Wednesday, June 30, 2010

Kafe di Atas Awan 4


            Novelku sudah terbit dua hari yang lalu. Oh ya, belakangan ini aku suka “bertandang” ke kafe unik di seberang kantor penerbit novelku. Di sana ada banyak orang yang bisa kuajak kenalan. Ya mahasiswa, ibu muda, abang tukang becak, ataupun pelayannya. Belajar mengenal, itulah tujuanku. Berkat perkenalan-perkenalan akrab itu, aku jadi tahu kehidupan orang lain.

            Atas izin mereka, kurajut benang-benang kisah mereka. Akan kusatukan kembali ukhuwah mereka dengan rajutan jaring-jaring penaku, agar mereka belajar memahami, bahwa mereka tidak sendirian. Tidak menderita seperti yang telah mereka keluhkan padaku.

            “Karya-karyamu makin asyik, Wa,” cetus Mas Yoga saat kuantarkan cerpen terbaruku. Aku nyengir kuda begitu ia menolehku dengan antusias. Kuucapkan terima kasih padanya.

“Memangnya yang dulu kenapa, Mas?” kataku penasaran.

“Jelek, nggak hidup,” katanya cuek. Deg, kok enteng amat ngritik-nya?

“Jangan gitu Yog, dia kan udah usaha...,” tegur Mas Didit lunak dibarengi cengiran lebarku. Yah, sebetulnya aku sedikit tersinggung juga. Sebelumnya, aku sering begadang demi memikirkan ide cerpen. Tapi sekarang? Aku berjumpa banyak orang di kafe unik itu, juga berjumpa dengan banyak kehidupan. Ah, terima kasih banyak.

Aku bergegas keluar dari kantor penerbit setelah mas-mas editor itu menyuruhku memperbaiki bagian yang kurang pas. Hari ini giliranku menyiram tanaman di halaman rumah. Anak-anak kos selalu sibuk oleh tugas di hari Minggu, sih.

            Mataku tertarik pada seonggok benda yang tergeletak di paviliun rumah. Ah, mawar cantik itu lagi! Aku agak heran menerimanya, tapi tujuan si pengirim benar-benar padaku. Tertempel di kartunya. Mulanya kupikir bunga-bunga mawar ini salah kirim. Tetapi benar-benar tak ada yang mau mengaku... atau mungkin memang untukku, ya?

            Hingga sampai sebulan ini aku menerima ikatan-ikatan mawar merah seperti yang telah kuterima pertama kali. Menurut buku yang kubaca, bunga merah itu lambang pernyataan cinta. Karena aku tak mau salah langkah, makanya mawar-mawar itu terus kurawat agar orang yang mengambilnya kelak tak merasa kecewa. Lagipula bunganya kasihan, nanti layu dan keindahannya bisa hilang kalau tak dipelihara. Yang kusesalkan, kenapa sih pengirim misterius itu tak melampirkan nama atau kata-kata selain bait-bait doa? Hobinya mungkin senang membuatku menangis...



            Sekarang, aku sedang berada di dalam kafe unik ini, sedang berusaha memenuhi janjiku untuk bertemu dengan si pengirim bunga misterius. Ia mengirimku sepucuk surat dan seikat bunga kemarin sore, dan sekarang ia akan menunjukkan dirinya di tempat tertinggi di kafe itu. Yaah, dimana lagi kalau bukan di atap gedung—di puncaknya itu? Bismillahirrahmaanirrahiim... Kunaiki lift sambil memegang memo-memo pemberiannya erat-erat. Aku bertekad akan mengembalikan memo-memo ini padanya.

            Terus terang aku agak risau mengenai kepergianku kali ini. Aku tak meminta seseorang untuk menemaniku, sama seperti aku pergi ke penerbit. Sendirian. Kekhawatiranku sama seperti wanita-wanita pada umumnya. Kukira si pengirim mawar itu pasti lelaki, jadi agak was-was juga. Tapi...siapa yang mau kuajak? Anak-anak kosku sibuk mempersiapkan ujian mereka besok. Hhh...

            Kupandang bumi dari kaca lift. Gedung-gedung pencakar menciut, mengecil, dihiasi kelipan aneka lampu yang berpendar-pendar. Pintu lift terbuka dan aku melangkah keluar, menghirup udara malam. Suasana tenang dan sejuk, tidak panas seperti siang. Langit menghitam bersih, memamerkan kilau-gemilau bintangnya. Purnama tersenyum jernih, menguning terang di atas gedung. Duhai Allah, Engkau sempurna sekali...

Ada gumpalan awan di sekeliling gedung, dan kulihat sesosok tegap membelakangi purnama. Ia tengah tersenyum, dan kurasakan serpihan angin mendesir-desir di hati. Lelaki berbaju takwa itu...? Subhanallah, dia jauh berbeda ketika kutemui pertama kalinya. Ia lebih teduh, lebih menenangkan, dan lebih...

            “Ridwan?” Ia menganggukkan kepala dan mengulurkan tangan padaku. Kutolak halus sebab jika tidak, bara neraka bisa-bisa menghujaniku.

“Bukan, aku amalmu, suami seiman, penjawab pertanyaan Izrail, temanmu dalam surga-Nya. Bergembiralah, kita ditunggu Yang Maha Mencinta,” katanya menuju gumpalan awan di seberangku. Aku terkejut, hanya mampu bengong dalam keterdiamanku. Sekali lagi, ia jengah dengan sikapku yang pelan menyiput. Ia membimbingku tanpa bisa kucegah. Kuikuti dia setengah menahan napas.

Awan melaju pelan begitu kami naiki, samirana menerpa, menyibakkan gaun-gaun kami, dan purnama seakan melambai mesra. Nun jauh disana kulihat secercah cahaya menyilaukan. Perlahan-lahan kupincingkan mata, dan yang kulihat saat itu benar-benar membuatku kembali tercekik, terhenyak, sampai-sampai tak bisa kunyanyikan bait-bait kerinduanku untuk-Nya. Pegangan memoku lenyap, aku rasakan percikan air mengalir deras tanpa bisa kutahan, menyaksikan apa yang kulihat kini. Perlahan pandanganku menggelap dan tubuhku serasa dibawa angin menuju rumah, dan melupakan memo-memo yang terbang melayang...

 

Senja berjingga, 18 Mei 2005

Ditulis Oleh : Veraveravera Puritama // 8:04 AM
Kategori:

2 comments:

  1. selesai!
    ada cerpen yang lain tidak, kak?

    ReplyDelete
  2. Wahh cerita sih banyak, tp pada belum slesai..
    Cb km cari kontakku yg namanya pamela al-huriyah. Dia lebih intens nulis ktimbang sayah ^^
    met brkenalan..

    ReplyDelete

 
Powered by Blogger.