Thursday, March 11, 2010

The boy in stripped pyjama


Rating:
Category:Movies
Genre: Other
Sutradara: Mark Herman
Artists: Asa Butterfield (as Bruno), Jack Scanlon (Shmuel)

Film ini berlatar masa Hitler yang terkenal dengan pembantaian umat Yahudi di Jerman. Kalau kalian lihat sekilas di cover cd, mungkin pertama kali yang tersirat adalah kisah hantu yang rada ngeri atau gimanalah. Ternyata setelah kalian tonton, film ini tak sengeri itu.
Adalah Bruno, seorang anak kapten tentara Nazi, anak berumur 8 tahun yang sangat menyukai petualangan. Ia sering ikut pindah ayahnya (yang notabene kapten tentara) dinas ke luar kota. Hal ini membuatnya sedih karena saat ia tengah akrab-akrabnya dengan teman2 sebayanya, mau tak mau ia harus ikut ayah serta keluarganya. Begitu pula ketika ia harus meninggalkan Berlin karena ayahnya bertugas mengawasi di luar daerah itu, ia merasa berat karena harus meninggalkan teman2nya.
Mereka akhirnya pindah ke tempat terpencil yang punya peternakan. Bruno, yang jiwa petualangnya terpanggil untuk menjelajah tempat tersebut, malah hanya diizinkan bermain sebatas rumah dan halaman depan yang dijaga tentara. Sekalipun mereka punya halaman belakang yang punya cukup lahan, ia tak diizinkan keluar dari dua daerah itu.
Hal aneh yang pertama kali dilihatnya adalah seorang pesuruh setempat yang memakai piyama bergaris vertikal abu. Walau ia menanyakannya berkali2 pada ibunya, ia tak pernah menjawab dengan jelas. Bahkan ayahnya sampai berkata: “…karena mereka bukan manusia.” Merasa mereka takkan memberi jawaban lebih jelas mengenainya,Bruno tak pernah mempermasalahkan ini lagi pada mereka.
Saking terpencilnya, orangtuanya sampai mendatangkan guru bagi kedua anaknya. Yang menjengkelkan, Bruno diharuskan agar tak lagi membaca buku2 petualangannya. Padahal, hanya itulah satu2nya hiburan buatnya yang sudah bosan menjelajah sekitar rumahnya.
Suatu hari ia menemukan pintu lain menuju halaman belakang rumahnya. Saat diam2 melangkah ke sana, ia ketahuan ibunya dan harus kembali ke dalam rumah. Menyadari bahwa ia dilarang, Bruno makin ingin tahu halaman belakangnya. Maka, ia berpura2 ingin membuat ayunan dari ban bekas. Dibantu pesuruh setempat, ia berhasil masuk ke sana dan berhasil menemukan celah keluar dari rumahnya digudang belakang.
Saat ibunya pergi ke kota untuk membeli kebutuhan keluarganya, Bruno tak menyia-nyiakan kesempatan ini untuk pergi ke kebun belakang. Melalui jendela kecil di gudang,ia berhasil keluar.
Ia mendapati behwa ternyata rumahnya dikelilingi hutan yangluas, sampai ia sampai pada suatu batas yang dipasang kawat berduri. Di sana, ia menemukan seorang anak kumal sebayanya yang juga mengenakan piyama, Shmuel namanya. Merasa senang, Bruno menjadikannya teman bermain walaupun Shmuel tak bisa keluar dari daerah kawat itu.
Akhirnya setiap ada kesempatan, Bruno menyelinap keluar untuk bermain dengan anak berpiyama dengan tak lupa membawakannya makanan. Ia bermain bola atau catur.
Sampai saat ayah ibunya bertengkar mengenai pekerjaan ayahnya, Bruno terkejut karena ibunya merasa pekerjaan itu kotor dan menganggap ayahnya setan.
Suatu hari, Bruno mendapati Shmuel bekerja di rumahnya. Senang, Brunopun memberikan sepotong kue padanya. Ketahuan makan oleh kaki tangan ayahnya, Shmuel dipukuli dengan kasar. Saking terkejut campur takutnya, Bruno tak mengakui bahwa Shmuel adalah temannya dan ia terpaksa berbohong bahwa bukan ia yang memberikan kue itu padanya.
Singkat cerita, keadaan harus berubah lagi dan mereka sekeluarga harus pindah lagi ke daerah lain. Dalam pertemuan terakhirnya, Bruno merasa ia harus minta maaf pada Shmuel. Maka ia kembali ke ‘peternakan’ berkawat duri itu dengan membohongi ibunya yang tengah bersiap2 pindah esok harinya.
Di sana, ia berkata bahwa ia akan pergi lagi ketempat jauh sehingga mungkin tak bisa bertemu lagi dan mereka saling mengikat janji bahwa mereka adalah teman selamanya. Shmuel juga bercerita bahwa dari hari2 kemarin ayah Shmuel belum jugapulang dan ia mencemaskannya. Bruno yang merasa berhutang nyawa, ingin membantunya mencari di ‘peternakan’. Shmuel yang merasa senang bisa dibantu olehnya, bersedia menyiapkan penyamaran Bruno esok harinya.
Esoknya, Bruno menggali tanah agar ia dapat menyelinap ke ‘peternakan’. Dengan pakaian yang dibawa Shmuel, ia dapat melihat langsung keadaan ‘rumah’ Shmuel. Sementara itu, orangtuanya panik saat mengetahui Bruno tak berada di rumah.
Lalu endingnya…? Kalian sendiri yang harus menonton film ini.

Buat saya, film Yahudi ini agak setipe ‘Beautiful Life’ yang bergenre drama tragikal. Cuma, di film ini sama sekali ga ada humor-humornya. So pasti sedih mulu bawaannya.

Ditulis Oleh : Veraveravera Puritama // 7:20 AM
Kategori:

10 comments:

  1. Keren pilemnya. Very touching, terutama saat anak keluarga Jerman yg ikut mati in Gas chamber.

    Menurut saya film ini tmsk propagandanya Yahudi, tp terlepas dari itu, emang kebanyakan bisnis Hollywood kan dipegang oleh mereka, jd disinilah mereka pegang kendali propaganda, via movie. Mereka mencari simpati masyarakat dunia dan terus meneror Jerman (scr gak langsung) jaman NAZI dg alasan kemanusiaan.

    ReplyDelete
  2. aku juga berpikir begitu, sama kayak nonton Beautiful Life yang latarnya juga tentang pembantaian orangYahudi...

    ReplyDelete
  3. *tossss!

    *lain kali aku pengin ngobrol soal yahudi via PM, deh ^^

    ReplyDelete
  4. waaaaa...aku gak byk tau. cuma dikit. Ada tuh bbrp postingan yg terselip ttg itu.

    ReplyDelete
  5. ringan2 aja...
    *aku juga dangkal banget soal ini, makanya aku bilang 'ngobrol' dan bukan 'diskusi' :)

    ReplyDelete
  6. oh, boleh minta link postingannya, mbak?

    ReplyDelete
  7. coba satu2 dulu deh...
    jazakallah khoir, mbak ^^

    ReplyDelete

 
Powered by Blogger.