Showing posts with label miscellaneous. Show all posts
Showing posts with label miscellaneous. Show all posts

Saturday, November 29, 2014

Bukan Cinta Sekilas Mata

"Mengapa pria bisa setega itu ya ..."
Saya menyimbolkan diri dengan mengerutkan dahi.
"Aku sudah sampai di pengadilan tadi."
"Mau mengurus itu?"
"Tidak, hanya tanya-tanya."

...

Saya ini orang datar, sebenarnya. Menemukan 'cinta' sejati saja butuh waktu khusus bermuhasabah dahulu. Lalu bagaimana kalau seseorang bertanya. "Apa kamu bisa mudah memutus cinta lalu mencari yang lain dalam waktu singkat?"
Saya ditanya begitu oleh seorang wanita berumur 40 tahunan, sebut saja Ceceu. Profesinya sebagai tukang pijat, tapi orang-orang mungkin lebih familiar kalau menyebutnya sebagai dukun bayi. Mukanya bersih putih, malah saya kira masih umur 30an ... orangnya sigap dan cekatan, sehingga kami kira dia tidak betah di rumah saking 'terburu-buru'nya. Ia sering mengomel soal kebersihan selepas melahirkan, tentu dengan memberi tips cuma-cuma seputar kecantikan. Punya 3 anak, jagoan semua. Namun entah dengan suaminya.

source
Katanya, Ceceu adalah seorang istri dari lelaki Betawi yang kabarnya sering tenggelam. Maksudnya, suami Ceceu ini tidak jelas keberadaannya, kadang pulang sebulanan, kadang juga nyaris 6 bulan. Tak ada nafkah. Konon malah karena Ceceu terlalu kerja keras di kota orang, anaknya sampai tak mengenalnya sebagai ibu, tapi sebagai Uwak. Menangis sejadi-jadinyalah Ceceu mengetahui bahwa anak yang dulu masih balita itu tak pernah dikasih tahu yang mana ibunya. Maka kembalilah dia ke Kuningan, dengan resiko tak sering bertemu dengan suaminya.

Sekian tahun tak dinafkahi bagi Ceceu sudah biasa. Anak-anak sudah besar, saya kira dia sudah sangat fokus dengan menafkahi kebutuhan sehari-harinya saja, nyatanya tidak.
Banyak yang menyarankan agar statusnya dipastikan saja lewat pengadilan agama (baca: cerai sepihak), karena siapa tahu ada lelaki lain yang lebih baik ingin memperistrinya? Dengan nada bercanda, Ceceu cuma menertawakan keadaannya yang tak lagi muda, dan kemungkinan kecil memikirkan pernikahan kedua.

Lalu pada siaran entertainmen pagi itu, ia banyak mengomentari artis yang sudah beberapa kali kawin-cerai yang kini membahas hal serupa dengan pernikahan ke sekian kalinya.
"Neng, artis kok bisa mudahnya pindah ke lain hati."
"Sensasi, Ceu ..."
"Sepertinya pernikahan cuma jadi permainan saja ya."
"Yah ... artis ... nggak tahu juga apa yang ada di pikiran mereka."
"Terus kok bisa ya melupakan cinta begitu saja? Neng gitu juga nggak?"
"..." (muter-muter otak mikirin cinta)
"Ceceu rasanya gak bisa kayak gitu. Biar suami salah, Ceceu tetap aja belain. Goblok memang. Apa ya ... Ceceu sudah cinta sama suami. Melepas begitu aja mana bisa!"
"..."
"Eh Neng, kalau cerai bisa balik lagi gak?"
"Bisa. Kecuali ditalak tiga kali."
"Oh."

Begitulah.
Entah ada angin apa yang membawa Ceceu ke pengadilan agama tepat di samping rumah kami ini, semoga dijauhkan dari segala keburukan. Tak bisa saya ikut campur akan urusannya sekalipun tahu permasalahannya. Mungkin jika waktu itu ada orangtua saya, perasaannya bisa lebih ringan. Apa daya saya tak bisa menyarankan apa-apa, pun karena pernikahan saya sendiri baru menginjak 1 tahun. Waktu yang terlalu muda untuk menyarankan ini dan itu. Hanya pembelajaran cinta yang bisa saya dapatkan dari sekelumit perjalanan seorang manusia.


Friday, November 28, 2014

Si Gadis!

Seperti diingatkan, saya belum mengenalkan gadis baru dalam kehidupaan saya. Makasih sudah mengingatkan ya Mbak Rien :)

Awal karier saya sebagai orangtua telah dimulai sejak 25 Agustus 2014, tepat adzan maghrib ... seorang gadis telah lahir di RS Wijaya Kusuma. Sadar-sadar saya merasa tengah diangkat ke pembaringan. Obat bius sudah sangat memengaruhi penglihatan. Katup mata rasanya berat sekali, pun tubuh menggigil hebat padahal tangan saya tak dingin sama sekali.
Sudahlah, kalian tak perlu tahu bagaimana rasanya. Yang terpenting ialah bagaimana saya bisa menemui si gadis secepatnya, karena tak mau dia terus-terusan minum sufor. Sudah tahu dia agak 'sakit', perawat malah tak cepat mempertemukan kami. Maka dalam waktu 12 jam, saya paksakan untuk berdiri, dibantu suami tersayang melangkah perlahan menuju ruang bayi.

Selama beberapa waktu, perasaan kamu-anak-saya? sepertinya masih menggejala. Maklum, operasi yang memang tak merasakan sakitnya proses melahirkan lewat normal sering dianggap tak seimbang dengan perjuangan seorang ibu.
Dulu memang sempat kepikiran, tapi setelah banyak sharing dengan teman, saya tak ambil pusing. Hal terpenting yang bisa saya lakukan hanya bersyukur ... bahwa saya tak perlu merasa sakit seperti yang lain apalagi mengalami sindrom baby blues, ataupun sampai pendarahan bahkan kehilangan nyawa saking tidak kuatnya kondisi sang ibu. Juga tak lupa bersyukur atas meruahnya ASI yang bisa saya beri untuk si gadis (walau 3-4 hari hanya mengeluarkan sedikit cairan bening) :')

Jadi tepat tanggal 25 November kemarin adalah usianya yang ke-3 bulan.

Tak terasa dia sudah mulai memiringkan tubuhnya, walau BBnya tak termasuk gemuk, tak apalah yang penting dia sehat ... sudah melewati masa gejala kuning ... sudah cukup berisi dibandingkan awal-awal ia lahir.
Afiqa Adwa Nugroho

Semoga shalihat ya Nak, membanggakan Rasul kita, juga menjadi panutan terpuji karena akhlakmu.
Semoga selalu sehat, ceria dan ikut membahagiakan orang-orang di sekelilingmu ...

Tuesday, August 12, 2014

Benda Multifungsi: Sarung

Sarung yang selama ini dikenal dekat dengan pria Jumatan, sangat bersahabat pula dengan saya. Jadi saya=dekat dengan pria Jumatan? Ohoho mari kita gak udah bahas itu ...

source
Sebenarnya gak dari awal juga saya suka dekat-dekat dengan sarung, mulanya ialah saat saya di bangku perkuliahan. Bukan maksudnya saya suka bawa sarung saat kuliah lho, tapi dialah yang membuat malam saya selalu hangat walau kamar kos bocor kemana-mana.
Sarung berwarna hijau cerah yang identik motif kotak-kotak itu sudah sangat setia jadi selimut saya kala tidur. Mungkin di benak teman saya membatin miris "Segitu miskinnya kah kamu sampai selimut aja ga punyaaa" hahaha ... *turut prihatin pada seorang teman yang pernah 'mencicip' tempat tidur saya saat KKN dulu :))
Awalnya saya pakai sarung itu sempat 'disinisi' teman kos. Bukan sinis sih, cuma pandangan mereka seakan berkata gue-gak-bakal-pakek-gituan! Seiring berjalannya waktu, jadwal bioskop kosan pindah dari kamar teman ke kamar saya. Alhamdulillah, punya laptop yang dipasang TV tuner itu udah berasa kaya raya banget di sana. Alhasil teman-teman betah nongkrongin kamar sampai malam. Begitu nyamannya saya pakai sarung ketika musim hujan tiba, teman-teman mulai mempertanyakan apa badan saya baik-baik saja dengan itu?
Singkat cerita, mereka mencoba sendiri memakai sarung saat berkumpul. Hasilnya? Tiap nongkrong time mereka selalu pakai sarung ketimbang selimut bedcover tebal untuk menghalau dingin :))

Selepas menikah, saya sudah agak menjauh dari sarung *gak nangis dong
Sarung 2 biji hanya diperuntukkan untuk ibadah sholat suami, dan saya cukupkan pakai selimut untuk kebutuhan tidur. Tapi bukan berarti saya lepas si sarung begitu saja.
Ceritanya saya hamil tua ini sudah mulai kesulitan bergerak. Beberapa area tubuh rasa-rasanya lebih baik tidak melakukan aktivitas berlebihan. Bayangpun, sekarang mau pakai mukena bawah saja mulai kesulitan. Tapi saya tak mau itu jadi kendala besar, yang namanya mau dikasih anugerah Allah kok ngeluh? :)
Singkat cerita, hal yang sering dialami bumil adalah BAK yang terus kebelet dengan intensitas berlebih dibandingkan saat tidak hamil. Masalah terbesar saya adalah tidak punya rok karet. Kenapa harus rok?
Simpelnya, saya khawatir air seni yang keluar akan nyiprat kemana-mana termasuk celana panjang, misalnya. Kalau daster mah tak masalah, tapi pada saat daster masih di wadah cucian ... masalah besar dong. Lagi-lagi, sarunglah yang membantu saya dalam urusan pengganti rok :D

Ada hal yang mengherankan saat awal kepulangan saya ke Kuningan. Melihat ponakan saya yang baru sebiji, bukan hal aneh kalau dia tak mengenali saya karena sudah hampir setahun lamanya saya tak bertemu muka. Tapi ada kebiasaan yang membuat saya mengerutkan dahi.
Sepanjang Ramadhan ini keluarga kecil kakak saya menginap di rumah. Dalam beberapa hari saja, saya bisa tahu kebiasaan orang-orang di rumah termasuk cara kakak menidurkan anaknya. Jadi, malam-malam saat saya terbangun ... kakak saya tengah 'mengalungkan' sarung di pundaknya. Di dalam sarung itulah ada ponakan saya. Singkatnya, si sarung telah jadi alat praktis untuk ayunan ternyata ... -__-

Begitulah sedikit tentang persahabatan saya dengan sarung. Ada pengalaman kalian yang gak kalah uniknya dengan sarung? Dijadikan sebagai taplak meja darurat misalnya... :))
Sudah ah, dzuhuran dulu~

Thursday, April 10, 2014

Cemburu

Warning, postingan gak penting!


Seumur-umur, baru sekarang saya membenarkan para sok ahli soal perasaan manusia, utamanya antara pria dan wanita. Banyak artikel yang saya anggap terlalu berlebihan dalam menilai hubungan dua jenis kelamin ini. Mulai dari ketertarikan, saling jatuh cinta, cemburu hingga perselingkuhan.
Hadeh, ya sudah kalau dianya ternyata suka sama orang lain ya putus aja, cari yang lain kek ... begitu pikir saya, terlebih untuk urusan remaja. Saya memang berprinsip sedari single, semisal dihinggapi perasaan suka ya jangan terlalu dihayati, amat bodoh memandangi terus-terusan dari kejauhan tapi tak pernah tergapai. Percaya saja jodoh itu sudah ada yang mengatur. Kalau ditolak, ya cari yang lain. 
Logis saja kan?

Tapi itu masa single.
Lain ketika saya baca artikel seputar rumah tangga, segala permasalahan yang dijabarkan sepertinya jauh lebih berat. Tentu saya mikir ulang perihal 'putus', karena itu berarti akan berdampak pada banyak pihak terutama anak. 
source

Jadi, ini sebenarnya masalah cemburu.
Rasa yang seumur-umur saya jaga, ya ternyata ngalamin juga setelah menikah. Secara garis besar, saya tahu tentang masa lalu suami yang juga ngalamin masa pacaran. Dulu saya bisa bersikap sebagai teman ketika menanggapinya. Saya rasa setiap orang punya masa lalu maupun kenangan yang kita (sebagai orang baru) baiknya bisa memahami dan maklumi itu.

Hal serupa juga diceritakan ibu mertua saya. Hanya bedanya, beliau cerita setelah menikah. Awalnya biasa, tapi kok lama-lama panas juga. Makanya kalau suami sedang kerja, iseng-iseng saya suka mesej "... jangan selingkuh ya", hahaha ... padahal area kerja suami itu hampir semuanya laki-laki. Kalau sudah begitu, pasti ditanyain ada denger apaan dari orang :))

Pernah juga tak sengaja lihat mesej taun baheula dari teman perempuannya, kok jadi bertanya-tanya juga siapa dia apa hubungannya ... padahal gak mesra dan bisa dibilang mesej biasa *tepokjidat
Mungkin begitulah cinta yang tumbuh setelah menikah. Ragamnya bisa jadi berbeda-beda pula. Ada yang bawaannya pingin ngasih kado terus, ada yang pingin selalu dekat (nah ini model manja kali ya), ada juga yang pakai kata-kata penuh bunga setiap harinya, dan sebagainya.

Berharapnya kecemburuan saya tak berlebihan, tetap pada koridor dan kondisi tertentu saja. Semoga.
Biar dibilang apa kata orang juga, cemburu begini sudah jadi hak, tidak bisa dong dibiarkan berlarut-larut. Minimal nanya-nanya, itupun gak usah keseringan... nanti suami kege-eran *eaaak* .. engga ding, maksudnya laki-laki kadang jemu ditanyai hal yang sama setiap waktu.
Tapi ngomong-ngomong, malu juga kok bisa-bisanya mencintai dengan cara norak seperti itu... *sungkem sama Aa

Friday, October 25, 2013

Banua Patra: Second Party

Dandan tebal itu cuma sekali seumur hidup, hanya saat pernikahanmu!

Nyatanya kalimat itu tidak berlaku bagi saya. Setelah melepas lajang Juli lalu saya tak langsung ikut suami ke Kalimantan, saya menikmati kebersamaan Ramadhan bersama keluarga besar di Kuningan. Jadilah selama long distance itu saya dan suami bertelepon-teleponan ria sama seperti komunikasi sebelumnya. 

Pada pertengahan Agustus 2013, suami saya datang menjemput. Tibalah saat-saat harus berpamitan dengan keluarga tercinta. Saatnya harus memulai hidup mandiri, saat-saat genting harus bisa melakukan sesuatu yang di luar kebiasaan, juga tentu saja belajar berumahtangga dari nol.
Kesemuanya tak secara langsung dilepas, karena saatnya saya 'berkenalan' dengan keluarga suami, maka mertua sayalah yang kini mengawasi dan menasihati kami yang masih hijau dalam berumahtangga. Rasanya bersyukur juga pernah ngekos jauh dari rumah, setidaknya ada satu-dua hal yang mirip dengan anak kos, terlebih kami belum dikaruniai anak. Tapi saya takkan bahas itu sekarang, karena bakal gak nyambung sama judulnya :D

Bagi saya yang seorang introvert tapi pecicilan pingin tahu kerak globe dunia, xenophobia itu melekat erat meski sudah banyak tahun dilewati di luar kota kelahiran seorang diri. Begitu halnya sebagai anggota baru keluarga suami, saya gak mangkir kalau awal-awal merasa sangat asing dengan situasi dan kondisi di sini. Tentu saja lain ngekos, lain berumahtangga.
Saya berusaha untuk berpikir tenang, bahwa segala sesuatu bisa diatasi asalkan mau belajar. Belajar juga meyakinkan hati, bahwa pergi jauh dari keluarga bukan berarti tak pernah ada lagi yang akan memperhatikan dan menyayangi. Justru di bumi Allah-lah semua keridhaan bisa dicari, bahkan dimanapun itu berada.
Jiaaah, malah jadi panjang pembukanya.. -_-

Jadwal hijrah saya jadi dipercepat beberapa hari di bulan Agustus tersebut. Padahal rencananya malah kemungkinan baru awal September suami bisa jemput.
Mengingat banyaknya keluarga mertua yang tak bisa menghadiri akad dan selamatan pernikahan kami di Kuningan, maka atas anjuran dan saran beberapa pihak, keluarga mertuapun mengadakan acara resepsi pada akhir bulan September di Balikpapan. Dalam bahasa kami, resepsi oleh pihak suami disebut sebagai Ngunduh Mantu.

Singkat cerita, acara tersebut diselenggarakan di Banua Patra, sebuah gedung milik Pertamina persis di pinggir pantai. Pagi-pagi saya, Mamah dan Ati cepat menuju rumah ibu mertua untuk dirias.
Seperti biasa, perias salonan selalu menginginkan riasannya lengkap agar tampak bagus saat difoto.
Menggunakan gaun manten harus pakai kerudung yang tak nutup dada? Yah ... oke, karena nantinya ada sedikit penutup dari gaun yang saya kenakan.
Menggunakan bulu mata palsu? Oke ... walau harus pakai atas-bawah. Dengan ini saya mohon maaf sebesar-besarnya pada Tante Syahrini beserta para fansnya, bahwa ini tidak dalam rangka meniru-niru Tante Syahrini dalam berdandan. Bahkan insyaallah hiasan ini jadi tampilan perdana dan terakhir kalinya dalam hidup saya.
Yang membikin saya mulai terusik, perias meminta izin agar saya mencukur alis. Aduh kayak ketek aja dicukur-cukur padahal tidak mengganggu sama sekali. Alis saya ini sebenarnya sudah tampak terbentuk sendiri dari lahir dan memang sudah seupil tipis begitu adanya. Karena tak mau terlalu ngoyo akan bagusnya sebuah dandanan, lebih baik katakan tidak sebelum alis tambah setipis benang :|
Saya tetap saja tak bisa berperilaku anggun demi mendapatkan foto cantik yang manis. Tapi berkat dekor dan riasan lembut sang perias, fotonya cukup memukau juga :))
Beberapa foto lain bisa dilihat di sini

foto bareng para adik :D

Wednesday, October 9, 2013

Curug Putri After Wedding



Bukan narsis sih .. cuma pingin nyelipin foto sebiji aja *kalem
Yah terakhir kali saya ke sini udah lamaaa, intensitasnya juga bisa dihitung jari. Jadi selepas acara akad, saya ngebet ngajak Aa ke salah satu objek di Kuningan. Makanya pas hari H, saya langsung memutuskan untuk silaturahim ke beberapa keluarga dekat, nganjang gitu istilah Sundanya. 
Karena Aa di rumah juga tidak lama, disempatkanlah main ke daerah Palutungan. Masih di Kuningan, hanya saja daerahnya lebih dekat lagi ke gunung Ciremai. 
Sudah banyak perubahan, terutama pemkot sudah mulai memperhatikan potensi alam di kota kecil ini untuk tujuan wisata. Jalan menuju curug sudah dibenahi, ditata dengan cukup baik sehingga tak perlu meluncur turun bak rafting seperti awal-awal terdahulu saya ke sini. Hanya saja kurang papan petunjuk agar pengunjung tak tersasar di hutan pinusnya :)



 

         





Wednesday, August 21, 2013

3 Tourists on Action

Berhatur terimakasih pada Sheila, Putri, Mbak Nopek, pasangan nganten Mbak Amel (Pepi) dan Mas Wira yang menyempatkan waktu luangnya untuk hadir ke pernikahan kami. Tak mengira juga teman-teman dekat kos lama saya di Jogja dulu ternyata juga datang.
Jadi ceritanya Se itu dari Pemalang menginap di kosan adiknya di Jogja. Kebetulan Putri juga menghadiri acara di Jogja. Jadilah mereka berdua janjian berangkat dari Jogja, tiba di rumah Kuningan pas H-1 di sore harinya, alhamdulillah ga nyasar *thanks to travel driver*
Saya inapkan mereka dalam 1 kamar, tinggal menunggu Mbak Nopek yang berangkat dari Bandung. Waw, dia tiba hampir tengah malam karena jalanan juga sepertinya macet saat wiken itu. Welcome to Kuningan, Girls! ;)

Sayangnya saya tak bisa berlama-lama menemani mereka. Kondisi malam itu bisa dipastikan amat melelahkan mereka, ditambah hawa dingin Kuningan membikin mata pasti berat sekejap.
Esok sorenya setelah acara, Pepi bersama suaminya juga tiba di Kuningan ... jauh-jauh dari Jakarta tapi saya lupa ngajak poto bareng T__T *aaaahh, nganten pelupaaaaaaa*
Untungnya saya ga lupa mengosongkan 1 tempat buat mereka. Jadilah 5 orang sahabat menginap di rumah :')

Kaget juga begitu tahu 3 VBers (Se, Putri dan Mbak Nopek) nekad jalan kaki dari rumah ke lokasi pernikahan. Jaraknya pan lumayan tuh. Tapi begitu beberapa hari kemudian saya dikirimi foto oleh Se, ngertilah saya kenapa mereka mekso. Berasa turis kali ya, background asing khas Kuningan jadi sasaran kenarsisan mereka -_-

sayang banget gaya andalan Se
gak keluar








thanks for coming deaaaarrr

I'M MARRIED!

kisah sebelumnya

Mengurus perizinan menikah itu gampang-gampang susah (nah, berarti gampangnya lebih banyak ;)). Karena suami saya jauh dan kemungkinan terbang ke Jawa itu minim waktu, maka saya mengurus sendiri. Mau mulai mengurus itu tinggal datang saja ke kelurahan, nanti tanya mau daftar nikah (karena saya perempuan lho ya). Pihak pria mengurus perizinan juga, kalau tidak salah langsung dari KUA setempat, nanti diberi semacam surat keterangan dari sana. Pihak perempuan nanti 'meneruskan' surat tersebut ke KUA di daerahnya. Jadi di kelurahan tadi nanti bisa tanya apa-apa saja syaratnya. Kalau murni mengerjakan sendiri, insyaallah gak mahal. Susahnya, petugas di kelurahan itu yang agak sulit ditemui. Karena beliau juga urus-urus orang nikahan, seringnya beliau mobile sana-sini nangkringin orang hajatan :D
Nah makanya mintain aja nomer kontaknya agar bisa dihubungi langsung.

Tak ada kendala berarti menuju persiapan pernikahan kami di 6 Juli 2013, alhamdulillah. Meski sempat tegang karena tempat sewanya mendadak dilokasikan untuk kantor sementara atas Keputusan Bupati, kami bisa melobinya dengan segera.

Disuruh datang pas setelah subuh saja ngaret 1 jam (hohoho). Tapi tetap saja alhamdulillah, tak ada keterlambatan dandan karena penghulunya sendiri lebih telat datangnya XD
Begitu dipanggil, saya melenggang menuju 'kursi panas' yang bakal disaksikan Gusti Allah, penghulu, orangtua dan segenap keluarga kami. Kalau saya liat-liat lagi fotonya, seneng sekali saya godain suami karena ekspresi tegangnya kentara banget XD

Finally I'm a WIFE! *yaaaayy :D

Buat my circles, bisa lihat foto-fotonya di sini ;)

Rasanya ... masih belum terbangun dari mimpi ...

____________________________

Saran dari saya, sesimpel-simpelnya menikah adalah dengan orang satu daerah, percayalah.
Terpisah jarak itu cukup menyita pikiran, sebenarnya. Keluarga pihak pria terutama, karena pasti banyak yang ingin menyaksikan peristiwa ijab kabul anggota keluarganya (yg insyaallah) sekali seumur hidupnya. Ada hal-hal yang sebaiknya dipersiapkan dengan matang seperti jumlah kepala, waktu, kendaraan, tempat menginap sampai konsumsi ... tak luput juga biaya perjalanan.
Keluarga suami saya sebenarnya arek Jawa Timuran. Cuma sebagian besar keluarga ayah mertua tinggal di Kalimantan, sementara keluarga ibu mertua yang sebagian besar di Jawa. Jadi ibu mertua saya itulah perantau Kalimantan tulen :D

Lanjutt...
Kalau memang jodoh pan gak bisa ditebak ya .. kalau memang dapat yang jauh, berarti kemungkinan ngunduh mantu (pihak pria mengadakan tasyakuran sendiri) itu sangat besar. Nah kebetulan keluarga suami di Kaltim sebagian besar juga cuma mengikutsertakan doa, makanya diminta mengadakan syukuran sendiri nantinya (semoga lancar di bulan depan). Kalau mau sederhana, ya adakan saja syukuran kecil dengan mengundang tetangga dan orang terdekat. Bentuknya bisa macam-macam kan ya, jadi saya gak tahu idenya mau seperti apa terserah kalian, singles. Bicarakan dengan seksama, jangan sampai ada yang ketinggalan ;)
Ada yang mau menambahkan? Sila dishare di kolom komen yaa...

Tuesday, August 20, 2013

C.o.m.m.i.t.

Perkenalan kami tidak lama, hanya sekitar 3 bulan. Lalu bagaimana bisa orang jauh sepertinya bisa hinggap di pelaminan bersama saya?
Komitmen. Hanya itu.

Akhir September tahun lalu, selepas wisuda dalam keremangan kamar seseorang menghubungi saya.
"Mbak, sekarang ini lagi ada seseorang yang lagi dekat sama kamu gak?"
"Oh, ya... ada, teman dekat..."
"Ah bukan... maksud saya, apa Mbak punya teman dekat laki-laki ... untuk calon suami gitu?"
"..."
Saya mengeluh dalam hati. Sejujurnya malas sekali berhubungan dengan yang namanya kenal-kenalan untuk urusan jodoh. Maklum, masih girang main sana-sini, pesta pora dan dugem... #2 alasan belakang cuma ilusi tambahan
 "Belum sih..."
"Nah... mau gak kenalan sama temennya anakku? Dia kebetulan lagi cari calon istri Mbak, insyaallah anaknya baik."
"Eng..."
"Kenalan aja dulu mbak..."
"Eu..."
"Kan ga ada salahnya kenal tho..."
"Mm... orang mana gitu Bu?"
"Kalimantan, kota Balikpapan."
"Waaa... jauh Bu, Mamah mana ngijinkan ke orang jauh..."
"Yaa namanya juga usaha, sapa tahu cocok... ketemu dulu kan ndak masalah..."
"..."

Dan, bertemulah kami pada bulan November 2012. Ditingkahi hawa sejuk yang melenakan, saya menyambut kedatangan kerabat dari Jogja... bersama seorang pria yang belum pernah saya temui di rumah mereka.
"Oh, ini toh Mas Andri?" sapa saya. Sepertinya ia masih canggung berada di tempat saya. Begitu berkenalan dengan bapak, keegangan mulai mencair. Para bapak yang lama tak bersua mulai mengobrol seru, tertawa-tawa keras. Sementara saya dan ibu sepupu ngobrol sana-sini, sepupu dan Mas Andri melihat-lihat beranda rumah.

Cuma itu perkenalan kami. Di awal perkenalan kami telah menunjukkan kebiasaan masing-masing, tapi dia tetap menghubungi saya untuk sekedar ngobrol ringan seperti layaknya sahabat.

"Gimana Mas?" Tanya saya suatu hari.
"Apanya?"
"Kita sama-sama sudah ketemu dan melihat. Mau dilanjutkan atau kita berteman saja?"
"Saya mau lanjut saja, Neng."
Saya menghela napas. Nah.
Kalau sudah mau lebih jauh selain berkenalan, saya belum pengalaman.
"Neng gimana?" katanya dari seberang sana.
"Mm... kalau gitu, aku minta waktu."
"Maksudnya?"
"Aku minta waktu buat mempertimbangkannya lagi ... dengan serius." *terus yg kemaren itu emangnya maen-maen ya Neng? -_-
"Kalau minta waktu sebulan gimana?" lanjut saya.
Ada hela napas berat di sana.
"2 minggu bisa?"
Ada gerundelan nyaring di hatinya *ciaelah dari kapan bisa baca hati orang
"Sepertinya ... aku agak ketergantungan sudah denger suara Neng." *eaaa buka rahasia si aa
"Nah kan ..."
"Iya, makanya aku mau lanjut. Biar lebih tenang aja, tapi waktu selama 2 minggu rasanya terlalu lama. Seminggu sepertinya cukup, Neng."

Insyaallah.
Dengan waktu seperti itu, saya kembali memantapkan niat, mencari kepastian agar tak salah mengira bahwa Aa bisa jadi imam yang baik untuk saya kedepannya. Pun meminta pendapat orang-orang terdekat, bagaimana dan sebaiknya apa. Kelak jika kalian, wahai para single, akan menghadapi pertimbangan mengenai jodoh, jangan sekali-kali abaikan saran dan pendapat dari mereka. Sebab kita kelak tak cuma menyatukan 2 insan, tetapi 2 keluarga besar.
Mamah tetap orang yang paling sulit menerima kenyataan bahwa saya dikenalin mulu ke orang jauh. Tapi yaa ... yang namanya jodoh memang misteri. Sekalipun menolaknya sampai jatuh bangun, ia akan tetap sampai pada yang telah digariskan. Biar mengejarnya hingga ufuk barat sekalipun, kalau Dia bilang tidak ya takkan pernah sampai. Makanya kalau cinta tidak usah berlebihan, sebab seringnya ia cuma dorongan nafsu sesaat.

Desember 2012, bergetar saya berkata 'Ya' padanya untuk meminang saya pada tahap selanjutnya. Saya mendoakan keikhlasan dan ridho orangtua serta Illahi sajalah, sebab takkan ada lagi yang memuluskan langkah selain itu.

Semula saya agak sangsi, apa bisa keluarganya menerima saya sementara orangtuanya saja belum pernah berhadapan langsung dengan saya. Tetapi apa yang terjadi atas kehendakNya, ya terjadilah. Saya ingat sekali 10 Februari 2013, A Andri beserta keluarganya tiba di kediaman kami bakda Dzuhur. Alhamdulillah, di hari itu juga saya resmi 'diikat' komitmen seorang pria yang insyaallah bertanggungjawab. Karena saya tahu komitmen itu nilai tertinggi dari sebuah kesepakatan, saya tahu persis bagaimana menghormatinya.

credit

Rasanya seperti mimpi.
Saya sudah resmi memiliki calon suami, oi! Berkali-kali saya lirik cincin pemberiannya. Sebenarnya itu hanya simbolis saja, dengan ucapan 'lamaran diterima' saja sudah cukup. Komunikasi kami jadi mengarah seputar perencanaan keuangan, tabungan anak dan pendidikannya, program pemantapan rohani, ide-ide di luar bidang seputar wirausaha, meluruskan hobi positif hingga rencana membuat kebun organik saja kami bicarakan :D

bersambung

Friday, June 28, 2013

Pepi's Wedding~

Telaaat... :D

Jadi ceritanya tanggal 8 Juni kemarin Pepi aka Mbak Amel telah melangsungkan pernikahannya di Temanggung. Saya yang sudah dari jauh-jauh hari minta izin ortu buat pergi, sebenarnya kurang disetujui. Tapi berkat faktor maksa, saya bisa main ke sana juga.

Seperti biasa, nginep masih nebeng di rumah bibi. Dan keesokan harinya, alhamdulillah bisa bertemu lagi dengan teman-teman semasa kuliah dulu: Annisa serta suami dan puteri kecilnya, Ira Alfa serta calonnya, dan Hesti dengan suami. Hadeh... cuma saya yang gada pasangan -__-

Singkat kata, perjalanan cukup jauh, ditempuh sekitar 2 jam dengan menggunakan mobil sewaan. Hawa sana masih seperti pertama kali saya berkunjung. Adem...

cuma ini yg berhasil saya poto :D
Lucunya kami tiba di sana saat acara telah usai, jadi kebagian manten tanpa perangkat nikahnya kecuali dandanannya saja, hahaha... Anyway, nothing I could say but I wish the best for them, semoga langgeng dan menjadi keluarga yg penuh rahmatNya.

taken from her fb
 Barakallahu laka wa baraka alaika wa jama'a bainakuma fii khair

Thursday, June 27, 2013

Walimatul Ursy Vera & Andri

taken from here


Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Dengan memanjatkan puji syukur serta memohon ridho dan rahmat Allah SWT, kami bermaksud menyelenggarakan Walimatul Ursy pernikahan kami yang insya Allah dilaksanakan pada

Akad
Hari/tanggal: Sabtu/6 Juli 2013
Pukul : 09.00 WIB

Resepsi
Hari/tanggal: Sabtu/6 Juli 2013
Pukul : 11.00 WIB

Bertempat di Gelanggang Pemuda (Gedung KNPI) Kuningan, Jawa Barat

Merupakan kehormatan & kebahagiaan bagi kami apabila Bapak/Ibu/Saudara/i berkenan hadir untuk memberikan doa restu kepada kami.
Atas kehadiran dan do'a restunya kami mengucapkan banyak terima kasih.

Wassalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh



Kami yang berbahagia,

Vera Yulia & Andri Nugroho




 _______________________________________

Finally.. he found me..
my apple of my pie,

my blue of my berry,
my sweet of my heart,
my soul of my mate...
^__^

Sunday, May 26, 2013

Wah, Aku Gak Diundang Tuh...

sumber

Pernah dengar seperti judul saya itu? Saya sering, terutama pas ada even pernikahan.

Bagi emak-emak muda yang sudah mengalami momen indah itu pasti tahu dong ribet-ribetnya persiapan nikah, dari pesan salon, menyerahkan berkas ke KUA, katering, terus lagi suvenirnya... dan gak kalah penting tentu saja undangan.
Seringkali saya mendengar keinginan teman-teman yang ingin tasyakuran hari bahagianya secara simpel saja, tidak dibuat mewah... boleh dong? Mengapa harus bermegahan sementara itu jadi mubazir buatmu? Sesuai ayat Q.S At Takaatsur:


أَلْهَاكُمُ التَّكَاثُرُ 

Bermegah-megahan telah melalaikan kamu, (QS. 102:1)

حَتَّى زُرْتُمُ الْمَقَابِرَ 

Sampai kamu masuk ke dalam kubur. (QS. 102:2)

كَلا سَوْفَ تَعْلَمُونَ 

Janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui (akibat perbuatanmu itu) (QS. 102:3)
ثُمَّ كَلا سَوْفَ تَعْلَمُونَ 

dan janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui. (QS. 102:4)

Lanjutannya bisa dicari sendiri yak :p

Zaman sudah makin maju, teknologi sudah banyak membantu komunikasi manusia. Gak heran dalam kondisi serba gampang seperti ini, para calon pengantin juga ikut memanfaatkan fasilitas yang ada, termasuk undangan kilat via short message service (sms).

Dulu saya kuliah di Jogja, kemudian balik ke tempat asal di Jawa Barat. Sementara pada usia sekarang ini, kabar bahagia (pernikahan) bukan lagi hal yang menghebohkan. Dari jarak yang ditempuh selama berjam-jam dengan kendaraan, saya pribadi merasa tak berkeberatan kalau seorang teman mengabarkan berita pernikahannya lewat sms. Justru saya sering tak enak hati ketika teman saya bela-belain mengirimkan undangan lewat pos. Padahal diberitahu saja sudah senang lho, saya pasti doakan. Karena saya pikir, masalah jarak, waktu (yang mungkin mendadak), dan biaya bahkan hal-hal lain sangat bisa dimaklumi.

Lain saya, lain dengan orang lain.
Dulu sewaktu masih TA ada beberapa teman yang menikah. Mereka mengirim sebuah undangan dengan mengatasnamakan anak-anak kelas kami, juga mengirimkan sms kepada beberapa orang agar japri, karena tak semua nomor hp teman seangkatannya dia punya. Dan hinggaplah ucapan itu: "Wah, aku gak diundang, tuh...". Dan ini menjengkelkan.

Memang beda-beda karakter tiap orang kalau komentar. Ada yang sensitif negatif, ada juga sensitif positif. Yang positif, ya dia berpikir berulang kali... bahwa alasan temannya mengundang cuma dengan japri atau undangan 'keroyokan' itu pasti sangat masuk akal. Mungkin karena jarak yang sudah berpencar-pencar jadi hanya bisa dititipkan, atau mungkin teman-temannya kelewat banyak.

Negatifnya ya seperti judul tulisan ini. Karena gak ada undangan khusus atas nama dirinya, dia langsung menjudge bahwa temannya sengaja tak mengundangnya.Kalau merasa ingin diatasnamakan perorangan, kan bisa ditanyakan dulu kenapa tidak mengundang satu-persatu... atau kalau memang tidak bisa datang, ya bilang saja tak bisa datang. Undangan gak usah dikambinghitamkan.
"Wah maaf saya tak bisa hadir, tolong sampaikan salam saja", atau "Saya tidak begitu kenal orangnya, tapi saya ikut doakan"... kan terdengar lebih manusiawi. Karena harapan kedua mempelai pasti tidak jauh dari doa restu kerabat/sahabat terdekat mereka.

Gini deh sinisnya saya, maaf kalau ada yang tersentil. Seringkali saya berpikir kalau ada orang yang bilang seperti itu, itu sudah tanda bahwa dia enggan untuk datang. Daripada jadi tamu tak diundang, mendingan gak usah dateng sekalian... gitu lho!
Kecuali dia punya masalah dengan si pengundang di masa lalu, ucapan seperti itu bisa saja dimaklumi.

Untuk seorang teman dekat, rasanya memang sungkan gimanaaa gitu kalau hanya mengabarkan lewat sms atau via elektronik lainnya. Sehingga seringkali memaksakan diri untuk mengirimkan undangan asli lewat pos. Padahal cukup memberi tahu via sms/telepon saja tidak masalah menurut saya. Masalah waktu luang bisa hadir atau tidak tentu saja itu perkara kelanjutannya. Datang ya senang, gak datang ya pastikan hadirkan doa untuk mereka dari jauh :)


Kuningan, 26 Mei 2013

#rasanya kaku sekali lama tak menulis 'lepas', dan endingnya... rasanya kok menggantung gitu ya.. -__-

Friday, April 5, 2013

puritama vera (?)

Hey are you looking for me?
Yes, I am an ex- Multiplayer with puritama ID ... almost famous with the-orange-girl named Veraveravera.

I found this in my real-time feedjit.



I'm trully curious who searched in me. Are you my old friend? Or do you have any business with me?
Hope this posting will answer your searching~



#gini neh kalo mau jadi buronan yg baek ... contoh tuh... #songong

Tuesday, April 2, 2013

Wonogiri, in Afin's Wed (a bit kadaluwarsa)

Sudah beberapa bulan sih... hahaha gakpapa ya.

Jadi ceritanya 2 Februari 2013 kemarin saya dan Pepi silaturahim ke tempatnya Afin, yang konon dia manten di hari itu. Alhamdulillah, dengan perjalanan yang cukup hebat, kami nyampe juga pada siang hari. Saya ngebis dari Jogja menuju Tirtonadi Solo, diteruskan bis Aneka Jaya, dan kami langsung nyampe di tempat. Wonogiri wow juga ya, melintasi hutan-hutan sampe hilang sinyal di situ.

Datang-datang kami tak langsung masuk, tapi dipersilakan duduk dahulu sambil menikmati sajian yang ada. Ooo mungkin begini resepsi a la Jawa ... ini baru pertama kalinya saya menghadiri nikahan dengan sajian makanan yang dilayani langsung panitia, jadi maksudnya kami ndak ngambil makan prasmanan sendiri tapi diambilin panitia sana gitu.
Capcus jam 8 pagi, pulang jam 11 malam. Thanks Rabb, Kau telah mempersilakan saya kembali merasakan kelayapan malam-malam lagi ...

Ah ya, ini berarti kali kedua saya bertemu dengan Afin. Dulu saya bertemu dengannya di Jakarta, dan dalam kesempatan ini saya double kopdar kedua dengan dia dan Mamang. Karena kami agak asing dengan resepsi semacam ini, kamipun tak berani ambil foto sembarang (lagian susah ngambil gambar). Jadilah jauh-jauh mamang bawa alat potonya, hanya saya dan Pepi yang figuran ini malah jadi potomodel sehari :))

Tingkiuh Afin dan juga Mamang atas ramah-tamahnya kemarin. Semoga kita ada waktu buat kumpul-kopdar lagi sama yang lainnya :D

Saturday, March 30, 2013

Indah dalam Kesabaran


Kami bertemu lagi pada bulan Maret.
Wajah keduanya masih sumringah seperti pengantin baru pada umumnya. Agak merasa bersalah juga karena sebelumnya saya tak menengok dia yang baru saja keguguran.
Ah, mungkin Allah punya rencana yang lebih baik untuknya nanti...
Saya percaya itu.
Dan memang selalu begitu, kan?

___________

Kami bertemu lagi kemarin.
Berkumpul bersama di rumah keluarga mereka.
Para tetangga juga hadir.

Dan hari ini kita kembali bertemu dalam banyak doa menyertai.
Di tanah merah yang basah. menatap pusara suamimu, Sepupuku.
Semoga ia tenang dalam surgaNya.

 Kullu nafsin dzaa ikatul maut
taken from here






***
Jumat pagi sekitar pukul 9 WIB, kami diberitakan kabar duka dari sepupu bahwa suaminya mengalami kecelakaan tunggal dan meninggal seketika. Tak ada luka sama sekali, tetapi diketahui mengalami luka dalam.

Innalillahi wa inailaihi raaji'un.
Sepupu saya adalah orang yang Allah cintai, insyaallah. Ketika menikah tahun lalu ia sudah tak bersama orangtua, dan di usia 10 bulan pernikahannya ini ia kembali diuji (iman) dengan kehilangan suami.

Di setiap ujian ada keindahan di hikmahnya.
Semoga Allah melimpahkan rahmat dan ridho di sepanjang sisa umurmu, sepupu.
Sebab yang kami tahu itu pasti benar.


#Jadi rencana bikin siomay dimsum gagal (lagi)... *curcol gapenting

Friday, March 29, 2013

Saya Pemikir Analitis (?)

Iseng #as usual#, membaca blog seseorang yang 'sengaja' saya cari dan tak sengaja menemukannya. Isi blog-blog perempuan cantik ini inspiratif, setidaknya untuk saya, terutama karena saya 'berkenalan' dengannya ketika menemukan jurnalnya yang berkisar seputar hijrahnya berhijab. Well, saya pasti suka-pingin-terharu kalau dengar atau baca kisah-kisah hidayah begini *bukan-pilem-religi-lho*

Saya dapet link soal tes kepribadian dari dia di ipersonic. Daaan... ah, dari pendapat psikolog pun ternyata 'seiman' dengan apa yang saya pikirkan tentang saya *bukan-narsis*. Saya berantakan.
Dari ipersonic, mengabarkan ...

Saya tipe kepribadian: Pemikir Analitis

Tipe Pemikir Analitis adalah orang-orang pendiam dan tidak banyak bicara. Mereka suka menggali hingga ke dasar masalah – rasa ingin tahu adalah dorongan terbesar mereka. Mereka ingin tahu apa yang menyatukan dunia jauh di dalamnya. Mereka tidak butuh lebih banyak untuk kebahagiaan mereka karena mereka adalah orang-orang yang rendah hati. Banyak ahli matematika, filsuf, dan ilmuwan merupakan tipe ini. Tipe Pemikir Analitis tidak suka kontradiksi dan ketidaklogisan; dengan kecerdasan mereka yang tajam, dengan cepat dan menyeluruh mereka menangkap pola, prinsip, dan struktur. Secara khusus mereka tertarik dengan sifat mendasar segala hal dan penemuan-penemuan teoritis; bagi mereka, tidak penting apakah mereka harus menerjemahkannya menjadi tindakan-tindakan praktis atau membagi pemikiran mereka kepada orang lain. Tipe Pemikir Analitis suka bekerja sendiri; kemampuan mereka untuk berkonsentrasi lebih menonjol dibanding tipe kepribadian yang lain. Mereka terbuka dan tertarik pada informasi baru.

Tipe Pemikir Analitis hanya memiliki sedikit ketertarikan pada masalah sehari-hari – mereka selalu agak seperti „profesor linglung“ yang rumah dan tempat kerjanya berantakan dan hanya mengkhawatirkan diri sendiri dengan hal-hal dasar seperti kebutuhan fisik ketika hal itu menjadi sangat tidak bisa dihindarkan. Pengakuan atas karya mereka oleh orang lain juga memegang peranan penting bagi mereka; secara umum, mereka cukup mandiri dalam hubungan sosial dan sangat mengandalkan diri sendiri. Oleh karena itu tipe Pemikir Analitis sering memberi kesan kepada orang lain bahwa mereka arogan atau congkak – terutama karena mereka tidak ragu untuk melontarkan isi kepala mereka dengan kritik mereka yang biasanya pedas (sekalipun beralasan) dan rasa percaya diri mereka yang tak tergoyahkan. Orang-orang di sekitarnya yang tidak kompeten tidak akan lolos dengan mudah dari mereka. Namun barangsiapa berhasil memenangkan rasa hormat dan ketertarikan mereka akan mendapatkan orang yang jenaka dan sangat cerdas untuk diajak berbincang. Pasangan yang membuat seseorang takjub dengan pengamatannya yang tajam dan selera humornya yang getir.

Butuh waktu sebelum tipe Pemikir Analitis bisa berteman, namun biasanya mereka akan berteman seumur hidup. Mereka hanya butuh sedikit orang di sekitar mereka. Kemampuan yang paling penting bagi mereka adalah kecocokan dan dengan demikian memberi mereka inspirasi. Kewajiban sosial yang terus-menerus dengan cepat membuat mereka jengkel; mereka butuh banyak waktu sendiri dan sering menarik diri dari orang lain. Pasangan mereka harus menghargai ini dan mengerti bahwa ini bukan karena kurangnya kasih sayang. Begitu mereka sudah memutuskan menyukai seseorang, tipe Pemikir Analitis adalah pasangan yang setia dan dapat diandalkan. Namun demikian, Anda jangan mengharapkan romansa dan ekspresi perasaan berlebih dari mereka dan mereka jelas akan lupa ulang tahun pernikahan mereka. Namun mereka selalu siap menyambut malam yang diisi dengan perbincangan menggairahkan dan segelas anggur lezat!

Begitu katanya.
Mungkin beberapa hal ada yang salah, karena diantara tipikal 2 pilihan yang diajukan, saya merasa ada dalam keduanya. Namanya juga punya orangtua lengkap *alhamdulillah*, tentu saja ada beberapa kebiasaan yang saya tiru dari kedua orang yang berkarakter beda itu kan?
Kalau kalian juga pingin sekedar tahu, bisa coba tesnya di sini. Gratis! Dapatkan segera! *ah, abaikan 2 kalimat tanda seru ini*

Monday, January 21, 2013

Latihan Iseng

Iseng-iseng berhadiah, begitu pikir saya ketika meniatkan diri ikut lomba ini.
FF saja sih, belum sepenuhnya 'cerpen' yang berkisar hingga 10 halaman-an itu. Sempat pasrah ketika adminnya asus begini:

Hai, sepertinya sudah jelas diinfokan di note event, kalo untuk tema "SA" itu harus langsung fokus ke tema. Jadi, tokoh utama langsung diposisikan dalam keadaan dikagumi atau mengagumi seseorang, begitu. :) Adapun perkenalan, dlsb-nya, bisa dijelaskan sebagai penunjang cerita saja.

Okey man, rasanya bagai hendak diseruduk tukang becak dari jarak ... 10 meter.
Saya kurang teliti baca persyaratannya, sehingga langsung cuap-cuap di sini. Beberapa hari kemudian sesuai janji pihak penyelenggara lomba, mereka mengumumkan FF mana saja yang berhasil lolos. Dari 404 cerita yang masuk, 306 karya yg lolos seleksi itu ... ada karya saya. Alhamdulillah.
Lengkapnya bisa dilihat di sinih

*Coba klik ctrl+F, terus ketik VERA.
Tuh, ada kan? ADA KAAANN?? *maaf, lagi lebay :))

Dari kejadian begini, saya jadi ngambil hikmah...
Bahwa rezeki itu kadang datangnya ga terduga. Boleh jadi kamu iseng terhadap suatu hal, padahal Allah selalu serius mendengar dan melihat usahamu. Kalau jadi, ya terjadilah ... \(^o^)/

Jadi ... sepertinya saya harus banyak-banyak iseng lagi nih~

Saturday, January 5, 2013

Doa yg Crunchy

Habis lihat FB, ternyata ada yg ultah hari ini.

Biasa ya, pasti banyak yg ngucapin (ga termasuk saya :D), nemu balasan doa yg lempeng tapi kriuk:


"Ya Allah, siapa yg pernah membahagiakan aku sehari, bahagiakan ia sepanjang masa"



Aamiin. 

Setelah sebelumnya saya seringkali kebingungan mau ngucapin apaan sama temen yg ngultah? Setahu saya doa itu kado yg paling dalam maknanya, cuma orang biasa mendoakannya cukup sebatas kata-kata. Dapat ilham lah dari anak-anak kos dulu. Jadinya saya sekarang biasanya bilang,

"Berdoalah apa yg kamu inginkan, maka akan saya aminkan."

Huehue ... *nyari praktis gegara bingung*

Monday, December 31, 2012

Catatan Akhir 2012

Sariak layung tanpa lembayung.

Telah menggelayut basah di lelangit kisah,
ingin menyudah gempita Masehi dua belas


Saya berharap malam ini hujan deras. Sederas-derasnya.
Akan lebih banyak doa yg dipanjatkan saat Tuhan mengguyur tanahNya, daripada berteriak-teriak dan aplaus pada rentetan bunga api.



Pada akhir Masehi 2012 ini, saya membuat keputusan besar. Keputusan yg sarat harapan, semoga tidak salah, karena saya meminta Allah ikut dalam musyawarah ini. Memang membingungkan, tapi lebih membingungkan lagi bila saya tak membuat keputusan.

Jika ini goal pada waktunya nanti, saya ingin merencanakan sesuatu terhadapnya.
Semoga ini mulia, dan semoga rencana ini pula sebagian kecil dari ibadah saya.
Aamiin.

Alhamdulillah, sesuai keinginan sederhana saya ... postingan tahun ini meningkat dari 2 tahun saya memasuki dunia menulis di blog. Apakah curhat, review amatiran, jepretan kecil-kecilan ... kali ini mencapai 152 judul, setelah sebelumnya berjumlah 142 postingan (2011) dan 99 postingan (2010). Berharap di tahun masehi mendatang akan lebih banyak lagi postingannya.

Well, terutama karena tahun-tahun sebelumnya saya getol menulis di Multiply -- yg semakin hari -- semakin getol di QN (Quick Note)nya yg cukup sebaris-dua-baris. Oh tidaks, semoga ke depannya saya bisa menulis lebih berirama lagi. Tak selalu tulisan serius yg ber-ratus-ratus karakter lah, cuukup kekonsistenan saya menulis lebih banyak. Dan semoga tulisan soal curhat bisa diminimaliskan! Aamiiiiinnn.


Di antara dua kotak cokelat Belgium, notes kecil ... dan mi kering yg telah tandas.
31 Desember 2012

Wednesday, December 19, 2012

Seandainya begini dan begitu

Entah dari kapan saya memikirkan hal ini.

Mungkin seorang wanita bisa mencurahkan perhatiannya pada siapapun, bahkan seorang pendosa sekalipun. Tetapi untuk memberikan hatinya pada seseorang, ia akan berpikir berkali lipat walau ia telah hapal firman-firmanNya.

Suatu ketika seorang gadis bercerita.
Ibunya ketakutan akan kehilangannya saat ia ditikah pada seorang lelaki. Ia tahu dia akan baik-baik saja. Sesuai pertimbangannya, lelakinya amat baik dan memenuhi segala kebutuhannya. Ia tahu ia seorang yg tak sempurna, tetapi merasa amat beruntung menjadi wanita pilihan lelaki baik tersebut.
Dia berkecukupan walau tak berkarier.
Punya anak-anak terbaik yg ia cinta.
Punya keluarga harmonis sesuai yg ia impikan.

Lalu saya potong sebentar.

Mari berbicara soal umur.
Adakah yg tahu berapa lama nafasmu bertahan?
Bagaimana kalau ternyata umur lelakimu tak panjang?
Maka mandirilah. Sebab saya tak sedang berbicara tentang emansipasi. Ini tentang jangka hidup saja: seandainya begini dan begitu.

Ketika kau bertemu, kau juga harus siap dengan perpisahan.
Saya ingin sekali menikah. Sangat ingin.
Saya telah berencana harus bagaimana ketika nanti berkeluarga, dititipkan anak, dan menyiapkan segala indera untuk mereka.
Dan ... harus ada pemikiran lebih lanjut ke arah depan. Lagi-lagi seandainya begini dan begitu.

Saya tidak sedang memikirkan uang dan khawatir terlantar, tentu tidak.
Allah akan berskenario luwes untuk hal takdir. Tapi lagi-lagi memakai syarat saya begini dan begitu.

Tak ada yg tak mungkin, kan?
Mungkin cuma saya yg merasa, padahal belum apa-apa *tertawalah sana yg keras!

Ini perkara kehilangan. Mungkin saya agak takut.
Lucunya, padahal saya belum pernah memiliki. Disentuh saja belum~

Yah, ini sekedar muhasabah sendiri saja. Sekalian ingin kembali menulis.
Siapa tahu menangis. Tapi bukan meratap.

Ini bukan juga sajak.
Saya lupa bagaimana caranya menulis bijak agar menyentuh qalbu.
Mungkin harus sering-sering mengadu pada Tuhan.




Wah sudah malam.
Jangan terlalu memikirkan hal yg belum terjadi, begitu nasihat seseorang.
Harusnya begitu. But I think I still think them too much, so how?
Doakan saja ya.


Kita rencanakan yg indah-indah saja dulu.
Menemukan cinta.

 
Powered by Blogger.