Tuesday, March 2, 2010

Satu Jalan Tiga Cerita

            Rasanya sudah lama sekali aku tak pulang ke desa kelahiranku. Akhirnya, aku bisa pulang juga hari ini. Aku dibekali banyak uang oleh Bunda, jadi masih lumayan banyak sisa. Karena aku sering merasa tak puas kalau hanya berbuka sedikit, makanya aku sudah beli 3 buah roti barangkali kemaghriban di jalan sebelum mudik. Sengaja puasa, biar bisa sekalian belajar menahan diri kalau ada apa-apa.

            Di perempatan jalan besar, aku bertemu seorang pengemis. Dia tak bawa apa-apa kecuali selembar baju kumal yang dikenakannya dan plastik untuk meminta uang. Begitu melihatku, dia menghampiri dan terlihat merana sekali. Kantung plastik lusuhnya terlihat menggembung.

            “Bapak kok kelihatannya merana banget?” Iseng, kusapa saja sekalian sebelum kuberi uang. Hihi, sepertinya kok bodoh sekali kutanya seperti itu.

“Ooh iya Neng, saya belum makan. Neng pasti punya makanan, bisa minta nggak ya? Tolonglah…,” katanya memelas. Tanpa tanya-tanya lagi, kukasih selembar ribuan, tapi dia geleng-geleng kepala.

“Lho, ini kan buat Bapak? Kok nggak mau?” kataku heran.

“Saya ingin makan Neng, bukannya uang,” katanya membalas. Setelah kupikirkan baik-baik, akhirnya kuberikan salah satu rotiku, toh aku masih punya dua. Namun, lagi-lagi ia menggeleng.

“Lho? Kok masih nggak mau?”

“Iya, tapi saya mencium bau-bau daging, kok ya? Saya pengen yang daging atuh, udah setahun nggak makan daging…”

            Duh, nawar lagi! Tadinya roti daging itu sengaja kubeli sebagai menu spesial buka puasa.

“Neng, nggak mau ngasih ya?” katanya memelas sedih. Rupanya pengemis itu sakti juga, dia tahu yang kupikirkan! Uuugh, ‘ga tega liatnya.

“I…ini, nggak apa-apa, ambil aja deh, Pak. Mungkin ini rejeki Allah buat Bapak lewat perantara saya…,” kataku agak berat, sebenarnya. Tapi kan…kasihan! Daaag, roti daging ayaaam….

“Yes! Yes! Asyiiik!!!” serunya gembira sambil jejingkrakan lincah. Aku bengong. Tadi lemes, sekarang seger banget.

Dasar, segitu amat sih…itu namanya kesenangan diatas penderitaan orang, batinku kesal. Lalu aku beranjak pergi. Tapi sebelum aku jalan lebih jauh, dia memanggilku lagi. Aku berbalik.

“Makasih Neng, kudo’akan agar hatimu diikhlaskan Allah., ya. Assalamu’alaikum!”

            Tak ada yang lebih menakjubkan dari ini. Aku melihat pengemis itu merentangkan sesuatu seperti…sayap! Ia mengibaskan ‘sayap’nya, perlahan naik ke langit sambil tersenyum bening. Untuk beberapa detik kurenungi fenomena cepat yang luar biasa itu. Apa Allah sedang mengujiku? Duhai Allah, aku tak bisa berkomentar apa-apa lagi rasanya.

*               

            Aku lari tunggang langgang begitu tahu ada orang gila yang mengamatiku. Orangnya cakep sih, seperti orang waras saja. Kulitnya putih, matanya bening, rambutnya rebondingan hitam mengkilat….Untunglah ibu penjaga warung memberi tahu tadi. 

            Aku bersandar ke tiang sebuah surau biru. Tuh, kan…saat aku sudah dapat tempat sejuk, awan malah menutup matahari. Giliran aku jalan, nggak ada awan sama sekali. Astaghfirullah, aku kok banyak mengeluh hari ini. 

            Kulirik ransel hijauku dengan penuh minat. Lho, kok kebuka ya? Ketika risletingnya akan kututup, kulihat sesuatu yang indah di dalamnya. Tanpa sengaja, aku bersenandung “Pelangi-pelangi” waktuku kecil dulu:

Es jeruk-es jeruk…Alangkah indahmu

Jeruk ditambah es, itulah isimu

Dari perantauan, dimanakah itu?

Es jeruk-es jeruk, sebelah kosan

            Setelah sepersekian detik kupertimbangkan, dengan gerakan kilat, kuraih botol plastik berwarna jingga itu. Deuu…pasti seger kalo diminum!

Tapi tunggu, itu makruh namanya! Kata ayah, membatalkan puasa dengan sengaja berarti dosa. Dasar, kenapa mau dosa saja aku mesti ingat kata-kata ayah duluan? Akhirnya, kuletakkan kembali botol itu ke tas dan kututup tasku rapat-rapat.

            Rasa-rasanya, aku diperhatikan seseorang sejak duduk tadi. Perlahan, kutolehkan wajah ke sebatang pohon di seberang surau.

HAH! Orang gila yang tadi mengamatiku itu ada disana! Takut-takut, kulihat rautnya sekali lagi. Ada yang lain di wajahnya, yang bukan sebagai orang gila. Dia tersenyum.

Matanya menatapku hormat (?), mungkin begitu. Dia melambaikan tangannya lalu berbalik pergi.

            Duh Allah, rasanya aku jahat sekali. Kukira kegilaan seseorang mampu membuat seseorang mati. Ahh, prasangkaku terlalu kejam untuk sebuah senyuman.

*               

            Kakak beradik, itu pasti. Sedari tadi menenteng kecrekan dan bernyanyi riang ditengah orang-orang yang kegerahan. Lagu pertama berlalu tanpa ada reaksi dari para penumpang bis. Tak lelah, si kakak mulai menyanyi lagu kedua. Si adik menadahkan kaleng bekas untuk mengumpulkan uang. Begitu ia sampai pada seorang lelaki berparfum menyengat yang duduk 3-4 bangku di depanku, si lelaki gendut itu mendengus tak tanggung-tanggung.

            “Masih bocah kok minta-minta. Nggak pantes.” Begitu katanya sesumbar tanpa mengeluarkan koceknya. Beberapa penumpang mulai tertarik untuk memperhatikannya. Asyik diperhatikan, duh tolong, kepalanya makin besar!

            “Waktu gua masih kecil, gua yang kasih duit ke orang, bukannya minta! Bocah-bocah mestinya urusin pe-er sekolah, ABG seneng-seneng, dewasa kawin dapet kerja, tua bikin mesjid gede! Nah elo pada?” katanya sinis sambil mendorong sedikit tubuh si adik yang kurus kering. Suasana senyap. Walaupun bukan aku yang mengalami, tenggorokanku serasa tertohok tajam ucapannya. Enak amat kalau hidup begitu gampangnya. Abang ini belum pernah merasakan yang namanya cobaan atau memang sifatnya sangat sabar sampai-sampai apa yang dibicarakannya penuh duri dan menyakitkan hati?

            Apa maksudnya ini? Begitu inginnyakah dirinya dipandang besar hingga bisa-bisanya sesumbar pada orang yang tak setara dengannya?

“Kalo Bapak nggak mau ngasih juga nggak maksa, kok,” kata si kakak pelan, membela diri. Jawaban tak terduga itu meluncur darinya. Subhanallah.

“Ya udah sana! Turutin tuh saran gua,” balasnya angkuh, mengibas-ngibaskan tangan agar kedua anak itu menjauh. Si kakak segera berbalik tanpa kata-kata lagi. Namun, kulihat si adik masih tetap di tempat si lelaki itu.

“Elo ngapain?” katanya seraya menatap si adik.

“Semoga nasehat Bapak menjadi kebaikan disisi Allah,” katanya polos sambil tersenyum manis. Si lelaki tampak terdiam, tak menanggapi ucapannya. Ia hanya melengos, mengalihkan tatapannya ke luar jendela. Malu mungkin.

            Tak lama kemudian mereka menghampiriku. Cepat-cepat kususut airmataku yang sedikit menggenang. Sepertinya aku masih terkesima melihat adegan yang disutradarai Allah tadi.

            Mereka menadahkan kalengnya. Kurogoh kantung gamisku…my Lord, aku kecopetan! Dompet, handphone… Sedih rasanya, ingin memberi tapi malah aku yang kehilangan. Lama kupikirkan setidakanya aku bisa memberi sesuatu selain uang, akhirnya …

            “Dek, kalo uangnya diganti roti…Adek mau nggak?” tawarku. Mereka menatapku agak curiga. Aku jadi tak enak, apa mungkin mereka menyangka aku seorang penjual anak?

“Ehh… Teteh lupa uangnya habis untuk ongkos bis ini,” kataku berbohong, “…yang Teteh punya sekarang mungkin cuma roti ini,” lanjutku.

            “Dompetnya ilangya, Teh?” tanya si adik. Sebisa mungkin kurentangkan bibir selebar mungkin, bermaksud menutupi kejadian buruk yang menimpaku kali ini.

“Teteh kecopetan yah?” tebak si kakak telak sekaligus membuatku merasa malu lagi. Eggh! Kenapa kejadiannya aneh-aneh begini? Bahkan di bis!

“I…iya sih, tapi ‘ga pa-pa kok. Ehh…ini rotinya,” aku mengakui kebohonganku secara tak langsung sambil menyerahkan 2 roti terakhirku. Mereka menyambut ke-2 rotiku dengan kening berkerut, tapi aku tahu mereka girang sekali menerimanya.

“Wah Teh, makasih banyak! Akhirnya Ade bisa nyicip roti, A!” kata si adik pada kakaknya yang tampak senang juga dengan pemberianku.

“Bener-bener nggak apa-apa, ya Teh?”

“Iya, tapi…,” kataku memotongnya penuh rahasia. Senyuman mereka berkurang, matanya berganti menjadi pandangan penasaran.

“Doakan Teteh biar nggak kemaghriban di jalan, ya,” lanjutku memutus rasa penasaran di benak mereka. Mereka mendesah lega.

            Mereka turun di perempatan, melambaikan tangan ceria sambil berteriak, “Teteh pasti pulang sebelum maghrib!” Aku tersenyum samar. Aku tahu aku takkan mungkin sampai ke rumah karena masih harus sekali lagi naik bis. Sementara kalian tahu sendiri kan? Uangku kecopetan. Harus berapa jam aku bisa sampai di rumah dengan berjalan kaki?

*               

            Aku turun di terminal, sambil berjuang menerobos para penumpang lain. Sesaat aku bengong, tak tahu harus pulang dengan apa. Mobil bak? Lalu aku numpang sampai ke daerahku? Ha-ha seorang gadis keluyuran sore-sore naik mobil bak, sepertinya agak membahayakan juga. Ah, apa aku menginap dulu ya? Setahuku ada musholla terminal…

            “Woi! Sini, De!” Gelegar suara kakakku mengagetkanku. Aku berbalik, menatapnya tak percaya. Ia melambaikan tangan dan mengisyaratkanku untuk masuk ke mobil.

“Kok bisa…?” cicitku sambil berjalan cepat menghampirinya.

“Aku sudah sms bakal jemput kamu di terminal, nggak biasanya Bunda nyuruh-nyuruh aku jemput kamu segala. Feeling katanya,” jawab kakakku santai.

            Allahu rabbi! Aku terkejut luar biasa. Mematung selama beberapa saat. Begitu tersadar, hatiku penuh hujan dan aku memaksa diri supaya cepat masuk mobil.

“Alhamdulillah….,” ungkapku merasa sangat mensyukurinya.

“Apa, sih? Kok nangis?”

“Alhamdulillah…,” ucapku lagi di sela-sela tangisku.

“Kenapa, De? Apa saking rindunya?”

“Alhamdulillah...” Aku menutup wajah dengan jemariku setengah tersenyum. Aku malu kalau harus terus diperhatikan kakak semata wayangku.

“Nanti cerita, ya.”

            Walau segala nama kuungkap, maksudku takkan pernah bisa dimaknai oleh sekedar kata-kata. Allah memang Maha Segalanya. Biarlah tetap tersimpan dalam hati, biar Allah yang tahu seberapa luasnya aku bersyukur pada-Nya hari ini...

 

 

Yogyakarta, 27 April 2007

 

 

Ditulis Oleh : Veraveravera Puritama // 10:56 AM
Kategori:

6 comments:

  1. Ini cerita kejadian beneran?

    ReplyDelete
  2. bukan, ini betul2 ngarang aja kok

    *aku kaget mbak ita kok bisa nyasar sampai sini...

    ReplyDelete
  3. heheheee...aku mulai setahun ini jk add or di add, aku surf mp nya to get to know each other, biar gak cuman nambah kontak, jd ide ber MULTIPLY nya tercapai, gak hy MULTIPLY CONTACT :-)

    ReplyDelete
  4. hu um, sekarang2 ini lagi kunjung2 para kontak (mumpung bebas surf di rumah)
    baru sampe F.... tapi akibatnya drastis, ada yang tadinya cuek sekarang malah akrab. Sambil jalan, sambil mengenal deh ^^
    weww, gimana kontak mbak ita ya? kontaknya pan lebih banyak lagi tuh...

    ReplyDelete
  5. yg lama gak ada kabar jg yg jarang posting, paling dlm hari2 special (puasa, thn baru) aku datangi GB nya

    ReplyDelete

 
Powered by Blogger.