Monday, April 2, 2012

(chat) Pesan Baru


Dear Warna,
Inikah bumi kita? Mengesankan sekali. Mentari kecil kitapun menawan hati. Terimakasih.

From saudagardollar@mail.net

 

Dear Warna,
Aku tiba di ambang laut saat matahari mulai temaram. Angin memang kencang, tapi lautnya tenang. Aku dan Jingga sangat menikmatinya.

From saudagardollar@mail.net

 

Dear Warna,
Laut pagi ini indah sekali. Mataharinya merah seperti apel ranum. Gelombang-gelombang airnya menyilaukan. Memantulkan cahaya pagi, berperit-perit dan langitnya bersih. Coba kalau kau di sini…

From saudagardollar@mail.net

 

Dear Warna,
Kutuliskan ini bersama Jingga. Matahari saat ini seolah-olah menjadi raja di bumi, orang-orang seperti ketakutan terkena sinarnya. Jinggaku memaksaku membeli eskrim, kau tahu seperti apa rautnya saat kepanasan?

From saudagardollar@mail.net

 

Dear Warna,
Kubelikan manik perak untuk Jingga. Ia juga berniat memberimu sebuah manik safir. Hanya saja menurutnya kau lebih cantik dengan rubi. Nantikan rubimu ya…

From saudagardollar@mail.net

 

Dear Warna,
Malam di sini sejernih pupilmu. Bintang-bintangnya berkerlipan, sabitnya juga benderang memesona. Aku merindukanmu.

From saudagardollar@mail.net

 

Dear Warna,
Sepertinya Jingga bermimpi melihat sabit berlumur darah. Aku perlu waktu lama untuk menenangkannya, Sayang. Kuharap mimpi buruknya segera berakhir.

From saudagardollar@mail.net

 

Dear Warna,
Apakah Jingga kecil kita menulis sesuatu untukmu? Laptopku acak sekali pagi ini.

From saudagardollar@mail.net

 

Layar berisi pesan baru. Warna mengklik mail.
Tampaklah deretan kalimat berantakan.
 
 

Jinga lihat orang msembunyikan sesuatu yagn tajam. Dan jinga meliht darah

From saudagardollar@mail.net

 
Layar menampakkan pesan baru. Warna kembali membaca.
 


Dear Warna,
Aku mengkhawatirkan Jingga. Dia jadi pemurung sekarang. Dia takut pada malam. Bukankah ia baik-baik saja kemarin?

From saudagardollar@mail.net

 

Jingga tak bemimpi bunda, laki-laik baju hitam itu penjahat. Aku tau!

From saudagardollar@mail.net

 
Warna menggigil dingin di kursi kerjanya. Detak jantung dirasanya semakin menggedor seluruh bilik persendiannya.
 


Dear Warna,
Jingga terus mengigau soal laki-laki berbaju kabung. Apa dia rindu padamu? Kau memang ibu yang cepat dirindukan, Sayang.

From saudagardollar@mail.net

 

Warna mendesah lega. Namun matanya kembali membulat ketika ada pesan baru masuk.

 

Jinga benaran liat darah bunda. Ayah kalah bunda. Laki-laik itu jahat!

From saudagardollar@mail.net

 

Degupan jantung Warna kini berdentam-dentam lebih cepat. Keringat dingin juga telah mengembunkan separo kacamatanya.
Aku harus menyusul, batinnya kalut. Ia mulai beranjak mendekati pintu kamar.

Pip!
Pesan baru muncul kembali.

 

Jinga ta bisa keluar. Dia bilang jinga harus diam. aku disuruh minta tolog pada laba-laab saja katanya. Mudah-muadhn spidemen cepat datag ya bunda.

From saudagardollar@mail.net



Warna melunglai di depan meja kerja, tak kuasa menopang diri lagi.
Samar-samar suara dari luar memecah keheningan mendadak itu. Seseorang menyembulkan diri dari balik pintu kamar,

“Bu, ini kiriman dari Bapak dan Nak Jingga…”




Layar ditutup, babak pendek telah usai.

Ditulis Oleh : Veraveravera Puritama // 3:19 PM
Kategori:

7 comments:

 
Powered by Blogger.