahli soal perasaan manusia, utamanya antara pria dan wanita. Banyak artikel yang saya anggap terlalu berlebihan dalam menilai hubungan dua jenis kelamin ini. Mulai dari ketertarikan, saling jatuh cinta, cemburu hingga perselingkuhan.
Hadeh, ya sudah kalau dianya ternyata suka sama orang lain ya putus aja, cari yang lain kek ... begitu pikir saya, terlebih untuk urusan remaja. Saya memang berprinsip sedari single, semisal dihinggapi perasaan suka ya jangan terlalu dihayati, amat bodoh memandangi terus-terusan dari kejauhan tapi tak pernah tergapai. Percaya saja jodoh itu sudah ada yang mengatur. Kalau ditolak, ya cari yang lain. 
Logis saja kan?

Tapi itu masa single.
Lain ketika saya baca artikel seputar rumah tangga, segala permasalahan yang dijabarkan sepertinya jauh lebih berat. Tentu saya mikir ulang perihal 'putus', karena itu berarti akan berdampak pada banyak pihak terutama anak. 
source

Jadi, ini sebenarnya masalah cemburu.
Rasa yang seumur-umur saya jaga, ya ternyata ngalamin juga setelah menikah. Secara garis besar, saya tahu tentang masa lalu suami yang juga ngalamin masa pacaran. Dulu saya bisa bersikap sebagai teman ketika menanggapinya. Saya rasa setiap orang punya masa lalu maupun kenangan yang kita (sebagai orang baru) baiknya bisa memahami dan maklumi itu.

Hal serupa juga diceritakan ibu mertua saya. Hanya bedanya, beliau cerita setelah menikah. Awalnya biasa, tapi kok lama-lama panas juga. Makanya kalau suami sedang kerja, iseng-iseng saya suka mesej "... jangan selingkuh ya", hahaha ... padahal area kerja suami itu hampir semuanya laki-laki. Kalau sudah begitu, pasti ditanyain ada denger apaan dari orang :))

Pernah juga tak sengaja lihat mesej taun baheula dari teman perempuannya, kok jadi bertanya-tanya juga siapa dia apa hubungannya ... padahal gak mesra dan bisa dibilang mesej biasa *tepokjidat
Mungkin begitulah cinta yang tumbuh setelah menikah. Ragamnya bisa jadi berbeda-beda pula. Ada yang bawaannya pingin ngasih kado terus, ada yang pingin selalu dekat (nah ini model manja kali ya), ada juga yang pakai kata-kata penuh bunga setiap harinya, dan sebagainya.

Berharapnya kecemburuan saya tak berlebihan, tetap pada koridor dan kondisi tertentu saja. Semoga.
Biar dibilang apa kata orang juga, cemburu begini sudah jadi hak, tidak bisa dong dibiarkan berlarut-larut. Minimal nanya-nanya, itupun gak usah keseringan... nanti suami kege-eran *eaaak* .. engga ding, maksudnya laki-laki kadang jemu ditanyai hal yang sama setiap waktu.
Tapi ngomong-ngomong, malu juga kok bisa-bisanya mencintai dengan cara norak seperti itu... *sungkem sama Aa

Wednesday, April 9, 2014

Soerabi Bandoeng ala Balikpapan

Subhanallah ... berapa bulan yak saya ga posting-posting di sini? Rasanya setara dengan dosa menelantarkan duit satu milyar.
Akhir-akhir ini memang saya tak banyak buka blogger, eng ... buka sih, tapi sekedar cuci mata tulisan teman-teman saja :))

Hari ini cerita ringan-ringan saja deh padahal biasanya juga gitu. Lagi-lagi soal makanan, beberapa waktu lalu sempat saya rasakan gejala ngidam. Pingin mi (alhamdulillah udah gak sering mual dan mulai bisa makan mi asalkan ga berkuah), pingin martabak (alhamdulillahnya ada sodara beli martabak waktu arisan keluarga), pingin kacang merah (alhamdulillahnya ampe dikirimin 2 kg dari kampung beserta acinya segala), pingin burjo (alhamdulillahnya ketemu sama ayah mertua), pingin sorabi Kuningan ... nah yang terakhir ini agak susah.

Kalau saja punya alatnya, sebenarnya bisa saja dibuat sendiri. Tapi buatnya harus pakai tungku dan wadah mangkuk dari tanah liat ... ya gimana coba?

Entah ini petunjuk atau apa, suatu ketika saya dan suami dapat musibah sehingga sementara itu kami pinjam motor mertua. Tumben-tumben juga mata suami tengok-tengok ... menjurus ke arah saung mirip lesehan, hanya saja sia tidak ditutup kain. Tertera tulisan di papan warung "Soerabi Bandung".
"NENG! Ada sorabi tuh!" Wah.
"Mau beli gak?"
"Nanti aja A, barusan makan banyak sih ... jadi kenyang duluan."
"Ya udah, bungkus aja ... taruh kulkas nanti."
"..."

Di warung ada sekitar 5 orang, saya rasa semuanya orang Sunda ... karena kentara sekali kok logatnya :3
Kangennyaa saya sama tungku-tungku ini, berasa siduru kata orang Sunda mah.
Karena yang terlihat di gambar kebanyakan sorabi modif yang manis-manis, saya tanyalah ada yang rasanya asin/gurih ada atau tidak. Alhamdulillah ada! Semangat deh pesen 2 biji; sorabi telur dan oncom.
Kirain saya oncomnya ga pedas, karena ibu-ibu yang melayani menanyakan mau pakai mayones atau tidak, saya bilang tidak. Tapi begitu dimakan keesokan harinya (saya angetin pakai kukusan), wih oncomnya pedas mantap!
Dan ... habislah 22 ribu rupiah di tempat itu. Harganya betulan nyekik, sebab di Bandung sendiri teman saya bilang berkisar seribu-dua ribu perak perbuahnya (entah kalau yg modif). Di Kuningan sendiri sorabi langganan keluarga saya mencapai 4 ribu, bisa juga pakai macam-macam (bisa beli yang tersedia di sana maupun bawa tambahan isi sendiri).
Setiba di rumah, ga tahan juga icip-icip ... walau kenyang mendera, habis juga 1 porsi, huahahaha ...

Rasanya lumayan, rating 2,6 dari 5. Sayang sekali mengingat pembungkus sorabi itu harusnya pakai daun pisang, ini dibungkus pakai plastik. Bisa makan di sana juga, disediakan tempat duluk dan mejanya kok ;)
Pokoknya kalau kalian mau icip sorabi begini, kosongin perut dulu yaaa. Karena bahan utamanya dari santan dan tepung (apalagi saya pakai telur), jadi sangat cukup untuk sarapan :))

Bagi yang bermukim di Balikpapan silakan beli di ringroad, pas sebelah kanan swalayan Maxi cabang ringroad (PDAM). Tempatnya agak masuk, di antara 2 pertigaan.
Sempat saya tanyakan kapan jadwal 'beredarnya', si mamangnya bilang tiap hari tak terkecuali hari libur. Justru hari libur itulah bisa lebih pagi lagi bukanya. Biasa buka jam 10-11 pagi sampai malam (lupa jam berapa).

Selamat kulineran ;)

Saturday, January 25, 2014

[Writing Challenge] Rant Something: Rewel Tak Termaafkan

Entah bagaimana caranya agar bisa cepat kembali ke tanah Jawa kecuali dengan kendaraan sabar. Nyelekit tentunya ketika ada sesuatu yang sangat diinginkan ternyata harus menunggu setengah tahun lagi untuk mencapainya. Begitu memang hidup 'nekat' mandiri. Jauh dari keluarga mengharuskan diri beradaptasi dengan lingkungan dan adat setempat yang kini kutempati, Borneo.

Sudah beberapa kali Mamah di lembah gunung Ciremai menawarkan aneka sandang-pangan untuk dikirim kemari, tapi apa daya mending uangnya ditabung untuk hura-hura dan pesta pora di sini ... *lho?
Maksudku, biaya hidup di sini kan beda dengan di Jawa yang rata-rata murah-meriah. Aku masih penyesuaian lidah pada masakan seafood yang biasanya orang bilang mewah, di sini ya tentu saja terbilang murah.

Dan di sinilah puncaknya.
Tepat pada lidah pengecapku ini, syaraf-syarafnya sedang menuju ke beberapa sumber titik rasa yang tak bisa kutemui di sini. Tiba-tiba aku kepingin jajanan yang ada di toko Keris di kota kelahiranku itu. Kemudian, kepingin ayam pejantan goreng khas Mang Wari ... juga sorabi telor depan kolam renang ...
Ahuh! Ini benar-benar menyiksa, kukira takkan ada jenis makanan semacam itu di pelosok manapun selain di tempat kelahiranku itu *halah

Sudah nebeng di tengah-tengah kerumunan asing, ditambah Kangmas sedang tidak di rumah hampir 3 minggu lamanya. Ini kan weekend, harusnya wakuncar tiba malah tak ada yang menemani, jadilah Sabtu merindu yang sempurna.

ilustrasi
Jadi gamblangnya, beberapa minggu belakangan ada kejanggalan dalam diriku. Suka pinginan, suka panas-dingin kalau kelamaan berdiri, dan yang lebih mencurigakan ... suka mual dan suka yang asam-asam.
Hahaha, beberapa gejala itu wajar dong buat wanita menikah ... doakan saja ya mudah-mudahan benar apa yang dicurigakan, dan semoga segala bentuk kerewelan ini segera terobati agar bisa dimaafkan.

Tulisan untuk memeriahkan GA Sabtu Merindu

___________________
Yaah, telat :(
Padahal masih jam 20.23 WITA ...
Tapi ya sudahlah, sebagai rasa kekecewaannya, saya ganti aja buat writing challenge -___-"

Monday, January 20, 2014

[Writing Challenge] A Letter to Anybody

Assalamu'alaikum warahmatullah wabarakatuh
Dear Kak Rina,

Awalan surat pasti selalu bernada sama: Apa kabar, Kak?
Bukan aku menyamakannya seperti yang orang lain lakukan, tapi sungguh aku ingin tahu keadaan Kakak sekeluarga di sana.

Aku beruntung pernah ikut sahabat pena sewaktu SD, sampai kita berkenalan lewat surat bahkan hingga aku kuliah. Ternyata lain sekali ya antara kabar lewat sms dengan korespondensi. Tahu tidak dulu aku suka ngintip-ngintip pagar rumah siapa tahu ada pak pos yang datang memberi surat untukku. Aku senang sekali bisa kenal dengan Kak Rina karena bisa jadi seorang kakak perempuanku. Kangen sekali berdiskusi dan bercerita banyak hal dengan Kakak.

Kakak, tak lama selepas wisuda aku menikah, tepatnya 6 Juli 2013 kemarin ... menyusulmu yang beberapa tahun silam telah menyempurnakan dien. Ternyata begini ya  menikah itu, hahaha ... ada banyak hal yang harus kupahami dan kupelajari. Suamiku orang Kalimantan, makanya domisiliku sekarang tidak di Jawa Barat maupun Jogja lagi. Alhamdulillah orangnya baik dan sangat bertanggungjawab, walaupun harus meninggalkanku karena pekerjaannya selama dua minggu di lapangan. Banyak yang ingin kuceritakan, tapi terlebih aku ingin tahu keadaanmu. Dimanakah Kak Rina sekarang? Sudah punya putera/puteri-kah?

Sayang sekali aku kehilangan kontak samasekali denganmu setelah gempa Padang itu.
Kakak tahu? Aku menghubungi Kakak lewat nomor hp yang Kakak beritahukan, juga menyuratimu di alamat yang biasanya. Facebookpun sudah lama tidak aktif dan perlahan hilang. Aku harap Kakak dan saudara-saudari di Padang selalu dalam lindunganNya.
Aku masih ingat tulisan mungil-rapimu, bisakah Kak Rina tuliskan surat untukku lagi? Aku akan sangat menantikannya, ceritakanlah tentang semuanya di sana!

Balikpapan, 20 Januari 2014
dari sahabat penamu Vera Yulia, yang masih ingat padamu

_________________


Nyaris terlupakan, mungkin hal terburuk yang ada dalam diri saya pada seseorang yang surat-suratnya pernah singgah di ruang baca saya. Semoga beliau memaafkan saya.
Namanya Rina Dahlyanti, wanita Padang yang hingga kini saya tak pernah lagi mengetahui kabarnya. Gempa Padang tahun 2009 (kalau tidak salah) jadi awal putusnya kontak kami. Padahal kalau dipikir lumayan juga ya, lewat korespondensi sejak SD ... atau kalau tidak salah kami diperkenalkan seseorang (maaf, lagi2 saya lupa sama siapa) ketika saya sudah menginjak bangku SMP.
Lewat e-mail blog ini saya berharap suatu hari nanti beliau membacanya, lalu bisa menghubungi saya lewat socmed maupun lewat blog ini.

Hope you're always good wherever you are, my dear Sister.

ditulis untuk ikut ini

Thursday, January 16, 2014

Lihat Kebunku ...

Musim hujan begini jadi bikin urung terus nyiram halaman maupun ke loteng untuk melihat perkembangan sayuran kami. Akibatnya melati saja enggan berbunga karena dingin, tapi semoga saja jamur-jamur liar ga tumbuh di rerumputan depan.
Pagi hujan begini tumben saya penasaran untuk nengokin sayuran. Dan hyaaa ... senang sekali lihat bayam sudah cukup umur untuk dicabut, dan kangkung juga sebentar lagi bisa dipanen. Daun bawangnya masih butuh beberapa batang lagi agar bisa dipakai giliran, nantilah kalau ada tukang sayur lewat ...
Tomat yang saya besarkan di kapas tidak tumbuh, mungkin karena terlambat dimasukkan ke tanah -__-

Bunga entahapanamanya tambah 1 bunga
Bayam - kangkung
Bunga merpati
Sawi baru tumbuh-daun bawang-tomat-jeruk
Arbei nunggu matang

Thursday, January 9, 2014

Hasil Panen Berujung Sapo Tahu

Agak maksa juga ni judulnya ...
Saya cuma pingin rekam perjalanan 'kebun' kecil milik kami aja, bahwa dari sebelum nikah suami saya memang suka nanem-nanem tanaman dapur gitu. Maksudnya tanaman untuk keperluan masak gitulah.
Awal kepindahan saya ke Balikpapan juga sudah dimulai, cuma sayangnya tanah di sana kurang bagus sehingga kangkung yang kami tanam berujung tewas dimakan hama dan tak kunjung besar.

Sepisah kami dari orangtua suami, rencana kami meneruskan kebun kecil-kecilan itu tetap ada. Bermodal styrofoam dari penjual buah, sayur-mayurpun sudah siap diwadahi. Lama kelamaan tanaman di rumah tambah banyak, tambah asri deh :)

Tha-thaaa~

'Kebun' atap
Sudah sebulan lebih kayaknya nih, harusnya masa panen itu 22 hari. Baru sekarang sempat saya garap untuk masak brunch kami hari ini. Dari kapan hari saya kepingin sapo tahu, baru sekarang kesampaian karena bahan juga sudah cukup tersedia. Ga umum kali ya, sapo tahu kok pake kangkung ... tapi berhubung brokoli, bakso maupun wortelnya ga ada, maka pakai saja yang ada di kebun.

Bahan:
- 1 buah tahu sutera/telur/jepang, iris sesuai selera dan goreng hingga kecokelatan. Tiriskan.
- kangkung secukupnya
- udang kecil secukupnya (sesuai selera, bisa juga diganti ayam/sosis/bakso/cumi)
- jamur putih secukupnya, rendam dengan air panas hingga melunak, cuci dan tiriskan

Bumbu:
- 1/2 bawang bombay, iris kecil
- 3 siung bawang putih, iris kecil
- semangkuk air (bila suka kuah banyak)
- 1 sdm rata maizena
- 1 sdm kecap asin
- 1 sdm kecap manis
- 1 sdm saus tiram
- merica secukupnya
- daun parsley secukupnya
- kaldu
- gula-garam secukupnya
- minyak wijen (skip)
- margarin untuk menumis

Cara membuat:
- Tumis bawang bombay dan putih dengan margarin
- Masukkan udang, tumis hingga berubah merah
- Masukkan kangkung hingga setengah layu
- Masukkan semua bumbu, aduk hingga mengental
-Sajikan selagi panas

 
Powered by Blogger.