Monday, October 14, 2013

Halo, Borneo.

So, here I am.

Naik pesawat itu tak semenakutkan yang dikira, setidaknya hampir sama menakutkannya dengan naik lift ...

Saya manut suami sajalah, dia tak ingin merepotkan anggota keluarga saya. Makanya rencana keberangkatan kami menuju stasiun KA Cirebon biarlah dengan travel khusus. Padahal sungguh saya pingin diantar bapak atau siapalah yang jadi orang terdekat saya. Namanya putri pertama, mau pergi jauh dan gaktau kapan bisa baliknya ... wajarlah ortu-sama anak punya ikatan batin yg kuat, jadi perpisahan singkat itu cukup sampai di pagar rumah. Gak kuat rasanya kalau ingat Mamah nitipin saya sama suami, diminta dijaga baik-baik ... gemetaran menahan sedih dan haru melepas puteri sulungnya.

Hanya dari balik kaca mobil saya bisa lihat lambaian tangan orang-orang tercinta ... yang tak bisa lagi saya lihat setiap harinya. Kali ini mungkin cukup dari foto dan suara saja kangen-kangenannya.
Dari sederetan bangunan yang masih tersapu gelap menjelang subuh ini, sungguh kota kelahiran saya ini cantik. Meski tak segemerlap cahaya ibukota, namun saya tahu lampu-lampu di sini menelusupkan kehangatan di balik biliknya.

Sampai jumpa lagi, Kuningan.
Tepat pukul 6 pagi kereta kami tiba.
Dan yah ... menikmati perjalanan dengan seorang pria yang bisa kamu percaya itu lebih menenangkan dari siapapun. Tapi sedih ya sedih, wanita muda normal yang baru melepas lajang pasti tahu rasanya melangkah jauh dari keluarga yang bertahun-tahun merawatnya dengan luapan kasih sayang, sehingga mewajarkan soal ... yah ... menangis.
Rasanya aneh saya berusaha menyembunyikan tangisan saat ada seorang pria di sebelah saya. Sudah jadi suami, memperhatikan saya pula. Percayalah saya tak punya maksud untuk merusak suasana hatinya maupun selera makannya. Tapi perasaan meluap-luap seperti itu mana bisa ditahan? Bisa jadi penyakit nantinya.
Maaf Suamiku sayang, sedih itu pasti ada .. tapi kuyakinkan padamu bahwa ini sama sekali bukan salahmu.

Kami tiba di Gambir 3 jam setelahnya. Dengan salah masuk jalur keluar segala, kami segera mencari bus tujuan Soeta. Perjalanan tak begitu lama tapi sempet ketiduran sih, dan inilah pertama kalinya saya menginjakkan kaki di bandara ... oh, 3 kali ding kalo cuma nginjak.

Singkat cerita, pesawat singa sukses terbang dan mendarat di Sepinggan. Saya agak menyesal juga kenapa tak beli ransel yang besar untuk membawa barang-barang malah bawa-bawa tas cewek yang muatnya tak seberapa. Ayah dan Ibu sudah menunggu kedatangan kami. Saya jadi tak enak, padahal kan bisa saja kami sendiri ke rumah mereka dengan taksi.
Suhu lembab, tanah basah, langit gelap berawan. Oh, begini ya Kaltim ...
But lemme say HI for my future place, Balikpapan.


Ditulis Oleh : Veraveravera Puritama // 12:52 PM
Kategori:

6 comments:

  1. aku masi takut naik pesawat...

    ReplyDelete
  2. selamat datang di Balikpapan.... smg betah dan enjoy tinggal disini
    tinggal dimana, mbak di Balikpapan

    ReplyDelete
  3. pengen kesanaa (cirbon juga, makan empal gentong :P)

    ReplyDelete
    Replies
    1. hihihi... mudah-mudahan ada rezekinya ntar sambil jalan2 sama saladin :D

      Delete

 
Powered by Blogger.