Sunday, October 9, 2011

Imunisasi pada bayi, perlukah? Berlakukah program serupa di negara lain?

Ditulis Oleh : Veraveravera Puritama // 10:17 PM
Kategori:

52 comments:

  1. Yak..disini selalu bayi dimuni...

    ReplyDelete
  2. salah satu orang tua murid saya yang berprofesi sebagai dokter tidak mengimunisasai anak-anaknya, ketika ada program imunisasi di sekolah dari puskesmas, beliau tidak mengijinkan anaknya diimunisasi

    ReplyDelete
  3. masa...
    tar klo kena campak, polio, apaan itu yg serem2 pegimane..
    mau di salahin ama anak seumur hidup karena lalai

    ReplyDelete
  4. Bener disini wajib....dan gak bayar...

    ReplyDelete
  5. abah:
    berapa kali bah?
    Kayaknya imunisasi itu macem-macem kan..

    Teh metty:
    Engga ditanyain alasannya teh? Sapa tau udah duluan :)

    mas muse:
    dulu dirimu diimunisasikah?

    Mb nita:
    temenku kena campak dan cacar saat kuliah, padahal dulu juga diimunisasi..

    ReplyDelete
  6. Wah lupa, disini buat anti penyakit anak kecil, seperti Masern (cacar air) polio, ada satu lagi mirip Flue..anak2, lebih baik tanya kementerian kesehatan disana....penyakit nya kan lain mana di RI masih ada Disentri segala..

    ReplyDelete
  7. ooh beda-beda ya..
    Dulu aku disuntik sekali thok, alhamdulillah gak sakit aneh-aneh pas sekolah. Temenku ada yg sampai suntik 2 kali soalnya..

    ReplyDelete
  8. Kalau bayi baru lahir langsung diimunisasi disini...dan umur 3 tahun diundang oleh Kementerian kesehatan disini, di taman kanak2 diimunisasinya....

    ReplyDelete
  9. Luar biasa sekali mbak nita ini hehehehehe

    ReplyDelete
  10. pemerintah sana tanggap ya bah, pantas aja berita imunisasi cuma ada di indonesia. Kesehatan masyarakan kurang dipedulikan... saking banyaknya kali ya? :(
    dulu aku juga disuntik di esdeee... balita-balita kayaknya diimun di posyandu gitu.
    Sipplah, inpo keren bah.
    Nuhun :D

    mas muse:
    dibilang penting ga penting maksudna gimanah?

    ReplyDelete
  11. Ya aku dulu cuman Cacar dan disentri jaman kecilku....salam...

    ReplyDelete
  12. di luar negri ada jg kok imunisasi, cuman di dalem negri emang masi kontroversi

    ReplyDelete
  13. dia memang anti imunisasi,
    menurutnya manusia itu sudah dikaruniai kekebalan dari sononya, jadi ga perlu lagi imunisasi, apalagi vaksinnya itu pakai pengawet timerosal yang mengandung merkuri, jelas berbahaya

    ReplyDelete
  14. oo kitu..
    Dokter yg lebih paham wae sampai ga mau pakai itu buat anaknya. Jadi bingung baiknya gimana...

    ReplyDelete
  15. Perlu Ver. Kalau di sini wajib imunisasi dan anak2 yg mau masuk public school tiap tahun pasti diperiksa catatan munisasinya udah lengkap atau belum. Kalau gak lengkap, ancamannya bisa dikeluarkan dr sekolah. Makanya yg gak mau imunisasi kebanyakan kemudian jd home schooling.

    Menurutku pribadi ya perlu karena anak kecil gampang tertular penyakit, apalagi kalau sudah sekolah. Jadi imunisasi bukan hanya melindungi anak kita sendiri tapi juga bentuk tanggung jawab sosial, agar anak kita gak nularin penyakit berbahaya ke anak lain.

    Mengenai kontroversi, memang ada pro dan kontra. Salah satu yg sempat heboh ketika vaksin MMR dianggap dapat menyebabkan autisme. Tapi prosentase yang kontra masih sedikit dan bukti ilmiah dan statistik (penurunan angka kematian krn penyakit2 menular berbahaya) yang menunjukkan manfaat imunisasi jauh lebih banyak.

    ReplyDelete
  16. Imunisasi di saudi ketat.kalo mau sekolah g pernah imun.hrus imun dlu pke jadwal n dosis khusus.kalo engga g boleh sekolah.
    Dsna sy smpt dpt imunisasi meningitis 2x n swine flue

    ReplyDelete
  17. mb irma:
    ooh gitu.. udah disiplin juga kali ya. Soalnya gak pernah denger berita imunisasi di luar negeri, kirain ngga ada :D
    berapa kali imunisasi mbak? Kan macem-macem tuh..

    Mb indria:
    hmm, kabarnya setiap pendatang ke Arab harus imun dulu ya? Tiap-tiap negara juga beda jenisnya.. *baca dari novel :D

    ReplyDelete
  18. Aku mengimunisasi anakku dengan ASI ^_^

    ReplyDelete
  19. alhamdulillah semoga lancar aja ya, mb rien..
    Sebagian wanita ndak bisa menyusui karena ASInya ga lancar :(

    ReplyDelete
  20. mb danti:
    itu lhoo alasannya udah disebut..
    'dia memang anti imunisasi, menurutnya manusia itu sudah dikaruniai kekebalan dari sononya, jadi ga perlu lagi imunisasi, apalagi vaksinnya itu pakai pengawet timerosal yang mengandung merkuri, jelas berbahaya'

    ReplyDelete
  21. aduh salah..
    Sukmakutersenyum ki mb april yah? Muaaaaappp.. *tuh kan ketuker-tuker T,T

    ReplyDelete
  22. Imunisasi suatu keharusan.

    Ga semua dokter pintar dan paham loh, jangan lihat titelnya aja

    Saya aja dokter, barusan kena cacar air parah karena ga imunisasi. Imunisasi memnag bkan segalanya dan bukan melindungi 100 persen tapi sangat bisa mencegah keparahan....

    ReplyDelete
  23. wah pak wid habis sakit? Syafakallah njeh pak..

    Gitu ya.. tapi sebenarnya kandungan imunisasi itu memangnya apa aja sampai ada yg kontra segala. Kalau aman-aman saja kan ngga masalah.

    ReplyDelete
  24. imunisasi yah...
    kirei dimunisasi..tapi entah adiknya kelak..banyak teuing polemiknya jd mumet sndiri nih...

    ReplyDelete
  25. polemik kumaha teh? haduh bahasana ulah beurat-beurat atuh... =__=
    wah, kirei bade gaduh dede?? hihi.... alhamdulillaaaahhh... :D

    ReplyDelete
  26. coba aja di seacrh di gugel tentang bahaya imunisasi..
    wallohua'lam..tapi saya jadi ragu2 tentang apakah lebih banyak manfaatnya atau mudharatnya..

    ReplyDelete
  27. itu... banyak yang berpendapat di sini juga teh...
    termasuk dokter... *nglirik pak wid

    ReplyDelete
  28. :D
    pantes aku merasa aneh dgn replay ini :D

    sekalian ngoment ah, tpi dah banyak dijawab, jadi gak jadi ah.... *hehe

    ReplyDelete
  29. kandungan yang ditakutkan itu sebagian besar sudah tidak ada.

    imunisasi sama saja dengan obat medis lainnya, memiliki risiko bahkan efek samping, tapi manfaatnya jelas lebih besar. Ini yang ga dipahami oleh mereka yang kontra imunisasi. Logikanya saja klo hanya mengandalkan tubuh dengan kekebalan alaminya, ya kita beri contoh kasus. Seandainya mba Vera sakit, apa minum obat atau engga, tentu jawabannya bisa iya bisa tidak. Mengapa? ya tentu saja tergantung penyakitnya kan.... Klo penyakitnya mematikan apa iya memilih tidak minum obat? Nah begitu juga dengan imunisasi, mengapa muncul gerakan imunisasi massal, karena penyakit-penyakit yang dicegah oleh imunisasi ini sebagian besar amat berbahaya dan bisa menjadi wabah yang mematikan. Sebelum ditemukan imunisasi Influenza, dulu ratusan ribu orang eropa meninggal. Sebelum ditemukan imunisasi cacar (bukan cacar air), banyak yang mati dulunya. Namun sekarang virus cacar yang mematikan itu sudah musanah karena kerbhasilan imunisasi massal. Coba kita bayangkan andai saja ada satu yang mangkir, menolak, berdemo tidak mau diimunisasi massal, tentu viru cacar ini tidak jadi musnah. Contohnya adalah virus folio. Dikabarkan bahwa virus folio hampir musnah, namun naytanya masih banyak yang belum terkena imunisasi, ya, akhirnya merebak lagi kan.... jadi bagi yang awam gunakan saja logika kita secara benar, ga usah berbelit-belit segala... :-)

    Lalu kalau ada imunisasi yang masih mengandung zat-zat berbahaya (meski itu tidak menunjukkan efek) atau zat-zat haram seperti unsur babi, ya harusnya justru kita tidak serta merta antipati, disinilah tugas ilmuwan yang lebih mengerti tentang agama harus menciptakan pengganti bahan imunisasi yang lebih baik, bukan justru menghindarinya, dan membuat wabah baru, dan malah berdosa kan...? Artinya ilmu imunisasi itu sudah sesuai dengan ilmu medisnya, tinggal kontennya yang disempurnakan. Jangan asal bunyi, karena (contoh) banyak kecelakaan lalu lintas, lantas mobil dan motor dilarang....karena berbahaya, harusnya kan dipikirkan alternatif supaya motor atau mobil itu bisa safe, atau klo ada alternatif lain yang lebih baik, ya silakan....

    ReplyDelete
  30. mb danti:
    hihi iya, salah lagi.. (' ,')a

    pak wid:
    wah penjelasannya panjang..
    Aamiin, muga2 yg awam bisa segera dipahamkan :)
    kembali pada keyakinan masing-masing juga.
    Penyebab sakit juga kan macam2, pencegahanpun ga selalu dg imunisasi.
    Cmiiw, nuwun infonya.

    ReplyDelete
  31. Nah, yakin ini kan harus dengan ilmu, bukan berdasarkan katanya-katanya atau testimoni semata...

    Benar pencegahan tidak hanya dengan imunisasi. Tapi tanpa imunisasi apalagi untuk penyakit-penyakit tertentu yang berbahaya dan bisa menurunkan kualitas hidup maka itu sama dengan pasrah... dan tidak itu aja dampaknya, seperti kata saya sebelumnya, gerakan anti imunisasi hanya akan membuat dosa baru, yaitu menyebarnya penyakit berbahaya...

    ReplyDelete
  32. hamzah imunisasi...
    adil juga imunisasi...
    keponakan lima, anaknya ustadz dari salafy... imunisasi juga kok...

    ReplyDelete
  33. ew maaf lambat banget balasnya
    khususnya meningitis mb ver
    disana kan endemik meningitis, trus segala macam flue yang musiman itu. semua tenaga kesehatan pasti di jus imunisasi macem2. yang bertugas di dialisa saja booster hepatitis.

    ReplyDelete
  34. Kalau saya tergolong anti imunisasi, lagian saya punya metode mengimunisasi sendiri yang menurut pengalaman saya, lebih baik. Kenapa anti imunisasi? Karena saya punya kawan-kawan yang bisa melihat efek kerja zat-zat kimianya tanpa harus menggunakan mikroskop elektron, dan hasil pengamatannya adalah jangan pakai imunisasi.

    ReplyDelete
  35. Secara molekular, berbagai zat yang disertakan dalam vaksin itu membuat kerusakan yang sangat samar, hampir tidak terdeteksi alat biasa. Kerusakannya pun terjadi secara acak, tidak hanya pada satu organ tertentu. Makanya harus dilihat dengan orang-orang yang sudah terlatih. Yang saya tahu, banyak yang tidak tahu hal ini, termasuk kalangan medis dan pemerintah. Tetapi mereka kemungkinan besar menolak informasi ini dengan alasan tidak terbukti secara medis.
    Namun, di kalangan kami di Hikmatul Iman, sudah puluhan anak yang tidak diimunisasi sejak lahir beberapa tahun yang lalu. Hanya terapi rutin ala HI oleh ortunya sendiri. Alhamdulillah, mereka jarang sekali sakit, demam sekalipun. Mereka tidak ikutan latah sakit saat teman-temannya sakit parah sampai diopname.

    ReplyDelete
  36. Oya, kami juga buat sekolah sendiri dengan metode pendidikan sendiri, sebagai solusi jika anak-anak kami ditolak masuk sekolah umum karena tidak diimunisasi.

    ReplyDelete
  37. hmm... *pengen tahu efek nyatanya seperti apa*
    tak bisakah zat berbahaya itu diganti? Sebab kalau hanya terapi seperti metode HI belum dikenal luas. Masyarakat kan tahunya imun itu penting.

    ReplyDelete
  38. Menjaga daya tahan / imunitas tubuh memang penting. Ada banyak kok alternatif lainnya selain terapi ala HI. ASI selama 2 tahun dari seorang ibu yang tidak stress, sangat besar pengaruhnya menjaga imunitas bayi. Beda jauh sama ASI dari ibu yang gampang stress / takut, apalagi susu formula. Selain itu ada madu, asal yang asli. Ada lagi cacing tanah, yang selama ini baru dipakai buat obat thypus / tipes. Kalau yang herbal ada paria dan teh bunga krisan. Lalu ada rebusan daun sirsak dan kulit ranting sirsaknya. Itu semua adalah bahan makanan / minuman yang memang punya fungsi meningkatkan daya imun. Masih banyak lagi yang lain...

    ReplyDelete
  39. haruh kang, aku gampang stres lho...
    Ga disapih juga, soalnya ASI ibu ngga keluar :(

    ReplyDelete
  40. Lho!? Kita ini ngomongin bayi masa sekarang apa bayi masa laluuu bangeeett? :-/

    ReplyDelete
  41. ahahaha... heleh, si akang...
    Ini kan contoh dimana seorang ibu ngga bisa menjaga asupan bayi lewat ASInya, sementara bayi itu kan rentan suhu dan penyakit.
    Kituuu... *sapa tau nanti aku ngalamin gara2 mudah stres itu, kan*

    ReplyDelete
  42. Ya moga-moga T' Vera bisa belajar nggak takut apa pun, sisakan satu takut aja, takut nggak disayang Allah.

    ReplyDelete

 
Powered by Blogger.