Friday, July 2, 2010

For The Rose


Aku tak yakin tepatnya kapan tetapi kami bertemu saat masa-masa sekolah-menengah-atasku akan berakhir. Tambah lagi, aku lupa bagaimana caranya kami bisa sangat dekat. Yang kutahu, kami sama-sama menyukai buku, tak ketinggalan pula komik.

“Eh? Komik apa itu Teh?” Mungkin begitu kataku waktu pertama kali bertemu. Beliau sedang mengisi waktunya dengan membaca komik serial yang sepertinya tak asing bagi aku.

Zaman sekolah kuisi dengan segala imajinasi liar yang bisa kukeluarkan seluas-luasnya kala itu. Tak salah bila aku hapal setiap cover komik yang kutemui dimanapun. Walau tahu kota kelahiran kecilku ini tak ada apa-apanya terhadap perkembangan teknologi termasuk buku-buku terbaru di luar sana, aku tetap bisa mencarinya di internet yang baru masuk sekolah. Walaupun di sana tengah huru-hara dapat kenalan si ini dan si itu, toh aku selalu dapat kesempatan untuk menggunakan komputer sekolah.

Teteh menolehkan wajahnya ke arahku, tak lupa senyumnya terkembang. Beliau menampakkan cover komik yang tengah dibacanya. Benarlah dugaanku, itu serial cantik rupanya.

“Suka baca komik Neng?” Aku mengangguk. Secara refleks, senyumku melebar dengan sendirinya. Mungkin mirip Garfield yang ketahuan mencuri ikan oleh majikannya, atau seperti Chesire Cat yang meninggalkan bayang geliginya sebelum menghilang.

“Suka banget Teh! Ini pinjam ya?”

“Iya.”

“Dimana? Boleh kupinjam dong?”

“Di dekat rumah ada rental buku kok. Nih, Teteh pinjamkan yang ini dulu ya. Biar kamu ngerti awal-awal ceritanya.” Ia menyodorkan komik seri pertamanya padaku.

“Hehe, makasih Teh…kirain si Teteh tak suka baca komik.”

“Wah Neng suka baca toh… tahu begitu Teteh pinjamkan dari dulu-dulu. Teteh sering pinjam kok.”

Aku hanya nyengir mendengarnya. Dari dulu aku juga heran mengapa tak semua penjaga toko Apak bisa langsung akrab denganku. Jadi serasa Profesor Snape yang dijauhi anak-anak Gryffindor saja…



Teteh dipanggil Ibah oleh teman-teman toko dan keluarganya. Aku tak pernah menanyakan ataupun tahu dengan pasti siapa nama panjangnya. Biarlah mengalir selayaknya saudara.

Tak ada yang kuketahui tentang ayahnya. Yang kudengar sudah meninggal dunia. Sementara ibunya… -entah bagaimana harus kuceritakan…- mungkin bisa kugambarkan sebagai sosok yang tak mau ambil pusing terhadap segala sesuatunya. Uwaknya saja sampai harus terang-terangan membentaknya agar berusaha mencari pekerjaan dan bukannya menadahkan tangan pada saudara-saudaranya. Sangat berbanding terbalik dengan puterinya mencari nafkah sebisa mungkin sampai-sampai tubuhnya saja tak begitu terurus baik.

Walau tubuh kurus sepertinya rawan untuk hilir-mudik melayani kepentingan para pembeli, Teteh lincah sekali bergerak kesana-kemari. Terlebih saat tahun ajaran baru tiba, orang-orang berteriak agar mendapat jatahnya sesegera mungkin. Ada yang minta buku gambar, selusin pensil, mencari kitab kuning, pesan buku Yaasin untuk lima puluh orang, belum lagi pesanan sekolah yang menuntut barang dalam jumlah besar, di depan kasir menumpuk padat orang-orang yang mau membayar. Dengkulku capek.

Waktu tak mungkin terhenti saat itu. Tanaman tak mungkin selalu biji, alang-alang tak mungkin tak disandari laba-laba, umur tak mungkin selalu muda, sementara sekolah harus berganti tahun ajaran, dan aku tak ingin menjadi siswa selamanya. Aku berniat melanjutkan pendidikan di luar kota. Kota pelajar yang katanya penuh budaya yang kini kutempati menjadi tujuan utamaku; Yogyakarta.

Aku senang ketika saat inilah aku bisa memiliki handphone sendiri. Aku tak perlu meminjam handphone Apak dan aku berhak memiliki kartu nomor sendiri. Gaya sekali aku. Tak lupa kuberitahu nomorku pada Teh Ibah agar masih bisa berkomunikasi. Teteh menyampirkan doanya untuk keberhasilanku di sana, sementara aku mengamininya dengan khidmat.



Gudang segala silsilah keluarga terdapat pada Mamah. Dengan runtutnya beliau selalu menceritakan segala kejadian menyangkut keluarga besar kami. Saking banyaknya nama, aku kesulitan menghapal alur ceritanya karena memoriku payah sekali.

Suatu hari aku mendapati Mamah tengah sedang dari kejauhan saat aku mengobrol dengan Teteh. Sesekali orang yang kusayangi itu memalingkan wajah, walau akhirnya kembali mengawasi kami. Tak terlalu kupedulikan, karena sebuah prasangka terlalu jahat untuk orang baik yang punya rahim.

            “Teh, sekarang kamu akrab dengan Ibah ya…,” kata Mamah membuka percakapan saat kami tiba di rumah. Aku menoleh padanya dan tersenyum, lalu asyik menatap gambar bergerak-gerak di kotak ajaib bernama televisi sebesar 21 inchi.

“Iya Mah.”

“Hati-hati ya Teh, kamu jaga jarak sama dia.”

Tak kusangka pernyataan seperti itu bakal meluncur dari sosok yang kumuliakan itu. Waktu itu aku cuma terdiam. Aku yakin ibuku mengerti bahwa ini adalah  sikapku meminta penjelasan dan bukan sekedar alasan.

“Dia mengidap penyakit liver, Teh, Mamah hanya khawatir kamu tertular.” Ada nada seorang yang kukenal baik: kecemasan sekaligus rasa cinta seorang ibu. Beliau berkata lembut, walau agak tergetar. Mungkin kekhawatirannya melebihi perkiraanku.

Pikiranku menerawang panjang, jauh merongrong angkasa mungkin sampai menembus Capella. Selayang kenangan masa lalu melintas tak berjeda; bakung, nuansa hitam dan kematian. Pekat sekali menghiasi sejarah keturunan Apakku. Beberapa waktu silam, salah seorang saudara Apak meninggal dunia karena jenis penyakit ini, meninggalkan suami dan keempat buah hatinya. Aku sangat paham aturan bergaul dengan para pengidap penyakit ini. Apa-apa harus terpisah dan dijaga. Mendeskriminasi.

“Mamah cuma minta kamu menjaga jarak pembicaraan dengannya, jangan terlalu intens juga ya.” Aku mengangguk mengerti, membuatnya bernapas lega barang sejenak.



Kegiatanku sebagai seorang mahasiswa tak seindah seperti di sinetron kegemaran adikku. Aku membutuhkan banyak waktu untuk beribadah dengan tenang karena harus bekejaran dengan jadwal perkuliahan, belum lagi tugas-tugas entah itu paper atau persiapan presentasi. Sudah kuabaikan peraturan makan dan istirahat teratur, cuma kuturuti ketika lapar dan capek saja.

Komunikasiku dengan Teh Ibah tak begitu sering. Dulu bisa sampai beberapa kali balasan, kali ini cukup 2-3 kali membalas, setelah itu tenggelam dalam kegiatan masing-masing.

Obrolan kami masih tetap berkisar soal komik, yang baru maupun mini seri. Hanya saja saat aku sedang libur kuliah, obrolan kami kini tak cuma komik.

“Neng, Teteh ingin curhat,” katanya. Aku langsung berbalik menghadapinya dan memasang telinga.

“Ada orang yang suka sama Teteh.”

Senyuman yang berbeda. Terlebih lagi ada sapuan pemerah alami di pipinya. Belum lagi kulihat matanya, kentara sekali aura merah jambu menguat di situ. Aku berseri mendengarnya, aku senang ada yang akhirnya benar-benar melihatmu Teh, batinku.

“Lalu?”

“Ya… kami hanya menjalani begitu saja, padahal sepertinya dia mau serius denganku.”

“Terus? Tidak tantang dia untuk menikah saja?”

“Masih banyak pemikiran menuju ke sana Neng, Teteh juga tahu diri Teteh cuma begini keadaannya,” katanya datar, namun dengan senyum yang anteng mengembang.

“Begini keadaannya bagaimana? Teteh sudah saatnya berumahtangga lho, tak usah merendah begitu,” kataku.

“Yaah, mudah-mudahan Teteh bisa diterima di keluarganya. Kita jalani saja dulu.”

“Mudah-mudahan dipercepat menuju pernikahan,” kataku disela seruan ‘hei!’-nya, “… kita kan tak tahu umur, Teh,” lanjutku sungguh-sungguh, tanpa tahu bahwa kata-kata itu kelak menjadi bumerang besar bagiku. Teh Ibah hanya nyengir dan kembali melayani seorang pembeli yang masuk.



Aktifitasku seperti biasa saja di kampus pendidikan. Tongkronganku hanyalah kos-kantin-kampus, begitu seterusnya. Kalaupun liburan kampus, tetap saja tak seenak udel bisa kupergunakan untuk mudik. Ongkos travel makin naik dan sebaiknya memang memanfaatkan waktu di Yogyakarta.

Dering telepon selulerku menjerit, terdapat nama Rumah di sana. Ah, Mamah memang baik, tahu kesepianku di kos. Kuangkat dan kusapa dengan salam.

“Waalaikumsalam Teh, ngapain?”

“Ga ngapa-ngapain, lagi liburan Mah.”

“Sehat Teh?”

“Iya, sehat. Mamah juga kan?”

“Iya Alhamdulillah. Teh…,” kalimat Mamah menggantung. Aku merasa ada keraguan dalam suaranya.

“Kenapa Mah?”

“Ibah meninggal tadi pagi…”

“Hah?”



Kau ini seperti mawar yang rapuh. Tapi memesona setiap makhluk yang melintasinya, walaupun tak selalu begitu. Aku ingin kau bahagia di alam sana, ditemani dengan yang belum pernah kaumiliki sejauh jantungmu berdegup.

 

Aku berduka karena tak pernah menjumpaimu saat pernikahanmu belum sempat terlaksana.

Aku menyesali mengapa kata-kata ‘umur pendek’ pernah kutujukan padamu, padahal aku tahu dalam setiap ucapan terdapat doa yang menyertainya.

Tapi aku sama sekali tak pernah menyesal bahwa menjadikanmu sebagai rahmatNya adalah perihal yang indah walau hanya sekejap waktu.

 

 

 

 

 

Yogyakarta 28 Juni 2010, 04.15 pm

For The Rose, ingatkah ketika kau menyebutkan judul komik kesukaanmu itu?
Aku benar-benar terhanyut ketika membacanya, sama terhanyutnya ketika aku memaknai sebuah persahabatan bersamamu. Berbahagialah di sana, aku meminta keadilanNya untukmu. Amin.

Diceritakan kembali untuk mengikuti lomba Berbagi Cerita dengan Kata

Ditulis Oleh : Veraveravera Puritama // 9:55 AM
Kategori:

20 comments:

  1. Innalillahi wa innailaihira'jiun...
    Semoga di mudahkan urusanya di alam sana...
    turut berduka juga..
    yang sabar yah neng..

    ReplyDelete
  2. Innalillahi wa innailaihira'jiun...
    teh ibah akan selalu di kenangan..
    apalagi almarhum pekerja keras..

    ReplyDelete
  3. Iya makasih mbak,
    amiin amiinn amiiiiiinnnnn
    pertemuan kami singkat, tapi saya sudah merasa sayang padanya :)

    ReplyDelete
  4. Iya mbak nitaa..
    Pertemuan kami singkat, tapi aku merasa udah sayang padanya :)

    ReplyDelete
  5. Amiin
    yang sabar yah, Mbak Puri...

    ReplyDelete
  6. Otee makasih mb dani.. ^^
    amin ya Rabb..

    ReplyDelete
  7. Terkadang kita susah ktmu dg orng yg punyai hobby sama...
    Jadi kalau di tinggal pergi merasa sangat kehilangan yah Neng..

    ReplyDelete
  8. Hu um, beliau ini kayak kakak cewekku (kakak lakiku jelas ga bisa kompromi buat diajak ngobrol dr hati ke hati)..
    Mb vira jg ngalamin?

    ReplyDelete
  9. Yups! Termakan omongan sendiri juga, dia milih mati dr pada punya sodara ipar musuh bebuyutan, Alloh Maha Mendengar, hati2 kalau mau bicara sesuatu ya dhek...

    ReplyDelete
  10. Wohh.. kayaknya kok serem mbak??
    Hu um ya, lidah itu kalo ga dbarengi akal pasti dah jd snjata pmbunuh handal. Bberapa pngalaman jg trjadi dr kata2 yg prnah kulontarkan (aihh bahasanyah..).
    Mg2 kdepannya lbh hati2 jagain ucapan.. :>

    ReplyDelete
  11. Apa lg kata2 seorang ibu terhadap anak wuuiihh tajam! *pisau x hehe*
    Gmn yah, kita memang manusia tp kita mesti ingat kalau dalam diri kita ada Roh Tuhan yg Alloh tiupkan saat kita berada dalam rahim ibu, walau kita bukan apa2 di banding Tuhan, tapi kehendak kita bisa jadi kehendak Alloh, selama Roh masih bersemayam dlm jasad kita termasuk lidah.
    "Kun'' = "Jadilah" yah ahirnya kejadian...

    Sotoy mode on hehe..

    ReplyDelete
  12. Otee bu ustadzah.. (amiin)
    Hmm jd keinget bentakan pertamaXku ke kakak kandung sendiri.. tp g ngrasa nyesel :p

    ReplyDelete
  13. eh, tapi ngga semua orang loh...
    Banyak orng yg pengen mati juga malah panjang umur :D

    ReplyDelete
  14. Itu tandanya Allah tak merestui.. heheu..
    Yg pnting jgn sampai nyakitin hati orang, siapa sih yg nyaman punya musuh karena salah ngomong..

    ReplyDelete
  15. sedih ngabacana, ngiring berduka.

    Sae, sae mengejawantahkeun ka cerpen na..
    Ke mun kenging, bagi2nya he2..no.rek. menyusul lah ha3

    ReplyDelete
  16. Mb ly: iya mbak, mhon doanya ya.. ^^
    a dudi: yayaya.. kumaha engke babagina mah ;p, mun teu kabagi brarti sanes rejeki, heheu..

    ReplyDelete

 
Powered by Blogger.