Wednesday, January 26, 2011

Menyasari Kampung Gunung Ketur…



Saya berhasil mengajak pepi jadi-jadian untuk nyari jalan
Bukan salah saya kalau ternyata tak ada kendaraan umum ke Jalan Ki Mangunsarkoro Yogyakarta, ya nggak ya nggak? Yang saya dapat dari hasil nanya saya sebelumnya, saya mendapatkan primbon jalur bis kota Yogya. Alhamdulillah, ada jalur 12 menuju jalan dekat sana. Akhirnya kami berangkat menuju lembah UGM demi mendapatkan bis menuju sana. Tapi nyatanya pak sopir bilang bahwa bis jalur 12 tak lewat sana.

Berbekal mental nekat karena percaya pada primbon, kami memutuskan agar tetap naik bis jalur tersebut. Siapa tahu ketemu jalan yang saya kenal kan bisa berhenti di situ.

Setelah sebelumnya saya sms salah seorang teman yang sering lewat daerah sana, ia sms balik saya dan memberitahu bahwa bis jalur 3 lewat persis ke sekolah yang akan saya tuju.
Dari Gejayan.


Waks, berarti kami harus cepat-cepat turun sebelum bis itu bertambah jauh dari area Mirota. Diiringi suara kemarahan sang sopir karena ongkos tidak disiapkan dan kami mesti turun mendadak, dengan kalemnya kami berjalan ke arah bunderan UGM demi mencari bis jalur 3.

Semenit… dua menit… lima menit…
Tak ada bis yang kami maksud. Akhirnya kami bertanya pada bapak-bapak becak yang ngetem di situ. Dan guess what…
“Oo iya jalur 3 memang lewat sana, tapi sudah cukup lama tidak beroperasi lagi…”

Alhasil, becak jadi pilihan juga untuk menuju sekolah.
Hebat, di tengah kota dengan lalu-lalang kendaraan bermotor, hanya kami yang telah berpenampilan rapi jali seperti mau memenuhi panggilan pekerjaan ini duduk narsis di depan pak becak yang semangat mengayuh ngebut becaknya demi selembar rupiah.

000

“Oh, beliau sedang ada perlu keluar dulu, mbak. Barangkali nanti sekitar jam 11 beliau baru kembali lagi ke sini,” begitu kata pihak sekolah ketika kami sampai di sana. Tak apalah, mungkin jam setengah sembilan memang jam sibuk. Saya berinisiatif untuk memaksa mengajak mbak amel kembali mencari kendaraan untuk pulang nanti.
Sekalian cari makan untuk sarapan.
Sekalian cari warnet buat killing time.
Sekalian…

Kaki saya terhenti di sebuah gerbang (?) tua, agak berlumut. Untuk beberapa detik saya terpekur tak berkata apa-apa. Di hadapan saya terdapat semacam gapura tinggi. Tepat di puncaknya terdapat lambang mirip kesultanan Yogyakarta. Kanan-kirinya terdapat patung kecil. Mbak amel langsung semangat bergaya narsis di depan gapura aka minta foto.


Tahu-tahu kami sudah masuk ke halaman yang cukup luas. Ada sebuah paviliun yang berfungsi sebagai ruang tunggu dokter neurologi (bener gak yah nulisnya). Sebuah bangunan di pojok juga tertutup rapat, mungkin itu tempat praktik si dokter. Nangkring pula sebuah beringin besar di sampingnya. Hadeh booo, tadinya saya sudah mikir macem-macem jangan-jangan ini bangsal buat orang-orang sakit jiwa…

Saya tebak mungkin tadinya halaman sebelah kanan itu merupakan lapangan basket mini. Di sebelah kirinya, kami juga melihat terdapat nyaris selusin mobil antik yang sengaja ditutup agar tak kotor.

Mata saya tertuju pada patung-patung tua di sebelah parkiran mobil-mobil antik tersebut. Kebanyakan patung berbentuk manusia. Barulah di sebelahnya terdapat sebuah rumah sederhana, nyaris tertutup dedaunan saking rindangnya. bahkan tadinya saya kira ini tempat ibadah Nasrani atau Buddha. Tapi sepertinya bukan.

Di sebelahnya terdapat ruangan luas dengan atas atap yang berhias serupa pada puncak gapura depan tadi. But what a mess, isinya berantakan. Ada meja di luarnya yang dibiarkan basah kehujanan, rembesan air di lantaipun dibiarkan menggenang, beberapa lampu gantung tampak ditempatkan sekenanya, dan berbagai barang antik (terutama sarat ukiran) itu benar-benar tak beraturan. Dan suasana gelap sepertinya selalu hadir, padahal jam setengah sepuluh bukan lagi hari yang temaram ketika kami berkunjung ke sana.

Pada awalnya kami sama sekali tak melihat tanda-tanda kehidupan disana. Tapi ternyata rumah di pojokan itu ada penghuninya. Beberapa anak kecil tampak berlari keluar, lalu dalam sekejap kembali berlari ke dalam rumah.

Seorang wanita sepuh tampak berjalan dari arah gapura. Dengan slonong girl, mbak amelpun menyapa simbah tersebut. Dengan kesempatan yang bisa dibilang beruntung, dia berhasil mengorek keterangan bahwa kami telah nyasar ke salah satu pemilik rumah ningrat aka saudara/kerabat kesultanan Jogja. Beliau juga menjelaskan bahwa dokter yang ternyata kerabat sultan itu merupakan dokter pribadi pakar telematika Pak Roy Suryo. Siapa sih yang nggak tahu nama gampang dihapal begitu… ^^

Iseng saya tanyakan apa boleh saya ambil gambar di sini, wanita tersebut menghilang sekejap!

Boong ding, beliau bilang saya harus meminta izin si pemilik rumah dahulu. Wah jadi nyesel saya tanyain… jadinya pan ga bakal saya sebarin itu tempat. Hoho, maap ya temans… bukan karena gimana-gimana tapi ya gimana lagi wong udah nyangkut privasi orang kan? Jadi saya hadiahkan gapura depan doang dengan hiasan orang keasikan narsis ini… *digebuk mbak amel

Kami melanjutkan perjalanan mencari makan. Heran juga ternyata warung makan di daerah ini jarang kami dapati.

Ujug-ujug kami nyasar ke sebuah perkampungan. Kami melewati beberapa rumah tradisional yang tampak kurang terawat. Halamannya rata-rata tertimpuk dedaunan kering dan tampaknya memang tak pernah dibersihkan. Pintu maupun kusen rumah kebanyakan berbahan kayu tanpa kaca. Warna-warnanya sudah pudar, catnya juga banyak yang telah mengelupas.

Lagi-lagi, mata saya tertuju pada sebuah atap bangunan di ujung jalan. Pagarnya melebihi kepala kami. Mungkin sekitar 2-3 meter. Atap tersebut juga memiliki lambang kesultanan Jogja. Seorang lelaki paruh baya tengah berdiri di depan pagar bangunan. Sesekali orang yang melewatinya menyapa sekilas. Dan seperti biasanya naluri wartawan mbak amel mulai menggejala. Dia mendekati si bapak dan tanpa terasa ketidaksengajaan interviewpun dimulai. Dari informasi yang kami dengar, bangunan ini juga merupakan rumah kerabat keluarga kesultanan. Di tengah pembicaraan kami, dua orang lelaki muncul dari pertigaan rumah. Keduanya menggendong tas ransel dan… cakep.

Bener kan, pep?? *nyenggol mbak amel sambil nunduk sok malu-malu
Kemudian si bapak juga menjelaskan bahwa kedua lelaki tersebut merupakan ndoro aka tuan-tuan kerabat sultan juga. Setelah sekitar setengah jam kami ngobrol, akhirnya kami berpamitan dan kembali meneruskan perjalanan demi menemukan sosok warung makan.
Pada akhirnya jauh-jauh kami jalan demi mencari sarapan, ternyata ada sebuah warung di depan sekolah… krik krik krik…

Mungkin itulah kesalahan fatal kami. Jangan sekali-kali makan setelah berjalan jauh kalau niatnya setelah itu adalah bekerja atau menunggu. Efeknya benar-benar parah. Selain amat-sangat lemas, kami diserang kantuk yang luarbiasa dahsyatnya… *lebay
Selang 2 jam kemudian, seseorang memberitahu bahwa mungkin orang yang saya cari tak bakal kembali ke sekolah. Baiklah, akhirnya kami pulang dengan jalur yang sudah kami ketahui tadi.

000

Agaknya ini memang hari yang janggal. Setelah tujuan saya belum berhasil tercapai, malam harinya saya dibawakan magnum oleh Putri. Oh God, Alhamdulillah…
Dari mulai mendoan, putu hingga magnum… sudah Engkau kabulkan. Kalau rezeki emang ga bakal lari kemana… huehue…























Selasa malam, 25 Januari 2011
Saya berhasil menemui orangnya sebelum beliau pergi ke Sulawesi Rabu ini ^^
Carpe diem.


Ditulis Oleh : Veraveravera Puritama // 7:54 AM
Kategori:

36 comments:

  1. ***Iseng saya tanyakan apa boleh saya ambil gambar di sini, wanita tersebut menghilang sekejap! ***
    Kuntil anak apaa???

    ReplyDelete
  2. putu, mendoan, opo maneh?
    nggarai luweeeehh

    ReplyDelete
  3. tujuan belum berhasil dah dapet magnum
    yaelah enak bener

    ReplyDelete
  4. ih biarin sih....
    rejeki mbaaak, rejekiii....

    ReplyDelete
  5. hadiah kerjaan seharian yg ga nyambung.. :D

    ReplyDelete
  6. dan gambarpun tidak dimuat disini...*penasaran nungguin*

    ReplyDelete
  7. sabar, sabar....
    sesabar menanti magnum, putu dan duren... :D

    ReplyDelete
  8. gunung ketur ki mbuh kok gununge disebelah ngendi awit biyen tak puteri ga ono gununge

    ReplyDelete
  9. gunung ketur tu nama daerahnya kok, bukan bener2 gunung.
    deket pakualaman (kecamatannya apa ya... *lupa)
    daerah mangunsarkoro

    ReplyDelete
  10. ha yo kuwi ver aku herman biyen, dijenengi gunung ketur mboso tak ubengi ga ono gununge apa dulu sempet ada gunungnya yah??

    ReplyDelete
  11. nyah... ubek2 wae mas...
    entar bagi2 elmu yah... XD

    ReplyDelete
  12. kamu kmn to ? Puri Nirmala ?

    wkwkwkkkk...

    ReplyDelete
  13. themesmu apik ver tapi aku tasi seneng yang dulu

    ReplyDelete
  14. ke mangunsarkoro itu lho mbak....
    tau2 nyampe situ.. :D

    ReplyDelete
  15. ehee...
    kemaren itu ngasal bikin, soalnya bosen ^^
    ntar deh diublek2 lagi...

    ato dibikinin mas priyo waeee.... *ngarep.gretongan.com :D

    ReplyDelete
  16. lha aku ki ga tau ngutak2 themes e ver, kuwi themes awit jaman jebot jih tak pake

    ReplyDelete
  17. mas, dirimu ki OL dmn to?
    *dah kuganti barusan, back to grey :D

    ReplyDelete
  18. hihihi, aku juga nyasar2 pas abis dari Taman Sari, malah mo keluar di Ngasem, halaah

    ReplyDelete
  19. heu heu, nyasar memang mengasyikkan.. XD
    terus? Beli burung gak pil?

    ReplyDelete
  20. hahaha! buat apa beli buruuuunggg

    ReplyDelete
  21. ya kali aja...
    Pan lewat ngasem.. *ngekek

    ReplyDelete
  22. lha apikan maw

    aku OL nang ngomah, piye nduk?

    ReplyDelete
  23. naaa di rumah kan? Bikinin geh.. XD

    heuheu ndak papa, kirain lwt hape..

    ReplyDelete
  24. naaa di rumah kan? Bikinin geh.. XD

    heuheu ndak papa, kirain lwt hape..

    ReplyDelete
  25. aku g ngerti CSS mangkane ra tau ganti themes wkwkwkwkwk

    ReplyDelete
  26. jiaaah...
    Pripun skripsi (ato TA)nya mas?

    ReplyDelete
  27. yee ditanya bener malah balik..
    *nek belum pan sayah ada temennya, wakakaka..

    Semangat mas, secepatnyah kita lulus :)

    ReplyDelete
  28. wew salah tanya deh, maaaap... :(
    *met magrib :)

    ReplyDelete

 
Powered by Blogger.