Saturday, March 30, 2013

Indah dalam Kesabaran


Kami bertemu lagi pada bulan Maret.
Wajah keduanya masih sumringah seperti pengantin baru pada umumnya. Agak merasa bersalah juga karena sebelumnya saya tak menengok dia yang baru saja keguguran.
Ah, mungkin Allah punya rencana yang lebih baik untuknya nanti...
Saya percaya itu.
Dan memang selalu begitu, kan?

___________

Kami bertemu lagi kemarin.
Berkumpul bersama di rumah keluarga mereka.
Para tetangga juga hadir.

Dan hari ini kita kembali bertemu dalam banyak doa menyertai.
Di tanah merah yang basah. menatap pusara suamimu, Sepupuku.
Semoga ia tenang dalam surgaNya.

 Kullu nafsin dzaa ikatul maut
taken from here






***
Jumat pagi sekitar pukul 9 WIB, kami diberitakan kabar duka dari sepupu bahwa suaminya mengalami kecelakaan tunggal dan meninggal seketika. Tak ada luka sama sekali, tetapi diketahui mengalami luka dalam.

Innalillahi wa inailaihi raaji'un.
Sepupu saya adalah orang yang Allah cintai, insyaallah. Ketika menikah tahun lalu ia sudah tak bersama orangtua, dan di usia 10 bulan pernikahannya ini ia kembali diuji (iman) dengan kehilangan suami.

Di setiap ujian ada keindahan di hikmahnya.
Semoga Allah melimpahkan rahmat dan ridho di sepanjang sisa umurmu, sepupu.
Sebab yang kami tahu itu pasti benar.


#Jadi rencana bikin siomay dimsum gagal (lagi)... *curcol gapenting

Friday, March 29, 2013

Saya Pemikir Analitis (?)

Iseng #as usual#, membaca blog seseorang yang 'sengaja' saya cari dan tak sengaja menemukannya. Isi blog-blog perempuan cantik ini inspiratif, setidaknya untuk saya, terutama karena saya 'berkenalan' dengannya ketika menemukan jurnalnya yang berkisar seputar hijrahnya berhijab. Well, saya pasti suka-pingin-terharu kalau dengar atau baca kisah-kisah hidayah begini *bukan-pilem-religi-lho*

Saya dapet link soal tes kepribadian dari dia di ipersonic. Daaan... ah, dari pendapat psikolog pun ternyata 'seiman' dengan apa yang saya pikirkan tentang saya *bukan-narsis*. Saya berantakan.
Dari ipersonic, mengabarkan ...

Saya tipe kepribadian: Pemikir Analitis

Tipe Pemikir Analitis adalah orang-orang pendiam dan tidak banyak bicara. Mereka suka menggali hingga ke dasar masalah – rasa ingin tahu adalah dorongan terbesar mereka. Mereka ingin tahu apa yang menyatukan dunia jauh di dalamnya. Mereka tidak butuh lebih banyak untuk kebahagiaan mereka karena mereka adalah orang-orang yang rendah hati. Banyak ahli matematika, filsuf, dan ilmuwan merupakan tipe ini. Tipe Pemikir Analitis tidak suka kontradiksi dan ketidaklogisan; dengan kecerdasan mereka yang tajam, dengan cepat dan menyeluruh mereka menangkap pola, prinsip, dan struktur. Secara khusus mereka tertarik dengan sifat mendasar segala hal dan penemuan-penemuan teoritis; bagi mereka, tidak penting apakah mereka harus menerjemahkannya menjadi tindakan-tindakan praktis atau membagi pemikiran mereka kepada orang lain. Tipe Pemikir Analitis suka bekerja sendiri; kemampuan mereka untuk berkonsentrasi lebih menonjol dibanding tipe kepribadian yang lain. Mereka terbuka dan tertarik pada informasi baru.

Tipe Pemikir Analitis hanya memiliki sedikit ketertarikan pada masalah sehari-hari – mereka selalu agak seperti „profesor linglung“ yang rumah dan tempat kerjanya berantakan dan hanya mengkhawatirkan diri sendiri dengan hal-hal dasar seperti kebutuhan fisik ketika hal itu menjadi sangat tidak bisa dihindarkan. Pengakuan atas karya mereka oleh orang lain juga memegang peranan penting bagi mereka; secara umum, mereka cukup mandiri dalam hubungan sosial dan sangat mengandalkan diri sendiri. Oleh karena itu tipe Pemikir Analitis sering memberi kesan kepada orang lain bahwa mereka arogan atau congkak – terutama karena mereka tidak ragu untuk melontarkan isi kepala mereka dengan kritik mereka yang biasanya pedas (sekalipun beralasan) dan rasa percaya diri mereka yang tak tergoyahkan. Orang-orang di sekitarnya yang tidak kompeten tidak akan lolos dengan mudah dari mereka. Namun barangsiapa berhasil memenangkan rasa hormat dan ketertarikan mereka akan mendapatkan orang yang jenaka dan sangat cerdas untuk diajak berbincang. Pasangan yang membuat seseorang takjub dengan pengamatannya yang tajam dan selera humornya yang getir.

Butuh waktu sebelum tipe Pemikir Analitis bisa berteman, namun biasanya mereka akan berteman seumur hidup. Mereka hanya butuh sedikit orang di sekitar mereka. Kemampuan yang paling penting bagi mereka adalah kecocokan dan dengan demikian memberi mereka inspirasi. Kewajiban sosial yang terus-menerus dengan cepat membuat mereka jengkel; mereka butuh banyak waktu sendiri dan sering menarik diri dari orang lain. Pasangan mereka harus menghargai ini dan mengerti bahwa ini bukan karena kurangnya kasih sayang. Begitu mereka sudah memutuskan menyukai seseorang, tipe Pemikir Analitis adalah pasangan yang setia dan dapat diandalkan. Namun demikian, Anda jangan mengharapkan romansa dan ekspresi perasaan berlebih dari mereka dan mereka jelas akan lupa ulang tahun pernikahan mereka. Namun mereka selalu siap menyambut malam yang diisi dengan perbincangan menggairahkan dan segelas anggur lezat!

Begitu katanya.
Mungkin beberapa hal ada yang salah, karena diantara tipikal 2 pilihan yang diajukan, saya merasa ada dalam keduanya. Namanya juga punya orangtua lengkap *alhamdulillah*, tentu saja ada beberapa kebiasaan yang saya tiru dari kedua orang yang berkarakter beda itu kan?
Kalau kalian juga pingin sekedar tahu, bisa coba tesnya di sini. Gratis! Dapatkan segera! *ah, abaikan 2 kalimat tanda seru ini*

Wednesday, March 27, 2013

Cilok Siomay (ngawur) a la Seadanya


Ceritanya hari Minggu kemarin saya ke Car Free Day-nya Kuningan. Tujuan sehatnya sih jalan pagi, tapi modus nakalnya ya jajan dooong :))
Sambil ngerjain chores dari mamah, yaitu ngambil barang di rumah sepupu, sambil jalan-jalan juga bareng keluarga Aa. Tak seperti CFD sebelum-sebelumnya, rute jalan kami kali ini seputaran stadion saja. Lebih dekat dari rumah -____-
Tapi kabar gembiranya, kami nemu cilok spesial... tadam pararam-pam ♥ ♪ ♫

Sebetulnya cilok itu dimana-mana, hanya saja rasanya ya begitu-gitu aja, kadang malah ga panas... itu kan tidak nikmat, Mang!
Yah... singkatnya, cilok kali ini agak beda sama yang ada di pasaran (tingkat Kuningan lho ya).
Pilihan isinya ada gajih (lemak) sama ayam.

Well, serasa bertahun-tahun ga makan cilok, terbitlah minat saya untuk bisa bikin sendiri camilan yang satu ini. Berbekal gugel dan antek-anteknya, saya nemu resep simpelnya di resepmasakantradisional.

Kira-kira beginilah resep cilok dan siomay versi saya...

Bahan:
- 1 cangkir tepung terigu
- 1 cangkir tepung kanji
- 2 siung bawang putih, ulek
- merica secukupnya
- penyedap rasa (kalau kalian anti MSG pake aja garam+gula)
- daun bawang, iris tipis (bisa juga ditambah seledri)
- air panas secukupnya
Nah karena saya ngotot pingin pake kaldu tapi ga ada bahan, jadilah saya ambil 4 nugget ayam di kulkas. Maksa direbus, terus airnya dipakai sebagai kaldu deh. Nuggetnya dipotong-potong kecil buat jadi isi cilok ceritanya *namanya juga resep ngawur*
- isi/campurannya bisa pakai abon, ikan, udang, ayam, gajih atau bahkan keju

Caranya:
- Campurkan semua tepung, bawang putih, merica, bumbu, dan daun bawang
- Tambahkan air kaldu sedikit demi sedikit ke dalam campuran
- Uleni dengan sendok kayu atau tangan (kalau kebal panas) hingga terasa kalis (bisa dibentuk)
- Bila telah kalis, bentuk adonan menjadi bulat-bulat dan isi dengan bahan yang telah disediakan
- Masukkan adonan yang telah dibentuk ke dalam panci berisi air
- Rebus cilok sampai mengapung di air
- Angkat, lalu kukus sampai matang

Masih dengan adonan yang sama, saya kurang telaten kalau kudu membulat-bulatkan dan mengisi adonan satu per satu. Jadilah saya pingin seperti nge-siomay kayak dim sum. Apalah daya ternyata di kotaku yang kecil ini saya agak sulit menemukan kulit pangsit. Muter otak gimana cara yg praktis, akhirnya saya pakai kubis aja sebagai pengganti kulit pangsit deh :D

Tuesday, March 19, 2013

Kangen Indonesia (2012)

Penulis: Hisanori Kato
Penerjemah: Ucu Fadhilah
Penerbit Buku Kompas


Indonesia sebagai kepulauan yg punya banyak budaya tentu saja seperti jelajah dunia. Kita keluar negara, maka akan jumpa dengan orang asing berbicara dengan bahasa yg tak dimengerti, pun kebiasaan yg tak pernah kita jumpai di negeri sendiri. Tapi ... sekali lagi, ini Indonesia. Anda bepergian ke perbatasan atau ke lain pulau, bisa dipastikan Anda menemui 'orang asing' dengan bahasa berbeda.

Saya ini Sunda tulen rumahan. Pertama kali saya menginjakkan kaki di Jogja untuk melanjutkan studi, rasanya berada di luar negeri, katakanlah itu saya batasi dari segi bahasa. Tak bisa saya jumpai orang berbahasa Sunda! Geli-geli romantik kalau ingat kembali.
Akibat rumahan itu, saya sering mengalami xenophobia. Secara tak langsung, tulisan Pak Hisanori Kato rasanya membikin saya jadi ingin lebih bisa membuka diri terhadap orang asing.

Saya pikir orang Indonesia yang bisa berinteraksi dengan orang asing tanpa rasa takut atau malu itulah yang disebut manusia internasional yang baik. (10)

Agaknya kurang tepat bahwa penulis menjadikan bukunya sebagai 'Kangen Indonesia', karena yang saya baca kebanyakan kehidupan di Jakarta. Hebat, beliau sangat tertarik orang-orang pribumi sehingga betah berlama-lama di kota yg konon banyak bedebahnya itu ya...
Kadang saya heran kenapa beliau tidak mencoba keluar dari Jakarta? Saya kira 'kenalan' dengan Indonesia-nya akan lebih beragam kan?
Sejauh yang saya baca, beliau mungkin tertarik.... dan masih akan sangat tertarik pada kehidupan ibukota. Menurutnya, ibukota Indonesia itu sangatlah 'luar negeri'... hahaha bisa aja si bapak...

Beliau tak berpikir akan makan masakan Jepang menggunakan tangan, tetapi pasti akan melakukannya ketika memesan makanan di RM Padang. Hal nomor satu yang dibahasnya adalah mengenai pemakaian kata "Tak apa-apa" ketika bagi beliau, kondisinya sebetulnya akan sangat 'apa-apa' jika dibandingkan dengan orang Jepang, terutama kaitannya dengan waktu.
Kalau dipikir-pikir, teman-teman saya yang baik juga banyak sekali yang sangat pemaaf... misalkan dalam memenuhi janji, seringkali ada orang yang gemar (bahkan sengaja) memepetkan waktunya untuk datang ke TKP. Itu hal lumrah, dan sudah terjadi, mau apa lagi selain:
 "Gak papa..." <--- sambil pasang muka asem.
Parah-parahnya palingan pergi melengos tanpa sepatah katapun. Tapi kalau dia yg terlambat sudah mengejar dan minta maaf, bisa dipastikan jawabannya "Gakpapa" juga... :))

Tuesday, February 19, 2013

Love Journey: Ada Cinta di Tiap Perjalanan (2012)

Tak cuma ilmu yang bisa kaudapat saat jengkal-jengkal kakimu melangkah keluar dari zona kuasamu. Tak juga melulu suvenir manis saat kau tiba di sebuah tempat asing. Jauh dari semua itu, kau bisa temukan butiran pesan cinta dariNya.
Maka bertamulah dan kenalkan dirimu pada keajaiban-keajaiban yg diciptaNya. Tajamkan indera-inderamu pada tadabbur Yang Maha Indah. Tatap varian warna bumi di balik lensa matamu sendiri. Lakukanlah perjalanan, dan lihatlah dunia!

Begitu quote yang saya buat ketika Mbak Rien mengadakan lomba kecil-kecilan. Alhamdulillah saya senang bisa jadi salah satu yang memenangkan buku Love Journey ini secara cuma-cuma. 

Buku yang merupakan sejarah bagi para kontributor di dalamnya ini merupakan bintang empat saya dalam menemukan gaya baru soal bagaimana mereka bertemu 'cinta' dalam sebuah perjalanan yang berkesan. 

Jadi begini, awalnya saya mengira bahwa ini mungkin bakal semacam buku guide tentang apa yang dibutuhkan dalam perjalanan, sebaiknya apa yg dilakukan maupun ke-khas-an apa yg ditemukan di sepanjang perjalanan mereka masing-masing itu. Tapi begitu saya baca ... saya bertemu 'kenalan' baru. 

Dimulakan dengan perjalanan seorang pendaki yang kemudian bertemu dengan belahan jiwanya di alam Ciremai *wah, kampung halaman saya memang penuh cinta :p*. Hal serupa juga diceritakan dalam Cinta di Gerbong Kereta, Honeymoon ala Backpacker, It's A Long Journey, dan Cinta Bujursangkar.
Lalu ada juga beberapa cerita perjalanan di alam seperti dalam Malinau nan Memukau, juga 'guide' lengkap ala Mbak Rien dalam Menaklukkan Rasa Takut di Dasar Laut Pulau Dewata. Wah, kelak kalau saya ada kesempatan seperti beliau-beliau ini pasti terbantu sekali sudah baca deskripsinya di buku ini :D
Lain halnya dengan kisah bu dokter dalam Selamat Tinggal Gaza Sang Cinta. Percayalah, saya menitikkan air mata membacanya *buka kartu*. Terus lagi kisah deja vu-nya Om Yasdi bertemu belahan hatinya, kecintaan seorang ibu pada anaknya dalam Kain Gendongan Batik Sebagai Saksi Cinta dan, kecintaan akan ilmu berkomunikasi ala Mbak Yudith Febiola, cinta anak pada ibunya seperti tersaji oleh cerita Mbak Ulil Lala, cinta seorang bocah pada Oom yang bahkan baru dikenalnya, hingga kecintaan pada kendaraan umum seperti pete-pete ala Mbak Pia. Juga patah hati!

Ada juga kecintaan negeri bersama Mbak Helene dan Mas Fatah ... membikin saya makin ingin berkelana di negeri sendiri.


Cinta itu beraneka wujud.
Ada semacam perasaan tak terungkap saat sedang bertatapan langsung dengan alam. Mungkin suatu hari nanti ketika saya menemukan keindahan alam lain, saya cukup mengarsipkannya sendiri. Terus terang saya sangat tersentil dengan beberapa cerita dari buku ini. Saya ingin menjaganya juga. Dan beruntung itu adalah ... saya lahir di negeri yang alamnya meruah seperti Indonesia.
Perjalanan itu sendiri semacam fitrah manusia mengarungi hidup. Bukan melulu soal melangkahkan kaki dari titik satu ke titik lain, tetapi juga bagaimana manusia menemui berbagai setting dalam sekian waktu.

4 stars! :D

Monday, January 21, 2013

My Dream Garden-House (about designing 2)

Ngomong-ngomong soal keinginan, saya pingin membuka sedikit tabir masa lalu saya *halah
Saya ini lumayan banyak maunya, walau kebanyakan belum ada langkah sama sekali. Dulu sewaktu masih aktif ikut liqo tarbiyah, saya disuruh mengungkapkan salah cita-cita dan harapan saya ke depannya dari sekarang sampai nanti kehidupan pasca menikah. Yaa semacam 'merancang hidup' gitu lho. Wakakaka... hayooo ada yang berasa deja vu ga?

Masih saya ingat sekali, murobiah saya bercita-cita menjadi seorang enterpreneur. Wow, beliau sebagai murobbi aja udah merupakan langkah awalnya menuju sana. Dilanjut teman saya yang ... standar banget: lulus kuliah-PNS-nikah. Daaaan... pada detik ini, dia sudah memperoleh semua keinginannya itu. Masyaallah, hebat kan? Temen saya gituloh!
Lucunya, kami sama-sama menempatkan menikah itu di prioritas ke sekian, setelah bekerja dan memuaskan diri dengan hobi :))

Sementara itu, salah satu keinginan saya yg belum terpenuhi adalah punya kebun bunga yg luas. Pinginnya, sih.
Ngurusnya? Belom tahu euy :))
Jadi ... sementara ini, mari ngayal dulu ...

Rumah minimalis aja. Lahan rumah 'rakyat' juga palingan segimana doang kan ya, jadi sekiranya ada rezeki ... semoga bisa bikin rumah tingkat. Atapnya nanti ga dibikin genteng, tapi dibentuk mendatar semacam gedung begitu. Di atasnya nanti ditanami sayur-mayur, biar selalu tersiangi matahari. Tak lupa sekop tanah dan bangku kecil ... juga peralatan bertani kecil-kecilan.

Setidaknya mengusahakan sesuatu di lingkup kecil itu lebih puas ketimbang beli doang. Belum lagi zat kimia dari pestisida yang dipakai buat berantas hamanya. Lebih aman menanam sendiri kan? Keuntungan lainnya ... bisa ngajarin si kecil merawat tumbuhan, mengenalkan secara langsung nama-nama tumbuhan ... sukur-sukur nanti nanam tanaman herbal juga. Jadi kalau nanti ada gangguan kesehatan, bisa meracik sendiri. Atau paling engga menjaga kesehatan dengan tanaman herbal itu. 
Naa... mungkin nanti pingin nyisain tempat buat ngedesain pot-potnya semacem ini:

Atau ini:


*dalam rangka masih ngayal*
Masih soal tanam-menanam, nanti saya juga pingin nanam tetumbuhan bunga. Bisa anggrek, anyelir, teratai, Wijayakusumah, sedap malam (buat nge-sop kimlo XD), boleh juga zodia... *biar gada nyamuk XD

Tak usah yang padat-padat, yg jarang-jarang aja pasti seneng banget. Yang merambat biar dipasang dekat pagar atau bikin kerangka rambatannya di halaman untuk menaungi pintu rumah, bisa juga dipakein pot gantung biar nantinya menjuntai gitu ...
Jadi gambarannya yaa kira-kira gini:


Kalau memungkinkan untuk tanaman rambar, ya nanti boleh laaah ditanami anggur hijau. Nanti pot-pot di bawahnya ada stroberi ... :3
Belakangan ini saya tertarik nanem tanaman berpot botol plastik ini deh ... cantik ya~
Tapi mungkin gak bisa dipakai buat tanaman bunga :))

Kalau punya pekarangan yg lebih luas, mungkin pingin jadi begini:

Biar sirkulasi udara juga terjaga, saya pingin pola rumahnya punya 'lubang' alias ada bagian yang tak tertutupi atap. Bawahnya pingin saya tanami sesuatu juga...
Kalau lihat contoh ini, nanti cukup dikasih atap yg berlantai garis-garis cokelatnya aja. Lalu kursi dan mejanya saya ganti aja sama hammock atau bangku lebar (kayak bangku luar korea-korea gitu lho, apa ya namanya?) buat bersantai. Boleh juga ruangan ini dijadikan perpus pribadi ... Kalau hujan kan bisa baca sambil menikmati tiap rintik airnya *tidur deh :))

Dari sekian banyak desain kebun, saya paling suka sama gaya Jepang. Mungkin sering dipakai untuk meditasi ... atau semacam zen garden gitu, makanya kebunnya dibuat setenang mungkin. Tapi yah .. kalau bikin garden a la Jepang gini ... butuh halaman besar atuh ya ... :D

Latihan Iseng

Iseng-iseng berhadiah, begitu pikir saya ketika meniatkan diri ikut lomba ini.
FF saja sih, belum sepenuhnya 'cerpen' yang berkisar hingga 10 halaman-an itu. Sempat pasrah ketika adminnya asus begini:

Hai, sepertinya sudah jelas diinfokan di note event, kalo untuk tema "SA" itu harus langsung fokus ke tema. Jadi, tokoh utama langsung diposisikan dalam keadaan dikagumi atau mengagumi seseorang, begitu. :) Adapun perkenalan, dlsb-nya, bisa dijelaskan sebagai penunjang cerita saja.

Okey man, rasanya bagai hendak diseruduk tukang becak dari jarak ... 10 meter.
Saya kurang teliti baca persyaratannya, sehingga langsung cuap-cuap di sini. Beberapa hari kemudian sesuai janji pihak penyelenggara lomba, mereka mengumumkan FF mana saja yang berhasil lolos. Dari 404 cerita yang masuk, 306 karya yg lolos seleksi itu ... ada karya saya. Alhamdulillah.
Lengkapnya bisa dilihat di sinih

*Coba klik ctrl+F, terus ketik VERA.
Tuh, ada kan? ADA KAAANN?? *maaf, lagi lebay :))

Dari kejadian begini, saya jadi ngambil hikmah...
Bahwa rezeki itu kadang datangnya ga terduga. Boleh jadi kamu iseng terhadap suatu hal, padahal Allah selalu serius mendengar dan melihat usahamu. Kalau jadi, ya terjadilah ... \(^o^)/

Jadi ... sepertinya saya harus banyak-banyak iseng lagi nih~

Desain Gamis (about designing part 1)

Tiap orang pastilah punya selera sendiri soal style yg dia suka, termasuk saya. Pas dulu masih seneng-senengnya nge-gambar, entah itu ngomik atau sekedar doodling, terkadang saya kurang puas dengan hasilnya di sisi yg sama: model baju!
Wakakaka... memalukan memang, masa' gambar kiyut seorang gadis, bajunya gak jauh-jauh dari kemeja sama celana... berdasi pula. *krik

Mungkin memang komik Conan yang jadi favorit saya waktu itu sedikit-banyaknya mempengaruhi cara saya menggambar. Hng... jadi begini. Lingkungan saya itu termasuk wilayah perkantoran, jadi otomatis baju yang dikenakan juga pada resmi. Belum lagi model baju Mamah yang biasa dipakai juga biasa banget, engga ada tren-trenan sama sekali, banternya ya daster *komik kok dasteran...

dipake pas kondangan

Ini juga ternyata ngaruh besar ke dalam kehidupan saya: ga bisa milih baju yg bagusan dikit. Seleranya terpaku sama kaos. Untungnya sementara ini udah berani main warna, walau ujungnya masih freak juga. Anehnya, kalau mix-match orang lain mah rada lumayan bagus XD

Demi mengeksiskan diri sebagai gadis muda yang menyukai keindahan *halah*, makanya saya suka browsing model baju di gugel dulu sebelum akhirnya saya jahitin baju. Sebetulnya penjahit jaman dulu biasanya udah punya buku modeblat (bener ga nulisnya?) sendiri. Daaan... rasanya sia-sia karena bajunya jadi jarang dipake. Padahal modelnya ga jelek, cuma kenapa ya ... ga sreg dipake aja gitu mungkin ya...

Baju wisuda saya kemarin itu juga terinspirasi dari Teh Ghaida *cuma gamisnya kok jadi rame gini ...
Tapi terbukti bisa dipake pas kondangan :D

Nah, nah ... sekarang saya baru keinget. Dulu sebetulnya pernah beli bahan (gataunamanya) warna ungu tua. Tadinya mau saya bikin pashmina ... karena pasti agak susah nyari pashmina warna begitu. Tapi setelah dipikir-pikir, ya sayang juga bahan lumayan panjang (2 meter) masa cuma dipotong dua demi pashmina? Jadi ... sekarang ini saya lagi gugling (lagi) kira-kira baju gimana yg 'pantes' buat bahan ini. 
Pinginnya gamis, tapi karena (mungkin) bahannya ga mencukupi, mungkin desain overall gamis bakal saya cariin. Jadi dalemnya kan bisa pake kaos lengan panjang, kaaan ...

Any idea?

Friday, January 18, 2013

Susah-Gampangnya Flash Fiction

Lagi, setelah sekian lamanya saya skip info tentang lomba menulis, kemarin ndilalah banyak sekali yang pasang infonya. Salah satu yang saya minati adalah lomba FF Boliners. Pinginnya dua FF sekaligus bisa ikutan, tapi ... gak deh. Kenapakah gerangan? :))

Saya sudah lama sekali ga membaca 'dengan serius', apalagi sampai 'asyik' hingga lupa waktu. Padahal tahu sendiri untuk dapat inspirasi selain banyak-banyak pergi, ya dengan membaca itu.
But yeah, I do miss that time.

Membaca itu kadang suka sampai lupa waktu dan orang, sampai-sampai teman saya harus tepuk pundak dulu kalau mau saya ladeni. Banyak hal yang membikin saya terlupa membaca. Hahaha, karena yah... saya bukan seorang pembaca sejati. Saya memang menikmati, tapi karena lain hal, ketertarikan saya membelok pada banyak hal. Tak apalah.

Kalau ga percaya, saya aslinya sudah memikirkan ide FF lomba itu dari awal info diterbitkan. Hanya saja, ide itu tak serta-merta muncul begitu saja. Saya mulai berpikir, bahwa saya tak lagi berada di usia remaja sekolahan. Dan tentu saja gaya penulisan saya pasti sudah sangat berbeda. Bisa, gak, bisa, gak ...

dicomot dari sini

Yah, tak ada salahnya mencoba.
Persyaratannya 500-700 kata, no more nor less.

Sudah pasti yang bikin saya agak susah itu ide. Saya gak mau walaupun sasarannya untuk usia 17-20 tahun, style-nya harus  galau berlebihan. Jangan deh, meski umur segitu dibilang alay di zaman sekarang, saya yakin masih banyak yg berstyle normal kok :))

Setelah ganti-hapus-ganti-coret-ganti-buang ... saya dapat ide yang lumayan juga. Segeralah saya tulis dan ketik. Entah kenapa, menulis itu jauh lebih mengalirkan energi tersendiri ketimbang mengetik. 

Akhirnya selesai juga 1 naskah FF. Hanya 1, padahal maunya 2 ... T--T
Susah-susah gampang juga. 
Kalau dilihat mah mungkin 'hanya' sekitar 1-2 halaman A4 saja, tapi tulisan saya malah melebihi batas ketentuan: 700 kata lebih! Dengan ga mengurangi penyesalan, saya coba potong-potong lagi bagian cerita yg sekiranya tak diperlukan agar memenuhi syarat lomba.

Setelah beberapa hari berlalu, admin lomba sempat asus (apdet status). Bahwa ternyata masih banyak yg kurang memenuhi syarat dan tentu saya kena diskualifikasi. Salah satu syaratnya adalah bukan merupakan kisah pertemuannya alias kudu pada saat sedang mengagumi orang tersebut. Well, saya sudah senyum kecut, mengingat naskah yg saya kirim itu justru berat ke titik pertemuan/alasannya. 

Tak apalah, dengan hal ini saya masih kudu membiasakan diri menulis lagi kalau pingin dapat tulisan yg berkualitas. Kalau lihat progres tulisan masa lalu, sepertinya konsistensi menulis saat ini melempem jauh. Jenuh sekali, hampir nol kalau mau dinilai dengan skala 10. 

Hyah, dengan kejadian begini ... saya mending agak fokus sekalian ke dunia tulis-menulis lagi. Mumpung masih jabatan jobseeker ... huehuehehehehe... *dikeplak ortu*

Mari semangaaaattt... cari ide lagiiii .... cari kerjaan...   :D

Warm Mist

It was almost misty everyday when I was about 6 years old.
I always took my time to get wet in the rain. Together with my brother.
Then we danced in the middle of the empty road. Laughing crazy as if it was ours.



The rain comes in recent days. This daybreak it was raining till the adzan voiced.
The mist came to me when the door opened. It's moved by the wind. The air was so refreshing. So cold.
I miss him.
My phone rang. I took it then the warm voice greeted me,
"Hi, I'm gonna work today. The ship is ready. Hope you'll be fine there."
"Yeah thanks, safe travel."
There's long smooch across the phone. I laughed.
Click.


West Java, January 18th, 2013

 
Powered by Blogger.